Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 103 Farasit


__ADS_3

Ketiga gadis itu terus berpikir keras siapa orang yang tega sudah menyebarkan aib Amelia. Pasalnya mereka tidak tahu apa-apa tentang poto-poto itu semua.


Walau mereka tahu Amelia hamil, namun mereka bertiga tidak tahu hasil USG dan hasil pemeriksaan Amelia karena mereka langsung pulang waktu itu.


"Menurut kamu siapa orang yang melakukannya?"


Ucap Bunga menatap Amira, Amira hanya menggeleng saja. Bahkan Amira masih terkejut dengan kejadian beberapa waktu lalu.


"Orangnya pasti yang membenci Amelia!"


"Ya iyalah Bunga, masa temannya sendiri, pasti orang yang membenci Amelia lah yang melakukannya!"


Kesal Amira dengan apa yang Bunga ucapkan. Ya tentu pasti orang yang membenci Amelia yang melakukan itu semua. Karena ingin Amelia jatuh.


"Menurutku tidak seperti itu!"


Cetus Shofi baru angkat bicara ketika sendari tadi hanya diam memikirkan sesuatu.


"Maksudnya?"


Shofi menatap Bunga dan Amira dengan serius.


"Coba kalian ingat-ingat, tadi Amelia marah kepada kita karena Amelia menyangka kita yang melakukannya. Karena Amelia sadar kita tahu akan kehamilannya!"


"Namun, bukankah aneh jika ketiga teman Amelia tak tahu apapun tentang keadaan Amelia, sedang kita sendiri tahu merekalah orang terdekat Amelia!"


"Issstt, ngomongnya yang jelas dong, aku gak faham!"


Kesal Bunga kenapa Shofi ngomong berbelit-belit.


"Apa kamu mencurigai ketiga teman Amelia!"


Shofi mengangguk mantap dengan pemikirannya. Membuat Amira sedikit tak percaya bagaimana mungkin ini ulah sahabat Amelia sendiri.


"Ketiga gadis itu sedang berdiskusi apa sih!"


Cetus Rangga melihat tingkah ketiga gadis yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Ya, sendari tadi memang Fatih dan ketiga sahabatnya memerhatikan Shofi, Amira dan Bunga.


Terlihat ketiga gadis itu nampak serius, sedangkan Fatih hanya santai saja.


Fatih beranjak dari duduknya lalu menghampiri Shofi.


"Ayo pulang!"


Fatih menarik tangan Shofi membuat Shofi terkejut.


"Fatih, apa-apa sih, lepas gak!"


Kesal Shofi berusaha melepaskan cengkraman Fatih. Namun, cengkraman Fatih sangat kuat membuat Shofi sulit melepaskannya apalagi langkah Fatih begitu lebar.


Amira dan Bunga hanya melongo saja melihat Fatih membawa Shofi tiba-tiba. Padahal mereka sedang serius membahas masalah Amelia.


"Fatih!!!"


Teriak Amira dan Bunga mengejar langkah Fatih. Namun, sayang Fatih sudah membawa kabur Shofi.


Shofi hanya diam saja enggan untuk memegang pinggang Fatih. Shofi gak peduli apa dia akan jatuh atau tidak. Bahkan kedua tangannya Shofi simpan di dadanya.


Fatih langsung menghentikan motornya karena kesal Shofi tak mau berpegangan.


"Pegangan nanti loe jatuh!"


"Gak mau!"


"Pegang!"


"Gak!"

__ADS_1


"Pegang!"


"Ga--"


Bruk ...


Fatih langsung menarik kedua lengan Shofi membuat Shofi langsung terhuyung dengan kepala bersandar di punggung Fatih.


"Jangan di lepas!"


Tegas Fatih membuat Shofi hanya diam saja karena malas berdebat. Karena Shofi tahu, Fatih gak akan pernah menyerah.


Fatih menyunggingkan bibirnya ketika Shofi menurut dengan tangan yang sudah melingkar indah di perut Fatih.


Fatih kembali melajukan motornya, tanpa Fatih sadari bibir Shofi juga tertarik kesamping sambil membenarkan sandaran kepalanya.


Shofi menautkan kedua alisnya ketika Fatih membawanya ke rumah sakit.


"Ngapain kita ke sini, siapa yang sakit?"


Tanya Shofi ketika ia sudah turun dari motor.


"Loe nanti akan tahu!"


Jawab Fatih santai sambil menarik tangan Shofi masuk ke dalam rumah sakit. Tepat kedatangan Fatih dan Shofi waktu para dokter istirahat.


"Sus, ruang dokter Bara di mana?"


Tanya Fatih pada bagian administrasi.


"Lulus aja dek, nanti belok kanan di sana ada papan nama dokter Bara!"


"Terimakasih sus,"


"Ngapain kita ke ruang dokter Bara?"


Tanya Shofi yang masih bingung, kenapa Fatih ingin menemui dokter Bara.


Tok ... tok ....


Ketukan pintu membuat dokter Bara menghentikan obrolan dengan sang putra.


"Sepertinya ada tamu,"


"Kalau begitu Raftha keluar pah!"


Ucap putra dokter Bara, langsung pamit undur dan mempersilahkan Fatih dan Shofi masuk.


"Tuan muda, suatu kehormatan bagi saja kedatangan anda!"


Ucap dokter Bara langsung berdiri menyambut kedatangan Fatih. Siapa yang tidak tahu Fatih jika ketika rapat Fatih akan selalu ikut dengan Farhan. Di mana dokter Bara dan Farhan adalah partner kerja.


Dokter Bara langsung mempersilahkan Fatih dan Shofi duduk.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan muda!"


"Saya ingin tahu, siapa orang yang menemani pasien bernama Amelia di rawat di sini delapan hari lalu?"


Dokter Bara tersenyum sangat menyukai anak muda di depannya. Bicara langsung ke inti tanpa ber basa basi terlebih dahulu.


"Ketiga temannya, karena katanya kedua orang tuanya sedang di luar negri!"


"Apa dokter mengatakan sesuatu pada ketiga teman Amelia?"


"Saya hanya memberikan hasil USG dan hasil pemeriksaan pada temannya. Tapi, mengenai kondisi lebih lanjutnya saya tak mengatakannya karena ini masalah serius!"


"Apa yang menjaga Amelia waktu itu mereka orangnya?!"


"Iya!"

__ADS_1


Jawab dokter Bara ketika Fatih memperlihatkan sebuah Poto di layar ponselnya.


"Baik, terimakasih dok atas waktunya!"


"Sama-sama!"


Sesudah mendapat apa yang Fatih mau, Fatih mengajak Shofi keluar dari ruang dokter Bara.


Shofi sendari tadi hanya diam saja seakan sulit untuk berbicara. Bahkan awal mula penjelasan dokter Bara membuat Shofi sekarang faham kenapa Fatih membawanya ke rumah sakit.


"Ternyata benar, yang melakukan ini semua sahabat Amelia sendiri!"


Monolog Shofi tak habis pikir, namun, yang membuat Shofi terkejut kenapa kedua orang tuanya tak datang ke rumah sakit. Sungguh miris sekali jadi Amelia, pasti hidup nya sudah sangat berat.


"Kenapa?"


"Karena mereka tidak tulus berteman dengan Amelia!"


Ketus Fatih karena Shofi dari tadi ngomong sendiri tanpa memperdulikan keberadaannya. Sudah untung Fatih membantu mencari siapa pelakunya.


Shofi sontak terkejut akan ucapan ketus Fatih, membuat Shofi tersadar bahwa dia masih bersama Fatih.


"Eh, kok gitu!"


"Mereka itu hanya parasit yang memanfaatkan kan kekayaan Amelia saja!"


"Tapi, Fatih, bukti tadi tidak cukup untuk membuktikan semuanya!"


"Lihat ini!"


Shofi mengambil ponsel Fatih, seketika matanya membulat melihat ketiga sahabat Amelia di ikat. Terkejut bukan karena keadaan ketiga gadis itu melainkan pengakuan dari salah satu ketiganya. Hingga membuat mereka menjadi ribut sendiri.


"Oh my good, Fatih!"


Shofi membekam mulutnya sendiri seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Ternyata mereka, mereka khianat, Mereka benar-benar parasit.


"Aku harus kasih tahu Amira dan Bunga, mereka pasti terkejut melihat bukti ini!"


Cetus Shofi, yang tadinya terkejut menjadi girang karena sudah mendapatkan bukti yang akurat. Bahkan itu pengakuan dari sahabat Amelia sendiri.


Shofi tak sabar memperlihatkan semuanya pada Amelia.


Shofi melihat Fatih dengan mata berbinar, sambil tersenyum indah.


"Terimakasih,"


Deg ...


Fatih diam membeku dengan mata melotot. Ketika Shofi memeluknya erat. Bahkan rasanya Fatih ingin pingsan saja mendapat pelukan tulus dari Shofi.


"Terimakasih, kamu sudah membantu kami, terimakasih!"


Ulang Shofi lagi kembali memeluk Fatih saking bahagianya.


Shofi tidak sadar, apa yang dia lakukan membuat Fatih ingin meledak saja. Bahkan wajah Fatih memerah bak kepiting rebus saking gugupnya.


"Eh, maaf!"


Shofi buru-buru melepas pelukannya ketika sadar dengan apa yang ia lakukan. Shofi jadi salah tingkah sendiri dengan kelakukan ya.


Bahkan keduanya jadi salah tingkah dengan kelakuan konyol mereka.


"Emmz .., ki-kita pu--lang, ya kita pulang!"


Gugup Shofi langsung beranjak pergi, sambil menggerutu sendiri merutuki kebodohannya sendiri. Bahkan Shofi menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like Hadiah komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2