Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 112 Taman Mini


__ADS_3

"Ra, kamu gak apa di tinggal sendiri di rumah?"


Tanya Shofi pada Amira yang memang masih menginap di rumah Shofi.


"Gak apa lah, sana pergi!"


"Ya sudah, mau nitip apa kalau aku pulang?"


"Emmz, martabak kayanya enak!"


"Ok, nanti aku belikan!"


Ucap Shofi langsung bersiap pergi.


Hari ini memang Shofi ada janji bersama Fatih jalan. Namun, tak mungkin kan bagi Shofi mengajak Amira jalan juga.


Bukan takut terganggu, tapi Fatih membawa motor dan hanya muat satu orang saja.


"Lama banget!"


Kesal Fatih ketika Shofi keluar gerbang. Ya, sendari tadi Fatih menunggu di luar gerbang karena memang sang bodyguard melarang Fatih masuk karena itu perintah dari sang lord mereka.


"Maaf, tadi aku ke siangan bangunnya!"


Jujur Shofi, karena memang dia bangun kesiangan setelah semalaman dia nonton horor bersama Amira.


"Ya sudah nih pakai helm nya!"


Shofi menerima helm dari lengan Fatih. Lalu memakainya. Namun, ketika ingin memasang talinya, Shofi sedikit kesusahan membuat Fatih harus turun tangan.


"Loe selalu saja bertingkah kaya Aurora!"


Cetus Fatih membantu Shofi memakai helm dengan benar. Shofi hanya cemberut saja, karena lagi-lagi Fatih menyamakannya dengan Aurora.


Entah sudah berapa puluh kali Fatih bicara kalau ia sama seperti Aurora. Shofi kesal karena tak mau di banding-bandingkan dengan orang lain.


Namun, Fatih biasa saja bahkan dia cuek bebek walau menyadari Shofi terlihat kesal padanya.


"Kita mau kemana, jangan jauh-jauh Amira sendiri di rumah!"


"Deket kok, paling jam delapan malam kita pulang. Sesuai perjanjian!"


"Ok!"


Tak ada lagi percakapan di antara mereka, Fatih mengendarai motor dengan tenang.


Entah kemana Fatih akan membawa Shofi pergi. Sepertinya memang Fatih ingin menghabiskan waktu bersama.


Taman Mini adalah tujuan Fatih, di mana Fatih ingin menghabiskan waktu bersama di sana. Kereta gantung (sky lift) adalah wahana yang ingin Fatih naiki.


Menghabiskan waktu berdua sambil memandangi luasnya kota Jakarta Timur.


Shofi hanya menurut saja kemana Fatih membawanya pergi. Toh, Shofi tidak takut Fatih akan menculiknya.


"TAMAN MINI!"


Shofi membaca jalan arah masuk di mana Fatih membawanya.


"Ya, kita main ke sini. Gue akan ajak loe naik Kereta gantung (sky lift)!"


"Ayo!"


Fatih menggandeng lengan Shofi seakan takut Shofi hilang. Genggaman itu terasa erat namun tak menyakiti. Yang ada Shofi merasa nyaman dengan semuanya.


"Mungkin loe sudah pernah menaiki yang seperti ini. Tapi, gue yakin di sini jauh lebih indah dari pada wahana yang lain!"

__ADS_1


Ucap Fatih dengan pedenya sambil membantu Shofi naik kereta gantung, di bantu juga oleh pihak keamanan.


Shofi hanya diam saja karena memang tebakan Fatih benar. Sendari kecil dia jarang main, Shofi selalu menghabiskan mainnya di rumah sakit menemani Oma Adelia. Jika pun main, maka bukan naik yang seperti ini. Hanya jalan-jalan di taman dan makan es krim.


Andai saja Shofi bisa memutar waktu, Shofi ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya menaiki wahana-wahana seperti ini.


Tapi, itu hanya sebuah angan yang tak akan pernah tercapai.


"Apa loe menyukainya!"


"Ini indah!"


Fatih tersenyum melihat Shofi menyukainya. Tak sia-sia Fatih mengajak Shofi ke situ.


Mata biru Shofi berbinar melihat keindahan kota dari atas. Bahkan Shofi merasa sedang terbang di udara. Bahkan awan pun seakan mudah Shofi capai.


Senyuman indah terukir di bibir Shofi membuat Fatih diam-diam mengabadikan momen langka itu. Apalagi Shofi jarang sekali tersenyum, walaupun tersenyum pasti itu hanya sebentar saja.


"Kapan loe meninggalkan Jakarta!"


"Satu hari setelah acara resepsi pernikahan Bunga!"


Seketika senyum Shofi menghilang ketika ia sadar akan ucapannya. Waktu itu tinggal hitungan hari lagi.


Shofi menatap Fatih, guna tahu apa reaksi Fatih. Namun, Shofi tertegun melihat Fatih malah tersenyum seakan tak ada beban.


"I'm fine!"


Ucap Fatih santai sambil mengusap-usap rambut Shofi hingga berantakan. Membuat Shofi seketika menjadi cemberut.


"Rambutku, jadi berantakan!"


"Loe cantik jika seperti ini!"


"Wajah loe itu memang bule, tapi gue heran kenapa rambut loe itu hitam!"


Cetus Fatih sangat suka sekali mengacak-acak rambut Shofi.


"Aku kan jiplakan dari mom and dad. Mommy kan asli Bali, jadi wajar rambutku hitam."


"Tapi, jika rambut ini pirang pasti cocok dengan wajah loe!"


"Aisst, mana ada!"


Ketus Shofi menyingkirkan tangan Fatih dari rambutnya.


Lalu Shofi membenarkan rambutnya yang sudah acak-acakan menjadi rapi kembali.


Shofi langsung membuang muka, lebih baik melihat pemandangan di bawah sana yang sangat indah. Di tambah udara yang begitu sejuk membuat Shofi fresh kembali.


"Diam!"


Cegah Shofi ketika Fatih akan bicara, membuat Fatih langsung bungkam karena terkejut.


Fatih mengulum senyum melihat sangat seriusnya Shofi melihat keindahan bumi tanah tercinta.


Namun, bagi Fatih keindahan itu tak membuat Fatih berpaling dari Shofi. Netra Fatih hanya terpaku pada satu objek di depannya tak ada yang lain.


Fatih mencoba menggambar pahatan cantik Shofi di memorinya seakan Fatih takut ia akan melupakan sosok sempurna di depannya.


Shofi lama-lama menjadi risih di tatap terus oleh Fatih. Padahal Shofi dari tadi mencoba mengalihkan semuanya namun Fatih nyatanya terus menatap dirinya.


"Kau membuatku takut!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Tatapan mu, lihatlah ke bawah jangan melihat aku terus!"


Kesal Shofi karena tak suka dengan tatapan Fatih.


Shofi bukan tak suka namun, Shofi tidak kuat akan tatapan itu yang membuat jantung Shofi tak nyaman.


"Diam lah, gue hanya mencoba melukis wajah ini di memori gue. Gue hanya takut akan melupakannya ketika loe pergi!"


Deg ...


Ada kelenjar aneh yang menghantam dada Shofi. Kenapa Shofi merasa sakit akan apa yang Fatih ucapkan.


Fatih tak boleh melupakannya, Shofi hanya takut dia yang akan menahan rindu sendirian.


"Dari tadi omongan kamu ini aneh-aneh, kenapa? kamu sakit?"


"Mana ada orang sakit mengajak main, loe itu kaku banget. Apa benar tak ada rasa sedikitpun Loe sama gue?"


Selidik Fatih menatap tajam netra Shofi. Membuat Shofi gelagapan kenapa Fatih malah tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Jangan bertanya jika kamu sudah tahu jawabannya!"


Cetus Shofi membuat Fatih tersenyum kecut, apa benar Shofi tak menyukainya. Tapi, kenapa Fatih merasa kalau Shofi menyukainya juga.


"Gue gak percaya!"


"Terserah!"


Deg ...


Shofi membulatkan kedua matanya ketika tiba-tiba Fatih menangkup wajahnya. Hingga kini wajah Shofi tepat di depan wajah Fatih. Bahkan Shofi bisa merasakan nafas hangat Fatih menerpa wajahnya.


"Katakan kalau loe gak mencintai gue!"


Tekan Fatih di setiap kalimatnya membuat Shofi terdiam kaku.


Apa yang harus Shofi lakukan jika begini, bahkan untuk bernafas pun Shofi sulit bagaimana menjawab pertanyaan Fatih.


"Fatih lepas!"


"Jawab!"


Sungguh Shofi sulit sekali untuk menjawab pertanyaan Fatih. Apalagi dalam situasi seperti itu di mana tak bisa membuat Shofi bergerak bebas.


"Kenapa diam, bukankah itu pertanyaan mudah!"


"Tapi kamu menyakiti ku!"


Isak Shofi berkaca-kaca karena Fatih tanpa sadar malah mencengkram wajah Shofi.


"Maaf!"


Ucap Fatih jadi merasa bersalah, kenapa ia jadi hilang kendali. Fatih hanya belum siap jika Shofi menolaknya lagi.


Kini giliran Shofi yang menangkup wajah tampan Fatih dengan lembut. Hingga membuat Fatih langsung mendongak.


Ingin Sekali Shofi menjerit, tak kuasa menatap mata Fatih yang memerah menahan embun yang siap menetes.


"Ak-aku menyukai mu, tapi kita tak bisa bersama!"


Deg ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih .....

__ADS_1


__ADS_2