
Fatih pergi begitu saja dengan perasaan hancur. Kenapa Shofi bisa sekejam itu menyakiti perasaan.
Sungguh ini sangat menyakitkan. Fatih berjalan meninggalkan rumah sakit tanpa arah. Kemana dia harus melangkah, sedang jalan masa depannya tak mengijinkan dia melintas.
Filosofi Alin, kenapa begitu sulit bagi nya untuk menerima King Fatih Al-biru.
Ini bukan tentang sebuah kisah yang akan berakhir happy ending. Kita tak pernah tahu jalan hidup seseorang bagaimana.
Apa akan happy atau sad, sampai kapanpun kita tak akan tahu.
Bahkan Fatih tak pernah menyangka bahwa penolakan Shofi akan se menyakitkan itu.
Dulu Fatih begitu pede tak akan pernah jatuh cinta pada Shofi. Dengan lantangnya berbicara.
Loe terlalu pede, meng klaim gue akan jatuh cinta. Loe itu bukan tipe gue, loe itu jelek dan cupu dan satu yang gue gak suka loe itu lemah!
Fatih ingat betul apa yang dia ucapkan beberapa bulan lalu. Bahkan Shofi sendiri sudah memperingatinya. Namun, Fatih tak mengindah kan ucapan Shofi.
Deg ...
Fatih menghentikan langkahnya ketika menyadari sesuatu.
Jika Shofi sudah memperingatinya agar Fatih tak masuk lebih dalam ke kehidupan Shofi. Berarti ada sesuatu yang Shofi sembunyikan darinya.
Bahkan dengan terangnya Shofi melarang Fatih untuk menyukainya.
Kenapa?
Alasan!
Ya, pasti ada suatu alasan mengapa Shofi memperingatinya jauh-jauh hari. Fatih harus cari tahu, apa alasannya.
Kenapa Fatih begitu bodoh tidak menanyakan alasan nya. Kenapa Shofi memperingatinya supaya tak masuk ke kehidupannya.
Fatih yakin, ada alasan kuat yang membuat Shofi percaya diri berkata seperti itu. Fatih harus cari tahu dan menuntut penjelasan agar Fatih bisa mengerti dan menerima akan penolakan Shofi.
Bahkan sang papa juga melarangnya, berarti ada sesuatu di balik semua ini. Fatih masih ingat jelas perkataan sang papa yang meminta dirinya menjauhi Shofi.
Kamu akan terluka karenanya!
Fatih mencoba menggabungkan ucapan sang papa dan Shofi. Keduanya begitu kompak mencegah dirinya. Fatih benar-benar yakin, ada alasan besar kenapa Shofi dan sang papa melarangnya.
"Gue harus balik lagi!"
Gumam Fatih meyakinkan dirinya, ya, Fatih memilih balik lagi ke rumah sakit dan menanyakan yang sebenarnya. Fatih ingin mendengar dari mulut Shofi sendiri, karena percuma nanya sama Amira dan Bunga. Mereka juga pasti tidak akan memberikan jawabannya.
.
Kembali ke ruang rawat Shofi ...
Shofi menangis sejadi-jadinya ketika Fatih pergi begitu saja tanpa kata. Terlihat jelas kesakitan dan kekecewaan di sorot mata Fatih.
Shofi sudah menyakitinya, dia sudah menyakitinya.
__ADS_1
Ini lebih baik dari pada rasa di hati Fatih semakin tumbuh.
Sungguh Shofi tak mau Fatih terluka, namun Shofi harus melakukannya.
"Kenapa menangis!"
Deg ...
Buru-buru Shofi menghapus air matanya kasar dengan nafas tercekat. Namun, tangan Shofi di cekal membuat Shofi mendongak dengan mata sayu nya.
Angel menarik Shofi ke dalam pelukannya, menenangkan adik kecilnya yang sudah tumbuh dewasa.
"Schwager, adek menyakitinya ... adek menyakitinya hiks ...,"
Rancu Shofi tak jelas dengan nafas tercekat, sungguh hati Shofi juga sakit mengatakan itu semua.
Karena sendari tadi Shofi terus mengendalikan gejolak di dadanya dengan tangan mengepal erat di balik selimut. Shofi hanya tak mau ia terlihat lemah di mata Fatih.
Angel hanya bisa diam mendengarkan rancu an adiknya. Dengan tangan mengelus-elus Surai panjang Shofi. Berharap adik kecilnya tenang.
"Dia kesakitan, dia kecewa hiks ...,"
Davit hanya bisa menghela nafas berat melihat keadaan Shofi yang tidak baik-baik saja.
"Apa adek menyukai Fatih?"
Tangisan Shofi bukannya berhenti malah semakin menjadi ketika Angel bertanya.
Kini Angel dan Davit sudah tahu jawabannya kenapa Shofi malah semakin menangis.
... Itulah yang sedang Shofi rasakan, tak tahukah Fatih bahwa dia jauh lebih sakit mengatakannya. Tak tahu kah Fatih bahwa dia lebih sesak menolaknya. Bahkan rasanya Shofi hampir sekarat dengan kesesakan di dada ....
Lama Angel dan Davit membiarkan Shofi menangis, hingga tangisan itu mereda. Mungkin, Shofi sudah lelah untuk menangis.
Shofi melerai pelukannya lalu menyeka sisa air mata dirinya dengan mencoba berusaha tersenyum.
"Jangan bertanya lebih!"
Lilir Shofi melarang Angel dan Davit bertanya akan perihal hati.
Shofi belum siap menjawabnya, dan tentu Davit dan Angel mengerti.
"Setelah kamu sembuh, kita akan kembali!"
Deg .....
Shofi terkejut mendengar ucapan tegas Davit. Kembali! benarkah secepat itu dirinya pergi meninggalkan Indonesia. Meninggalkan rasa sakit yang tak bisa Shofi sembuhkan.
Shofi terdiam beberapa saat, dengan perasaan yang berkecamuk.
"Kenapa! apa tak mau?"
"Tidak! Shofi akan ikut keputusan kakak!"
__ADS_1
"Bagus!"
"Emmz kak, boleh Shofi menyelesaikan sekolah dulu di sini dan kembali setelah Shofi menghadiri acara resepsi pernikahan Bunga!"
"Tidak! kita akan tetap kembali setelah kamu sembuh. Acar resepsi, kamu bisa datang nanti!"
"Ada banyak tugas yang harus kamu lakukan di sana. Sebagai ahli waris dan pemegang perusahaan keluarga Damaresh. Kamu harus bisa memegang tanggung jawab besar itu!"
Shofi terdiam, Shofi lupa akan hal itu. Bagaimana cara Shofi menjelaskan pada kedua temannya. Padahal ia sudah berjanji akan menetap sampai acara resepsi pernikahan Bunga. Namun, Davit sudah memutuskan, jadi Shofi bisa apa selain menurut.
"Baiklah, kita kembali setelah Shofi sembuh!"
Putus Shofi pada akhirnya membuat Davit tersenyum seringai.
"Bagus, jadi cepat lah sembuh. Kita akan segera kembali!"
"Shofi mau istirahat!"
Shofi mengangguk saja lalu menidurkan tubuhnya sambil membelakangi Davit dan Angel.
Tanpa mereka sadari, sendari tadi Fatih mendengarkan percakapan mereka. Fatih datang tepat di mana Davit bicara akan kembali.
Fatih mengepalkan kedua tangannya ketika Shofi memutuskan pergi.
Sekarang Fatih tahu, apa alasan Shofi melarangnya untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Karena Shofi sudah tahu bahwa dia akan meninggalkan Indonesia, meninggalkan Fatih dengan lukanya sendiri.
Kenapa Shofi benar-benar sekejam itu pada dirinya. Shofi sudah berhasil mencuri hatinya, namun dengan kejamnya dia akan pergi meninggalkan dirinya yang kesakitan.
Apa Fatih harus menuntut akan hal itu!
Bagaimana bisa, sedang Shofi sudah memperingatinya. Tapi, Fatih malah tak peduli akan peringatan itu. Jadi, jika Fatih sakit siapa yang harus di salahkan. Bukankah itu salahnya sendiri yang masuk tanpa izin terlebih dahulu.
Kamu akan terluka karenanya!
"Jadi ini yang papa maksud!"
Lilir Fatih mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras meninggalkan ruang rawat Shofi.
Bugh ...
Fatih meninju dinding lorong rumah sakit dengan mata memerah. Fatih ingin berteriak sekencang-kencangnya berharap sesak di dadanya akan hilang. Namun, kesesakan itu malah semakin menjadi.
Sungguh miris buka, tak ada yang lebih gila selain jatuh cinta. Bahkan semua orang di dunia mengakui itu. Karena begitu dahsyatnya pengaruh kata Cinta.
"Loe tak boleh pergi, loe harus menyembuhkan luka gue sebelum pergi!"
Monolog Fatih, sungguh Fatih tak akan pernah membiarkan Shofi pergi tak akan. Shofi harus ada di penglihatannya, Shofi harus ada harus!
Lihatlah bagaimana begitu dahsyatnya cinta membuat seorang Fatih Al-biru terluka.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like Hadiah komen dan Vote Terimakasih ....