
Shofi sudah sampai rumah, di sana Davit sudah menunggu. Davit berlari menghampiri Shofi lalu memeluk nya erat.
Davit benar-benar takut jika Shofi benar-benar tidak di temukan.
"Jangan buat kakak cemas!"
Shofi merasa bersalah pada kakaknya, andai saja Shofi sarapan dulu tadi pagi. Mungkin kejadian hari ini tak akan terjadi.
Mengingat itu membuat Shofi begitu emosi, dengan teganya Fatih meninggalkan dia setelah apa yang Fatih lakukan padanya.
"Maaf kan Shofi kak!"
Sesal Shofi merasa bersalah telah membuat sang kakak se panik ini.
"Badan kamu dingin, kamu langsung istirahat ya."
Shofi hanya mengangguk saja lalu berjalan menuju kamarnya. Untung saja Shofi memakai jaket hangat hingga menutupi jaket Fatih. Kalau tidak, pasti sang kakak akan mempertanyakannya.
Shofi menghela nafas berat, hari ini sungguh Fatih sudah membuat perasaan Shofi campur aduk hingga rasanya ingin meledak.
Lagi-lagi Shofi harus memakai barang Fatih. Waktu itu, jas yang Shofi pakai dan belum di kembalikan. Sekarang jaket.
Tapi, Shofi tak peduli, toh Fatih juga tak minta di kembalikan.
Sudah Shofi tekadkan, ia tak akan tunduk lagi pada Fatih walau itu perjanjian. Per se**n dengan perjanjian itu. Ini semua gara-gara Fatih yang membuat Shofi seperti ini.
Rasa marah, kesal, benci menjadi satu membuat Shofi benar-benar ingin meninju Fatih yang seenaknya memperlakukan dirinya.
Bayangan kejadian di dalam UKS berputar ulang di memori. Hingga Shofi memejamkan kedua matanya berharap bayangan itu akan segera pergi. Namun, bukannya pergi bayangan itu malah semakin menjadi.
Akhhh ....
Jerit Shofi, Shofi benci itu. Kenapa juga Shofi gak bisa melawan waktu itu dan sialnya Shofi malah memejamkan kedua matanya. Seolah dia juga menikmatinya.
Sial!
Umpat Shofi langsung beranjak ke kamar mandi guna mandi dengan air hangat. Berharap bayangan itu akan segera pergi.
Malam-malam Shofi terpaksa berendam di bathtub dengan air hangat berharap lelahnya hilang. Namun siapa sangka Shofi malah ketiduran, Untung saja saluran pembuangan airnya Shofi buka jadi ketika Shofi benar-benar terlelap ia gak kuat terendam.
Hayoo ... para Reader jangan ngebayangin tela****g ya. So, Shofi pakai pakaian terakhir nya.
Mungkin karena terlalu lelah Shofi sampai ketiduran.
Sedangkan Fatih masih berjalan menelusuri trotoar jalan. Entah kemana tujuan Fatih, Fatih tidak mungkin pulang malam-malam ke rumah yang ada Fatih pasti di cecar pertanyaan gak akan ada habisnya.
Dan, sialnya ponsel Fatih kebawa Shofi. Karena Fatih menyimpan ponselnya di saku dalam jaketnya. Fatih yakin, pasti ada banyak panggilan masuk dari sang bunda. Fatih tahu, bagaimana khawatir nya Queen.
Di depan sana Fatih menemukan warung dua puluh empat jam buka. Biasalah warung pinggir jalan.
Fatih menghampiri, guna membeli minuman hangat agar tubuhnya tidak sakit.
__ADS_1
"Pak, susu jahenya satu!"
"Baik nak,"
Balas sang penjaga warung yang menatap aneh pada Fatih. Apalagi Fatih masih menggunakan seragam SMA.
"Malam-malam begini, adek belum pulang ke rumah?"
"Saya terkurung di dalam UKS pak!"
"Walah kasihan banget toh nak, jahat temenan itu temannya. Ini nak sok mangga (silahkan) di le'eut (minum),"
"Terimakasih pak,"
Fatih menyeruput pelan susu jahe buatan pak penjual. Badannya terasa hangat dan tak sedingin tadi.
Fatih masih terus ber pikir siapa orang yang sudah berani mengunci dia dan Shofi di dalam UKS. Untung saja Fatih bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana membuka pintu yang terkunci, itu sudah salah satu keahlian Fatih.
Dan anehnya, kenapa teman-teman pada gak ada yang menunggui nya. Bahkan Amira dan Bunga pun tak ada. Fatih yakin pasti ada seseorang yang ingin menjebak ia dan Shofi,. tapi siapa!
Fatih terus berpikir keras, siapa orang yang berani mengusik dirinya. Fatih Pastikan tidak akan pernah melepaskannya.
Dan, apa tujuannya menjebak ia dan Shofi!
Fatih terus saja bertanya-tanya kenapa? mengapa! siapa?.
Namun, Fatih tak menemukan jawaban itu
"Nak, jangan melamun!"
Fatih terkejut ketika pak penjual menepuk bahunya sambil menyodorkan ponsel. Fatih menautkan kedua alisnya bingung.
"Pakai lah, telepon orang rumah, takut kedua orang tua kamu nyariin!"
Kini Fatih paham maksud pak penjual itu, namun Fatih menggeleng.
"Tidak apa pak, emmz .. boleh saya ikut tidur di sini?"
Pak penjual menatap Fatih sedikit ragu, apalagi ia tidur cuma pakai alas doang. Karena warungnya tak terlalu besar dan sangat sempit.
"Tapi nak, apa kedua orang tua kamu tidak akan cemas!"
"Gak apa pak, saya sudah terbiasa. Apa saya boleh ikut tidur di sini?"
Ulang Fatih, berharap pak penjual ini berbaik hati.
"Ya sudah, tapi bapak punya sarung doang untuk jadi selimut!"
"Gak apa pak, terimakasih!"
Fatih masuk ke dalam warung tersebut yang berukuran sangat sempit, bahkan saking sempitnya Fatih tak bisa terlentang. Hanya bisa tengkurap itupun tak bisa banyak gerak. Tapi, Fatih menikmatinya.
__ADS_1
Cuaca dingin membuat Fatih tak bisa tidur nyenyak. Apalagi tempatnya yang tak nyaman. Hingga sampai subuh Fatih tetap sama, padahal pak penjual sudah berapa kali menyuruh Fatih pulang. Bukan mengusir, namun merasa kasihan melihat Fatih yang tak bisa tidur dengan nyenyak.
Hingga subuh menjelang, Fatih meminjam ponsel pak penjual guna menelepon Moreo.
Entah kenapa Fatih malah menelepon Moreo bukan nya kedua orang tua.
Tak lama Moreo datang dengan pakaian seragam yang sangat rapih karena Fatih menyuruh Moreo sambil bersiap-siap dan Fatih melarang Moreo bertanya apapun.
"Terimakasih pak, sudah membantu saya."
"Sama-sama nak,"
Fatih langsung naik ke motor Moreo menuju kediamannya.
Fatih harus ganti baju untuk sekolah karena tidak mungkin memakai baju lusuh kaya yang di pakai Fatih sekarang.
Fatih mengendap-endap masuk agar tak ketahuan bersama Moreo. Kalau sampai ke tahuan bisa gawat. Untung saja ini masih pagi buta jadi sang Bunda belum ke dapur. Dan terpaksa Fatih membawa Moreo ke dalam kamarnya seolah-olah Moreo semalam nginap di rumah nya.
Moreo yang di bawa masuk ke kamar Fatih merasa takjub melihat kamar Fatih yang sangat luas dan rapih tak seperti kamarnya.
"Loe, jangan macam-macam tetap diam. Tunggu di sana!"
Ucap Fatih sambil menunjuk ke arah shopa. Moreo hanya berdecak kesal.
Moreo melihat-lihat kamar Fatih ketika Fatih masuk ke dalam kamar mandi. Guna membersihkan tubuhnya yang begitu remuk.
Mata Moreo berhenti di satu titik, yaitu meja belajar Fatih. Bukan menatap layar komputer tapi ada satu objek yang menarik perhatian Moreo.
Bukankah itu kaca mata si cupu!
Batin Moreo berjalan menghampiri meja belajar.
Moreo ingin mengambil kaca mata itu namun.
Plak ...
Fatih menepis tangan Moreo hingga membuat Moreo terkejut.
"Gue bilang diam di sana!"
Ketus Fatih karena tak suka apapun barang yang ada di kamarnya di sentuh orang.
Bahkan Fatih sampai mengeluarkan Moreo dari kamarnya membuat Moreo geram akan sikap Fatih yang satu ini. Karena di antara yang lain hanya Fatih yang tak mengizinkan sahabatnya sendiri masuk ke dalam kamar nya. Bagi Fatih, dia juga butuh privasi yang tak semuanya sahabat tahu.
Fatih menatap kaca mata bulat di tangannya sambil mengepalkan satu tangannya lagi.
"Gue harus balikin ini!"
Gumam Fatih langsung masuk ke ruang ganti guna memakai seragamnya.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...