
Entah percaya atau tidak dengan semua kebenaran ini. Jadi benar apa yang Shofi takutkan. Bagaimana mana mungkin, dia bukan kakaknya. Sungguh Shofi tak bisa menerimanya.
Kejujuran sang kakak membuat Shofi sangat shok bahkan Shofi tak bisa berkata-kata. Ternyata di dunia ini ia sudah tak punya siap-siap lagi. Sungguh miris bukan, orang yang selama ini selalu menjaganya yang tak lain yang tak bukan hanya kakak angkatnya.
Pantas saja selama ini Davit selalu mengatakan, ada darah Damaresh yang mengalir di tumbuh mu. Ternyata semuanya nyata.
Setelah Davit menjelaskan semuanya Shofi langsung meminta Davit keluar. Shofi butuh sendiri, butuh menenangkan hati dan pikirannya.
Tak ada tangis yang keluar di mata Shofi, namun diamnya Shofi menandakan begitu rapuhnya Shofi hingga ia lelah untuk menangis.
Fakta itu sangat menyakitkan hingga membuat Shofi tercekat.
Kenapa jadi seperti ini, Shofi tak menginginkan ia berada di posisi yang sangat memperihatinkan.
Sosok yang selalu jadi pelindungnya, menyayanginya dan menjaga nya dia bukan kakak kandung Shofi. Melainkan orang lain yang hadir sebelum ia lahir.
Entah harus seperti apa Shofi bersikap selanjutnya. Canggung kah, atau lebih dari itu.
Namun, Shofi bukan lagi anak kecil yang berpikir pendek mengedepankan rasa sakit dari pada berpikir.
Kecewa tentu!
Marah, tidak!
Ya, Shofi tidak marah dengan ke jujuran Davit karena tak ada hal bagi Shofi untuk marah. Ia hanya sedikit kecewa kenapa tak mengetahui lebih awal ketika kedua orang tua nya masih ada. Sehingga Shofi tak akan berpikir kalau dia benar-benar sendiri.
Haruskan Shofi sekarang berjuang sendiri! atau Shofi akan tetap tergantung pada Davit yang tak terikat darah dengannya namun terikat hati.
Kasih sayang mereka sudah tak di ragukan lagi. Shofi yakin Davit tak akan tega meninggalkannya sendiri seorang diri.
Davit tak mungkin membiarkannya sendiri menjalani hari yang baru akan di mulai. Shofi yakin, Davit akan selalu beriringan dengannya. Davit tetap kakak nya, hari ini, esok, nanti dan seterusnya.
Shofi tak mau kehilangan Davit. Shofi akan tetap menganggap Davit kakak kandungnya sebagai mana ketika Shofi tak tahu apa-apa.
Karena Davit keluarga satu-satunya yang Shofi miliki dan Angel istri Davit.
"Kakak ..,"
Ucap Shofi tersadar dari lamunannya. Shofi merasa bersalah karena sudah mengusir Davit keluar.
Dengan cepat Shofi turun dari brankar guna mengejar sang kakak. Shofi tak mau Davit pergi, Shofi tak mau kehilangan Davit. Davit adalah kakak nya dan akan tetap seperti itu.
"Nona muda!"
Pekik dua penjaga terkejut ketika melihat nona muda mereka keluar dari ruangan sambil berteriak memanggil-manggil nama Davit.
"Kakak!!!"
"Kakak!!"
Teriak Shofi mencari keberadaan Davit, Shofi benar-benar sangat menyesal telah mengusir sang kakak.
Dua penjaga mengejar nona muda mereka namun mereka tak berani memegang Shofi karena takut Shofi akan marah. Dua penjaga itu hanya berusaha melindungi nona muda supaya tak terjatuh.
"Kakak!!"
__ADS_1
Teriak Shofi sekali lagi dengan gemetar, mata Shofi mulai berkaca-kaca sangat frustasi karena tak mendapati sang kakak.
Shofi berjongkok bak anak kecil yang merajuk sambil menatap ke segara arah. Namun, Davit tak ada di sana.
Marahlah Davit karena Shofi mengusirnya, atau Davit sangat kecewa akan respon Shofi.
Sungguh Shofi tak bermaksud seperti itu, Shofi hanya shok dan butuh waktu untuk mencerna semuanya. Karena terlalu banyak masalah yang saat ini Shofi hadapi.
"Kenapa keluar?"
Deg ...
Shofi mengangkat kepalanya melihat siapa yang ada di hadapannya.
Tes ...
Air mata Shofi kembali mengalir dengan deras melihat Davit sudah ada di hadapannya.
Davit sangat terkejut ketika mendapat laporan bahwa Shofi keluar mencari dirinya.
Shofi berdiri lalu berhambur memeluk Davit erat sangat erat seolah Shofi takut kehilangan sang kakak.
Shofi tak mau kehilangannya, hanya Davit yang Shofi punya.
"Jangan pergi hiks ...,"
"Maafkan Shofi, jangan pergi ...,"
Rancu Shofi semakin memeluk erat Davit ketika Davit tak membalas pelukannya. Marah kah Davit padanya.
Namun, melihat reaksi Shofi membuat Davit bernafas lega.Itu artinya Shofi mau memaafkan dirinya.
"Kakak di sini, akan tetap di sini!"
Ucap Davit langsung membalas pelukan Shofi, bukannya tangisan nya reda. Shofi malah semakin terisak mendengar ucapan Davit. Bahkan tangisan itu sampai mengundang perhatian orang membuat Davit di buat kikuk.
"Sudah jangan menangis, kakak gak kemana-mana. Tadi, kakak pikir kamu marah!"
"Gak, Shofi gak marah, Shofi hanya sok saja tadi!"
"Maafkan Shofi kak, Shofi tadi gak bermaksud ngusir kakak!"
Sesal Shofi ketika sudah bisa menguasai emosinya.
"Kakak mengerti, maafkan kakak juga!"
Shofi kembali memeluk Davit dengan sayang begitupun Davit membalas pelukan adik kecilnya. Davit bernafas lega karena Shofi mau menerima kehadiran dirinya.
Padahal Davit berpikir Shofi tidak akan menerima dirinya. Bagaimana mungkin Shofi tak menerima dirinya. Sedang Shofi tumbuh di gendongan Davit sendiri.
Angel yang melihat pemandangan di depannya begitu terharu bahkan sampai Angel mengeluarkan air mata.
Air mata yang nampak aneh jika keluar di mata Angel. Karena semua orang tahu, Angel adalah wanita tangguh tak pernah sekalipun Angel menangis.
Tapi, lihatlah. Melihat kasih sayang yang di ciptakan Davit dan Shofi membuat Angel tak bisa menolak untuk mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
Bahkan para anak buah Davit juga sampai ada yang menangis. Bagaimana tidak menangis, mereka tahu bagaimana perjalanan lord nya. Melindungi nona muda mereka. Bahkan berkali-kali Davit hampir merenggang nyawa karena harus melindungi Shofi.
Sungguh mereka juga di buat baper akan apa yang Davit lakukan. Terlihat jelas, bahwa Davit sangat menyayangi Shofi.
Davit tersenyum melihat istrinya di ujung sana yang sedang menatapnya penuh bangga.
Davit merentangkan satu tangannya seolah mengisyaratkan agar Angel mendekat. Angel menggeleng, namun Davit masih setia merentangkan satu tangannya.
Jika begini, Angel mana tahan. Suami dinginnya ternyata bisa menciptakan hal mengharukan.
Angel berjalan mendekat, lalu masuk ke dalam pelukan Davit sambil memeluk Shofi.
Shofi yang sadar akan kedatangan Schwager nya. Memeluk erat dua manusia yang kini begitu berharga. Kini hanya mereka berdua yang Shofi punya. Shofi tak mau kehilangan mereka. Shofi sangat sangat menyayangi Davit dan Angel.
Apalagi Angel sangat menyayangi adik kecilnya.
"Terimakasih, sayang!"
Bisik Davit di telinga Angel, Angel benar, Shofi sekarang sudah tumbuh menjadi gadis kuat dan dewasa. Shofi bukan lagi adik kecil manisnya. Ternyata keadaan sudah membuat Shofi banyak berubah. Dari mulai bersikap dan berpikir.
Di sudut sana seseorang sedang memerhatikan momen itu dengan tatapan sulit di artikan.
Entah apa yang orang itu rasakan, namun sepertinya sulit di jelaskan. Terlalu rumit di katakan, kalau itu akan menyakitkan.
Davit melerai pelukannya dari kedua wanita yang Davit cintai.
"Kemana kalung pemberian kakak?"
Tanya Davit saat menyadari kalung pemberiannya tidak ada di leher Shofi.
"Mungkin di ruang rawat!"
"Kakak punya sesuatu!"
"Apa!"
"Ini!"
Davit membuka telapak tangannya. Sebuah kalung yang begitu sangat cantik.
Mata Shofi berkaca-kaca melihat kalung itu. Shofi tahu Kakung siapa yang Davit pegang.
"Mommy ..,"
Lilir Shofi gemetar, ya kalung yang Davit perlihatkan adalah kalung yang sang mommy pakai.
"Sini kakak pakai kan!"
Dengan refleks Shofi berbalik sambil mengangkat rambutnya.
Deg ...
Bersambung..
Jangan lupa, Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1