Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 58 Ke mall


__ADS_3

Dari kejadian satu hari lalu ketika Shofi melakukan kesalahan dalam jawabannya. Kini kepala sekolah tak lagi memanggilnya kembali.


Shofi bertanya-tanya kenapa kepala sekolah tak memanggilnya kembali padahal ketika waktu di Bali, Shofi di paksa untuk menjawab. Namun, kali ini berbeda, seakan tak ada apa-apa.


Shofi merasa lega akan hal itu, Shofi yakin sang kakak sudah menyelesaikan masalahnya sebelum berangkat. Jadi Shofi tidak terlalu takut lagi.


Kali ini Shofi hanya akan fokus pada latihan bela dirinya tak mau yang lain. Karena sang kakak sudah berjanji akan menjemputnya satu tahun lagi. Tepatnya ketik Shofi sudah keluar dan ketika waktu itu telah tiba Shofi harus kuat.


Kini Shofi mulai fokus pada misinya yang di perintahkan sang kakak lewat email yang masuk. Bahkan Shofi juga di suruh mengerjakan dan memahami berkas-berkas yang Davit kirimkan.


Hingga tanpa terasa kebaikan kelas tinggal satu hari lagi. Di mana Shofi akan menjadi kelas XII.


Sekarang kini para guru di sibukkan guna menyelenggarakan acara ke naikan kelas. Begitupun dengan wali kelas XI yang tak lain pak Anwar sendiri.


Bagaimana tidak pusing jika pak Anwar harus memberikan juara pertama pada siapa. Ketika mengetahui kemampuan Shofi. Bahkan Shofi menguasai berbagai materi dan bahasa.


Walau cuma satu ke kurang Shofi, yaitu Shofi tidak pandai dalam bidang IT. Shofi hanya tahu sedikit saja terbukti Shofi sampai berbulan-bulan meretas namun baru masuk.


Namun, semua kemampuan itu Shofi sembunyikan bagaimana telah sang kakak perintahkan.


Sepertinya Shofi akan mengalami hal-hal sulit selanjutnya dan Shofi harus siap akan hal itu.


Tapi, Shofi beruntung karena masih ada Amira dan Bunga yang selalu membantunya. Bahkan ketika Shofi mempelajari data-data perusahaan maka Amira akan membantunya. Walau Amira sering kali mengeluh karena merasa pusing dengan deretan huruf dan angka. Namun, itu menjadi penghibur sendiri bagi Shofi mendengar celetukan Amira.


Shofi bersyukur, walau ia jauh di negri orang dan tak ada sanak saudara yang Shofi kenal. Tapi, keluarga Amira membuka lebar-lebar pintu untuk ia berteduh dan bersembunyi. Kadang kala Queen dan Aurora berkunjung, tepatnya Aurora yang selalu ingin bersamanya.


Entahlah, Shofi juga tak mengerti kenapa akhir-akhir ini Queen begitu baik padanya.


Andai saja masih ada saudara sang mommy di Bali mungkin Shofi tak akan merepotkan keluarga Prayoga dan Al-biru. Namun, sayangnya sang Mommy di ketahui hanya gadis sebatang kara. Bahkan dulu waktu kecil sang mommy tinggal di panti asuhan yang berada di Bali.


Entah bagaimana ceritanya sang Mommy dan sang Daddy bertemu lalu menikah. Cerita itu belum sempat sang mommy ceritakan. Padahal Shofi ingin tahu sekali bagaimana kisah mereka bertemu.


Puk ..


Shofi terkejut ketika Amira menepuk bahunya.


"Kenapa melamun, mikirin mommy dan Daddy kamu!"


Shofi mengangguk saja karena memang benar. Shofi bergeser duduk supaya Amira bisa duduk di sampingnya.


Ya, saat ini Shofi memang sedang duduk di jendela menghadap ke bawah di mana ada kolam berenang di sana.


Amira langsung duduk di samping Shofi dengan kedua kaki yang di biarkan menggantung ke bawah.


"Mau ikut ke mall Tante Queen gak?"


"Boleh, sama siapa?"


"Bunga, tapi Bunga katanya nunggu di mall!"


"Ok, aku ganti baju dulu!"


Amira mengangguk setuju, dengan cepat Shofi berganti pakaian. Tak membutuhkan waktu lama, Shofi sudah selesai dengan pakaian nya.


"Kenapa kaca mata masih di pakai sih, buka saja aku suka mata kamu!"


Shofi menghentikan gerakannya ragu. Antara memakai dan tidak memakai.


"Sudah taroh saja, kita berangkat!"


Shofi seakan ragu meninggalkan kaca mata itu. Entah kenapa Shofi ingin memakainya.


Sesudah pamit pada Melati Amira mengambil kunci mobil yang tergantung di tempatnya.


"Boleh aku yang bawa?"

__ADS_1


Tanya Shofi hati-hati, sudah lama Shofi tak membawa mobil. Rasanya Shofi kangen ke masa itu.


"Boleh,"


Ucap Amira sambil memberikan kunci mobilnya pada Shofi.


Dengan otomatis garasi terbuka, Shofi langsung mengemudikan mobil Amira.


Jalanan Jakarta seperti biasa selalu padat namun masih bisa melaju walau harus hati-hati.


"Dari kapan kamu bisa mengemudi?"


"Dari kecil, Daddy yang mengajari!"


"Wow, keren!"


"Kamu sendiri?"


"Aku baru tahun kemaren, ayah baru ngizinin ketika aku masuk SMA!"


"Mau coba hal baru?"


Tanya Shofi menyeringai membuat Amira menautkan kedua alisnya.


"Kencangkan sabuk pengaman!"


Belum sempat Amira menjawab, Amira terkejut ketika Shofi membawa mobil kencang. Hampir saja Amira kepalanya terbentur kaca jika tidak langsung mengeratkan sabuk pengamannya.


Shofi memperlihatkan skill mengemudikannya ketika jalan mulai agak sepi. Shofi tersenyum melirik Amira yang ketakutan namun tak protes.


"Kau mau membunuhku!"


Cetus Amira kesal bahkan kepalanya sangat pusing ketika Shofi memutar-mutar mobilnya.


"Sorry!"


"Huh, entah siapa kamu sebenarnya. Terlalu banyak rahasia!"


Ucap Amira masih kesal dengan apa yang Shofi lakukan. Tepatnya Amira terkejut mengetahui kalau Shofi jago mengemudi bahkan skill-Skill nya sangat memukau.


"Mall yang mana?"


Tanya Shofi karena terlalu banyak gedung-gedung tinggi yang berjajar.


"Belok kanan, lalu kiri. Yang itu mall nya!"


Jawab Amira sambil menunjuk arah mall membuat Shofi mengangguk.


Ternyata sudah ada Bunga yang menunggu di lobi.


Amira dan Shofi turun lalu menghampiri Bunga.


"Lama!"


"Sorry, nih gara-gara anak satu ini!"


Shofi malah terkekeh melihat raut Amira yang memerah.


Ketiga gadis itu langsung masuk ke dalam menuju lantai lima di mana di sana ada toko langganan Amira dan Bunga dan di ujungnya lagi ada tempat makan. Di mana jika Amira dan Bunga cape mutar-mutar maka mereka akan istirahat di sana sambil makan.


Ketiga gadis itu langsung masuk ke salah satu toko pakaian. Namun, belum sempat kakinya masuk, ada suara yang memanggil Amira.


"Kak Rara!"


Panggil Aurora keras membuat ke tiga gadis itu berbalik.

__ADS_1


Amira dan Bunga tersenyum melihat ada Aurora juga di sini bersama Fatih.


"Hay kak Bunga, Hay kakak cantik!"


Sapa Aurora tersenyum cerah sambil menarik lengan Fatih untuk mendekat.


"Aurora juga di sini, mau beli apa?"


Tanya Bunga sambil mengelus puncak kepala Aurora. Sedang Amira mengerutkan kening bingung melihat Shofi yang menunduk bahkan tangannya dingin. Karena Shofi sedang memegang tangan Amira.


"Mau beli baju yang bagus, kan om Alam mau pulang ke Indonesia."


Deg ...


Seketika perhatian Amira langsung teralih pada Aurora yang mengatakan Alam akan kembali.


"Kapan?"


Tanya Amira mendekat bahkan sampai melepaskan tangan Shofi.


"Gak tahu kapan harinya kak, cuma kata Bunda om Alam mau kuliah di sini sambil menggantikan kakek Lukman memegang perusahaan,"


Jantung Amira berdetak tak karuan, membuat Bunga mengerti. Namun, karena terlalu sibuk mengorek informasi Alam membuat Amira dan Bunga lupa jika Shofi sudah tak ada di tempat.


"Lepas!"


Sentak Shofi kesal ketika tiba-tiba Fatih malah menyeretnya menjauh. Bahkan Shofi tak tahu kemana Fatih membawanya.


Fatih menatap tajam Shofi dengan tangan mencengkram erat kedua bahu Shofi.


"Kenapa gak pakai kaca mata!"


Tekan Fatih dengan suara beratnya membuat Shofi tak nyaman. Pantas saja Shofi tadi perasaannya tak enak. Ternyata ada manusia purba.


"Emang kenapa, ini mata aku!"


Kesal Shofi berusaha lepas dari cengkraman Fatih.


"Mata ini hanya boleh gue yang melihatnya!"


"Kenapa!"


"Loe milik gue!"


"Mata ini milikku! bukan milik mu!"


Tekan Shofi seakan tak suka dengan apa yang Fatih katakan.


"Pakai!"


"Gak mau!"


"Pakai!"


Tekan Fatih sambil mencengkram dagu Shofi membuat Shofi meringis. Shofi ingin berontak namun kedua tangannya di kunci.


"Sekali lagi gue lihat loe gak pakai kaca mata, loe akan tahu akibatnya!"


"Kenapa?"


Pertanyaan itu hanya mampu Shofi ucapkan dalam hati sambil menatap kepergian Fatih yang memakai kan kaca mata padanya.


Shofi menjadi bingung akan sikap Fatih yang berubah-ubah. Dan, itu membuat Shofi takut sangat takut.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2