
Acara ulang tahun Aurora begitu sangat sederhana namun terkesan elegan.
Taman belakang yang di hias seindah mungkin dengan gaya estetik.
Tidak banyak yang keluarga Al-biru undang. Hanya keluarga saja dan beberapa teman Aurora.
Sendari tadi Aurora terus saja menempel pada wanita paruh baya yang masih sangat cantik dengan kaca mata minus yang menghiasi hidung mancungnya.
Bahkan se detik pun Aurora tak mau melepaskan nya.
"Sayang, acaranya mau di mulai. Ayo kita ke sana!"
Bujuk Oma Adelia mengelus rambut cucu cantiknya dengan penuh kasih sayang.
Ya, Oma Adelia dari tadi siang dia sudah sampai di Bandara Sukarno Hatta. Oma Adelia langsung istirahat karena malam ini acara ulang tahun cucunya.
Biasa faktor usia membuat Oma Adelia tak bisa terlalu kecapean.
Padahal, Farhan sudah mengingatkan untuk tinggal di Indonesia saja. Namun, lagi-lagi Oma Adelia menolak nya. Oma Adelia sudah sangat nyaman berada di Jerman. Apalagi ada Dinda dan Fandi di sana. Walau tak setiap hari bertemu setidaknya setiap hari libur Dinda sama Oma Adelia akan menghabiskan waktu bersama.
"Tapi mau sama om!"
Rengek Aurora bergelayut manja pada lengan Oma Adelia. Oma Adelia hanya tersenyum saja melihat tingkah cucunya yang manja jika bersamanya.
"Hay, princess ...,"
"Om!"
Pekik Aurora tersenyum bahagia melihat om nya sudah datang.
"Mending sama om saja, kasihan Oma!"
Aurora melirik sang Oma yang tersenyum tipis kepadanya.
"Baiklah, Oma duduk di sini ya, maafkan Rora sudah buat Oma dari tadi berdiri!"
"No, sayang. Oma tidak apa-apa!"
Jawab Oma Adelia mengelus rambut cucunya.
Aurora duduk di samping Oma Adelia dan di sampingnya lagi ada Alam yang terlihat sangat gagah dengan pakaian formal nya.
Queen dan Farhan menyiapkan yang tersisa sebelum acara tiup lilin nya di mulai.
Ke tiga sahabat Fatih sudah datang, bahkan Raja sengaja datang duluan karena Bunga bilang akan bareng bersama Shofi dan Amira.
Tentunya Shofi menjemput dulu Bunga baru menjemput Amira. Ketiga gadis itu sangat cantik dan manis dengan stail masing-masing.
Bahkan Daniel dan Alexa sudah sampai, dan tentu membawa putra semata wayangnya, Vinsen.
Murni dan Angga juga sudah datang, begitupun dengan Jek dan Melati yang pergi duluan karena Amira masih menunggu jemputan Shofi Bunga.
Hanya kakek Fandi dan nenek Dinda begitu pun om Riko dan keluarganya gak bisa hadir.
Ada beberapa teman Aurora yang sudah hadir berikut kedua orang tuanya yang merupakan rekan bisnis Farhan dan Jek.
"Sayang, acara tiup lilinnya sudah mau di mulai. Ayo!"
Ucap Queen menghampiri putrinya. Namun Aurora masih duduk santai bersama Oma Adelia dan juga Alam.
Sedangkan Fatih, dari tadi matanya terus kesana kemari mencari sosok seseorang yang belum datang juga. Begitupun Raja dan Moreo.
__ADS_1
Hanya Rangga saja yang cuek bebek dia malah asik berkenalan dengan teman Aurora yang pada cantik-cantik walaupun masih kecil.
"Bunda, tunggu sebentar ya. Ka Rara, ka Bunga sama kakak Cantik belum datang!"
Sendu Aurora, padahal Aurora ingin ketiga kakak itu sudah ada. Tapi, kenapa jam segini masih belum datang.
"Ya sudah, kita tunggu sebentar lagi!"
Putus Queen sambil duduk di samping Oma Adelia.
"Dek, tolong temani kak Farhan mengobrol sama rekan bisnis nya!"
"Baik kak,"
Alam langsung beranjak dari sisi Aurora menuju kakak iparnya yang sedang berbincang-bincang seputar bisnis. Begitupun Angga dan Daniel ikut bergabung.
"Aduh, cucu nenek kenapa cemberut begini!"
Ucap Murni tiba-tiba datang, lalu duduk di kursi yang tadi di duduki Alam.
"Rora, lagi nung ... Ah ... itu mereka!"
Pekik Aurora girang melihat ketiga kakak yang dia tunggu sudah datang. Aurora langsung berlari layaknya seorang princess sambil menjinjing gaunnya.
"Kakak!"
Pekikan Aurora membuat semua mata tertuju pada arah pandang Aurora. Di mana ada tiga gadis yang sedang berjalan anggun sambil tersenyum mengembang menyambut Aurora.
"Terimakasih sudah pada datang!"
Ucap Aurora tersenyum bahagia melihat ketiga kakaknya sudah datang.
"Maaf kami telat, jalan sedikit macet. Ayo kita ke sana!"
"Kenapa?"
"Aku kebelet pipis, antar aku ke kamar mandi!"
Bisik Shofi sambil menunduk menahan pipis.
"Adek ku sayang, Rora ke sana dulu duluan sama kak Bunga ya. Kakak mau ngantar kak Shofi ke kamar mandi dulu!"
"No, sama Rora saja,"
Tolak Aurora sambil menggandeng tangan Shofi.
Amira hanya menggeleng saja melihat tingkah Aurora. Sepertinya dirinya mulai tergeser oleh Shofi di hati Aurora.
Amira langsung mengajak Bunga menuju di mana orang-orang sejak tadi melihat mereka.
Sedang, Queen sedang membantu Oma Adelia yang terlihat pusing.
"Mah, kalau gak kuat sebaiknya mama istirahat saja!"
Ucap Queen cemas melihat Oma Adelia sendari tadi memegang kepalanya. Bahkan tak menyadari kehadiran cucunya yang lain.
"Oma!"
Pekik Amira menghampiri Oma Adelia, membuat Oma Adelia langsung mengangkat kepalanya lalu tersenyum tipis.
"Oma, Rara kangen!"
__ADS_1
Ucap Amira memeluk Oma Adelia dengan sayang. Queen hanya diam saja melihat keponakannya memeluk Oma Adelia.
Queen sepertinya harus segera memulai acaranya. Queen tak mau membuat mama mertuanya kecapean. Apalagi Oma Adelia terlihat wajahnya sangat pucat.
"Kita sekarang ke sana, acaranya di mulai!"
Ucap Queen berdiri, namun Queen tak mendapati putri cantiknya.
Oma Adelia di gandeng oleh Amira dan Bunga berjalan ke arah meja yang sudah di hias. Di mana di atasnya ada sebuah kue ulang tahun yang cukup besar.
Semua orang sudah berkumpul di sana tinggal Aurora saja yang belum ada.
"Aurora, ngapain di sini. Acaranya mau di mulai!"
Teriak Vinsen berlari menghampiri Aurora yang berdiri menunggu Shofi selesai.
"Aku la ...,"
"Ayo, kamu harus tiup lilin. Tante Queen tadi mencari!"
Potong Vinsen menarik tangan Aurora membuat Aurora mau tak mau mengikuti langkah Vinsen. Kalau tidak maka dia akan terjatuh.
"Vinsen jangan tarik-tarik, itu kakak cantik bagaimana!"
Kesal Aurora pada Vinsen yang terus menariknya. Vinsen tak peduli, dia terus menarik Aurora hingga sampai ke taman belakang.
"Itu dia princess kita!"
Ucap Farhan melihat putrinya di gandeng Vinsen.
"Nak, dari mana saja, ini acara mau di mulai!"
"Di sini jangan ke mana-mana!"
Aurora menghembuskan nafas berat ketika sang Bunda tak memberikan nya kesempatan untuk bicara.
Sedangkan Shofi baru keluar kamar mandi, namun Shofi heran kenapa Aurora tak ada.
Sayup-sayup Shofi mendengar suara nyanyian tiup lilin sudah di mulai.
Dengan cepat Shofi berjalan ke arah taman belakang. Di mana semua orang berada di sana.
Kedatangan Shofi kembali menjadi pusat perhatian. Pasalnya Shofi baru muncul ketika Aurora sudah potong kue.
Katanya mau pipis tapi nyatanya Shofi malah berak. Al hasil dia ke tinggalan momen potong kuenya.
"Loe lama banget, ngapain di kamar mandi!"
Cetus Fatih tiba-tiba menarik tangan Shofi menuju keluarganya berada.
"Kakak cantik maaf tadi Aurora ninggalin, maaf juga Aurora sudah potong kue!"
Celetuk Aurora membuat Shofi jadi merasa bersalah.
Namun, ketika Shofi akan bersua. Mata birunya terpaku menatap seseorang yang berdiri di samping Farhan. Membuat Aurora yang ingin menyuapi Shofi langsung tergantung karena Shofi malah diam.
Begitupun orang tersebut, terdiam melihat keberadaan Shofi ada di sini.
"Grandma!"
Deg ....
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih .....