Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 49 Mulai bercerita


__ADS_3

"Dari mana?"


Tanya Amira pada Shofi berbisik karena pelajaran akan segera di mulai. Untung saja Shofi cepat kembali jadi ia tak telat masuk.


"Toilet, tadi perutku sakit!"


"Pantas saja pipi kamu memerah!"


"Hah!"


Refleks Shofi langsung memegang pipinya dengan suara tertahan.


Sial! semua ini gara-gara manusia purba. Aku jadi berbohong!"


Rutuk Shofi dalam hati, dan sialnya kenapa bisa pipi Shofi memerah. Merona bukan karena sakit perut tapi karena perbuatan Fatih tadi.


"Dan kamu juga kenapa pakai kaca mata lagi!"


Kini Amira merasa aneh dengan tingkah Shofi.


"Emmz .. tadi tak sengaja mataku kelilipan pas di kamar mandi!"


"Amira, Shofi sedang apa kalian!"


Bentak pak Anwar karena telinga tajamnya dari tadi mendengar Amira dan Shofi berbisik-bisik.


"Anu pak, Shofi sedang sakit, saya menawarkan ke Uks."


"Lihat pak, sampai pipinya memerah!"


Celetuk Amira polos membuat Shofi menunduk malu bercampur kesal dengan keadaan ini.


"Ya sudah! bawa teman kamu ke UKS!"


Tegas pak Anwar membuat Amira lagi-lagi mengangguk polos langsung membawa Shofi ke UKS. Shofi dari tadi menunduk membuat Bunga ikut membantu karena takut Amira gak kuat membawa Shofi.


Fatih yang sendari tadi melihat tingkah Shofi hanya mengulum senyum saja. Di mata Fatih Shofi sangat menggemaskan.


Rangga, Raja dan Moreo saling tatap satu sama lain. Lalu melihat Fatih yang tersenyum-senyum sendiri.


Dia kenapa?


Itulah isyarat dari pertanyaan Raja pada kedua sahabatnya. Moreo hanya cuek saja karena masih kesal dengan apa yang Fatih lakukan tadi.


Bagaimana Moreo tidak kesal jika Fatih sudah menyuruhnya menjemput, lalu mengusir dia dari kamar dan lebih parahnya Fatih malah meninggalkannya pergi ke sekolah duluan. Tanpa menunggu ia menyelesaikan sarapan.


Pak Anwar langsung melanjutkan pembelajarannya.


Sedangkan Shofi sudah sampai di UKS dan langsung di periksa oleh dokter dengan Amira dan Bunga menunggu karena khawatir Shofi kenapa-napa.


"Teman kami kenapa dok?"


"Teman kalian tidak apa-apa!"


"Masa! tapi kenapa pipinya merah!"


Dokter menatap Shofi yang langsung menunduk malu.


"Mungkin karena kecapean habis lari atau apalah. Tapi dia gak apa!"


Amira dan Bunga saling pandang bingung, mereka sudah sangat panik tadi tapi anehnya tak terjadi apa-apa.


"Ya sudah, saya permisi dulu!"


Dokter yang memeriksa Shofi langsung keluar karena tugasnya sudah selesai.


Amira dan Bunga masih bingung saja dengan apa yang terjadi apa lagi Shofi tak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Kamu tak mau mengatakan sesuatu?"


Tanya Amira menatap tajam Shofi yang sudah berhasil mengendalikan dirinya sendiri. Shofi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung harus mengatakan apa.


Mana mungkin ia mengatakan kalau Fatih yang sudah membuatnya begini. Yang ada masalahnya semakin panjang dan Shofi juga akan malu sangat sangat malu.


"Tidak ada! mungkin karena aku kecapean kali. Tadi lari dari toilet ke kelas karena takut ketinggalan kelas!"


"Hah, kau ini membuat ku takut saja!"


Kesal Amira tak percaya dengan ucapan Shofi yang membuat Amira tak mengerti.


"Tapi, bisakah kalian membantuku!"


Kini Shofi bicara serius menatap ke dua temannya.


Apa kah ini waktunya Shofi bercerita tentang siapa dirinya. Namun, masih ada keraguan di hati Shofi untuk mengatakannya.


Amira dan Bunga kembali saling tatap satu sama lain. Karena merasa Shofi seperti serius dengan ucapannya.


"Katakan!"


Jawab Bunga dan Amira barengan sambil duduk.


"Aku ingin meretas data seseorang!"


"What!!"


Pekik Amira dan Bunga terkejut dengan ucapan Shofi. Bagaimana bisa Shofi menyuruh mereka membantunya meretas data seseorang. Sedang mereka tak tahu caranya.


"Jangan bercanda Shofi!"


"Aku gak bercanda, aku serius!"


"Tapi kami gak bisa! apa lagi ini berbahaya!"


Shofi menghela nafas berat mendengar ke jujuran temannya. Jika mereka tak bisa membantunya lalu siapa yang ia harus minta bantuan.


"Emang data siapa yang ingin kamu retas?"


Kini Amira bertanya serius pada Shofi membuat Shofi menelan ludah kasar.


"Daddy ku!"


"Jangan gila! masa kamu mau meretas data Daddy kamu sendiri!"


"Daddy ku sudah pergi!"


Amira dan Bunga langsung terdiam dengan perasaan tak enak dan juga bingung.


Hingga Shofi menceritakan semuanya pada Amira dan Bunga supaya kedua temannya faham dengan apa yang dia maksud. Kerena Shofi sudah bingung harus bagaimana lagi. Shofi gak mau membuat Davit tambah bingung memikirkan semuanya.


Tapi, Shofi hanya menceritakan sebagian cerita kedua orang tua nya meninggal saja tidak lebih dari yang lain. Karena masalah itu sangat sensitif.


"Maafkan kami, kami tidak bermaksud!"


"Ga apa, aku mengerti! ini juga salahku yang belum bisa mengingat semaunya!"


Ucap Shofi sedih, jika saja dia bisa mengingat kode-kode itu pasti semuanya bisa dengan mudah terselesaikan. Shofi yakin, sang Daddy menyimpan data-data penting.


"Data itu sangat penting banget ya, sehingga kamu sampai mau meretasnya?"


"Iya, sangat penting, bahkan data itu penyelamat banyak nyawa!"


Jawab Shofi ambigu membuat Amira menyerngit bingung.


"Emmz .. maaf, karena aku kalian gak ikut belajar!"

__ADS_1


"Gak apa kok, santai saja!"


"Aku bisa membantu mu, tapi bukan meretas!"


"Maksudnya!"


"Tante Queen, mungkin dia bisa membantu mu!"


"Bundanya si manusia purba itu!"


Pekik Shofi tak menyangka Amira malah mengarahkannya ke sana.


"Iya, aku dengan dari ayah Tante Queen juga yang menciptakan sebuah chip untuk melindungi perusahaan kakek yang sekarang di kelola oleh ayah,"


Shofi terdiam, apa mungkin dia harus meminta bantuan Queen. Tapi rasanya tidak mungkin apalagi mereka hanya orang asing. Shofi gak mau banyak orang yang tahu. Shofi hanya takut rencana di ketahui oleh Davit, dan Davit pasti marah karena sudah bertindak gegabah dan malah memancing mereka.


Melihat Shofi Ter diam Amira faham, namun Amira juga tak mau memaksa Shofi untuk menceritakan semuanya. Dari caranya Shofi terdiam sepertinya memang masalah Shofi tidaklah mudah.


Shofi sudah cerita saja Amira senang dan berarti Shofi mulai mempercayai dirinya dan juga Bunga. Mungkin, suatu hari nanti Shofi akan mengatakan semuanya.


"Ya sudah kalau itu berat buat kamu,"


Shofi tersenyum kaku karena bingung harus mengatasinya bagaimana.


Tiba-tiba ponsel Shofi berdering menandakan panggilan masuk.


"Iya kak?"


" ......."


Deg ...


Amira dan Bunga saling pandang melihat ekspresi Shofi yang menegang. Seakan ada kabar yang tak baik-baik saja.


"Tapi, kak. Kakak dimana apa kakak baik-baik saja!"


Tut ... Tut ...


Sambungan telepon terputus membuat Shofi panik.


"Shofi ada apa?"


"Mereka datang! mereka datang ...,"


Panik Shofi turun dari atas brankar dengan linglung dan cemas.


"Shofi tenang, kamu kenapa?"


Amira memeluk erat Shofi yang mulai terisak, Amira yang tak mengerti hanya bisa memeluk Shofi saja berharap Shofi tenang. Apalagi Shofi hanya bercerita sebatas kematian keluarga nya saja.


"Kakak ku dalam bahaya, aku harus menyelamatkan nya!"


Berontak Shofi tak sadar mendorong Amira. Shofi berlari keluar namun jalannya di hadang oleh Fatih.


"Minggir!"


Bentak Shofi menatap tajam pada Fatih dengan air mata yang keluar.


"Minggir!"


"Tidak!"


"Ming ..."


Bruk ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ..


__ADS_2