Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 54 Bukan 'kita' tapi 'Kakak'!


__ADS_3

Amira dan Bunga terkejut ketika Shofi tiba-tiba keluar dari kantor dengan wajah panik. Bahkan Shofi seakan sedang ketakutan dan cemas.


"Tolong, bawa aku pergi dari sini!"


Deg ...


Shofi terkejut ketika ada sebuah tangan yang menarik dirinya. Membuat Shofi langsung terhuyung ke depan.


"Manusia purba lepaskan!"


Sentak Shofi karena terkejut tiba-tiba Fatih menarik tangannya dengan kasar.


"Bukankah loe mau pergi! atau loe mau semua orang tahu siapa loe!"


Shofi membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan Fatih. Tanpa menunggu persetujuan Shofi Fatih kembali menarik tangan Shofi tepatnya Fatih sedang menyeret Shofi.


Amira dan Bunga mengejar langkah Fatih yang membawa Shofi.


Semua orang menatap aneh pada Fatih yang menarik-narik Shofi bahkan Shofi sampai meringis kesakitan.


Tak tinggal diam, Amelia yang melihat Shofi di seret pun langsung ikut melihat. Apalagi yang akan di lakukan Fatih terhadap Shofi.


"Naik!"


"Aku gak mau!"


"Naik, atau gue bawa loe kembali ke kantor!"


Mendengar nama kantor Shofi tanpa protes lagi langsung naik keatas motor sport Fatih.


Fatih langsung memacu motornya pergi meninggalkan sekolah. Entah kemana Fatih akan membawa Shofi dan kenapa juga tiba-tiba Fatih bisa berada di sana.


Kepala sekolah yang mengetahui Shofi di bawa pergi Fatih langsung marah besar. Karena anak itu sudah berani membawa kabur Shofi. Bahkan pak kepala sekolah langsung memarahi pak Anwar sebagai wali kelas Fatih. Pak Anwar hanya diam saja tanpa ekspresi. Bahkan kemarahan kepala sekolah tidak se menakutkan tatapan tajam pak Anwar.


Fatih terus memacu motornya meninggalkan jauh sekolah. Lalu Fatih berhenti sejenak di sebuah toko baju membuat Shofi menyerngit bingung.


"Kenapa kita berhenti di sini?"


Tanya Shofi dalam kebingungannya.


"Turun!"


Shofi mencebik kan bibirnya kesal karena Fatih tak menjawab pertanyaannya. Tanpa kata Fatih menarik tangan Shofi kedalam dan mencari satu stel baju.


"Ganti!"


"Gak mau, ngapain harus ganti segala sih!"


Kesal Shofi karena Fatih selalu saja semaunya. Shofi masih marah loh gara-gara kemaren Fatih mengerjainya hingga Shofi jatuh tepat di depan semua orang.


"Ganti atau gue gantiin!"


Ancam Fatih membuat Shofi refleks menyilangkan kedua tangannya di dada dengan mata menatap tajam Fatih.


"Buruan!"

__ADS_1


"Bawel banget sih!"


Ketus Shofi langsung masuk keruang ganti. Tak lama Shofi keluar kembali dengan pakaian barunya. Celana jins dan kaus oblong yang sedikit kebesaran namun terlihat cocok di tubuh Shofi yang semampai.


"Ayo!"


Lagi-lagi Fatih menarik lengan Shofi menuju kasir untuk membayar pakaian yang sudah Shofi pakai. Sesudah membayarnya Fatih menarik lengan Shofi lagi keluar.


Kini Shofi tak mau protes ia hanya mengikuti saja kemana Fatih membawanya pergi. Toh, berdebat pun pasti Fatih yang akan menang karena Shofi sedang lelah berdebat.


Fatih memacu motornya sangat kencang membuat Shofi mau tak mau harus memegang sisi kanan kiri jaket Fatih. Fatih hanya tersenyum tipis saja melihat Shofi dari balik kaca spion.


Hingga Fatih kembali menghentikan motor sportnya di Dufan.


Tempat wisata yang begitu banyak pengunjung dari mulai kalangan anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua.


"Kenapa kita ke sini!"


Shofi masih tak habis pikir kenapa Fatih membawanya ke wahana bermain. Shofi gak terlalu suka banyak orang apalagi memang Shofi tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang setelah dia bersembunyi.


"Loe akan tahu, ayo masuk. Jangan bawel!"


Shofi mengerucutkan bibirnya kesal karena Fatih selalu saja begitu. Ketus dan datar, bahkan terkesan marah dan perintah dari nada suaranya. Harusnya di sini Shofi yang protes dan marah karena Fatih dari tadi seenaknya menarik-narik tangannya dan memerintah.


Fatih membawa Shofi ke salah satu wahana di Dufan yaitu Bianglala.


"Ngapain kita ke sini!"


"Masuklah!"


Shofi terkesiap ketika Fatih bicara lembut sangat lembut seakan Fatih sedang bicara dengan Aurora.


"Masuk lah, loe pasti suka!"


"Shofi!"


Deg ...


Shofi terkejut ketika namanya di panggil, namun bukan Fatih yang memanggil namanya. Tapi, suara seseorang yang sangat Shofi hapal siapa pemiliknya.


Shofi berbalik melihat siapa yang sudah ada di dalam bianglala. Refleks Shofi menutup mulutnya tak percaya. Tanpa sadar atau tidak Shofi berjalan masuk menghampiri orang yang ada di dalam dan meninggalkan Fatih begitu saja.


Fatih menyunggingkan sudut bibirnya ketika bianglala mulai memutar. Fatih hanya terpaku saja melihat Shofi semakin tinggi ia lihat.


"Gue pastikan suatu saat nanti, gue yang akan menjadi pusat diri loe!"


Gumam Fatih lalu pergi meninggalkan wahana bianglala.


"Bagaimana mungkin!"


"Maafkan kakak, kakak harus secara sembunyi-sembunyi bertemu kamu. Karena rumah kita sudah di ketahui keberadaannya!"


Sesal Davit memegang tangan Shofi yang bergetar. Seketika Shofi terkejut dan tersadar akan sesuatu.


Shofi melihat kebawah namun tidak ada Fatih sama sekali.

__ADS_1


"Katakan, kenapa manusia purba itu?!"


"Fatih putra dari sahabat dan musuh Daddy!"


Shofi menautkan kedua alisnya bingung dengan dua kata yang di ucapkan kakak nya. Bagaimana mungkin ada sahabat di bilang musuh atau musuh di bilang sahabat. Shofi tak mengerti ini sangat aneh.


"Sekarang bukan waktunya kakak menjelaskan akan hal itu, kerena kamu akan tahu sendiri. Sekarang dengarkan kakak baik-baik!"


Davit menghela nafas berat untuk memberi tahu Shofi rencana yang akan ia lakukan. Entah Shofi suka atau tidak suka Davit akan melakukannya.


"Karena keberadaan tempat persembunyian kita sudah di ketahui. Kakak harus pergi ke Jerman!"


"What! benarkah kita akan kembali ke Jerman!"


"Bukan Kita tapi Kakak!"


Tegas Davit menekan kata Kita dan Kakak dua kata yang berbeda.


"Kamu akan tetap di sini sampai kamu kuat, kakak akan kembali sendiri guna mengalihkan perhatian mereka. Di sini kakak tidak punya kekuasaan namun di Jerman kakak punya!"


"Kalau begitu kenapa Shofi harus tetap tinggal, kakak pasti bisa melindungi Shofi!"


"Apa trauma kamu sudah sembuh! kakak gak mau ambil resiko. Kamu belum bisa mengendalikan trauma kamu, bagaimana mungkin kamu harus berhadapan langsung dengan para Bajingan itu!"


Deg ...


Shofi melupakan satu hal itu, jika dia kembali tentu Shofi harus siap berhadapan dengan para iblis-iblis itu. Mengingat itu membuat Shofi benci akan dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa.


Davit menghela nafas berat sambil mencengkram kedua bahu Shofi.


"Ini hanya satu tahun, kakak akan berusaha mengendalikan keadaan dulu di sana. Ketika suasana aman kakak pasti akan menjemput kamu kembali di saat penyerahan jabatan itu!"


"Tapi, kak. Kakak belum punya cukup bukti!"


Kini Davit menyeringai dan mengeluarkan sebuah flashdisk.


"Kamu sudah berhasil membantu kakak mendapatkan sebagian bukti itu!"


"Maksud kakak!"


"Kakak tahu selama ini kamu mencoba mengingat dengan mencari tahu siapa anggota keluarga Damaresh. Dan, tanpa kamu sadari kamu sudah berhasil masuk ke dalam jaringan data bajingan itu!"


Shofi menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang sang kakak katakan, bagaimana mungkin.


"Kamu akan tahu sendiri begitu hebatnya dirimu, kakak sudah mengirim laptop dan berkas-berkas ke rumah teman kamu dan beberapa barang berharga. Buka laptop nanti dan kamu akan tahu sendiri!"


"Waktu kakak tidak banyak! malam ini kakak harus berangkat!"


Entah apa yang harus Shofi lakukan, semuanya begitu rumit Shofi fahami karena pikiran Shofi begitu pelik.


Bianglala yang Davit dan Shofi naiki berhenti ketika Davit mengisyaratkan pada anak buahnya bahwa obrolan mereka sudah selesai.


"Jaga diri baik-baik, kakak berangkat!"


"Kakak!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2