
Kondisi Shofi sekarang sudah lebih baik lagi. Apa lagi Shofi benar-benar di rawat oleh dokter ahli. Bahkan luka tembaknya sudah mengering hingga Shofi sudah bisa pulang.
Dua Minggu sudah Shofi mendapat perawatan hingga kini Shofi di perbolehkan pulang.
Seperti yang sudah di rencanakan, sesudah pulang ke rumah di mana asal Shofi tempati. Bahkan barang-barang Shofi yang berada di rumah Amira sudah kembali berpindah. Dan, tentu itu semua ulah Davit.
Tak lupa, Shofi pamit dan juga berterima kasih pada ayah Jek dan Mama Melati karena sudah berbaik hati menjaga dan melindungi nya.
Setelah pulang dari rumah Amira Shofi langsung mengunci pintu kamarnya. Berkali-kali Shofi menarik nafas dalam lalu membuangnya kasar.
Lusa adalah hari keberangkatan Shofi kembali ke Jerman.
Davit menyuruh Shofi bersiap, barang apa yang akan di bawa.
Jadi, ketika waktu tiba keberangkatan Shofi tak lagi ribet bersiap, tinggal langsung berangkat.
Dengan malas Shofi memasukan barang-barang ke dalam koper. Tak banyak barang yang di bawa. Hanya barang-barang penting saja.
Sudah merasa cukup hari ini Shofi berbenah. Mungkin, sisanya besok Shofi masukan. Dengan malas Shofi merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua kaki yang terlentang ke lantai.
Besok Amira dan Bunga mengajak Shofi jalan-jalan menghabiskan waktu bersama sebelum Shofi benar-benar pergi. Shofi tak tahu, kemana Amira dan Bunga mengajaknya jalan. Shofi mengiyakan saja tanpa bertanya.
Shofi harus mengistirahatkan tubuhnya, karena besok mereka akan menghabiskan waktu dan tentu butuh tenaga.
Semenjak kepulangan dari rumah sakit, tak ada senyuman di bibir Shofi. Bahkan Shofi terlihat tidak bersemangat.
Padahal, bukankah ini yang Shofi tunggu-tunggu, kembali ke negara asalnya di mana ia di lahiran. Dan kembali mengambil tempat tinggal yang seharusnya jadi tempat pulang Shofi dari dulu.
Entah karena Shofi belum siap bertemu ibu tiri dan kakak tirinya atau ada hal lain yang membuat Shofi banyak diam.
Bahkan sarapan pagi pun Shofi terus bungkam membuat Angel dan Davit saling tatap bingung.
Harusnya Shofi semangat karena akan jalan-jalan hari ini. Tapi, kenapa dia malah memasang wajah tak enak.
Davit ingin bersua, namun Angel dengan cepat mencegahnya.
Mungkin Shofi butuh waktu dan butuh sendiri.
"Maaf Lord, nona dan nona muda. Kedua teman nona sudah datang?"
Lapor salah satu bodyguard sambil membungkuk hormat.
Shofi yang mendengar Amira dan Bunga sudah datang langsung beranjak.
"Pak, suruh saja mereka masuk. Wait, di ruang tamu. Shofi mau ganti baju dulu!"
"Baik nyonya!"
Shofi langsung pergi ke lantai atas guna mengganti pakaian nya.
Shofi memakai celana jens, kaus oblong yang di masukan dengan kemeja yang di biarkan kancingnya terbuka.
__ADS_1
Tak lupa Shofi memakai pet, tas selempang kecil yang hanya kuat dompet dan ponsel doang.
Shofi berdiri di hadapan cermin, apakah Shofi harus memakai kaca mata atau enggak.
Ingat! loe milik gue! jadi jangan berani-berani nya loe memperlihatkan kedua mata ini pada siapapun. Hanya boleh gue yang menatapnya!
Shofi menghembuskan nafas kasar ketika kembali mengingat perkataan Fatih. Entah kenapa bayang-bayang Fatih selalu menghantui nya. Masih terekam jelas tatapan kesakitan dan kekecewaan Fatih membuat Shofi tak nyaman.
"Tidak! manusia purba itu bukan siapa-siapa aku!"
Monolog Shofi langsung meletakan kembali kaca mata bulatnya. Shofi memutuskan tak memakainya. Karena bagi Shofi Fatih bukan siapa-siapa. Buat apa juga sekarang Shofi menurut toh, semuanya sudah usai.
Karena tak mau terlalu lama membuat Amira dan Bunga menunggu Shofi segera keluar dengan gaya stylish nya.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama!"
"Tak masalah, yuk kita berangkat!"
Cetus Bunga semangat sambil menggandeng tangan Shofi. Amira hanya mencebikkan bibirnya melihat kelakuan Bunga.
Bunga bisa saja bersikap seperti itu karena tak ada Davit di sana. Kalau ada mana berani Bunga bersikap seperti itu.
"Bentar, kita harus pamit dulu pada kakak ku?"
"Pergi saja dek, kak Davit sedang ada telepon!"
Ucap Angel tiba-tiba muncul memberi tahu, karena memang Davit sedang menerima telepon dari Lucky, sang kaki tangan.
Angel hanya mengangguk saja, semoga Shofi bisa tersenyum kembali dengan menghabiskan waktu bersama.
Bodyguard Davit yang mengantar ketiga gadis itu pergi jalan-jalan. Amira meninggalkan mobilnya di rumah Shofi.
Udara pagi masih terasa sejuk, walaupun Jakarta terkenal kota panas namun, jika di pagi hari udara nya hampir sama seperti di perkampungan. Tapi, jika sudah jam delapan pagi ke atas maka mulai berubah apalagi di tampah dengan padatnya kendaraan.
Deg ...
Shofi terkejut ketika menyadari tempat apa yang mereka tuju. Shofi tahu betul tempat apa ini.
"Kamu gak bilang mau ke Dufan!"
Ucap Shofi menegang, membuat Amira langsung melirik.
"He ... kan rahasia, kita habiskan waktu kita di sini di Ancol. Kita jelajahi semuanya!"
"Benar, nanti kita ke Dufan dulu, terus ke Carnaval terakhir ke pantai Ancol!"
Semangat Bunga menyebut nama-nama area bermain dan bersantai. Shofi hanya menghela nafas saja mencoba tersenyum agar ke dua temannya tak kecewa.
Sungguh Shofi tak tahu jika kedua temannya akan membawa dia ke sini. Jika Shofi tahu tempat mereka mengajak bermain. Mungkin Shofi akan menolaknya dan memilih tempat lain saja.
Tapi, semuanya sudah terlanjur dan Shofi juga tidak mungkin mengecewakan kedua temannya.
__ADS_1
Hati Shofi tak baik-baik saja ketika kakinya kembali menginjakan ke Dufan.
Bagaimana akan baik-baik saja jika Dufan salah satu kenangan dia bersama Fatih. Mereka menghabiskan waktu bersama di sini mencoba hampir semua permainan. Dan yang paling berkesan ketika Shofi naik Bianglala. Karena di sana Fatih kembali mencium matanya.
Ingin terlupa namun nyatanya kedua teman Shofi malah mengajaknya ke tempat yang membuat hati Shofi mulai goyah.
"Shofi apa kamu sakit?"
Tanya Amira tiba-tiba sambil menempelkan punggung tangannya di kening Shofi.
"Emmz, gak, aku gak apa!"
"Dari tadi kamu melamun, bahkan kamu Tak memerhatikan aku menjelaskan tempat ini!"
Ucap Amira sedikit kesal, Amira memang dari tadi seperti pemandu wisata saja menjelaskan apa-apa yang ada di sana. Karena Amira dan Bunga pikir Shofi belum ke sini.
"Ah, maaf, aku hanya berpikir. Mungkin tempat ini juga salah satu tempat yang akan ku rindukan bersama kalian!"
Amira dan Bunga langsung memeluk Shofi, mereka faham apa yang di maksud Shofi. Karena sebentar lagi mereka akan berpisah.
"Sudah jangan sedih, bukankah kita akan happy-happy di sini!"
"Ok, kalau begitu!"
Ucap Shofi semangat dengan senyum lebarnya membuat Amira terpana. Baru kali ini mereka melihat senyum lebar Shofi karena biasanya Shofi hanya tersenyum tipis saja.
"Kita mau yang mudah dulu atau yang ekstrim!"
"Mudah!"
"Ekstrim!"
Ucap Bunga dan Amira barengan, membuat Bunga dan Amira saling pandang sengit. Amira tentu suka yang ekstrim-ekstrim sedang Bunga tidak terlalu suka karena jantungnya lemah.
"Mengalah lah Ra!"
Rengek Bunga dengan wajah memelas membuat Amira mencebikkan bibirnya. Karena jika bermain maka Amira yang harus mengalah.
"Ok .. ok!"
Kesal Amira bercanda membuat Bunga bersorak ria, begitupun Shofi.
"Terus kita mau kemana dulu?"
Tanya Shofi cepat karena mereka belum memutuskan kemana dulu mereka bermain.
"Naik bianglala!"
Deg ...
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....