Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 9 Di tolak


__ADS_3

Amira langsung menutup mata Bunga ketika Bunga menganga melihat pemandangan indah di bawah sana.


Amira berdecak kesal melihat kelakuan Fatih yang membuat se isi sekolah histeris. Terutama para cewek-cewek.


Pantas saja Fatih tak masuk nyatanya Fatih sedang di hukum.


"Aku harus kasih Fatih minum!"


Gumam Amelia membawa sebotol air mineral. Amelia yakin Fatih pasti sedang kehausan. Terlihat dari keringat membasahi kening dan tubuhnya.


" 91, 92, 93, 94, 95 , 96 , 97, 98, 99, 100,"


Gubrak ...


Fatih menjatuhkan tubuhnya di bibir lapangan dengan nafas ngos-ngosan.


"Minumnya,"


Fatih mengangkat kepalanya guna melihat siapa yang menyodorkan botol minum. Fatih jadi malas melihat manusia di depannya. Yang tadinya haus menjadi hilang seketika dan mood Fatih jadi buruk.


"Gue gak haus,"


"Ayolah Fatih, gue tahu loe sedang kehausan. Apalagi ini keringetan,"


Plak ...


Fatih menepis tangan Amelia yang akan mengelap keringatnya. Fatih tidak suka tubuhnya di sentuh oleh sembarang orang. Entah harus dengan cara apa lagi menolak Amelia. Gadis ini begitu kebal muka untuk selalu ada cara mendekatinya.


"Gue haus, loe beli lagi. Dan satu lagi, belikan gue nasi goreng bawa ke kelas!"


Fatih dengan entengnya mengambil minuman adik kelasnya bahkan menyuruhnya. Dasar Fatih sifat buli nya kumat lagi.


Amelia yang melihat Fatih malah memilih mengambil minuman adik kelasnya menjadi kesal sendiri. Padahal dia sudah menawarkan bahkan minumannya masih di segel. Sedang minuman yang Fatih ambil sudah di buka.


"Ihhhh ..,"


Amelia jadi jijik sendiri melihat Fatih meminum minuman bekas adik kelasnya yang berkulit hitam.


Tapi, tetap saja tak menurunkan obsesi Amelia mendapatkan Fatih. Mungkin Amelia merasa harga dirinya di pertaruhkan. Masa seorang The Queen, gadis paling cantik dan terpopuler tidak bisa mendapatkan Fatih. Padahal banyak cowo sekelas dan kakak kelasnya yang mengejar-ngejar dia.


"Fatih, lagi-lagi kau mempermalukan ku dengan menolak ku. Akan aku pastikan suatu hari nanti kamu tak akan menolak ku lagi!"


Kesal Amelia sambil menghentakkan sepatu mahalnya. Fatih hanya cuek saja masa bodo dan tak mau peduli.


"Pakai baju,"


Ucap Moreo tiba-tiba datang.


"Sialan, kenapa kalian lama banget!"


Kesal Fatih pada ke tiga sahabatnya yang lama membawa baju ganti.

__ADS_1


Ketiga sahabat Fatih hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana tidak lama, mereka harus berurusan dulu dengan Amira yang memarahi mereka. Entah apa masalahnya hingga mereka kena imbasnya.


Melihat ketiga sahabatnya diam, Fatih mendengus kesal. Langsung berlalu begitu saja meninggalkan ketiga temannya. Sontak saja Raja, Moreo dan Rangga mengejar Fatih.


Fatih pergi karena malas melihat anak-anak tim basket kelas XII. Dimana Aditya yang memimpin nya.


Lebih baik Fatih memilih duduk adem di kelas tanpa banyak yang mengganggunya.


Ketiga sahabat Fatih hanya terus mengikuti saja kemana langkah Fatih melangkah.


Fatih mendudukkan bokongnya di kursinya, rasa lelah membuat Fatih tak bersemangat. Hingga datang adik kelasnya yang membawa pesanan dia.


"Ma-maaf kak, ini pesanan kakak,"


Ucap adik kelas itu dengan gemetar, siapa yang tidak gemetar jika di tatap tajam oleh Fatih. Bahkan tatapan itu seperti akan menelannya hidup-hidup.


Fatih mengambil pesanannya dengan kasar.


"Hey ... siapa yang nyuruh loe pergi. Diam di sana sampai gue selesai makan!"


Glek ...


Adik kelas itu menunduk patuh walau dari tadi rasanya jantungnya mau copot saja. Menghirup udara dengan Fatih bagai menghirup oksigen mematikan saja. Rasanya sesak.


Entah harus berapa lama adik kelas itu berdiri, rasanya kakinya sudah pegal. Bahkan dari tapi tangannya gemetar dengan pundak yang seakan mau copot saja karena terlalu lama menunduk.


Tapi, Fatih gak peduli itu, dia masih santai memakan nasi goreng kesukaannya buatan bi Iteung. Penjual nasi goreng di kantin sekolah.


Apalagi tadi Fatih tidak sempat sarapan, datang ke sekolah langsung di hukum. Sial banget memang hidupnya.


"Kalau kalian lapar, ya tinggal ke kantin. Apa susahnya!"


Celetuk Fatih ketika sudah selesai makan dan menyeruput es tee.


"Sialan loe,"


Kesal Raja, tahu dari tadi dia pergi saja ke kantin dari pada mengikuti sahabat yang gak ada akhlak ini.


"Hey, loe. Kesini,"


"Sa-saya kak?"


"Emang siapa lagi hah,"


"Ma-maaf!"


Cicit adik kelas gemetar mendengar bentakan Fatih. Rasanya dia mau pingsan saja atau menghilang di telan bumi.


"Ini ambil buat bayar makanan tadi,"


"Ta-tapi, ini kebanyakan kak!"

__ADS_1


"Ambil saja, kembaliannya buat loe!"


"Sana pergi, ngapain loe masih di sini!"


Dasar Fatih, bukannya berterimakasih malah mengusir. Dan, bahkan dengan tega Fatih menyuruh kembali adik kelasnya membuang sampah tempat dia makan.


Ketiga sahabat Fatih melongo dengan kelakuan Fatih. Mereka seakan mimpi, ke jedot apa kepala Fatih hingga baik begitu.


Idih, baik!


Baiknya dari mana coba, dari tadi Fatih memerintah seenaknya saja. Bahkan sudah membuat kaki orang kesemutan.


Rangga menempelkan punggung tangannya di kening Fatih.


"Gak panas!"


"Sialan loe, emang gue sakit,"


Plak ...


Sinis Fatih menghempaskan tangan Rangga dari keningnya.


"Gue hanya memastikan saja, kirain loe sakit. Ke sambet syetan mana loe baik banget sama anak hitam tadi!"


"Bukan urusan loe,"


"Idih ngambek, biasanya juga gak di bayar!"


"Berisik!!! gue mau tidur!"


Kesal Fatih menatap tajam pada Rangga, membuat Rangga mengatupkan kedua bibirnya.


Ketiga sahabat Fatih hanya saling pandang, bingung. Karena tak biasanya Fatih mengganti uang makanan yang di palak. Biasanya Fatih acuh saja, dan masa bodo setelah memalak anak-anak. Bahkan kadang Fatih suruh mengganti jika makanan atau minuman yang di beli bukan seleranya. Hingga membuat anak-anak korban palak Fatih menjadi sengsara karena uang jajan mereka habis.


Namun, mereka hanya mampu diam tak berani protes. Hanya mengeluh saja ketika Fatih sudah pergi. Karena mereka jadi tidak jajan.


Fatih hanya tersenyum tipis di balik wajahnya yang di tutup tas. Hingga mata Fatih terpejam. Entah karena kelelahan di hukum atau karena kekenyangan makan.


Sedang adik kelas yang di suruh Fatih hanya bisa bengong melihat uang ratusan ribu yang di kasih Fatih.


"Padahal nasi goreng cuma 10k dan es tee 5k, kenapa kakak Fatih kasih lima ratus lima puluh ribu,"


Lilir adik kelas itu menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca mengingat dia belum bayar SPP selama dua bulan apa lagi tiga bulan lagi dia akan ulangan semester ganjil.


"Ya Allah apa ini hak Adel!"


"Tapi, kata Kakak Fatih kembalian nya buat aku!"


"Alhamdulillah ya Allah sekarang Adel bisa bayar SPP,"


Gumam Adel gembira, bahkan gadis berkulit hitam manis itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia gak takut lagi di keluarkan dari sekolah dan Mak dan bapak nya bisa istirahat.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...


__ADS_2