
Setelah kejadian memalukan kemaren. Membuat Amelia and the geng terus memerhatikan tingkah Shofi yang terlihat malu-malu dan takut. Bahkan tatapan itu kembali polos seperti sebelumnya.
Seolah memang itulah Shofi, namun Amelia and the geng masih belum percaya. Apa Shofi mempunyai kepribadian ganda atau tidak.
Amelia and the geng seolah sedang menjadi detektif untuk mencari tahu siapa Shofi sebenarnya. Tapi, sampai sekarang mereka belum bisa mendapatkan data yang mereka cari.
"Cih, akting nya sungguh jelek!"
Ketus Amelia ketika melihat Shofi bertabrakan dengan salah satu kakak kelas. Dan, Shofi terlihat lugu dan polos meminta maaf.
Amelia and the geng buru-buru bersembunyi ketika Shofi melirik ke arahnya.
Shofi hanya tersenyum tipis menyadari kalau dari tadi dia di perhatikan terus. Shofi masa bodo, yang terpenting mereka gak menggangu dia lagi.
"Apa si cupu itu, mempunyai kepribadian ganda?"
Tanya Amelia pada ketiga temannya. Ketiga temannya malah menggeleng tanda tidak tahu.
"Bagaimana caranya kita harus membalas si cupu itu!"
"Gue setuju, gara-gara gadis idiot itu kelapa gue sakit!"
Ucap Rima menggebu di angguki Mira dan juga Sindi.
Jika geng the Queen sedang merencanakan sesuatu. Berbeda dengan Amira yang sedang fokus menghapal dan Bunga sedang membaca syair.
Amira mencari buku catatan nya untuk mempelajari rumus baru. Sudah selesai Amira membukanya. Seketika mata Amira melotot melihat buku catatan nya sudah penuh dengan rumus-rumus. Lalu Amira membandingkannya dengan buku yang dia baca. Ternyata rumus itu sama.
"Bagaimana mungkin!"
Gumam Amira melihat ternyata hasilnya sama dengan yang ada di buku.
"Siapa yang menulis ini semua?"
"Nih, minum dulu biar belajarnya semangat!"
Celetuk Shofi tiba-tiba datang. Shofi duduk di samping Amira. Namun Amira tak menanggapinya karena sedang fokus membandingkan catatan buku belajar dengan catatan di buku asli.
"Hey, kamu sedang apa?"
Tanya Shofi sambil menurunkan buku yang di pegang Amira.
"Aku tidak tahu siapa orang yang menulis ini di buku catatan ku!"
Lilir Amira bingung membuat Bunga langsung menoleh dan melihat tulisan di catatan buku Amira.
__ADS_1
Tulisan itu begitu rapi dan sangat bagus, menurut Bunga tidak ada yang aneh.
"Tulisan bagus, emang kenapa! ini kan rumus-rumus yang kamu butuhkan,"
Celetuk Bunga membuat Amira mendengus karena Bunga tidak mengerti.
"Maksud Amira, catatan ini sama persis dengan yang ada di buku ini. Walau cara menghitungnya sedikit berbeda tapi hasilnya sama. Lihat lah dengan teliti!"
Jelas Shofi membuat Amira mengangguk. Amira tidak mempermasalahkan catatan itu. Tapi, Amira penasaran siapa orang yang menulis ini kalau Bunga, itu tidak mungkin.
"Oh iya, juga ya!"
Gumam Bunga mengangguk-anggukkan kepala walau Bunga tak mengerti.
Shofi pun meneliti tulisan itu dengan seksama. Tak lama Shofi tersenyum tipis.
"Mungkin adik sepupu mu yang melakukan ini!"
Ukuk ...
Amira yang sedang minum langsung tersedak. Amira dan Bunga saling tatap lalu menoleh pada Shofi.
Ha ... ha ...
Amira dan Bunga tertawa merasa lucu dengan omongan Shofi. Tidak mungkin Fatih yang melakukan ini. Anak itu belajar pun suka ogah-ogahan. Tidak mungkin Fatih, apa lagi tulisan ini begitu rapi.
Selidik Amira curiga, karena Shofi langsung menuju ke sana. Shofi jadi salah tingkah di tatap intens seperti itu oleh Amira.
"Hm, aku cuma menebak saja. Soalnya yang berani suka mengambil buku kan adik sepupu kamu!"
Elak Shofi membuat Amira memangut-mangut. Masuk akal juga sih, namun Amira menampik keras. Apa benar adik sepupunya yang menulis ini. Padahal setahu Amira Fatih jarang sekali belajar benar walau masuk kelas.
Apa mungkin!
Amira masih belum percaya kalau ini Fatih yang melakukannya. Begitupun dengan Bunga, tak perca akan semua ini.
"Coba saja kamu selidiki, bandingkan tulisan adik sepupu kamu dengan tulisan ini. Kalau tidak sama mungkin orang lain. Kalau sama berarti dia!"
Usul Shofi membuat Amira terdiam karena masih belum bisa percaya. Bagaimana mungkin, Fatih menguasai rumus-rumus yang menurut Amira paling sulit.
Kamu mungkin tak akan percaya! namun itu kenyataan nya.
Batin Shofi, bagaimana Shofi bisa seyakin itu. Karena Shofi yang melihatnya sendiri. Waktu Amira mengajak Shofi ke rumah sakit Shofi sempat menolak.
Tapi, tak lama Shofi juga ikut ke sana dengan secara sembunyi-sembunyi dan menjelaskan langsung pada kedua orang tua Fatih tanpa di ketahui Amira dan ketiga sahabat Fatih begitu pun oleh Amelia and the geng.
__ADS_1
Shofi menyusul karena merasa bersalah akan hal itu. Awalnya Shofi gak mau masuk ketika Amira dan yang lain sudah pada pulang. Namun, karena merasa penasaran secara diam-diam Shofi masuk dan bersembunyi di balik tembok ketika sadar bahwa Fatih belum tidur.
Di sana Shofi melihat Fatih sedang membuka tas Amira yang ketinggalan dan menulis sesuatu di buku catatan Amira.
Namun, ada yang kurang dari rumus itu!
Hingga Amira kembali mengambil tasnya yang ketinggalan dan di situ Fatih pura-pura tidur.
Mengingat itu membuat Shofi tersenyum tipis sangat tipis hingga Amira tak menyadari itu.
Lama Amira berpikir, seketika senyuman mengembang di bibir Amira. Ketika dia ingat kalau tasnya sempat ketinggalan di ruang rawat Fatih.
"Baiklah, aku akan mencoba membuktikan nya. Kemungkinan Fatih besok masuk!"
Glek ...
Mampus aku!
Kini Shofi yang menegang, karena Shofi yakin Fatih tidak akan melepaskannya begitu saja. Entah mimpi apa sehingga Shofi harus berurusan dengan manusia satu itu.
Kenapa hidup Shofi sedikit saja tak tenang. Entah apa yang harus Shofi lakukan. Apa dia akan tetap bersembunyi di wajah polosnya atau dia akan melawan Fatih. Tapi, jika sang kakak tahu dia membuka jati dirinya apa yang akan terjadi.
"Kenapa kamu diam?"
Ucap Amira sambil menepuk lengan Shofi yang malah diam.
"Apa adik sepupu mu akan membuat aku sengsara?"
Lilir Shofi entah harus bagaimana mana.
"Ah .., aku gak tahu. Tapi kayanya Fatih sudah terlanjur marah sama kamu!"
"Gimana dong, aku takut!"
Kini Amira yang dia karena dia juga bingung. Amira juga gak mungkin terus-terusan melindungi Shofi karena mereka pasti sering berpisah karena Amira harus mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade. Dan, jika benar itu Fatih. Maka Amira akan memaksa Fatih untuk menggantikan Rijal.
"Lebih baik kamu minta maaf langsung Fatih gak sejahat itu kok!"
Hibur Amira membuat Bunga menelan ludahnya kasar. Tidak sejahat bagaimana, Fatih memang bukan penjahat tapi Fatih adalah pem buli. Yang selalu seenaknya menyuruh orang dan menjahilinya. Walau Fatih tidak mem buli dengan kekerasan tapi tetap saja Fatih merugikan orang.
Intinya kalian bisa menilai wahai pembaca Budiman.
Bahkan jika bukan Amira menjadi teman Bunga maka sudah dari dulu Bunga menjadi sasaran Fatih. Bahkan Bunga dulu sempat sakit karena kecapean ketika Fatih menyuruhnya membersihkan toilet. Di mana itu harusnya hukuman Fatih.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...