
Fatih merasa kesal dengan perintah sang papa. Bagaimana mungkin sang papa menyuruh dia menjauh dari Shofi dan bahkan sang papa juga menyuruh membuang rasa yang sudah ada di hatinya.
Ada apa!
Kenapa?
Dua pertanyaan yang tak di jawab oleh sang papa membuat Fatih kecewa. Kenapa sang papa juga memintanya menjauh, begitupun dengan Shofi sendiri, kenapa!
Fatih tidak akan pernah menemukan jawaban itu karena hanya Shofi lah yang bisa menjawabnya.
Namun, Fatih tak berani mendekati Shofi karena perintah dari sang papa. Walau Fatih ingin sekali melihat keadaan Shofi.
Walau kata Amira Shofi baik-baik saja dan lukanya mulai membaik. Namun, itu semua tak cukup bagi Fatih. Fatih ingin melihatnya langsung dan bicara dari hati ke hati. Kenapa Fatih tak boleh mencintai Shofi apa alasannya.
Sungguh Fatih di buat bingung tak mengerti dengan semuanya.
Ini sudah tiga hari pasca kejadian di Villa, dan tiga hari pula Fatih belum bisa bertemu Shofi. Apalagi kemaren Fatih sempat jatuh sakit karena terlalu pusing memikirkan Shofi.
Tak pernah Fatih mencintai seseorang sehebat ini. Namun nyatanya tak bisa memiliki. Dan itu sangat menyakitkan, luka tak kasat mata namun sangat sangat sakit.
Sedangkan Marsel sudah di bawa ke kepolisian Jerman. Sesudah di interogasi di Indonesia. Marsel sudah di tetapkan akan terancam hukuman mati.
Kasusnya begitu banyak apalagi sampai melakukan tindakan kejahatan di negara orang.
Tersangka sebagai buronan yang di mana sebagai tahanan yang kabur enam tahun lalu. Perencanaan pembunuhan dua keluarga Al-biru dan keluarga Damaresh sendiri. Penyelundupan narkotika dan obat-obatan terlarang. Pemerkosaan, Penculikan dan penyalah gunaan identitas. Pemalsuan data-data perusahaan dan mengambil hak waris yang bukan miliknya.
Sungguh kasus yang begitu sangat berat sangat berat hingga membuat Marsel tak bisa lari lagi dari jerat hukum. Bahkan TNI sendiri yang mengamankan Marsel karena Marsel masuk dalam penjahat Internasional.
Bahkan, kalau pun mengajukan banding, namun sepertinya tidak kuat. Apalagi yang Marsel hadapi juga keluarga Al-biru warga negara yang berbeda dengannya dan mempunyai hukum sendiri. Apalagi di temukan sebuah bom ilegal yang akan Marsel gunakan meledakan Fatih dan Shofi. Sungguh ironis sekali.
Usianya yang suda tua masih mempunyai dendam bukan malah memperbaiki diri dan mengakui ke salahan ya.
Namun, Marsel malah menjadi dan semakin membenci keturunan marganya sendiri dan keluarga Al-biru.
Sungguh miris bukan, dalam keadaan seperti itu masih saja Marsel tidak sadar bahwa sebentar lagi nyawanya melayang. Dan, lebih miris lagi tak ada saudara atau teman yang membantu nya. Bahkan Gresela dan Stephen entah di mana membuat Marsel semakin murka.
Dua manusia serakah itu berada dalam penjara bawah tanah yang Davit ciptakan. Entah hukuman apa yang pantas dua manusia itu dapatkan.
__ADS_1
Yang pasti Davit masih membiarkannya hidup karena Shofi sendiri lah yang berhak menghukum dua manusia itu.
Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Itulah yang di alami tiga manusia serakah, tamak dan kejam itu.
Shofi belum tahu apa-apa apa yang terjadi pada ketiga manusia itu. Karena Davit belum menceritakan apa-apa. Apalagi keadaan Shofi belum pulih benar.
Sudah tiga hari Shofi di rawat di Rumah sakit Bunda Husna. Rumah sakit milik salah satu rekan bisnis keluarga Al-biru.
Davit dan Angel menjaga ketat keadaan Shofi bahkan Davit memastikan sendiri siapa orang-orang yang merawat Shofi. Karena Davit tak mau kecolongan yang akan membahayakan nyawa Shofi.
Sudah tiga hari di rumah sakit membuat Shofi bosan dan ingin pulang. Namun, Davit tidak mengizinkannya. Shofi memang paling tak suka berlama-lama di rumah sakit, karena Shofi tak suka bau obat.
Bahkan harus ada drama dulu jika Shofi mau minum obat. Dan, Shofi akan luluh jika Schwager yang membujuk. Bahkan Shofi begitu manja pada Angel, kakak ipar yang begitu Shofi sayangi.
"Kak, kakak sudah janji akan menceritakannya?"
Kesal Shofi dari kemaren meminta Davit menceritakan apa yang om Farhan maksud.
Namun, Davit selalu mencari alasan untuk mengelak. Davit hanya belum siap jika Shofi harus terluka mengetahui satu pakta tentang siapa dirinya sebenarnya.
"Nanti kalau kamu sudah sembuh!"
"Schwager..,"
Lilir Shofi berkaca-kaca masuk ke dalam pelukan Angel. Shofi sangat kesal sekali dengan tingkah sang kakak.
"Sudah jangan menangis, mungkin Davit ingin adek sembuh dulu!"
"Tapi, aku sudah sembuh, aku sudah sehat!"
Protes Shofi tak terima, Shofi sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
Cklek ...
Shofi yang akan bicara lagi terhenti ketika mendengar pintu di buka. Nampak lah Amira dan Bunga masuk sambil membawa keranjang buah.
"Schwager keluar dulu ya, adek sama teman-teman adek dulu,"
__ADS_1
Angel orang yang sangat pengertian sekali memilih keluar membiarkan gadis-gadis muda berkumpul. Karena mungkin Amira dan Bunga juga akan canggung padanya.
Angel menutup kembali pintu ruang rawat Shofi. Angel menghela nafas melihat suami duduk sambil menutup wajahnya.
"Sayang, mau sampai kapan!"
Ucap Angel sambil duduk di samping Davit. Davit langsung menegakan tubuhnya dan melirik kearah sang istri.
"Aku yang belum siap! aku yang belum siapa melihat reaksi Shofi. Bagaimana terkejutnya dia, dan bagaimana kecewanya dia. Jika mengetahui kalau aku bukan kakak kandungnya!"
"Dia pasti akan sedih, dia pasti akan merasa sendiri. Dia pasti sulit menerima semuanya!"
"Tapi mau sampai kapan, Shofi pasti akan terus menagih jawaban itu!"
"Aku tidak tahu, aku belum siap!"
Angel menarik sang suami ke dalam pelukannya. Tak pernah sekalipun Angel melihat Davit selemah ini. Semuanya karena Shofi, Shofi yang bisa membuat Davit seperti ini.
Bahkan pernikahan mereka yang sudah tujuh tahun lamanya, tak pernah sekalipun Angel melihat suaminya terpuruk.
Waktu mereka menikah, ketika usia Angel memang masih muda, dua puluh tiga tahun. Sedang Davit sendiri berusia dua puluh lima tahun. Mereka selisih tiga tahun. Waktu mereka menikah, Shofi masih kecil kemungkinan usia Shofi baru menginjak sembilan tahun.
"Aku yakin, sekarang adik kecilku sudah kuat! dia siap menerima kenyataan yang ada. Beri tahu dia, sebelum Shofi tahu dari orang lain. Dia akan lebih kecewa dari pada itu!"
Bujuk Angel, karena Angel juga sangat menyayangi Shofi. Apalagi Angel dulu hidup sebatang kara sebelum Angel bergabung dengan kelompok mafia Farhan.
Waktu itu Shofi kecil belum lancar menggunakan bahasa Indonesia, dan membuat Shofi gemas hingga sampai saat ini Angel selalu memanggil Shofi adik kecil dan Shofi akan memanggil Angel Schwager yang artinya kakak ipar dalam bahasa Jerman. Karena dulu Shofi tak bisa memanggil kata kakak.
"Apa dia tak akan membenciku, apa semuanya akan berubah ketika Shofi mengetahui ya?"
"Tidak akan! aku sendiri yang akan meyakinkan Shofi, kalau kamu akan tetap menjadi kakak nya sampai kapan pun!"
Davit memeluk istrinya dengan erat, seolah mencari ketenangan dalam pelukan istrinya. Wanita yang Davit cintai, yang mampu mencuri hatinya.
Entah pelet apa yang Davit gunakan sehingga membuat Angel jatuh hati pada pria arogan, kejam dan dingin.
Namun di balik kekejaman itu ada hati selembut sutera, yang hanya mampu Davit berikan pada orang-orang tersayangnya yang menerima kehadiran dia dengan lapang.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...