
"Awwss ...,"
Ringis Shofi terjatuh ketika sebuah kaki sengaja menghalangi jalannya.
Shofi berusaha berdiri menatap tajam pada orang yang ingin cari masalah dengannya.
"Apa salahku?"
"Jauhi Fatih, loe gak pantas buatnya!"
Ucap Amelia memerintah dengan arogan. Sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Amelia sangat kesal sekali melihat akhir-akhir ini Fatih malah mendekati Shofi bahkan terkesan mengejar-ngejar Shofi. Tak ada yang boleh memiliki Fatih selain dirinya.
"Ya harus kamu suruh itu Fatih jauhi aku, siapa juga yang mau sama Fatih!"
Balas Shofi tak kalah arogan nya menatap tajam balik Amelia. Amelia pikir Shofi akan takut apa padanya, No.
"Loe!"
Tak ...
Amelia ingin menampar Shofi namun dengan santai Shofi memegang tangan Amelia lalu di hempasannya begitu saja.
"Kamu salah jika mencari lawan seperti aku, jika ingin Fatih, ambil sana manusia purba itu."
"Dan, ingat! gue gak ada hubungan apa-apa dengan manusia purba itu!"
"Minggir!"
Sentak Shofi membuat Amelia tergeser oleh hentakan bahu Shofi.
Amelia menggeram kesal melihat Shofi selalu berani melawannya.
Sedang di ujung sana sepasang mata menatap tajam kepergian Shofi dengan rahang mengeras. Bahkan tangannya sudah mengepal erat menahan emosi.
Siapa lagi kalau bukan si manusia purba, ya tadinya Fatih ingin membantu Shofi yang terjatuh namun urung karena Shofi bisa mengatasinya sendiri. Tapi, mendengar ucapan arogan Shofi membuat Fatih emosi. Bahkan berani bener Shofi menyuruh Amelia mengambilnya, emang dia barang apa. Bahkan Fatih tak suka pada ulat bulu itu yang selalu mengejar-ngejar nya namun bercumbu dengan orang lain.
Bukan tanpa alasan Fatih tak menyukai Amelia. Karena tingkah Amelia lah yang membuat Fatih menjadi ilfil.
Andai saja Fatih tak memergoki Amelia berciuman dengan Aditya mungkin Fatih tak akan se benci itu pada Amelia. Fatih akan bersikap biasanya saja sama seperti memandang anak-anak lain.
Shofi menghentak-hentakan kakinya karena kesal. Kenapa juga harus bertemu dengan ulat bulu itu.
"Kau!"
Shofi terkejut karena Fatih tiba-tiba muncul di hadapannya. Kenapa akhir-akhir ini Fatih selalu saja muncul dan pergi begitu saja bak jailangkung.
"Apa!"
"Kenapa loe masih memanggil gue manusia purba!"
Glek ...
Shofi menelan ludahnya kasar, ternyata tadi Fatih mendengar ucapan dirinya.
__ADS_1
"Ah, maaf. Habis aku kesel!"
"Dan loe, menyuruh ulat bulu itu ngambil gue. Emang gue barang bisa di ambil gitu!"
Plak ...
"Isstt, kau ini baper an amat kaya cewe!"
Cetus Shofi sambil refleks memukul tangan Fatih.
"Loe mukul gue!"
"Ih ... serius amat sih. Gak bisa santai apa!"
Shofi tambah kesel dengan tingkah Fatih yang menurutnya lebai. Kenapa juga Fatih bersikap seperti itu.
"Minta maaf gak!"
"Gak!"
"Minta maaf!"
"Gak!"
"Philo!"
Deg ...
Shofi menghentikan langkahnya ketika Fatih berani memanggil nama itu. Jantung Shofi tak karuan dengan perasaan campur aduk.
"Gak!"
"Gue gak suka penolakan!"
"Gue tunggu di depan gerbang ya!"
Sesudah mengucapkan itu Fatih pergi, tak lupa Fatih mengacak-ngacak rambut Shofi. Mungkin itu akan menjadi kebiasaan Fatih memperlakukan Shofi seperti Aurora.
Shofi memegang dadanya yang tak baik-baik saja sambil menatap nanar kepergian Fatih.
Jika seperti ini, rasanya aku kalah!
Batin Shofi menghembuskan nafas kasar. Shofi melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan di mana Amira dan Bunga menunggu.
Shofi yakin, Amira dan Bunga pasti akan menggerutu karena dia telat.
Mereka memang sudah berencana akan belajar bareng di perpus mempersiapkan beberapa bulan lagi akan masuk semester ganjil. Kalau sudah semester ganjil maka mereka akan di sibukkan dengan ujian praktek, lalu terakhir ujian Nasional.
Waktu memang sepertinya akan cepat berlalu karena dengan kesibukan waktu tak akan terasa.
"Lama!"
Dan, benar saja dugaan Shofi kalau Amira dan Bunga pasti kesal terhadapnya. Karena baru datang.
"Maaf, tadi ada sedikit insiden!"
__ADS_1
Ucap Shofi merasa bersalah lalu duduk di hadapan Amira.
"Apa!"
"Biasa ulat bulu!"
"Kenapa bisa mengganggumu!"
"Tak terima kalau si manusia purba terus mendekatiku!"
"Huh, gadis itu sungguh menyebalkan aku tak menyukainya!"
Ketus Amira benar-benar tak suka pada Amelia. Bahkan jika Fatih menyukai Amelia maka Amira orang pertama yang menentangnya.
"Sudah, kenapa makin panjang. Waktu kita tak banyak!"
Cetus Bunga, kapan mereka mulai belajarnya jika terus mengobrol. Apalagi waktu istirahat tinggal sebentar lagi.
Shofi dan Amira terdiam, mereka hanya mengulum senyum saja karena memang waktu mereka tak banyak.
Dan, benar saja baru saja memulai satu pelajaran tanda seruan masuk kembali terdengar.
Amira, Shofi dan Bunga segera menghentikan belajarnya lalu mereka beriringan masuk kelas kembali. Dengan canda tawa yang begitu lepas. Shofi hanya sesekali ikut tersenyum saja.
Jam pelajaran ke Tiga di mulai, di mana bagian pelajaran bahasa Inggris. Dan setiap siswa harus menggunakan bahasa Inggris ketika di tanya oleh guru.
Kemampuan Amira dan Bunga dalam bahasa Inggris berbeda tipis. Terdengar kaku dan gugup ketika menjawab namun berhasil menjawab walau ada beberapa bagian kata yang kurang tepat kata pengucapannya.
Kalau di tanya bahasa sastra pasti Bunga jago dan tak akan gugup menjawab. Sejarah seperti jantung bagi Bunga. Karena itu Bunga faham akan Filosofi-filosofi Yunani kuno.
Namun, Amelia di bagian ini ternyata jago menggunakan bahasa Inggris bahkan terlihat bangga ketika guru menyebutnya sempurna.
Setiap anak pasti akan kebagian dan kini giliran Fatih yang di suruh berdialog seakan mereka sedang dalam satu acara. Dan, yang menjadi moderator adalah Moreo.
Namun, seperti biasa Fatiha akan menjawab asal dan terkesan sangat bodoh membuat Fatih harus di kedepankan dengan dua siswa yang sudah di suruh ke depan duluan karena tak lancar menggunakan bahasa Inggris.
Moreo hanya menggeleng saja melihat tingkah Fatih yang selalu seperti itu. Padahal Fatih sangat jago dalam berbahasa Inggris.
Dan, kini tinggal Shofi dan Raja yang belum ke bagian.
"Shofi and Raja, Raja is the moderator and Shofi is the resource person. Can the King ask a little about Shofi's story with his parents? ( Shofi dan Raja, Raja menjadi moderator dan Shofi menjadi narasumber. Coba Raja tanya sedikit kisah Shofi bersama kedua orang tuanya?)"
"Ok, Miss!"
"Tell us a little about your parents' story?)" ( Ceritakan sedikit kisah kedua orang tuamu?)"
"They are angels in my life, I can't describe them. Too religious for me to tell. What is certain is that they are great figures like pine trees that grow stoutly without fear of a storm knocking them down. They stand firmly to be my guardian angel, to be my heart, to be my heart, especially they are proof of love that is so real, just like my name, Alin's philosophy. Love, glory and holiness! (Mereka sosok malaikat di hidupku, aku tak bisa menjabarkannya. Terlalu religi untuk aku ceritakan. Yang pasti mereka sosok hebat bak pohon Pinus yang tumbuh gagah tanpa takut badai merobohkan. Mereka berdiri kokoh menjadi malaikat pelindungku, menjadi jantungku, menjadi hatiku terutama mereka bukti cinta yang begitu nyata, halnya seperti namaku, Filosofi Alin. Cinta, kejayaan dan ke suci an, itulah mereka!)"
Miss Zamora tersenyum mendengar ungkapan Shofi. Terlihat, cinta itu begitu besar. Bahkan Miss Zamora bisa melihat tatapan kosong Shofi yang penuh kerinduan, cinta yang begitu besar.
Seakan cinta kedua orang Shofi tak bisa di sandingkan dengan apapun. Sosok itu seakan sosok sempurna di mata Shofi. Sangat mendalam dan penuh makna.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1