Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 93 Ngapain di sini?


__ADS_3

Shofi menceritakan kejadian nya kenapa dia tak jadi pergi. Membuat Amira dan Bunga mengerti. Bahkan Bunga kini malah memuji Davit. Padahal Bunga paling sensitif jika bertemu Davit.


"Wah, kamu beruntung Shofi, punya kakak angkat yang sangat pengertian. Baik lagi, ah aku jadi mau punya kakak seperti itu!"


Celetuk Bunga mulai kambuh lagi membuat Shofi hanya terkekeh sedang Amira memutar bola mata malas.


"Kakak kamu sweet banget, akhirnya ngizinin kamu sampai hari resepsi pernikahan ku!"


Bisik Bunga semangat karena tak mau sampai orang lain mendengar. Shofi hanya tersenyum saja.


"Boleh gabung!"


Ketiga wanita yang sedang asik bercengkrama kompak menoleh melihat empat lelaki berdiri dengan masing-masing tangan membawa menu makan yang mereka pesan.


Ketiga wanita itu saling pandang satu sama lain lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah Fatih, Rangga, Raja dan Moreo.


"Tidak! boleh!"


Ucap ketiga gadis itu serempak membuat ketiganya saling pandang.


Tentu Amira dan Shofi menjawab tidak, sedang Bunga menjawab boleh sendirian.


"Duduk saja ngapain minta izin!"


Cetus Fatih langsung duduk di samping Shofi, begitu pun dengan Raja duduk di samping Bunga. Sedang Rangga dan Moreo duduk menghempit Amira.


Bunga melihat Shofi yang saling tatap dengan Fatih, sedang Amira menatap tajam kedua manusia di sisi kanan kirinya.


Bunga mengulum senyum melihat semuanya membuat Raja menautkan kedua alisnya.


"Wow, keren, Amira punya dua cowo!"


Celetuk Bunga cengengesan membuat Amira langsung melotot tajam.


Sontak Shofi pun ikut terkekeh. Membuat Fatih tenggelam dalam memerhatikan Shofi. Entah kenapa Fatih sedikit heran, kenapa Shofi sekarang mudah tersenyum. Padahal di awal dia sulit sekali tersenyum.


"Gue cowoknya!"


Cetus Rangga sambil menepuk dadanya.


"Amira punya gue!"


Sengit Moreo sambil menggeser duduknya semakin menempel pada Amira.


"Punya gue!"


"Gue!"


"Gue!"


Brak ...


Berisik!!!!


Teriak Amira sambil menggebrak meja membuat perdebatan Rangga dan Moreo terhenti.


"Makan! kalau tidak gue sumpal mulut kalian berdua pakai sambal!"


Glek ...


Moreo dan Rangga menelan ludahnya kasar mendengar ancaman Amira bahkan tatapannya begitu mengerikan. Yang lebih mengerikan Amira menyebut dirinya gue bukan aku lagi.


Dengan gugup Moreo dan Rangga kompak bergeser menjauh dari Amira hingga membuat Amira bisa bernafas lega.


Shofi dan Bunga hanya terkekeh saja melihat wajah ketakutan Moreo dan Rangga. Bahkan Moreo yang terkenal paling coll mendadak melow.

__ADS_1


"Sudah, makan sayang jangan cekikikan Mulu,"


Bisik Raja di telinga Bunga membuat Bunga langsung mengangguk cepat.


"Philo,"


Panggil Fatih lembut membuat Shofi langsung menengok.


Aaa ...


Fatih mengarahkan satu suap bakso pada Shofi. Seketika membuat Shofi terdiam, namun Fatih mengisyaratkan supaya Shofi menyambutnya.


Dengan ragu Shofi menerima satu suapan bakso dari Fatih membuat Fatih tersenyum tipis sangat tipis bahkan sepertinya Shofi juga tak menyadarinya.


"Itukan punya ku!"


Ucap Shofi menahan lengan Fatih yang mengambil mangkuk bakso miliknya.


"Loe makan punya gue saja, gue makan punya loe!"


"Tapi, punya kamu masih banyak, sedang punya aku sudah tinggal sedikit!"


"Tidak apa, mungkin ini akan habis, gue takut kalau makan yang itu gak habis!"


Ucap Fatih langsung menyantap bakso milik Shofi yang tinggal beberapa suap lagi. Sedangkan bakso milik Fatih sangat banyak.


Sebenarnya Fatih tidak terlalu suka sama bakso daging. Sama seperti Farhan, Fatih sukanya nasi goreng.


Tapi, karena Fatih selalu lebih menyukai makanan yang sedang di makan orang dari pada makan yang baru jadi mungkin Fatih bisa menghabiskan bakso milik Shofi.


Karena tentu, jika Fatih makan miliknya itu tak akan habis.


Shofi hanya menghela nafas saja tak mau berdebat. Sudah baik mereka berdua akur dan saling mengalah. Namun, satu yang Shofi sedikit heran, melihat cara makan Fatih yang sedikit aneh. Seperti Fatih sedang menahan sesuatu, atau merasa tak enak namun di paksakan di telan.


"Kalau gak suka, jangan di paksakan makan!"


Amira yang melihat tingkah sepupu nya hanya bisa mengulum senyum. Amira yakin sebentar lagi wajah Fatih akan memerah dan dia akan pergi.


Amira hanya bisa menghitung dalam hati sekuat apa Fatih menahannya hanya demi Shofi.


"Gue ke toilet!"


Ucap Fatih cepat sampai berlari membuat Shofi langsung terkejut. Sedang Amira langsung tertawa terbahak-bahak.


Dan tentu ketiga sahabat Fatih langsung mengejar Fatih. Karena mereka bertiga tahu apa yang sedang di alami Fatih.


Shofi menjadi heran sendiri kenapa semuanya jadi pergi, lalu Shofi menatap Amira yang tertawa seakan ada yang lucu.


"Ada apa, kenapa tertawa?"


Tanya Shofi keheranan dengan wajah bingungnya.


Amira langsung menghentikan tawanya dan berusaha mengatur nafas.


"Fatih itu sensitif makanan berbaur daging dan ayam. Apalagi kalau makanan itu di campur saus maka perut Fatih akan merasa mules!"


"Hah!"


Shofi melotot karena terkejut akan penjelasan Amira. Sungguh Shofi tak habis pikir dengan pikiran Fatih, kenapa juga dia malah makan sudah tahu sensitif. Bukannya terharu Shofi jadi kesal sendiri dengan cara Fatih. Bagi Shofi gak gini caranya terlihat romantis kalau membahayakan diri.


"Fatih itu dari kecil kata Oma Adel sama persis seperti om Farhan. Dari kecil Fatih itu makan buah, sayuran dan berbaur seafood saja. Jadi, itulah kenapa Fatih selalu makan nasi goreng berbeda dari ke tiga balad nya."


Jelas Amira, sepertinya Shofi harus tahu sedikit tentang Fatih.


Shofi terdiam, sambil mengingat-ingat ketika dia di buli sama Fatih. Memang benar, walaupun Fatih menyuruh membelikan bakso atau pun mie ayam tak sekalipun Fatih makan. Fatih malah memilih nasi goreng menu makan an nya.

__ADS_1


"Mau kemana?"


Cegah Amira ketika Shofi beranjak dari duduknya.


"Nyusul Fatih!"


Jawab Shofi datar langsung berlalu pergi.


"Oh so sweet nya mereka!"


Celetuk Bunga gemes melihat tingkah Fatih dan Shofi dari tadi.


Tak ...


Awwss ...


Bunga meringis karena lagi-lagi keningnya di toyor oleh Amira.


"So sweet apa nya. Apa kamu tak melihat kalau Shofi memasang wajah kesal!"


Cetus Amira membuat Bunga hanya bisa garuk-garuk tengkuknya saja.


.


Sedang di toilet Fatih beberapa kali bulak-balik masuk ke dalam toilet sambil memegang perutnya.


Sungguh rasanya sangat perih dan sakit, hingga membuat Fatih lemas.


Di depan pintu masuk ketiga sahabat Fatih berjaga supaya tidak ada yang masuk ke dalam toilet.


"Apa dia belum keluar juga?"


Tanya Shofi tiba-tiba muncul membuat ke tiganya berbalik sambil menggeleng kompak.


Huh ...


Shofi menghembuskan nafas kasar, bukannya kasihan Shofi malah semakin jengkel dan kesal ingin menjitak atas kebodohan Fatih.


"Kalian balik ke kelas saja, biar aku yang jaga dia!"


Ketiganya diam antara menurut atau tidak, tapi melihat tatapan serius Shofi membuat ketiganya mengangguk pasrah mereka balik ke kelas karena memang jam istirahat sudah habis.


"Ah .... lega!"


Gumam Fatih selesai mengeluarkan hajatnya, namun ketika akan keluar perutnya sakit kembali membuat Fatih terpaksa masuk kembali. Begitupun Lang di lakukan Fatih sampai Fatih benar-benar lemas tak berdaya. Bahkan wajah tampannya sedikit pucat.


Dengan langkah gontai Fatih keluar sambil menjinjing jas nya.


"Sudah selesai!"


Deg ...


Fatih terkejut melihat Shofi sedang bersandar di dinding sambil menatapnya tajam.


"Ngapain di sini?"


"Menurut kamu!"


Fatih terdiam karena bingung harus berkata apa lagi. Bahkan kini Fatih menunduk seperti anak yang sedang di marahi ibunya.


"Ayo pulang!"


Deg ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2