Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 35 Kekesalan Shofi ( I Hate You)


__ADS_3

Amira dan Bunga begitu merasa heran melihat sikap Shofi yang jadi pendiam. Bahkan Shofi kerap kali melamun, entah apa yang Shofi lakukan.


Bahkan ketika Fatih menggangunya Shofi tak menggubris. Tatapan Shofi begitu kosong, entah apa yang di pikirkan Shofi.


Bahkan dari tadi belajar pun Shofi tak fokus hingga beberapa kali Shofi di tegur oleh guru dan harus menjawab semua pertanyaan guru. Namun anehnya Shofi bisa menjawab semuanya dengan lugas dan benar.


Tapi, ketika sang guru kembali menerangkan Shofi juga kembali melamun. Dan, itu membuat Amira dan Bunga benar-benar bingung.


Kenapa orang tak fokus tapi bisa menjawab dengan benar. Itu hal yang aneh, terlihat itu bukan seperti Shofi. Karena tak masuk akal, jika seseorang tidak fokus belajar namun dia bisa menjawab ketika guru bertanya. Kecuali memang orang-orang itu mempunyai IQ yang tinggi.


Tanpa Shofi sadari, kelakuan Shofi mengundang tanda tanya teman sekelasnya. Dan, tanpa sadar juga Shofi seakan menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya.


Tidak hanya Amira dan Bunga yang terkejut. Begitupun dengan Fatih dan ketiga sahabatnya bahkan Amelia pun juga ikut terkejut dan juga heran.


Jangankan para murid di kelas itu, guru pun yang mengajar ikut di buat bingung. Pasalnya Shofi bisa menjawab pertanyaan sulit dia. Padahal Shofi dari tadi melamun tak mendengarkan penjelasannya.


"Shofi!"


Panggil Amira sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Shofi. Namun, tak ada respon sama sekali. Shofi hanya diam dengan tatapan kosongnya sambil terus mengaduk-aduk baksonya.


Amira dan Bunga saling tatap heran, tidak di kelas tidak di kantin hari ini Shofi bertingkah aneh.


Bruk ...


Tiba-tiba Fatih datang lalu duduk di samping Shofi dan merebut mangkuk bakso Shofi. Amira ingin protes namun tidak jadi ketika melihat Shofi hanya diam dan menghela nafas doang.


Fatih melirik merasa aneh karena Shofi tak mengomel. Karena kesal di abaikan, Fatih tersenyum seringai.


Burrrr ....


"Up sorry, gue sengaja!"


Ajaib!


Shofi hanya diam saja walau awal Shofi terkejut. Dengan santai Shofi membersihkan rok yang basah karena Fatih sengaja menumpahkan kuah baksonya.


Fatih di buat tercengang melihat respon Shofi yang terlihat santai saja.


"Aku ke kamar mandi dulu!"


Ucap Shofi langsung beranjak dari duduknya.


Bruk ...


Shofi terjatuh ketika dengan sengaja Fatih memalangkan satu kakinya.


Shofi mengepalkan kedua tangannya kuat dengan rahang mengeras. Kenapa Fatih selalu saja bikin masalah dengannya. Hari ini mood Shofi sedang jelek tapi Fatih malah terus memancingnya.


Dari tadi Shofi diam karena merasa lelah berdebat. Bahkan waktu di kelas pun tadi Shofi diam dan di kantin diam juga. Tapi, kali ini Fatih sudah keterlaluan hampir membuat kepala dia ke jedot meja.


"Kau!"


Bentak Shofi menatap Fatih sengit, Shofi berjalan menghampiri Fatih dengan tatapan membunuh.


"Apa masalahnya, kenapa kau selalu membuatku kesal!"

__ADS_1


"Masalahnya! loe itu budak gue!"


"Gue bukan budak loe!"


Ucap Shofi sengit mulai terpancing emosi. Membuat Fatih tersenyum tipis, ini lah yang Fatih inginkan. Shofi meluapkan kekesalannya.


"Loe lupa l--"


"Gue ingat! tapi bukan sekarang."


"Sama saja, mau sekarang atau nanti loe tetap budak gue!"


"Kau memang brengsek!"


Bruk ...


Shofi sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Shofi langsung mendorong Fatih hingga terjerembab karena dorongan Shofi begitu kuat.


"I hate you!"


Shofi langsung meninggalkan kantin dengan perasaan berkecamuk. Kenapa Fatih selalu saja mengganggunya. Apalagi di saat mood Shofi begitu buruk.


"Akhhh ..,"


Prang ...


Deg ...


Amelia begitu terkejut melihat Shofi meluapkan amarahnya sambil meninju kaca toilet. Tadi nya Amelia ingin menghakimi Shofi di saat Shofi tidak terkendali. Tapi melihat Shofi seperti itu membuat Amelia bergidik ngeri. Sepertinya Amelia harus menyusun rencana lain untuk membalas sakit hatinya.


"Brengsek ... sialan !!"


Tangisan Shofi menjadi pecah memecah keheningan toilet karena semua anak-anak langsung berlarian keluar.


Shofi benci Fatih, kenapa Fatih selalu mengusiknya. Shofi ingin tenang, kenapa satu hari saja hidupnya tak tenang.


"Mom dad,"


Hanya nama itu yang Shofi sebut, Shofi kangen pada ke dua orang tuanya. Kenapa dia selalu mengalami hal-hal sulit. Bahkan nyawanya saja dalam bahaya.


Pikiran Shofi kacau gara-gara tadi pagi Shofi menangkap sosok seseorang yang begitu Shofi sayangi. Bukankah dia sudah meninggal, bahkan Shofi menyaksikan langsung bagai mana Schwager nya di bunuh.


Tapi, bagaimana mungkin dia ada di Indonesia. Jika dia masih hidup kenapa tak mencarinya. Bahkan ini sudah empat tahun lamanya.


Shofi melihat Schwager nya baik-baik saja bahkan terlihat nampak bahagia.


Shofi dari tadi melamun karena bertanya-tanya. Kenapa Schwager nya tak mencari dia dan sang kakak. Kenapa? ada apa? dan bagaimana selama ini Schwager nya hidup. Sama siapa dan bagaimana.


Shofi terus bertanya-tanya hingga sampai tak fokus belajar. Namun, lagi-lagi Fatih mengganggu pikirannya. Membuat Shofi bertambah marah saja. Bahkan mungkin Shofi benci manusia purba itu.


Shofi terus terisak duduk di pojokan toilet dengan darah bercucuran ke lantai. Shofi tak merasakan sakit di punggung tangannya akibat meninju kaca. Tapi, hati Shofi jauh lebih sakit ketika melihat Schwager nya baik-baik tapi mencarinya.


Apa Schwager sudah melupakan dia, tapi kenapa. Shofi akan menerima jika Schwager nya melupakan dia tapi sang kakak. Bagaimana mungkin Schwager melupakan kak Davit.


Tanpa Shofi sadari sepasang mata menatap dia tajam. Bahkan menatap remeh Shofi.

__ADS_1


"Lemah!"


Krek ...


Shofi menggertak kan gigi-gigi ketika mendengar suara yang Shofi benci.


Lemah!


Lagi-lagi Shofi di katakan lemah. Shofi benci itu. Dia gak lemah, dia kuat bukankah itu yang sang mommy inginkan.


"Gue gak lemah, sialan!"


Maki Shofi menatap sengit pada Fatih yang sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan remeh, Shofi benci itu.


"Cih,"


Fatih berdecak menatap keangkuhan Shofi dengan melipat tangannya di dada.


"Lihatlah dirimu, jika bukan lemah!"


Remeh Fatih menatap darah yang terus menetes di punggung tangan kanan Shofi.


"Jangan sok ngelawan jika kau gadis cupu lemah yang tetap akan lemah!"


Shofi memberontak ketika Fatih menarik lengannya. Bahkan darah di punggung tangan Shofi ciprat pada baju seragam Fatih.


"Lepas, apa yang kau lakukan hah!"


Bentak Shofi terus memberontak membuat Shofi baru merasa perih ketika Fatih mencengkram luka itu.


Bahkan posisi mereka begitu intim karena Fatih mencengkal lengan kiri Shofi ke belakang. Sedang lengan kanan Shofi Fatih cengkal ke atas. Bahkan Shofi bisa merasakan nafas maskulin Fatih di hidungnya.


"Diam, atau gue melakukan hal lebih pada loe!"


Entah kenapa Shofi langsung diam dan tak memberontak lagi. Shofi jadi merasa takut melihat tatapan berbeda dari Fatih entah tatapan apa itu. Yang jelas Shofi merasa tatapan Fatih berkali-kali lipat mengerikan dari sebelumnya.


"Good!"


Gumam Fatih langsung melerai cengkeramannya. Lalu Fatih membawa lengan Shofi ke wastafel dan mencuci luka itu.


Shofi hanya menggigit bibir bawahnya karena benar-benar merasa perih.


"Lemah!"


Kini Shofi hanya diam karena percuma melawan pun juga. Sepertinya Fatih akan semakin keras jika Shofi melawan.


Dengan cekatan Fatih mengobati luka Shofi. Entah sejak kapan di samping Shofi ada kotak P3K.


Shofi bisa melihat dengan jelas pahatan wajah tampan Fatih yang di gilai anak-anak.


Alis tebal dengan hidung mancung dan bibir tebal yang terlihat seksi. Bahkan bibir bawah Fatih ada belahan.


Tampan!


Deg ...

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2