
Sudah satu hari mereka camping di Kampoeng Awan.
Amelia mulai bisa beradaptasi di lingkungan barunya. Di mana Amelia harus bisa menyesuaikan sikap dari semuanya.
Sungguh, kebersamaan mereka seakan melupakan masalah yang ada pada diri mereka. Mereka menikmati suasana di sana dengan perasaan bahagia.
Terutama Shofi, yang selalu menyimpan setiap kejadian yang ia lalui di memorinya. Karena ini semua akan berakhir dan Shofi tak mau melupakannya.
Biarlah mereka seperti ini yang akan menjadikan kenangan terindah bagi Shofi dan Shofi pasti akan sangat merindukannya. Terutama pada Fatih, sosok laki-laki yang sudah berani masuk ke dalam hatinya.
Bisakah mereka tak saling menyakiti untuk melepas kepergian salah satunya.
Namun, sepertinya itu seakan sudah takdir yang tak bisa di hindari.
Shofi terus memerhatikan Fatih yang sedang membakar jagung bersama ke tiga sahabatnya.
Wajah Fatih yang nampak serius membuat Fatih terlihat semakin gagah. Apalagi di Temari cahaya api unggun dan lampu-lampu kecil yang menghiasi perbukitan di malam hari.
Semua jagung sudah di bakar dan semuanya sudah mendapat bagian masing-masing.
Fatih menghampiri Shofi dan memberikan salah satu jagung yang sudah di bakar sama Shofi.
Lalu Fatih duduk di samping Shofi dengan api unggun di depannya.
Delapan orang tersebut duduk melingkar dengan api unggun di tengah mereka. Membuat suasana nampak romantis. Apalagi mereka seperti pasangan kekasih.
"Hati-hati makannya, ini masih panas!"
Lihatlah begitu perhatiannya Fatih pada Shofi, bahkan membantu Shofi memisahkan biji-biji jagung agar Shofi mudah memakannya.
Fatih yang memisahkan maka Shofi akan memakannya yang sudah berada di tangan Fatih. Ini kali pertama Shofi makan jagung ya tentu Shofi kurang bisa cara makannya. Bahkan awalnya Shofi memakan jagung kaya memakan es krim saja.
"Terimakasih,"
"Hm,"
Amira mengajak Amelia untuk istirahat karena waktu semakin larut.
Sebenarnya Amira tak mau membuat situasi Amelia menjadi canggung melihat kebersamaan Fatih dan Shofi. Apalagi Bunga bersama Raja. Lebih baik Amira memilih masuk ke dalam tenda saja.
Amelia hanya mengangguk saja mengikuti langkah Amira.
Satu per satu semuanya masuk ke dalam tenda. Tinggal Fatih dan Shofi saja yang masih berjaga. Semakin larut udara semakin dingin membuat Fatih kedinginan. Sedangkan Shofi biasa saja, karena Shofi sudah terbiasa diam di negara ber musim salju.
Shofi memegang tangan Fatih sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fatih.
"Kamu kedinginan, kenapa gak masuk saja ke tenda?"
"Gue ingin menikmati suasana ini, lihatlah, langit begitu indah!"
Shofi mendongak menatap langit yang di taburi bintang-bintang. Berkedip-kedip seakan sedang menggoda sepasang anak manusia yang hanyut dalam kenyamanan satu sama lain.
__ADS_1
"Mereka sangat indah!"
Ucap Shofi masih menengadah menatap ke langit sana.
"Ada yang lebih indah dari pada mereka!"
"Apa?"
Tanya Shofi duduk tegak sambil melirik ke arah Fatih.
Tiba-tiba Fatih tidur di atas pangkuan Shofi membuat Shofi terkejut.
"Wajah ini lebih indah dari pada mereka!"
Shofi tak menyahut dengan apa yang Fatih katakan.
"Gue mau tidur sebentar, bangunkan jika loe mau masuk!"
Gumam Fatih memejamkan kedua matanya. Namun, Shofi masih mendengar jelas apa yang Fatih katakan.
"Fatih!"
"Fatih!"
Kedua kalinya Shofi memanggil Fatih, namun, Fatih tak menyahut sama sekali.
Shofi mengusap rambut yang menghalangi kening Fatih. Hingga terlihat jelas wajah tampan Fatih.
Gumam Shofi menatap lekat wajah Fatih. Dulu Oma Adelia sering bercerita tentang cucu laki-laki yang selalu manja padanya.
Bahkan Oma Adelia selalu berkata rindu pada cucu-cucunya. Walau Oma Adelia dulu tak mengatakan di mana tinggal mereka dan siapa namanya.
"Grandma pasti Bangga mempunyai cucu seperti mu,"
Gumam Shofi lagi dengan tangan terus mengelus-elus rambut Fatih.
Kini Shofi faham betul bagaimana karakter Fatih. Dia bukan ingin mem buli orang atau pun merendahkan. Fatih hanya ingin orang-orang kuat dengan caranya sendiri.
Karena bagi Fatih, hidup itu keras dan kita harus berjuang untuk berada di puncak tertinggi agar tak tertindas.
"Kamu kebanggan keluarga, jangan sakiti mereka karena keberadaan ku. Kita memang tak bisa bersama, itu takdir kita. Jadilah pemimpin hebat dengan caramu sendiri,"
"Momen ini mungkin akan menjadi kenangan manis bagiku. Bahkan, sepertinya aku tak bisa melupakannya!"
Cup ...
Entah ada dorongan dari mana Shofi mengecup kening Fatih dengan lembut.
Perlahan Shofi menjauhkan kembali bibirnya.
Deg ...
__ADS_1
Shofi terpaku ketika kedua mata Fatih terbuka. Hingga netra mereka bertemu saling kunci satu sama lain.
Perlahan Fatih mengganti posisi tidurnya menjadi menyamping dengan wajah menghadap perut Shofi.
"Dingin,"
Gumam Fatih pelan sambil memeluk pinggang Shofi dengan wajah menempel erat di perut Shofi.
Huh ...
Shofi bernafas lega ketika Fatih hanya mengigau saja. Shofi pikir Fatih terbangun, membuat Shofi jantungan saja.
Jika Fatih benar-benar terbangun, maka Fatih akan tahu perasaannya sesungguhnya.
Tidak!
Itu tidak boleh terjadi, Fatih tak boleh tahu tentang perasaannya yang sesungguhnya.
Shofi cukup tahu saja Fatih mencintainya, tapi Fatih tak boleh tahu kalau ia juga memiliki rasa.
Shofi hanya tak ingin, Fatih semakin sulit melepaskan dirinya jika Fatih tahu ia juga sangat menyukai Fatih.
Shofi menyelimuti tubuh Fatih dengan selimut. Mata Shofi masih terjaga, padahal hari sudah semakin larut. Namun, keadaan semakin larut membuat langit di atas sana semakin indah dengan bintang-bintang yang terus berkedip tanpa henti.
"Philo,"
Gumam Fatih serak khas orang bangun tidur. Perlahan Fatih membuka kedua matanya.
Bibir Fatih tertarik ke samping ketika melihat Shofi tertidur dengan posisi yang tidak bagus.
Dengan pelan Fatih berusaha duduk dan menahan agar Shofi tak tersungkur. Fatih duduk di samping Shofi lalu menarik pelan kepala Shofi agar menyandar pada bahunya.
Fatih melihat jam pergelangan tangannya, ternyata sudah jam dua dini hari. Pantas saja Shofi tertidur ternyata sudah selarut itu.
Fatih menatap wajah Shofi yang terlihat damai. Perlahan Fatih mengecup puncak kepala Shofi sambil menghirup aroma shampo yang Shofi pakai. Mungkin Fatih akan merindukan bau ini.
"Loe selalu memperumit keadaan. Namun gue faham!"
Gumam Fatih sambil menyelimuti tubuh keduanya.
Tak henti-hentinya Fatih memandang wajah damai Shofi. Sambil sesekali mengelus-elus Surai panjang Shofi.
Hingga tak lama kemudian Fatih mulai menguap lebar. Pertanda kalau Fatih mulai mengantuk kembali.
Pemandangan indah bukan. Bukan sekedar memandang indahnya langit malam. Namun, terlihat dua manusia yang sedang tertidur sambil duduk dengan kepala Shofi menyandar di bahu Kokok Fatih dan kepala Fatih menyandar di kepala Shofi.
Sadar atau tidak dengan apa yang mereka lakukan. Namun, mereka sama-sama merasa nyaman walau mereka tahu ini hanya sesaat. Dan, mungkin sulit untuk mengulang kembali.
Biarlah waktu berhenti sejenak membiarkan mereka bersama. Hingga waktu kembali berputar di mana sampai perpisahan itu terjadi.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...