
Fatih tidak menyangka kalau Shofi bisa membawa motor Mogenya. Fatih pikir, Shofi hanya gadis biasa yang manja dan tak punya skill apapun.
Ya, Shofi memaksa dirinya yang membawa motor. Karena melihat kondisi Fatih yang lemah membuat Shofi tak mungkin membiarkan Fatih membawa motor sendiri. Shofi hanya takut terjadi apa-apa pada Fatih di jalan.
Dengan laju santai Shofi membawa motor Fatih, dengan Fatih duduk enak di belakang. Kepala Fatih rasanya sangat pusing sekali. Mungkin karena dari tadi bulak-balik masuk kamar mandi.
"Philo?"
"Hm,"
"Bisakah, berhenti dulu di taman. Kepala gue pusing!"
Pinta Fatih sambil memijit pelipisnya. Shofi langsung menghentikan laju motornya tepat di depan sebuah taman.
Fatih langsung turun lalu berjalan mencari kursi yang teduh. Shofi dengan cepat mengikutinya karena takut terjadi sesuatu pada Fatih.
Fatih duduk di salah satu kursi yang sedikit adem. Begitupun dengan Shofi duduk di samping Fatih walau sedikit ada jarak.
"Apa kamu baik-baik saja, perlukah ke rumah sakit!"
"Tidak!"
"Makanya jangan sok-sokan makan punya ku, jadi begini kan jadinya!"
Fatih mengerucutkan bibirnya sebal. Bukannya di kasihani Shofi malah mengatainya.
Sungguh Shofi gak peka sama sekali maksud Fatih apa. Fatih hanya ingin terlihat so sweet saja.
"Sudah, mending kita ke rumah sakit. Takut par ..."
Deg ...
Tubuh Shofi menegang dengan mata melotot ketika tiba-tiba Fatih malah tidur di pangkuannya.
"Tolong, jangan ngomel mulu. Kepala gue sakit, mungkin butuh tidur sebentar!"
Ucap Fatih memelas sambil memejamkan kedua matanya.
Shofi hanya diam saja dengan apa yang Fatih lakukan.
Apa sudah benar Shofi bersikap seperti ini. Menunjukan rasa pedulinya yang berlebih. Apa tidak akan menjadi bumerang di kemudian hari.
Persetan dengan semua itu, Shofi hanya ingin menghabiskan waktu bersama orang yang dia sayangi. Bolehkah kali ini Shofi yang egois.
Benar kata Davit, Shofi harus mencari kebahagiaan nya sendiri. Dan, bahagia Shofi
hanya bersama Fatih walau itu hanya beberapa bukan. Shofi, yakin Fatih akan mengerti posisinya. Cukup lima bulan bagi Shofi menyembuhkan luka Fatih.
Dengan ragu Shofi menunduk, menatap wajah tampan Fatih yang sedikit pucat.
Baru kali ini Shofi bisa melihat wajah Fatih dengan leluasa. Alis tebal, hidung mancung dan bibir yang begitu seksi merah alami. Apalagi jakun Fatih yang terlihat tonjolannya, dengan rahang tegas. Sungguh ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
Di padukan wajah bule dan Asia membuat ketampanan Fatih semakin terpancar.
Shofi tidak tahu, kenapa bisa Fatih mewarisi wajah bule, begitupun om Farhan yang begitu tampan.
Shofi menerka-nerka, mungkin keluarga Fatih aslinya dari luar negri hingga menghasilkan bibit unggul yang di padukan dengan wanita Asia. Sungguh kesempurnaan yang nyata.
__ADS_1
"Fatih!"
Panggil Shofi, tapi tak ada sahutan. Hanya terdengar nafas Fatih saja yang teratur.
Perlahan tangan Shofi mendekat melihat ada bekas luka di pelipis Fatih.
Shofi menyibak rambut Fatih, hingga terlihat jelas bekas luka yang ada di pelipisnya.
Walau Shofi sering berhadapan namun tidak terlalu memerhatikan. Baru kali ini Shofi bisa melihat jelas wajah Fatih dan baru mengetahui kalau pelipis Fatih ada bekas luka seperti luka sobekan.
Namun, kapan Fatih mendapat luka itu. Sepertinya luka lama atau luka baru yang baru Shofi tahu.
Shofi perlahan merapihkan kembali rambut Fatih. Hingga menutupi luka di pelipisnya.
Grep ...
Fatih memegang tangan Shofi yang akan menjauh dari kepalanya.
Perlahan mata Fatih terbuka, mata yang terlihat sayu dan sedikit merah. Sepertinya tidur Fatih terganggu dengan apa yang Shofi lakukan.
Fatih menarik lengan Shofi dan menaruhnya di dada tepat di bagian jantung Fatih.
"Cantik!"
Ucap Fatih menatap wajah Shofi dari bawah membuat Shofi diam saja.
"Mata loe cantik, gue suka. Tapi, gue lebih suka loe hanya memperlihatkannya untuk gue,"
Shofi masih diam tak berniat menyahuti ucapan Fatih. Shofi hanya ingin tahu, kata apa lagi yang akan Fatih ucapkan.
"Kenapa gak jadi pindah?"
"Tanggung bentar lagi lulus!"
"Mau sampai kapan di Indonesia?"
"Sampai resepsi pernikahan Bunga!"
Mungkin benar kata sang kakak, Shofi harus bicara dari hati kehati agar Fatih akan mengerti suatu hari nanti kalau dia akan benar-benar pergi.
"Lima bulan lagi!"
"Iya!"
Keduanya kembali diam seakan sedang merekam momen ini yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.
"Kenapa loe berubah?"
"Berubah apanya?!"
"Bersikap baik, seolah loe juga sayang sama gue!"
"Aku hanya berusaha menyembuhkan hati yang patah!"
Fatih langsung bangun dari tidur nya lalu duduk menghadap Shofi. Melihat reaksi Fatih membuat Shofi sedikit terkejut. Apa Fatih tersinggung karena ucapannya atau apa.
"Tapi apa yang loe lakukan membuat gue semakin masuk kedalam kehidupan loe!"
__ADS_1
"Kamu harus bisa mengontrol nya!"
"Bagaimana kalau gue gak bisa!"
"Menjauh lah, atau aku yang menghindar. Kita lakukan hari kita seperti orang asing yang tak kenal satu sama lain!"
"Loe egois!"
"Lalu aku harus bagaimana, aku hanya tak ingin kamu terluka lebih dalam lagi. Sedang aku tak mau di tuntut untuk mempertanggung jawabkan ya. Kamu tahu, aku tak bisa di sini, aku harus pergi jika waktu itu tiba!"
"Apa gue harus ikut bersama loe!"
Shofi membulatkan kedua mata nya, lalu menggeleng kuat.
"Tidak! jangan buat aku merasa menyudutkan kamu pada pilihan. Aku di sini hanya ingin menyembuhkan hati kamu, dan mencoba membuat kamu mengerti kalau aku harus pergi,"
"Tapi gue gak rela loe pergi!"
"Kamu harus bisa merelakan nya!"
Fatih terdiam, mereka sama-sama terdiam mencoba mengatur gejolak rasa yang menyesakan.
Rasa yang sangat menyakitkan dan ini jauh lebih sakit dari sekedar patah hati.
Cinta di tolak sangat sakit, cinta bertepuk sebelah tangan juga sakit. Namun, saling mencintai tapi tak bisa bersama itu jauh lebih hebat sakitnya dari pada kedua elemen rasa sakit itu sendiri. Tapi, yang ada yang lebih hebat dari semua itu, yaitu merelakan tanpa menuntut apapun.
"Sendari awal aku sudah memperingati mu, karena aku tak mau membuat mu harus memilih dan aku pun tak mau ada sebuah pilihan,"
"Aku tahu siapa kamu, kamu calon penerus kerajaan keluarga Al-biru. Kamu tak bisa pergi, karena kamu harus di sini mengemban tanggung jawab besar. Begitupun dengan ku, aku tak bisa tinggal karena ada tanggung jawab besar juga yang menungguku!"
"Tolong jangan cari aku dan jangan bertanya kemana aku pergi. Cukup kamu tahu aku akan pergi. Bisakah kita saling mengerti!"
Pinta Shofi menatap Fatih serius. Ternyata bicara dari hati ke hati sangat membuat Shofi lega. Sedikit memberi pengertian agar Fatih paham akan maksudnya. Bahwa mereka berdua tak bisa bersama.
"Apa loe menyukai gue juga?"
Balik tanya Fatih menatap Shofi tajam, Fatih ingin tahu bagaimana perasaan Shofi padanya. Setidaknya, jawaban itu yang akan membuat Fatih menerimanya.
"Tidak!"
Jawab tegas Shofi, membuat Fatih memejamkan kedua matanya dengan tangan mengepal erat.
"Lalu hubungan kita ini seperti apa?"
"Pertemanan, cukup berteman saja!"
"Tapi, gue sulit menerimanya!"
"Baiklah, biar aku yang menghindar!"
"Gue gak mengizinkan!"
Kini Shofi terdiam, bingung harus memberi pengertian apa lagi pada Fatih. Semuanya sudah Shofi jelaskan agar Fatih bisa mengerti hingga tak membuat Shofi semakin merasa bersalah.
"Fatih! bisakah kita jalani hidup ini mengalir apa adanya sampai waktu aku pergi!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...