Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 62 Gue takut loe akan jatuh cinta!


__ADS_3

Shofi terus di seret keluar oleh Fatih karena Fatih tahu om Alam dan Amira butuh waktu berdua.


Fatih memang tahu dengan rasa yang di miliki Amira terhadap omnya. Mungkin dulu Amira hanya anak ABG labil yang tak tahu apa itu cinta. Namun, semakin hari Amira tumbuh semakin dewasa dan rasa itu semakin subur. Fatih yakin, itu bukan sekedar cinta anak ABG labil namun Amira memang menyukai om Alam layaknya seorang perempuan pada laki-laki.


Itulah yang Fatih tahu karena Fatih terkadang secara diam-diam membaca buku diary Amira yang selalu Amira bawa kemanapun. Namun, diary itu jarang Amira keluarkan Amira hanya menyimpannya di tas. Amira akan mengeluarkan buku diary itu ketika ia sendiri.


"Stop purba!"


Lilir Shofi sudah tak kuat lagi berjalan bahkan Shofi yakin pergelangan tangannya memerah.


Dan benar saja, pergelangan tangannya memerah ketika Fatih melepaskannya.


"Kau selalu saja membuat ku marah, lihat pergelangan tanganku memerah!"


Kesal Shofi menatap pergelangan tangannya sambil mengelus-elus lembut.


"Cih, kau itu selalu saja lemah!"


Bugh ...


Uhuk ...


Fatih berbatuk ketika tiba-tiba mendapat serangan dadakan dari Shofi. Serangan itu begitu cepat membuat Fatih sulit mengelak. Bahkan sampai Fatih berbatuk dan mundur karena kerasnya tinjuan Shofi di dadanya.


"Sorry, gue sengaja bay!"


Ucap Shofi puas langsung melangkah pergi, namun tiba-tiba tangannya kembali di tarik kasar oleh Fatih hingga tubuh Shofi terpelanting sambil berputar.


Bruk ..


Tubuh Shofi menubruk tubuh Fatih, lalu dengan cepat Fatih menahan pinggang Shofi agar tak bisa menjauh. Bahkan Fatih sedikit menekannya membuat tubuh Shofi semakin merapat dengan kedua tangan Shofi letakan di dada bidang Fatih supaya tidak terlalu menempel. Shofi hanya takut jantungnya yang berdetak hebat terdengar oleh Fatih.


"Biarkan mereka melepas rindu, mereka butuh waktu dan ruang berdua!"


Ucap Fatih tegas sambil menatap ke dalam bola mata Shofi yang memakai kaca mata. Sedang Shofi mengerutkan kening bingung dengan ucapan Fatih. Shofi hanya bisa menerka-nerka akan Amira dan Alam.


Apa hubungan mereka!


Bukankah mereka saudara!


Shofi sungguh di buat bingung dengan keluarga manusia purba dan Amira. Kisah keluarga mereka begitu rumit sulit Shofi fahami.


"Lepas purba, aku gak nyaman!"


Lilir Shofi tak berani menatap Fatih, sungguh sekarang jantungnya tak baik-baik saja. Sepertinya Shofi harus periksa takut terjadi sesuatu dengan jantungnya.


"Jadilah gadis penurut, kalau loe gak mau gue usik!"


"Apa alasan logis hingga aku harus patuh pada kamu?!"


"Karena loe budak gue!"


"Itu yang aku takutkan!"

__ADS_1


Kini Fatih yang di buat bingung dengan ucapan ambigu Shofi.


"Loe takut jadi budak gue!"


"Itu salah satunya!"


Fatih semakin menautkan kedua alisnya bingung dengan setiap kalimat yang Shofi ucapkan. Jika itu salah satunya berarti ada alasan lain.


"Katakan!"


"Kamu tak akan mengerti dan gak akan mengerti!"


"Loe ngatain gue bodoh!"


"Tidak!"


"Terus apa maksud loe tak akan dan gak akan mengerti!"


"Gue takut loe akan jatuh cinta!"


Jujur Shofi menatap kedalam bola mata Fatih yang seketika diam. Shofi merasakan perlahan tangan Fatih mulai mengendur di pinggangnya.


Ha ... ha ...


Tak lama kemudian Fatih malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan percaya diri Shofi. Jika dirinya akan jatuh cinta pada gadis cupu di depannya.


Shofi hanya menatap datar Fatih yang menertawakannya. Apa ada yang lucu, pikir Shofi.


Atau Shofi akan merasakan keduanya, dan itu tak mau terjadi. Shofi tahu, sangat menyakitkan jika harus kehilangan atau di tinggalkan dan meninggalkan. Karena Shofi pernah berada di posisi itu, rasanya sangat menyakitkan di tinggalkan oleh orang yang kita sayang.


Fatih menghentikan tawanya ketika melihat wajah Shofi yang datar bahkan menatapnya dingin. Seakan Fatih menemukan sosok baru lagi di diri Shofi.


"Kenapa loe seyakin itu, kalau gue akan jatuh cinta pada loe!"


"Karena loe sudah berani masuk ke dalam kehidupan gue!"


"So, reality nya tak akan ada yang namanya menindas namun menolong!"


"Loe terlalu pede, meng klaim gue akan jatuh cinta. Loe itu bukan tipe gue, loe itu jelek dan cupu dan satu yang gue gak suka loe itu lemah!"


Shofi memejamkan kedua matanya namun perlahan Shofi membuka kedua matanya kembali dengan senyum tipis di bibirnya.


Fatih tercengang melihat senyuman Shofi yang baru pertama kali Fatih lihat. Senyuman itu bukan ejekan namun ada sesuatu hal lain di balik senyuman itu. Walaupun bibir Shofi tersenyum namun sorot mata itu begitu dingin sangat sangat dingin seakan itu bukan Shofi namun sosok lain.


"Bagus kalau begitu, jadi gue gak perlu takut!"


Meninggalkan kamu suatu hari nanti Ucap Shofi tegas namun di hatinya Shofi berkata lain.


Sepertinya Shofi di sini yang kalah, Fatih benar mungkin Shofi terlalu percaya diri bahwa Fatih mencintainya.


Pada kenyataannya Shofi sendiri yang sudah mulai jatuh cinta pada Fatih. Entah sejak kapan rasa itu datang yang jelas Shofi merasa tak baik-baik saja jika harus berduaan dengan Fatih.


Lalu apa yang sudah Fatih lakukan di Dufan, dia memperlakukan Shofi bak orang yang dia sayang. Salahkan Shofi jika menganggap lebih, namun nyatanya itu hanya fatamorgana.

__ADS_1


Sepertinya Shofi berada di nomor dua, yaitu pergi membawa luka bukan pergi meninggalkan luka.


Ya, Shofi sudah mengaku kalah karena dirinya terlalu lemah. Bagaimana mungkin Shofi bisa jatuh cinta pada orang yang selalu mem buli nya.


"Loe makin kesini omongan loe makin melantur!"


Kesal Fatih tak suka dengan sikap Shofi seperti itu.


"Lebih baik loe belikan gue minum dan makan!"


"Baik tuan!"


Deg ...


Fatih terkejut dengan jawaban Shofi yang memanggilnya tuan. Bahkan Fatih mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras.


"Kenapa reaksi nya seperti itu! bukankah aku budak, jadi wajar kalau aku memanggil anda tuan,"


"Permisi saya mau beli dulu, tuan tunggu di sini!"


Ujar Shofi langsung melangkah pergi meninggalkan Fatih yang sedang menahan amarahnya.


Kenapa harus marah!


Bukankah yang Shofi katakan memang benar. Fatih selalu meng klaim bahwa Shofi budaknya. Lalu apa salahnya jika Shofi menyebutnya tuan.


Shofi terus berjalan cepat lalu Shofi berjongkok di balik pohon besar.


Shofi mengatur nafasnya yang sendari tadi tak baik-baik saja. Bahkan sendari tadi Shofi menahan sesak di dadanya.


Tanpa terasa Shofi meneteskan air mata, namun buru-buru Shofi menghapusnya.


Kenapa belum juga memulai namun sudah sesakit ini.


Salahkan Shofi menganggap Fatih mencintainya!


Lalu apa yang selama ini Fatih lakukan padanya. Meng klaim dia miliknya bahkan sudah tiga kali Fatih mencium kelopak matanya.


Ya, sudah tiga kali Fatih berani menciumnya dan Shofi malah diam karena terkejut. Ciuman ketiganya ketika mereka menghabiskan waktu di Dufan.


Tepatnya ketika Fatih mengajak dirinya naik bianglala. Bukan di kelopak mata Shofi namun ketiga ciuman itu Fatih daratkan di kening Shofi.


Lalu jika begitu, siapa di sini yang harus dipersalahkan.


Apa kah Shofi yang mudah baper an atau Fatih yang sudah melewati batas.


"Tidak Shofi, loe jangan lemah. Loe Philo nya mom and dad. Loe kuat, ini hanya satu tahun!"


Gumam Shofi menyemangati dirinya sendiri. Lalu melanjutkan langkahnya membeli minum dan makan yang Fatih inginkan.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2