Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 24 Jangan Lemah!


__ADS_3

Ketika orang marah janganlah mendekatinya atau malah menggangu emosinya. Karena kalian tak tahu semarah apa jika emosi yang di pendam menjadi bom waktu.


Namun, kata itu tidak berarti bagi Amelia and the geng. Amelia malah mencari masalah di situasi yang tidak baik.


Ya, Amelia langsung membawa Shofi ke gudang belakang. Di mana Amelia yakin bahwa Shofi memang mempunyai kepribadian ganda. Amelia yakin, dia bisa membalas perbuatan Shofi yang sudah membuat hidung mancungnya berdarah. Karena Shofi sekarang sedang lemah. Di suruh apapun tadi sama Fatih Shofi menurut dan tak bisa melawan.


"Mau apa lagi kalian!"


Ucap Shofi datar, Shofi sangat malas berhadapan dengan makhluk-makhluk di hadapannya ini. Apalagi mood Shofi sedang jelek karena sangat marah pada Fatih yang tak henti-hentinya mengerjai dirinya.


"Mau apa! jelas lah gue mau membalas perbuatan loe, karena loe sudah membuat hidung mancung gue berdarah."


Geram Amelia mencengkram erat dagu Shofi. Shofi menghela nafas berat, sepertinya amarahnya tak bisa di tahan lagi. Dan Amelia sasaran empuk.


"Karena loe sudah berani sama gue, loe harus tahu akibatnya!"


Plak ...


Shofi menampar Amelia keras karena sudah gatal. Shofi kesal karena Amelia terus memancingnya terus. Bukankah Shofi sudah mengancam, kenapa ancaman itu tidak berlaku.


"Kau!"


Bentak Amelia memegang pipinya yang terasa nikmat. Amelia sangat marah karena si cupu itu berani menamparnya. Begitupun ketiga sahabat Amelia, terkejut dengan apa yang terjadi.


Bugh ...


Amelia menendang Shofi membuat Shofi terjatuh mengenai tumpukan kursi yang rusak dan tanpa sengaja tangannya tergores paku hingga berdarah.


"Aistt,"


Kesal Shofi mengibaskan tangannya yang berdarah. Shofi berusaha bangun dan menatap tajam pada Amelia.


Seketika Shofi tersenyum tipis, membuat Amelia menyerngit. Senyuman itu bukan menjadi indah tapi menakutkan.


"Habisi dia!"


Shofi mundur ketika ketiga sahabat Amelia menyerang secara bersamaan.


Sedangkan Fatih terus mengupat karena Shofi kabur ketika Fatih menyuruhnya membersihkan sepatu yang kotor karena tertumpah jus yang akan di minum Shofi.


Bagaimana tidak kesal jika Shofi kabur membawa sepatunya. Bilangnya mau ke toilet tapi nyatanya sampai sekarang belum balik. Fatih menyuruh ketiga sahabat nya mencari.


Begitupun Amira dan Bunga mencari kemana Shofi perginya. Bisa-bisa Shofi kabur ketika Fatih sedang marah.


"Oh, Shofi kamu cari masalah!"


Amira juga jadi gemes-gemes gitu mengingat tingkah Shofi yang malah pergi sambil membawa sepatu Fatih.


Membuat Fatih sekarang jadi nyeker dan Fatih terus mengupat perbuatan Shofi.


"Tunggu, itu kaya sepatu gue!"


Gumam Fatih langsung mendekat. Dan, benar saja itu sepatu Fatih.


"Cupu!"


Geram Fatih marah karena menyangka Shofi pasti sengaja membuang sepatu mahalnya.


"Kemana satu lagi, awas kau cupu. Kau berani membuang sepatuku!"


Umpat Fatih kembali mencari satu sepatunya lagi. Jika satu sepatunya ada di sini ke mungkinkan satunya lagi Shofi membuangnya tak jauh dari lorong ini.


"Bukankah ini arah gudang!"

__ADS_1


Monolog Fatih, Rahang Fatih langsung mengeras dengan tangan mengepal erat. Fatih yakin si cupu pasti membuang sepatunya di gudang. Awas saja jika benar maka Fatih tak akan segan-segan membuat perhitungan.


Kembali ke gudang ....


"Oh sitt,"


Amelia mengupat karena Shofi berhasil terus menghindar dari serangan nya. Bahkan Shofi juga dengan mudah menghindar dari serangan ketiga sahabat Amelia.


Shofi hanya tersenyum miring melihat cuma segitu kemampuan ke empat ulat bulu ini. Mereka salah lawan dan Shofi rasanya sudah membuang-buang waktu.


Kini Shofi harus mengakhiri nya.


"Cemen, cuma segitu kekuatan kalian!"


Ejek Shofi membuat Amelia semakin terpancing dan Amelia mengambil potongan kursi lalu menyerang Shofi.


Bugh ...


Awwss ...


"Amelia apa yang kau lakukan!"


Deg ...


Amelia terdiam kaku mendengar suara bentakan seseorang. Bahkan bentakan itu menggema di dalam gudang. Amelia berbalik tangannya langsung gemetar begitupun dengan ketiga sahabat Amelia.


Bruk ...


Amelia refleks langsung membuang potongan kursi yang dia pegang.


"Fa-fatih, ini gak seperti yang loe lihat!"


Gugup Amelia gemetar ketika Fatih menatapnya tajam.


Bentak Fatih membuat Amelia menggeram kesal. Amelia langsung pergi begitu saja di ikuti ke tiga sahabatnya.


Kini Fatih menatap tajam pada Shofi yang terlihat mengenaskan. Bahu Shofi terlihat berdarah mungkin karena pukulan keras dari Amelia tadi.


"Cih, dasar lemah!"


Ketus Fatih tidak suka, dengan kasar Fatih membuka jasnya karena tidak mungkin membawa Shofi keluar dalam keadaan berantakan seperti itu.


Bahu Shofi benar-benar berdarah. Mungkin kayu tadi begitu tajam.


"Kau memang lemah, harusnya loe itu melawan. Loe cuma boleh tunduk pada gue bukan orang lain,"


Geram Fatih terus mengomel, Fatih menarik kasar lengan Shofi membuat Shofi meringis tertahan karena Fatih menekan luka di tangannya sehingga kembali mengeluarkan darah.


"Oh sitt, darah!"


Geram Fatih menatap tajam pada Shofi yang Fatih dudukan di atas kursi yang masih utuh walau sudah keropos.


"Loe sudah cupu, jelek, lemah lagi."


Fatih terus mengupat sambil mengetik sesuatu pada ponselnya. Fatih benci orang-orang lemah.


Shofi hanya bisa menggeram kesal karena Fatih terus menghinanya. Jika saja tadi dia tidak akting sudah pasti dari tadi Amelia dan ketiga sahabatnya sudah Shofi bejek-bejek.


Setidaknya Fatih akan membenci Amelia dan Shofi akan bebas dari gangguan Amelia and the geng. Tanpa Shofi mengotori tangannya sendiri. Walau Shofi harus merelakan lengan dan bahu cantiknya terluka.


"Wow, apa yang terjadi!"


Pekik Rangga terkejut melihat keadaan Shofi yang mengenaskan. Untung saja bahu Shofi yang luka tertutupi Jas Fatih kalau tidak Rangga pasti akan semakin heboh.

__ADS_1


"Lama banget, mana barangnya!"


Ketus Fatih membuat Rangga cengengesan.


"Amira aman kan?"


"Aman!"


Jawab Rangga santai sambil memberikan kotak P3K dan seragam baru pada Fatih.


"Loe, jaga di luar!"


Rangga hanya mendengus kesal akan perintah Fatih. Padahal Rangga penasaran kenapa dengan Shofi. Tidak mungkin kan Fatih yang menyiksa Shofi. Rangga tahu Fatih bukan tipikal orang seperti itu.


Walau Fatih sikapnya suka keterlaluan tapi Fatih tidak pernah melukai orang sampai berdarah kecuali orang itu memang pantas mendapatkannya.


"Nama tangan loe,"


Ketus Fatih langsung menarik saja tanpa menunggu persetujuan Shofi.


Awwss ...


"Jangan lemah!"


Ketus Fatih, membuat Shofi menahan kekesalan dari tadi. Bagaimana Shofi tidak meringis kalau Fatih mengobati lukanya dengan secara kasar.


Fatih menarik jasnya yang menutupi bahu Shofi.


"Singkat sedikit kerah baju loe,"


"Apa! gue gak akan macam-macam. Loe jelek, bukan serela gue!"


Shofi memejamkan kedua matanya dengan tangan mengepal erat. Shofi kesal karena dari tadi mulut Fatih kotor sekali. Ingin sekali Shofi merobek mulut tak sopan Fatih itu.


"Selesai, nih ganti baju loe!"


Sialan!"


Geram Shofi tertahan ketika Fatih melempar seragam atasan olah raga pada mukanya. Karena cuma ada seragam itu yang tersisa.


"Cepat ganti baju, gue gak akan ngintip. Loe bukan selera gue!"


Lagi-lagi Fatih merendahkan Shofi membuat Shofi benar-benar sangat marah. Rasanya Shofi tak bisa lagi menahan amarah dan kekesalannya.


"Terimakasih!"


Ucap Shofi tulus ketika sudah selesai ganti baju. Dan memakai jas Fatih yang besar agar guru tak tahu kalau Shofi memakai kaus.


Grep ...


Tangan Shofi di cekal erat oleh Fatih ketika Shofi akan keluar gudang. Seenaknya saja Shofi pergi ketika Fatih sudah menolongnya.


"Loe budak gue mulai hari ini. Jadi, loe harus turuti apapun perintah gue, ngerti!!!"


Tekan Fatih menatap tajam pada Shofi, kini rasanya habis sudah kesabaran Shofi.


Maafkan Shofi kak ...


"Kamu bukan kakak aku, jadi stop memerintah seenaknya, manusia purba!!!"


Deg ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2