Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 73 Cepat sembuh


__ADS_3

Fatih sudah berdiri di depan rumah Amira dengan perasaan campur aduk. Antara mengetok pintu atau tidak.


Tapi rasa khawatir membuat Fatih benar-benar hilang akal. Tak pernah Fatih bersikap seperti ini. Tapi, gadis yang baru belum genap satu tahun tapi sudah berhasil membuat perasaannya campur aduk.


Ting nong ...


Pada akhirnya Fatih menekan bel juga dengan sebuah tarikan nafas panjang.


Melati yang sedang menyiapkan bubur untuk Shofi langsung menghentikannya. Ketika mendengar bel rumahnya berbunyi.


Semalam memang Shofi demam, mungkin akibat rasa nyeri di tangannya hingga menjalar ke bagian tubuh lain. Dari pagi Shofi tak mau makan membuat Melati harus membuat bubur agar Shofi mau makan.


Cklek ...


Melati membuka pintu, seketika terdiam melihat Fatih tersenyum ke arahnya sambil menggaruk tengkuknya.


"Tante!"


"Masuk, pasti mau nyari Shofi?"


Fatih hanya tersenyum kaku karena tebakan tantenya benar.


Awalnya Melati terkejut melihat kedatangan Fatih, pasti anak ini kabur dari sekolah. Karena kedatangan Fatih tepat pada jam waktu istirahat.


"Semalam Shofi demam, mungkin karena efek luka di tangannya. Shofi tak mau sarapan dan minum obat, jadi Tante sedang membuat bubur. Semoga saja Shofi mau makan!"


Jelas Tante Melati karena yakin itu yang mau Fatih tahu. Tante Melati hanya tersenyum tipis melihat keponakannya salah tingkah. Apalagi tak biasanya Fatih bersikap malu-malu seperti itu.


"Boleh Fatih yang antarkan, Tan?"


Ucap Fatih cepat membuat Tante Melati langsung menghentikan langkahnya. Tante Melati langsung memberikan nampan pada Fatih. Di mana di atasnya ada semangkuk bubur yang masih terlihat mengepul kan asap, segelas air dan obat-obatan yang sudah di buka.


Fatih bersorak ria dalam hati karena tantenya sangat mengerti anak muda.


Fatih berjalan hati-hati menaiki anak tangga di mana kamar Amira berada. Perlahan Fatih membuka pintu kamar Amira. Di lihat nya Shofi sedang tidur menyamping membelakangi pintu dengan satu tangan yang di biarkan terlentang.


"Tan, jangan paksa Shofi makan. Shofi tak mau, makan dan minum obat!"


Ucap Shofi lemas tanpa berbalik, Shofi bukan tak mau namun Shofi tak bisa minum obat. Apalagi kalau obatnya pahit. Shofi paling takut minum obat karena bukannya tertelan malah suka nyangkut dan itu rasanya tak enak.


Fatih terdiam mendengar suara lemah Shofi. Gadis ini sakit karena dirinya, gadis ini terluka karena dirinya.


Fatih menghela nafas pelan sebelum bicara.


"Jangan lemah!"


Deg ...


Shofi terkejut mendengar suara bass milik seseorang yang sangat Shofi hapal betul siapa pemiliknya.


Fatih berjalan kearah Shofi menghadap membuat Shofi refleks langsung bangun.


"Ke-kenapa ada di sini?"


Ucap Shofi gugup bercampur kesal, kenapa Fatih datang dalam keadaannya yang tak berdaya.


"Gue khawatir!"


Hening ...


Seketika suasana menjadi hening, entah harus bahagia atau sedih, Shofi tak tahu. Namun, kali ini Shofi tak bisa berdebat karena keadaannya masih lemah.


"Makan!"


"Jangan memaksa!"

__ADS_1


"Setidaknya, hargai Tante Melati. Jangan menyusahkan ya!"


Deg ....


Benarkah Shofi menyusahkan Tante Melati. Tapi, sungguh Shofi tak mau berada dalam posisi seperti ini. Shofi takut minum obat.


"Nanti saja, taroh dulu!"


"Makan!"


"Tolong jangan maksa, aku tak cukup kuat melawan!"


"Jadi menurut lah!"


Tanpa banyak bicara lagi Fatih duduk di samping Shofi.


Aaa ...


"Aku bisa sendiri!"


Huh ...


Shofi menghela nafas kasar melihat Fatih melotot padanya. Sungguh, jika Shofi tak sakit mungkin dia akan protes.


Dan anehnya, pada akhirnya Shofi menurut juga. Menerima suapan demi suapan dari Fatih. Walau Shofi harus berusaha menelannya.


Lidahnya pahit membuat bubur itu terasa hambar.


"Sudah!"


Lilir Shofi mulai berkaca-kaca sungguh rasa nya pahit Shofi tak sanggup lagi. Jika di paksa Shofi takut muntah.


"Minum obatnya!"


Glek ...


Fatih memicingkan matanya melihat ketakutan Shofi menatap obat. Bisa Fatih tebak, Shofi sama seperti Aurora yang tak bisa minum obat. Seketika seringai muncul di bibir Fatih membuat Shofi bergidik ngeri.


"Minum!"


"Emmz .. Fa-fatih, anu nanti saja ya!"


"Sekarang!"


"Tap ..,"


Shofi semakin ketakutan ketika Fatih mendekat.


"Minum!"


Dengan tangan gemetar Shofi mengambil obat yang berada di tangan Fatih.


"Jangan lemah, kalau loe sakit loe akan terus menyusahkan Tante Melati!"


Ketus Fatih sengaja agar Shofi kesal padanya.


Perlahan Shofi memasukan obat dan langsung minum. Namun, bukannya tertelan Shofi malah mau muntah. Dengan cepat Fatih membekam mulut Shofi agar tidak muntah. Bahkan Fatih sedikit mengangkat dagu Shofi agar obatnya tertelan.


"Hiks ... kau jahat, huek ... rasanya pahit!!"


Rengek Shofi merasa mual karena rasa pahit obat itu masih terasa di langit-langit mulutnya. Bahkan mata Shofi sudah mengeluarkan air mata.


Fatih hanya tersenyum saja melihat sisi lain dari Shofi. Bagi Fatih itu sangat unik dan menggemaskan.


"Gitu aja cengeng, kaya anak kecil saja. Bahkan Aurora saja pintar minum obat!"

__ADS_1


Tapi boong!


Ketus Fatih di iringi senyuman tipis karena merasa lucu dengan tingkah Shofi. Jika Aurora maka akan lebih dari ini. Dan, bahkan akan mengamuk dan nangis.


Shofi hanya diam saja menahan kekesalannya. Andai saja dia punya sedikit kekuatan mungkin sudah dari tadi Shofi menendang Fatih agar menjauh.


"Sudah makan, sudah minum obat. Terimakasih, pulang sana!"


"Loe ngusir gue!"


Geram Fatih menatap tajam Shofi yang masa bodo malah kembali berbaring dan membelakangi Fatih.


Huh ..


Fatih berkali-kali menarik nafas dalam dan mengeluarkannya kasar. Fatih harus sabar, setidaknya sudah melihat keadaan Shofi dan mau makan dan minum obat.


"Philo!"


Suttt ....


Fatih dengan cepat menempel kan telunjuknya di atas bibir Shofi yang refleks berbalik akan protes. Membuat posisi Shofi terlentang dengan diam karena kembali merasakan sesuatu kelenjar aneh yang menghantam dadanya.


Mata mereka saling tatap satu sama lain. Perlahan Fatih menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi mata indah Shofi. Hingga membuat Fatih dengan jelas bisa memandang keindahan samudra di sana.


"Maaf, sudah membuat loe sakit!"


Ucap Fatih kemudian, suaranya mengalun lembut menerpa indra pendengaran Shofi.


"Maaf, atas semua sikap gue selama ini. Gue melakukan itu semua karena gue benci orang lemah. Gue melakukan itu semua agar loe bisa kuat!"


"Kaya Rijal!"


"Ya, itu salah satunya. Ada banyak alasan yang orang lain tak tahu, tapi gue tahu itu!"


"Maukah loe maafin gue?"


Shofi mengangguk kaku membuat Fatih tersenyum.


"Cepat sembuh!"


Ucap Fatih sambil mengacak-acak rambut Shofi. Lalu Fatih berdiri ingin pergi. Namun, langkah Fatih berhenti dan berbalik menatap Shofi serius di mana Shofi sudah duduk kembali membenahi rambutnya.


"Gue sayang loe!"


"Jangan bicara!"


Ucap Fatih cepat, menahan Shofi yang akan protes.


Fatih kembali mendekat dan berdiri di hadapan Shofi. Lalu Fatih sedikit membungkuk membuat Shofi terdiam.


"Gue sayang loe, Filosofi Alin!"


Perlahan Fatih menangkup wajah Shofi. Hingga membuat Shofi sedikit menengadah.


"Izinkan gue masuk kedalam hati loe. Cukup izinkan saja. Gue tak akan menuntut loe membalas!"


Cup ...


Fatih menempelkan bibirnya tepat di antara pertemuan kedua alis Shofi. Apa yang Fatih lakukan membuat tubuh Shofi seketika kaku. Shofi ingin protes dengan kelancangan Fatih namun entah kenapa Shofi tak mampu melakukannya.


Perlahan Fatih menjauhkan kembali bibirnya lalu mengusap kepala Shofi.


"Cepat sembuh!"


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2