
Suasana nampak berbeda dari biasanya. Jika Amira selalu bertiga kini kembali berdua bersama Bunga.
Begitupun dengan Fatih, jika dia akan selalu semangat pergi ke sekolah namun kali ini wajahnya nampak murung. Terlihat jelas kesedihan yang di rasakan Fatih. Kalau cinta pertamanya sudah pergi tanpa meninggalkan hatinya.
Ke galau an Fatih nampak membuat para anak-anak terheran-heran. Tak biasanya King buli memasang wajah masam. Biasanya Fatih akan memasang wajah sangar dan menakutkan. Tapi kali ini nampak berbeda.
Begitupun dengan Amira dan Bunga, Amira melirik ke arah kursi di sampingnya. Di mana Shofi duduk, sudah satu tahun Shofi menduduki kursi itu namun kursi itu kembali kosong.
Entah siapa yang paling kehilangan antara Fatih, Amira dan Bunga. Mereka bertiga tentu mempunyai rasa kehilangan yang berbeda.
Bahkan sebenarnya Fatih enggan untuk masuk sekolah. Tapi, sang Bunda memaksanya masuk.
Jadi beginilah, Fatih berjalan malas menuju kelasnya di ikuti ketiga sahabatnya.
Sebenarnya ketiga sahabat Fatih ingin tertawa melihat wajah Fatih yang di tekuk. Sungguh tak enak di pandang, namun mereka bertiga masih sayang nyawanya.
Bruk ..
Seseorang menabrak Fatih hingga tas Fatih terjatuh.
Orang yang menabrak Fatih menunduk gemetar karena takut di marahi.
"Ma-maaf saya kak, saya gak sengaja!"
Ucap adik kelas Fatih dengan gemetar sambil menyerahkan tas pada Fatih.
Fatih yang mood nya buruk menatap tajam adik kelasnya yang sudah berani menabrak dirinya.
"Kamu harus berjanji, di sekolah gak boleh mem buli lagi"
Fatih yang akan siap memarahi adik kelasnya tertahan ketika mengingat permintaan Shofi kemarin padanya.
"Gue gak sesabar itu!"
"Tapi aku yakin kamu pasti bisa!"
"Jika kamu sulit mengendalikan amarah, tarik nafas dalam-dalam lalu perlahan keluarkan. Aku yakin amarah itu akan hilang!"
Fatih menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan ketika bayangan ucapan Shofi kemaren terlintas lagi di ingatannya.
Rangga, Raja dan Moreo yang melihat sikap Fatih menautkan kedua alisnya heran.
"Pergi!"
Usir Fatih dingin pada adik kelasnya. Sontak ucapan Fatih membuat ketiga sahabatnya tercengang. Pasalnya ini bukan Fatih, Fatih temannya tidak seperti ini. Fatih akan marah dan menghukumnya. Tapi, lihatlah. Fatih malah mengusir adik kelasnya tanpa di marahin.
Sungguh keajaiban yang luar biasa, ternyata pengaruh Shofi cukup kuat hingga membuat seorang Fatih Al-biru bertekuk lutut.
Fatih melanjutkan langkahnya menuju kelas di mana pelajaran akan segera di mulai.
Mata Fatih tak lekas dari pandangan kursi kosong di samping Amira.
Apa loe benar-benar pergi, aneh rasanya
__ADS_1
Batin Fatih menghembuskan nafas kasar lalu duduk di kursinya sendiri.
"Berbisik!"
Kesal Fatih pada ketiga sahabatnya yang dari tadi terus berbisik-bisik membicarakan dirinya.
Sontak Rangga, Raja dan Moreo membekam mulutnya sendiri sambil mundur dan duduk rapih.
Mereka bertiga saling lirik satu sama lain. Jika mereka tahu akan begini lebih baik mereka menculik Shofi saja agar tak bisa ke mana-mana dan Fatih tak akan bersikap seperti itu.
Fatih mood nya benar-benar jelek, hingga dia tak bisa menguasai emosional Nya sendiri. Karena tak mau terlihat semakin aneh Fatih menunduk hingga keningnya menempel di atas meja. Fatih membentur-benturkan kan pelan keningnya berharap rasa pusing nya hilang.
Namun, bukannya hilang bayangan Shofi malah terus terlintas di pikirannya. Seolah-olah Shofi ada di sampingnya dan sedang bicara.
Karena kesal dengan bayangan itu Fatih beranjak keluar kelas. Tujuan Fatih saat ini hanya toilet. Sudah sesampai di sana Fatih langsung membasuh mukanya yang terlihat kusut.
Akhh ...
Bugh ...
Jerit Fatih sambil meninju kaca toilet hingga retak. Nafas Fatih memburu membuat bahunya naik turun.
Fatih melihat pantulan dirinya di depan kaca yang sudah retak. Pantulan itu sudah tak sempurna lagi. Bahkan tak jelas yang ada malah terlihat pusing.
Mungkin, begitu lah saat ini keadaan hati Fatih. Fatih belum bisa mengendalikan dirinya.
"Loe bisa Fatih, loe gak selemah ini!"
Gumam Fatih menatap tajam bayangannya yang tidak terbentuk.
Monolog Fatih lagi menyemangati dirinya sendiri. Bahwa kepergian Shofi tak akan pernah sedikitpun merubah sikap Fatih.
Namun, bohong jika tak merubah karena pada dasarnya sejak dari tadi Fatih sudah tak terkendali lagi.
Sudah merasa tenang Fatih memutuskan kembali ke kelas. Tanpa Fatih sadari punggung tangannya berdarah. Namun, sepertinya Fatih belum menyadari itu. Apalagi Fatih memakai jasnya hanya sebatas menyampaikannya saja di pundak hingga tangannya terhalang lengan bajunya.
Fatih duduk kembali di kursinya tanpa mengucap apapun. Bahkan Fatih kembali terlihat dingin seperti sejak awal dengan tatapan tajamnya.
"Amelia ke mana, tak biasanya anak itu telat?"
Tanya Mira pada Sindi terlihat cemas, sambil sesekali menengok pintu masuk.
"Mungkin ke siangan kali, semalam kan dia party!"
Bisik Rima supaya tak ada yang mendengarkannya.
"Iya juga sih, tapi bukannya Amelia tak pernah telat masuk walau dalam ke adaan apa pun!"
"Iya juga sih!"
"Coba telepon,"
Usul Sindi karena benar-benar khawatir, apa lagi semalam Amelia pulang dengan Aditya.
__ADS_1
"Gak aktif!"
Ucap Mira sambil menggelengkan kepala. Kecemasan Sindi semakin menjadi, kenapa Amelia bisa telat.
Pak Anwar mulai memasuki kelas membuat semuanya terdiam. Pak Anwar duduk di kursinya sambil meletakan buku-buku yang akan di bahas pada pagi ini berikut buku catatan.
Seperti biasa sebelum belajar pak Anwar mengabsen dulu. Tapi bukan mengabsen satu persatu, melainkan langsung menanya kenapa salah satu kursi bisa kosong.
Dan setiap guru di wajibkan harus tahu bangku siapa yang kosong itu.
"Amelia kemana, kenapa belum masuk?"
Tanya pak Anwar membuat ketika sahabat Amelia saling lirik.
"Kamu, bukannya teman Amelia, kemana dia?"
Tanya pak Anwar pada Mira yang nampak gelisah.
"Kurang tahu pak, ponselnya juga gak aktif!"
"Bagaimana sih, masa teman sendiri gak tahu!"
Huh ... huh ...
Semua anak-anak bersorak membenarkan perkataan Pak Anwar. Membuat Mira menjadi kesal. Guru satu ini selalu saja pedas dalam bicara.
"Sudah sudah, kita lanjut saja belajar!"
Putus pak Anwar menghentikan teriakan murid-murid nya.
Kenapa pak Anwar hanya menanyakan kursi Amelia saja tidak dengan Shofi.
Karena pak Anwar tahu, Shofi sudah pindah jadi buat apa di pertanyakan lagi.
Sindi, Mira dan Rima terus menatap ke arah pintu berharap Amelia masuk. Namun, Amelia tetap belum muncul juga hingga pak Anwar mulai membuka buku.
Sedangkan di luar seseorang terus berlari menuju kelasnya takut pelajaran telah di mulai.
Dengan kencang seseorang itu terus berlari sambil merutuki kebodohannya karena telat bangun.
Bisa-bisa dia sampai telat bangun dengan keadaan pusing di kepalanya.
Sungguh mungkin hari ini hari sial baginya karena kalau telat dia pasti di hukum.
Tidak!
Seseorang itu semakin kencang berlari karena tak mau di hukum hingga sampai ke lantai dua di mana kelasnya berada.
Brak ...
"Maaf saya telat!"
Deg ....
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...