Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 90 Izinkan gue tetep memanggil loe, Philo!


__ADS_3

"Apa kah kamu yang sudah merencanakannya?"


Tanya Shofi ketika suasana mulai mencair tak sekaku dan secanggung tadi. Karena Fatih berusaha bersikap selayaknya teman membuat Shofi merasa lebih baik.


"Tidak! tapi juga iya!"


"Kau ini!"


Kesal Shofi karena Fatih ternyata tengil juga. Fatih terkekeh melihat wajah kesal Shofi.


"Terimakasih waktu itu sudah menyelamatkan ku!"


Ucap Shofi tulus karena memang Shofi belum mengatakan apapun dari kejadian dua Minggu lalu.


"Terlambat!"


Ketus Fatih membuat Shofi mengerucutkan bibirnya.


"Gak apa lah, dari pada tidak sama sekali!"


Cetus Shofi membuat Fatih mengulum senyum. Fatih suka perubahan wajah Shofi yang di mata Fatih sangat menggemaskan. Ingin sekali Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya.


Namun, Fatih sadar dia hanya di anggap sebatas teman tidak lebih. Jika saja Fatih tahu lebih awal bahwa Shofi akan pergi mungkin Fatih tak akan pernah membiarkan hatinya tenggelam. Namun, semuanya sudah terlambat dan rasa itu sudah ada dan Fatih terlambat mengetahui kalau Shofi akan pergi.


Entah akan pergi kemana, Fatih tidak tahu dan enggan untuk bertanya. Apapun itu Fatih berharap tak akan ada lagi Filosofi Alin selanjutnya yang datang sekedar singgah saja.


"Cantik, indah dan nyaman. Aku sekarang mengerti kenapa kamu menyukai sunset!"


Ucap Shofi sambil menatap ke langit di mana langit berwarna jingga bercampur ungu dan abu-abu.


"Cantik ketika di lihat, menjadi keindahan mata tersendiri dan kamu akan tenggelam kedalam kenyamanan penglihatan itu hingga kamu sulit berpaling dari dunia mu itu,"


"Ya, saking tenggelamnya gue sulit berpaling untuk mencari keindahan dan kenyamanan lain!"


"Walau kamu harus kehilangan dan menunggu se perdetik hembusan nafas kamu hingga dia muncul kembali!"


"Ya, bahkan gue sanggup menunggu loe kembali!"


"Apa an sih!"


Cetus Shofi tak suka jika Fatih sudah membahas ke sana. Bukan Shofi tak suka namun Shofi tidak mau hatinya goyah kembali hingga Shofi pada akhirnya sulit untuk meninggalkan.


"Bukan loe kali, geer amat sih. Tapi seseorang!"


Deg ...


Entah kenapa hati Shofi merasa tercubit jika Fatih harus berpaling pada orang lain. Namun, Shofi juga tak bisa egois jika harus bersama Fatih dan menunggu entah sampai kapan.


Mungkin memang Shofi dan Fatih harus seperti ini. Sebagai teman tak lebih dari itu.


Seseorang itu loe, Philo. Gue sanggup menunggu loe. Tapi, nyatanya loe memang tak menyukai gue. Loe hanya anggap gue teman, tapi tak apa. Yang penting gue masih bisa melihat senyum loe tanpa canggung melihat tawa loe tanpa beban. Itu sudah cukup kok bagi gue.


Batin Fatih miris melihat Shofi benar-benar tak menyukainya.


"Sunset sudah mau tenggelam, lebih baik kita kembali. Ini sudah jauh loh!"

__ADS_1


Ucap Shofi sambil melihat sekeliling tak ada perahu lain kecuali perahu yang Shofi dan Fatih naiki. Apalagi hari mulai gelap dan Shofi tak tahu di mana keberadaan Amira dan Bunga. Apa mereka sudah pulang atau belum.


"Baiklah, kita kembali!"


Pasrah Fatih, padahal Fatih ingin lebih lama lagi duduk di samping Shofi. Namun, apa boleh buat Fatih tak bisa meminta lebih.


Fatih meminta nakhoda kembali membuat sang nakhoda mengangguk lalu memutar arah kembali ke tempat semula.


Shofi celingak-celinguk mencari keberadaan Amira dan Bunga karena tak ada. Shofi turun dari perahu begitupun Fatih.


"Ayo, gue tahu di mana Amira dan Bunga berada!"


Ucap Fatih sambil menarik tangan Shofi namun Shofi malah diam tak beranjak sedikitpun. Shofi hanya memandang tangannya yang di pegang. Membuat Fatih tersadar bahwa dia melakukan kesalahan.


"Maaf!"


Ucap Fatih langsung melepaskan tangannya. Fatih dan Shofi berjalan beriringan menuju sebuah tempat makan di mana Amira dan Bunga berada.


Cukup jauh Shofi dan Fatih berjalan hingga dari kejauhan Amira dan Bunga melambaikan tangan.


"Boleh gue meminta satu hal!"


Ucap Fatih menghentikan langkahnya membuat Shofi juga ikut menghentikan langkahnya dan menatap Fatih.


"Boleh, katakanlah!"


"Izinkan gue tetap memanggil loe, Philo?"


Shofi terdiam mendengar permintaan Fatih yang di luar ekspektasi Shofi. Shofi pikir Fatih akan meminta barang atau waktu. Tapi, nyatanya Fatih meminta sebuah panggilan masa kecil Shofi. Berat bagi Shofi untuk mengizinkan, karena panggilan itu panggilan kesayangan kedua orang tua Shofi. Nama itu akan terus mengingatkan Shofi akan kedua orang tuanya.


"Ya!"


Pada akhirnya Shofi mengizinkan, tak mungkin Shofi melarang lagi. Melihat wajah Fatih yang berharap membuat Shofi tak tega untuk menolaknya kembali.


Senyuman terukir indah di bibir seksi Fatih ketika Shofi mengizinkannya. Setidaknya cukup hatinya saja yang di tolak jangan juga panggilannya.


"Terimakasih!"


Semangat Fatih sambil mengacak-acak rambut Shofi. Membuat Shofi tertegun akan perlakukan Fatih padanya.


Bahkan Shofi masih berdiri diam melihat Fatih menjauh darinya. Apa ini benar-benar perpisahan mereka.


Refleks Shofi memegang dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Ketika Fatih meninggalkannya.


Apa ini juga yang akan Fatih rasakan ketika ia meninggalkannya. Tak terasa setetes air mata jatuh membasahi pipi Shofi.


Shofi tersadar dengan apa yang ia lakukan. Buru-buru Shofi menghapus air matanya ketika Bunga memanggil namanya.


Shofi menghela nafas kasar lalu dengan cepat menghampiri Amira dan Bunga.


"Tadi kalian kemana, kenapa meninggalkan ku!"


Protes Shofi ketika sudah ada di hadapan Amira dan Bunga.


"Maaf, Fatih yang memaksa!"

__ADS_1


Ucap Amira sambil cengengesan, bukannya malah merasa bersalah.


Huh ...


Shofi menjatuhkan pantatnya di atas kursi lalu meminum kelapa muda.


"Eh, itu punya aku!"


Cetus Bunga melotot melihat es kelapanya di minum oleh Shofi bahkan sampai habis. Amira hanya terkekeh saja karena tahu Shofi pasti sedang kesal.


"Beli lagi, gampang!"


"Kau ini, itukan punyaku!"


Kesal Bunga membuat Amira bukan terkekeh lagi tapi jadi ketawa.


"Sudah sudah, waktunya kita pulang!"


Ucap Amira membuat Shofi dan Bunga mengangguk santai.


Sejujurnya Amira ingin berkata jujur sejak awal, kalau Fatih yang meminta. Tapi Amira yakin Shofi tak akan mau.


Dan, nyatanya Fatih mengikuti mereka tak sendiri melainkan dengan ketiga sahabatnya.


Ya, ketika Fatih memberi tahu bahwa dia sudah selesai Amira menyuruh Rangga, Raja dan Moreo pergi.


Tapi, disini sepertinya Amira yang kasihan. Karena ketika Shofi bersama Fatih Bunga malah bermesraan dengan Raja dan Amira hanya bisa memandangnya kesal.


Hari ini hari melelahkan bagi Shofi. Sepertinya Shofi harus istirahat karena jadwal keberangkatan dirinya jam enam pagi.


Menempuh perjalanan satu jam lebih kini Shofi sudah sampai di rumah. Amira dan Bunga langsung pamit tak mau masuk dulu. Tepatnya Bunga yang tak mau masuk. Entah kenapa Bunga sangat takut sekali dengan Davit.


"Ya sudah, kalian hati-hati ya!"


Ucap Shofi sambil memeluk Amira dan Bunga. Mungkin itu adalah pelukan terakhir mereka karena pagi-pagi Shofi sudah harus berangkat.


"Iya, kamu juga hati-hati, jangan lupakan kami!"


"Iya!"


Dengan berat hati Amira dan Bunga pulang, sungguh pertemanan mereka sangat singkat namun begitu berkesan.


Dengan langkah gontai Shofi masuk ke dalam rumah di sana sudah di sambut oleh Davit dan Angel dengan wajah datar.


Shofi bingung melihat wajah kakak nya yang tak biasanya. Namun, mata Shofi terpaku pada koper yang tak jauh dari sang kakak. Perasaan Shofi sudah tak enak dengan apa yang terlihat.


"Kak, ada apa. Kenapa ada koper?"


"Kita berangkat malam ini!"


Deg ....


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....

__ADS_1


__ADS_2