
Waktu seakan berhenti sejenak membiarkan sepasang manusia berpelukan.
Pelukan yang sangat erat hingga membuat sang empu tak mampu berkata atau sekedar menggerakkan tangannya guna membalas pelukan itu. Tangannya kaku, sekujur tubuhnya kaku dengan nafas yang tercekat.
"Maaf!"
Lilir Fatih lemah Tampa melepaskan pelukannya.
Sungguh Fatih merasa bersalah karena sudah membuat Shofi terluka. Andai saja Shofi tak menolongnya mungkin ia yang akan mendapat luka itu.
"Maaf!"
Hanya kata itu yang mampu Fatih ucapkan dengan bibir gemetar. Fatih membenci orang di sekitarnya terluka, apalagi karena dirinya.
"Aku sesak!"
"Maaf!"
Fatih melerai pelukannya dengan berat hati sambil menunduk.
"Kamu menangis!"
Deg ...
Fatih terdiam dengan apa yang Shofi katakan. Benarkah ia menangis, padahal Fatih sendiri tak tahu kenapa ia sampai menangis.
Jantung Fatih berdetak hebat ketika sebuah tangan lembut mengusap pipinya. Ya, Shofi menghapus air mata di pipi Fatih menggunakan tangan kirinya karena tangan kanan dirinya di perban.
"Aku baik-baik saja!"
"Loe terluka karena, Gue!"
Cetus Fatih masih emosi dengan apa yang terjadi tadi. Fatih benci pada dirinya sendiri karena sudah membuat Shofi masuk dalam masalahnya. Fatih yakin, Axel akan memburu Shofi kembali.
"Aku baik-baik saja, lihatlah, lukanya sudah di obati!"
Ucap Shofi sambil mengangkat tangan kanannya yang di perban. Fatih memegang tangan itu dan mengusap perban luka Shofi.
"Ini pasti sakit!"
"Sudah gak sakit lagi kok!"
Hening ...
Mereka terdiam sesaat saling tatap satu sama lain. Hingga mata Shofi teralih melihat pelipis dan sudut bibir Fatih yang terluka.
"Kamu juga terluka, kenapa tadi gak di obati!"
"Ini luka kecil bagiku!"
"Ya .. ya ... luka kecil, bahkan kau hampir sekarat!"
Fatih menautkan kedua alisnya melihat Shofi mencari sesuatu di tasnya. Seketika bibir Fatih menyeringai seakan Fatih mengingat sesuatu.
"Menyandarkan,"
Fatih menurut bersandar tepatnya duduk di motor dengan Shofi berdiri di hadapannya. Shofi mengeluarkan tisu untuk membersihkan luka di kening Fatih lalu memberinya plester. Lalu Shofi membersihkan luka di sudut bibir Fatih yang darahnya mulai mengering.
Jarak mereka sangat dekat bahkan Fatih bisa dengan jelas menatap wajah Shofi.
Bulu mata lentik itu mengerjap-enjap lucu membuat Fatih gemas.
"Apa loe yang menolong gue waktu itu?"
Shofi menghentikan gerakan tangannya lalu mendongak hingga mata mereka kembali bertemu saling tatap satu sama lain.
"Menolong apa?"
"Menolong gue ketika sekarat di keroyok anak Rebel!"
"Jangan ngaco, mana aku tahu!"
"Gue ingat jelas, sebelum gue benar-benar pingsan gue melihat seorang gadis mendekat dengan bau parfum sama seperti yang di pakai loe!"
"Sudah ah, omongan kamu ngawur!"
__ADS_1
Cetus Shofi langsung membuang tisu di tangannya.
Fatih menarik pinggang Shofi yang ingin menjauh hingga merapat kembali dengannya. Walau masih ada jarak beberapa Senti.
"Insting gue tak pernah salah!"
"Terserah!"
"Terimakasih!"
Diam!
Shofi terdiam dengan ucapan terimakasih Fatih. Shofi tak boleh menjawab, mungkin Fatih ingin menjebak dirinya agar mengaku.
"Terimakasih sudah menyelamatkan gue, hingga tangan loe terluka!"
Ucap Fatih memperjelas kata terimakasih nya.
"Sama-sama, kamu juga melindungi ku, terimakasih!"
Hening ....
Suasana kembali hening, hanya ada suara semilir angin yang berhembus menyapa kulit mereka.
Fatih seakan sedang tenggelam ke dalam bola mata Shofi biru jernih. Ada rasa aneh yang menggelitik Fatih namun Fatih belum mengerti itu.
"Bisa tolong lepaskan, aku gak nyaman,"
"Philo!"
Tubuh Shofi menegang setiap kali Fatih memanggilnya dengan sebutan itu. Bahkan Fatih bisa merasakan perubahan raut wajah Shofi.
"Tolong, jangan panggil aku dengan panggilan itu, cukup Shofi saja!"
Lilir Shofi tak menyukai itu, panggilan itu hanya akan membuat Shofi teringat kembali pada kedua orang tuanya.
"Tapi gue menyukainya!"
"Jangan buat aku membencimu!"
"Sudah tidak lagi, jadi aku mohon jangan buat kebencian itu kembali muncul!"
"Gue pastikan itu tak akan terjadi!"
"Seyakin itu?"
"Iya!"
"Bagaimana kalau sekarang aku berkata membencimu!"
Grep ...
Fatih malah menarik Shofi kedalam pelukannya. Pelukan itu sangat erat seakan Fatih takut kehilangan.
Apa yang Fatih lakukan membuat Shofi terkejut, kenapa Fatih tiba-tiba seperti ini. Dan, itu tentu tak baik buat kesehatan jantung Shofi.
"Kenapa loe hadir!"
"Gue tak pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya. Loe orang pertama yang berhasil membuat gue jatuh. Bahkan sepertinya gue sudah menjilat ludah gue sendiri,"
"Gue yakin dengan rasa ini, bukan kasihan atau apapun. Melihat loe terluka membuat hati gue sakit. Apa lagi loe terluka karena gue,"
"Rangga dan loe benar, gue terlalu jauh masuk kedalam hidup loe. Dan loe benar, gue akan jatuh cinta pada loe!"
"Awalnya gue menepis rasa itu, karena gue pikir loe sama seperti adik gue Aurora. Yang selalu melotot ketika marah, bicara ketus ketika kesal."
Shofi memejamkan kedua matanya dengan tangan kiri mengepal erat. Inilah yang Shofi takutkan ternyata terjadi.
Shofi tak mau itu, ia tak mau Fatih memiliki rasa padanya. Shofi benci itu, Shofi benci keadaan itu.
Dan, Shofi membenci lagi karena tak bisa berbuat apa-apa untuk membalas ungkapan Fatih.
Kenapa secepat ini Fatih berubah. Di saat Shofi sudah menguatkan hati. Jika begini apa yang harus Shofi lakukan.
Fatih menarik tubuh Shofi agar bisa melihat dengan jelas raut wajah Shofi.
__ADS_1
"Philo!"
"Stop!"
"Bukankah sudah aku peringatkan, jangan baik padaku. Lihatlah hasilnya!"
"Aku membencimu!"
Fatih menautkan kedua alisnya, kenapa Shofi semarah itu. Emang ada yang salah dengan perasaannya, pikir Fatih bingung.
"Ada apa Philo, kenapa loe semarah itu?!"
"Berhenti memanggil ku Philo!"
Fatih terkejut ketika Shofi semarah itu, Shofi benar-benar marah bahkan menatap ia tajam.
Fatih menjadi bingung menghadapi situasi seperti ini. Apa salahnya mengungkapkan perasaannya. Dan kenapa juga Shofi semarah itu ketika dia memanggil naman, Philo. Padahal Fatih menyukai nama itu.
"Loe kenapa?"
"Seharusnya rasa itu tak pernah ada, buang rasa itu!"
Fatih tercengang dengan permintaan Shofi. Fatih benar-benar tak mengerti kenapa Shofi bisa semarah itu.
"Loe kenapa semarah ini, gue gak mungkin membuangnya kalau rasa ini telah hadir!"
"Buang, aku tak mengizinkan mu mencintai ku!"
"Jangan kejar aku, kalau kau tak mau aku semakin membenci mu!"
Fatih hanya bisa diam mematung melihat kepergian Shofi. Kenapa jadi begini keadaanya. Kenapa sesakit ini belum apa-apa sudah di tolak bahkan Shofi melarangnya untuk di cintai.
Fatih bingung benar-benar bingung, apa ia salah mengungkapkannya sekarang. Apa waktunya tak pas.
Fatih bukan orang yang selalu memendam. Ia akan mengatakan apa yang ia rasa. Apa yang ia sukai apa yang tida ia sukai.
Fatih masih ingat betul percakapan dirinya di rumah sakit itu.
"Kamu tak akan mengerti dan gak akan mengerti!"
"Loe ngatain gue bodoh!"
"Tidak!"
"Terus apa maksud loe tak akan dan gak akan mengerti!"
"Gue takut loe akan jatuh cinta!"
"Kenapa loe seyakin itu, kalau gue akan jatuh cinta pada loe!"
"Karena loe sudah berani masuk ke dalam kehidupan gue!"
"So, reality nya tak akan ada yang namanya menindas namun menolong!"
"Loe memang benar, gue terlalu dalam masuk ke kehidupan loe!"
Gumam Fatih benar-benar menatap kepergian Shofi sampai menghilang di hadapannya.
"Loe terlalu pede, meng klaim gue akan jatuh cinta. Loe itu bukan tipe gue, loe itu jelek dan cupu dan satu yang gue gak suka loe itu lemah!"
"Bagus kalau begitu, jadi gue gak perlu takut!"
"Apa loe masih marah karena gue menghina loe!"
Gumam Fatih ketika mengingat bagaimana dia dengan percaya diri mengatakan kalau Shofi bukan tipenya.
Gue gak perlu takut!
Kata terakhir itu kembali terngiang di telinga Fatih. Kata itu seakan menyimpan sesuatu yang tak Fatih mengerti.
"Sebenarnya, apa alasan loe melarang gue menyukai loe. Dan, apa yang loe takutkan?"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1