
"Apa loe menyukainya?"
Tanya Fatih berdiri di samping Shofi yang sedang memejamkan kedua matanya dengan tangan di rentangkan menikmati udara segar di pagi hari. Apalagi, suasana di selimuti awan tebal.
"Ini namanya tempat apa?"
Shofi malah balik bertanya membuat Fatih tersenyum.
"Kampoeng Awan!"
"Aku menyukainya, terimakasih sudah membawaku ke tempat indah ini!"
"Hm,"
Fatih mencoba mengikuti apa yang sedang Shofi lakukan.
Fatih perlahan merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya. Menikmati udara segar yang sangat memanjakan hidung. Dan, bila mana membuka mata, maka mata mereka akan di manjakan dengan pemandangan awan seolah mereka sedang berdiri di atas awan.
Jika Shofi dan Fatih sedang menikmati udara pagi, berbeda dengan yang lainnya yang masih berada di bawah selimut tebal. Udara dingin membuat mereka merasa nyaman berada di bawah selimut.
Hingga mentari perlahan nampak malu-malu mengintip di ufuk timur sambil tersenyum memancarkan sinarnya.
Amira dan Bunga bangun begitupun dengan ketiga sahabat Fatih.
Dengan enaknya mereka langsung sarapan yang sudah di sediakan oleh Fatih dan Shofi.
Mereka duduk di kursi kayu dengan satu meja persegi panjang.
Terlihat sekali mereka semua seperti pasangan yang sangat romantis menikmati paginya dengan secangkir teh dan kopi. Di padukan dengan roti yang sudah di bumbui selai masing-masing. Begitu juga ada beberapa cemilan dan buah yang tersedia di meja.
Namun, dari semuanya ada satu orang yang sendari tadi nunduk malu tak berani mengangkat kepalanya.
Dia terlalu malu dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Mel, apa kamu merasa mual?"
Tanya Amira pada Amelia, ya, Amelia ikut ke dalam kumpulan mereka. Tepatnya pak Anwar yang membawa Amelia ke sana, karena pak Anwar yang bertugas menjaga anak-anak bos nya.
Jika di luar maka pak Anwar akan berpakaian rapi seperti para bodyguard lainnya yang memang beberapa ikut untuk menjaga mereka.
Bukannya menjawab Amelia malah terisak, Amelia tak menyangka orang-orang yang selama ini dia percaya ternyata orang yang sudah tega menghancurkan hidupnya.
Sedang, orang yang dulu Amelia benci, tapi justru merekalah yang dengan senang hati merentangkan tangan melindunginya. Sungguh Amelia sangat malu sekali.
Bagaimana bisa dia dulu sekejam itu, sedangkan orang yang sendari dulu ia tampung malah mengkhianati nya.
Amelia sangat shok sekali ketika melihat sebuah bukti dan rekaman dari Shofi kalau Mira yang melakukan itu semua.
Akibat rasa iri karena Amelia memiliki segalanya dan dendam karena Mira menyukai Aditya tapi Aditya malah berpacaran dengan Amelia.
Sungguh miris bukan!
Sangat menyakitkan lebih sakit dari pada terkena anak panah.
Itulah yang sekarang Amelia rasakan, sungguh hidupnya sangat menyakitkan.
__ADS_1
Kedua orang tua tak peduli dan teman yang berkhianat.
"Aku Malu hiks ... aku malu ..,"
"Sudah, jangan menangis. Apa kamu tak kasihan pada baby kamu, dia butuh nutrisi. Makanlah ..,"
Bukannya berhenti menangis, Amelia malah semakin terisak di pelukan Amira.
Melihat Amelia semakin menangis membuat ke empat pemuda tampan itu menyingkir memberikan ruang pada para gadis-gadis.
"Kita sudah melupakan masalah yang lalu, sudah jangan terus merasa malu!"
Ucap Bunga bijak, padahal Bunga yang sering mengomel namun kali ini ia sedikit bicara.
Amira menghapus sisa air mata Amelia layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Ayo makan!"
Ujar Shofi menyodorkan sepiring roti dan segelas susu ibu hamil.
Dengan ragu Amelia mengambilnya, ada baiknya juga Amelia tidak merasakan mual seperti ibu hamil pada umumnya.
Entahlah, terkadang Amelia juga heran kenapa ia tak mual-mual. Namun, Amelia juga bersyukur karena di tak terlalu merepotkan orang lain. Apalagi sekarang Amelia tinggal bersama pak Anwar.
Amelia memang tak mau kembali lagi pada ke dua orang tuanya dan meminta perlindungan pada pak Anwar.
Hingga sudah dua hari ini Amelia tinggal bersama pak Anwar yang hidup seorang diri dengan bayang-bayang istri dan anaknya yang sudah meninggal.
"Nah gitu dong, kamu habisin roti ini!"
Para laki-laki menyiapkan kompor portabel yang memang khusus buat camping. Rencananya mereka akan masak dengan bahan-bahan yang sudah pak Anwar dan anak buahnya siapkan. Jangan lupa ada juga jagung dan sosis untuk bakar-bakaran nanti malam.
Bagian masak Fatih serahkan pada cewek-cewek. Mereka hanya membantu sisanya saja. Seperti menyiapkan air dan yang lainnya.
Rencana mereka camping akan beberapa hari ke depan sebelum dua hari lagi acara perpisahan.
"Ra, aku gak bisa masak!"
Rengek Bunga menyerahkan wajan pada Amira.
"Aistt, aku juga gak terlalu bisa. Aku cuma bisa bikin telor ceplok dan masak mie saja. Ini masak ikan dan daging, aku gak bisa!"
Cetus Amira juga menyerahkan wajan pada Bunga. Hingga mereka terlibat dorong men dorong wajan.
Shofi yang sedang mencincang bumbu langsung menghentikan gerakannya.
"Sini biar aku saja, kalian malah pada ribut!"
Kesal Shofi mengambil alih tugas.
"Emmzz, boleh aku bantu?"
Gugup Amelia memberanikan diri membuat ketiga gadis itu saling pandang.
"Boleh, sini!"
__ADS_1
Jawab Shofi menarik tangan Amelia mendekat.
Shofi memang sendari kecil sudah biasa masak sendiri. Apalagi ketika Shofi bersembunyi, dia juga yang masak jika Davit tak sempat menyiapkannya.
Hingga yang masak jadi Amelia dan Shofi, bahkan keduanya terlihat kompak sekali. Seperti mereka sudah biasanya melakukan itu semua. Apalagi memang Amelia sudah terbiasa masak sendiri sendari kecil karena kedua orang tuanya tak peduli apa dia sudah makan atau belum, sakit atau tidak hingga membuat Amelia menjadi karakter seperti itu.
Karena pengasuh Amelia dulu yang mengajarkannya.
"Gila, apakah benar itu si ulat bulu!"
Cetus Rangga tak percaya jika Amelia bisa memasak.
"Ada keahlian juga dia bisa masak!"
"Sungguh ini pemandangan yang sangat langka!"
"Gue abadikan ah ...,"
Jahil Rangga memotret kegiatan Shofi dan Amelia memasak. Tak lupa Rangga juga memotret Amira dan Bunga yang sedang menyiapkan wadah.
Pak Anwar hanya menyunggingkan senyum saja melihat apa yang anak-anak lakukan.
Terutama Amelia, entah kenapa pak Anwar yang terkenal dingin dan kejam dia bisa membantu Amelia dan bahkan ingin melindunginya.
Entah karena Amelia mengingatkan pak Anwar pada putrinya yang meninggal atau ada hal lain.
"Sudah selesai, ayo makan!"
Teriak Bunga kegirangan, kalau masalah makan maka Bunga adalah jagonya. Namun, anehnya badannya kenapa gak gendut-gendut tetap saja seksi.
Fatih, Raja, Rangga dan Moreo malah terdiam. Seakan mereka ragu apakah masakan Shofi dan Amelia layak di makan atau tidak.
Tak ... tak ... tak ... tak ..
Amira menjitak kepala ke empat laki-laki di hadapannya dengan sendok membuat mereka mengaduh.
"Makan!"
Bentak Amira melotot membuat ke empat laki-laki itu bak anak kucing langsung mengangguk saja tanpa berani protes.
Deg ....
Rangga dan Raja saling tatap, mereka melotot namun sedetik berikutnya matanya berbinar ketika masakan Amelia dan Shofi sangat lezat. Bahkan mereka berdua jadi rebutan.
Sedangkan Moreo dan Fatih terlihat biasa saja. Bahkan mereka makan terlihat Coll.
"Isstt, itu punyaku!"
Kesal Shofi ketika bagiannya di ambil Fatih. Entah kenapa Fatih suka sekali mengambil jatah orang.
"Itu banyak, jangan pelit!"
Amelia yang melihat interaksi Fatih dan Shofi hanya bisa mengepalkan tangannya. Harapannya sudah pupus dan Amelia hanya bisa mengikhlaskan.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....