Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 42 Kamu bisa Shofi


__ADS_3

Tak seperti biasanya dengan apa yang Fatih lakukan. Pagi-pagi sekali Fatih mandi dan bersiap memakai seragam sekolahnya.


Hari ini seakan menjadi semangat baru. Entah apa yang membuat Fatih se semangat itu. Bahkan wajah Fatih terlihat cerah dari biasanya.


Fatih menuruni anak tangga satu persatu sambil bersiul layaknya orang yang sedang jatuh cinta.


Semua orang yang ada di meja makan menatap heran ke arah Fatih. Mereka bertanya-tanya ada apa dengan diri Fatih.


Fatih hanya duduk santai saja di kursinya sendiri.


"Bun Aurora mana?"


Tanya Fatih sambil mengoleskan selai kacang pada rotinya. Fatih merasa heran kenapa adiknya tak ada di meja makan. Biasanya Aurora akan ada di sini sebelum dirinya turun.


Semua orang bertambah bingung lagi mendengar Fatih menanyakan adiknya.


"Putraku, kau sakit!"


Celetuk Farhan membuat Fatih menghentikan gerakan tangannya yang akan memasukan roti yang sudah di oleskan selai pada rotinya.


"Sakit! aku sehat pah,"


"Apa kau lupa hari ini hari apa?!"


Lagi-lagi Fatih menghentikan gerakannya sambil berpikir. Kenapa sang papa menanyakan hari.


Tanpa Fatih sadari sepasang mata dari tadi membekam mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar.


"Hari ini hari Senin kan, Fatih mau sekolah seperti biasa!"


Ha .. ha ...


Tawa semua orang pecah mendengar ucapan polos Fatih. Membuat Amira yang dari tadi menahan tawa akhirnya ke luar juga.


Fatih menautkan kedua alisnya melihat orang-orang malah menertawakannya. Apa yang salah padanya, pikir Fatih bingung.


"Hari ini hari Minggu, apa kamu melupakannya!"


Kini Fatih mengalihkan tatapannya pada om Jek yang berada di sampingnya.


"Hari Minggu!"


Ulang Fatih dengan bodohnya. Membuat Queen menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.


"Iya, hari Minggu. Libur sekolah!"


Sial ...


Batin Fatih merasa malu dengan apa yang dia lakukan.


"Fatih Mau pergi ke sekolah karena mau men--"


Krek ...


Fatih memundurkan kursi hingga terdengar bunyi nyaring membuat Amira menghentikan ucapannya.


Fatih berdiri menatap horor pada Amira. Kenapa Fatih baru menyadarinya. Pantas saja tadi dirinya heran kenapa di meja akan ada Om, Tante dan Amira.


"Mau apa Fatih?"


"Ikut aku!"


Fatih dengan cepat menarik Amira ke halaman belakang membuat orang yang ada di meja makan terheran-heran dengan tingkah Fatih.


"Apa sih, kenapa tarik-tarik!"


Ketus Amira kesal karena Fatih menarik tangannya bahkan sampai roti yang akan Amira masukan ke dalam mulut terjatuh kembali ke atas piring.


"Jangan coba-coba bilang semuanya!"


Perintah Fatih tegas membuat Amira rasanya ingin tertawa.

__ADS_1


"Emang kenapa! takut Tante Queen kecewa!"


"Jangan coba-coba Amira!"


Tekan Fatih di setiap Kalimatnya. Membuat Amira malah terkekeh. Kenapa Fatih jadi terlihat seperti orang bodoh saja.


Amira menggeleng-gelengkan kepala melihat kekesalan Fatih yang meninggalkannya. Sungguh, terlalu bersemangat membuat Fatih malah terlihat jadi orang bodoh.


Sedang Fatih sendiri merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak ngeh kalau hari ini hari minggu. Padahal Fatih bisa tahu dengan melihat om dan tantenya menginap di rumah.


Sial ...


Rutuk Fatih kembali ke kamarnya tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh, bingung dan merasa curiga.


Karena tak mau nanti di pertanyakan dan di ejek oleh Amira Fatih lebih baik cari udara segar dengan teman-temannya.


.


Sedang di tempat lain Shofi merasa bosan tak ada kegiatan di rumah. Hingga sekelebat ingatan membuat Shofi sumringah. Shofi keluar kamar guna mencari sang kakak.


Dor ...


Suara tembakan membuat Shofi menghentikan langkahnya. Langkah Shofi berbelok ke arah ruang pelatihan. Dan benar saja, sang kakak berada di sana sedang berlatih menembak.


Dor ...


"Kak!"


Davit melirik melihat adiknya mendekat membuat Davit langsung menaruh senjata dan membuka sarung tangan khusus Davit latihan.


Davit mengisyaratkan dengan tangannya agar anak buahnya ke luar.


Kini tinggal Davit dan Shofi yang berada di ruang tersebut.


"Katakan!"


"Kita cari Schwager!"


"Apa kamu benar-benar melihatnya?"


Davit menghela nafas berat, Davit bukan tak mau mencari namun Davit takut berharap lebih jika ujung-ujungnya akan menyakiti dirinya sendiri.


"Apa kakak ragu?"


Tanya Shofi melihat raut wajah Davit yang tak mau berharap lebih namun terlihat menyimpan kerinduan yang sangat besar.


"Kakak cum--"


"Kalau kakak gak mau, biar Shofi saja yang cari!"


Shofi meninggalkan sang kakak dengan perasaan kecewa. Kenapa sang kakak tak mempercayai ucapannya. Kalau Shofi benar-benar melihat Schwager nya.


Shofi sudah siap untuk pergi tapi tangannya di cekal oleh seseorang. Shofi tahu siapa yang mencegahnya kalau bukan Davit.


"Kakak yang akan menyetir!"


Shofi mengulum senyum ketika Davit mau mencari Schwager nya.


Hingga mereka pergi berdua, Shofi memberi tahu tempat di mana Shofi melihat Schwager nya.


"Di sini kak, tapi Schwager pergi ke arah sana. Waktu itu Shofi gak bisa mengejarnya karena sudah telat masuk sekolah!"


Tunjuk Shofi ke arah persimpangan jalan arah kanan.


"Baju apa yang dia kenakan!"


"Emmzz ... putih, ah ... Shofi lupa. Tapi Schwager terlihat rapih!"


Davit berpikir keras mengamati jalan yang di tunjuk Shofi. Di mana daerah itu dekat dengan taman dan jalan itu jalan menuju!


Deg ...

__ADS_1


Davit seakan mengingat sesuatu namun Davit tak mau menyimpulkan terlalu berlebih.


"Kak, lebih baik kita berpencar, Shofi mau cari sekitar taman siapa tahu hari Minggu gini Schwager jalan-jalan di taman. Kakak ke sana, nanti kita bertemu di sini!"


Davit setuju, mereka berpencar mencari keberadaan Schwager.


Shofi menelusuri taman berharap di salah satu orang yang bersantai ada salah satu orang dia cari. Hingga Shofi melihat pada sosok yang sedang berdiri di sisi jalan seperti sedang menunggu angkut jauh dari tempat Shofi berdiri.


Dengan kencang Shofi berlari mengejar namun sayang orang yang Shofi lihat sudah naik.


"Schwager!!!"


Teriak Shofi mengejar angkut itu, tanpa Shofi sadari dia sudah berada jauh dari taman.


Orang-orang hanya memandang Shofi aneh meneriaki bahasa yang tak mereka mengerti.


Hingga Shofi baru sadar kalau dia sudah berada jauh dari taman.


Shofi berjalan kembali menuju taman dengan perasaan kecewa.


"Tunggu! bukankah itu gadis yang menggagalkan rencana kita!"


Ucap seseorang yang memakai jaket kulit bergambar tengkorak pada temannya.


"Iya benar, dia gadis itu!"


"Cepat kasih tahu Axel!"


Salah satu dari mereka langsung memberi tahu Axel sambil berbisik. Axel mengepalkan kedua tangannya menatap tajam pada gadis yang di tunjuk anak buahnya. Hingga Axel beranjak di ikuti teman-teman.


Shofi merasa ada yang mengikuti mempercepat jalannya. Sepertinya jalan ini tidak aman bagi Shofi.


"Mau kemana kau gadis kaca mata!"


Shofi menghentikan langkahnya ketika jalannya di hadang. Shofi ingin berbalik namun sama saja. Di situasi seperti ini membuat Shofi mengingat apa yang sang kakak katakan.


Karena kamu harus cukup kuat menghadapi mereka. Ada saatnya kita berjauhan, dan di saat kamu jauh dari kakak. Kamu kuat menghadapi mereka!


"Aku bisa menghadapi mereka!"


Gumam Shofi pada dirinya sendiri ketika baru ingat bahwa orang-orang yang menghadangnya adalah orang yang waktu itu akan membawa Aurora.


"Cih, kalian kalah sama gadis cupu kaya gini!"


Sombong Axel memandang remeh Shofi dari atas sampai bawah.


"Tapi dia kuat!"


"Gue pengen lihat sekuat apa kau, berani sekali ikut campur urusan gue!"


Bentak Axel segera memerintahkan anak buahnya menyerang Shofi.


Kamu bisa Shofi ..


Batin Shofi berusaha tenang ketika dia sudah di kelilingi anak-anak Rebel.


Hingga pertarungan pun di mulai. Shofi mundur beberapa langkah ketika serangan datang. Shofi bisa menangkis serangan itu namun karena Shofi belum terbiasa di situasi seperti ini.


Bruk ...


Perut Shofi mendapat tendangan hingga membuat Shofi tersungkur.


"Cih, ternyata loe lumayan juga. Tapi, loe harus membayar semuanya. Habisi gadis jelek ini!"


Perintah Axel begitu kejam. Shofi mencoba berdiri untuk tetap bisa bertahan dan mencoba membuat pertahanan diri dari serangan lawan namun


Bugh ...


"Kalian sampah!"


Deg ...

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2