
Davit menghampiri sang istri dengan mata memerah.
Begitupun Angel memandang Davit dengan bibir gemetar.
Suttt ...
Davit menempelkan jari telunjuknya di bibir pucat sang istri. Seolah jangan bicara apa-apa dulu.
"Maaf!"
Ucap keduanya barengan membuat Davit langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya.
Angel menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami.
Lama Angel menangis di pelukan Davit bahkan sampai membuat baju Davit basah. Davit perlahan mengendorkan pelukannya lalu menghapus sisa air mata di pipi sang istri.
Lalu, mata Davit terpaku menatap perut rata sang istri. Benarkah sudah ada malaikat kecil di sana. Kenapa Davit tak menyadarinya. Pantas saja memang akhir-akhir ini Angel terlihat berbeda. Davit pikir Angel hanya sedang dalam masalah hingga tak bisa mengontrol emosinya.
Namun, perubahan sikap sang istri ternyata di karenakan oleh hormon kehamilannya.
Perlahan Davit mengelus perut sang istri.
"Maaf, ak-aku tak menyadari kehadirannya!"
"Maaf, aku hampir saja membu-- emmz...,"
Davit membungkam bibir sang istri dengan bibirnya agar tak bicara lagi.
Davit tak menyalahkan sang istri dengan apa yang terjadi. Apalagi Angel juga belum tahu akan kehadiran malaikat kecil di perutnya.
Davit melepaskan tautan bibirnya dengan kening yang menyatu.
"Dia, ada di sini sayang!"
Angel hanya mengangguk saja, ia sangat terkejut mengetahui bahwa dia sedang hamil. Namun, Angel juga merasa bersalah karena kebodohan hampir saja mencelakai baby yang ada di kandungannya.
"Terimakasih sayang, dan maaf aku gak mengetahui ke hadirannya!"
Ucap Davit Lilir, sekarang Davit mengerti kenapa sang istri mudah sekali merajuk. Ternyata itu karena hormon kehamilannya.
Mungkin, jika saja Angel tak mengalami kram yang mengakibatkan pendarahan. Mungkin, Davit dan Angel tidak akan tahu bahwa di perutnya sudah ada baby.
"Aku bahagia!"
Ucap Davit lagi kembali memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang.
Lama mereka dalam pelukan satu sama lain. Seolah mereka sedang menyalurkan kebahagiaan mereka.
Sebentar lagi penerus Anggara akan hadir. Sungguh Davit tak bisa berkata-kata, mendapatkan kebahagiaan yang begitu besar.
"Sayang!"
"Hm,"
"Apa kamu benar-benar merasa cemburu atas perhatianku pada Shofi?"
"Aisstt, mana ada begitu. Shofi adik kecilku, mana ada aku cemburu padanya!"
__ADS_1
Dam ...
Davit melongo dengan apa yang sang istri katakan. Padahal, beberapa jam lalu dirinya marah bahkan sampai menghajarnya, karena cemburu pada Shofi.
"Ngomong-ngomong kenapa bibir kamu robek, ini juga pelipis memar. Kamu berkelahi?"
Sumpah, Davit hanya bisa melongo mendengar rentetan pertanyaan sang istri. Apa Angel lupa, bahwa luka ini dia yang buat. Berarti benar, marahnya Angel karena hormon kehamilannya.
"Katakan, siapa pelakunya. Biar aku cincang-cincang orangnya!"
Glek ...
Davit menelan ludahnya kasar melihat sang istri dengan cepat berubah menjadi marah.
"Ini pasti sakit, katakan dear!"
Angel menatap sang suami tajam karena sendari tadi malah diam. Padahal ia sangat khawatir akan keadaan suaminya yang babak belur.
"Sayang, ini gak apa. Hanya luka kecil!"
"Kau selalu saja bilang begitu katakan siapa pelakunya!"
Tekan Angel menatap tajam sang suami. Membuat Davit benar-benar bingung apa benar istrinya lupa dengan apa yang terjadi.
Untung saja dokter tadi menasehati Davit kalau ibu hamil itu sifatnya akan sangat sensitif dengan apapun. Sebisa mungkin Davit harus sabar menghadapinya.
"Dear!"
Kesal Angel karena Davit terus saja bungkam.
Namun, seketika Angel terdiam sambil menatap sendu sang suami membuat Davit kembali di buat heran dengan sikap sang istri yang cepat sekali berubah.
"Maaf!"
Lilir Angel dengan mata berkaca-kaca, Angel baru saja ingat siapa yang memberi luka pada sang suami. Ternyata dirinya sendiri yang sudah melukai sang suami.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ini gak apa kok. Aku yakin sayang juga gak ada niat seperti ini. Ini hanya hormon kehamilan saja!"
"Tapi, kenapa bisa se brutal ini!"
Sesal Angel kenapa juga dia bisa bertingkah konyol bahkan sampai melukai sang suami.
"Sudah, yang penting sekarang sayang baik-baik saja. Mulai sekarang, sayang tidak boleh latihan apapun, kecuali olah raga untuk ibu hamil!"
"Iya!"
Angel mengangguk menurut saja akan titah Davit. Karena sejatinya Angel memang seperti itu. Akan patuh apapun yang di katakan Davit. Karena Angel tahu, itu semua demi kebaikan dirinya.
"Oh iya dear, nanti yang jemput adik kecilku siapa?"
"Mungkin Lucky!"
"Gak kamu!"
"Mana bisa aku meninggalkan sayang dan baby, apa lagi kata dokter aku harus menjaga kalian extra. Karena kandungan kamu masih lemah!"
"Apa adikku gak akan marah jika di jemput orang lain!"
__ADS_1
"Gak, biarkan saja. Sebagai perkenalan!"
Jawab santai Davit membuat Angel hanya menghela nafas.
Mungkin Angel akan memberi tahu kehamilannya jika Shofi sudah berada di Jerman.
Itu akan menjadi kejutan buat Shofi. Karena sebentar lagi Shofi akan menjadi aunty.
Ah, rasanya Angel tidak sabar menyambut kehadiran adik kecilnya lagi. Angel yakin, Shofi akan sangat bahagia mendengarnya.
Davit setuju saja apa yang di rencanakan Angel yang penting istrinya senang.
"Sudah ya, sekarang sayang istirahat!"
"Peluk!"
"Dengan senang hati!"
Davit tersenyum, sambil menarik sang istri ke dalam pelukannya. Davit sungguh masih tak menyangka, hormon kehamilan sang istri malah membuat Angel menjadi manja padanya.
Padahal, mana berani Angel manja padanya, biasanya juga Angel akan bersikap biasa saja.
Ah, rasanya menggemaskan sekali istri dinginnya bisa se manja ini padanya.
Jika begini, maka Davit yang akan untung besar.
"Sudah tidur, besok kita pulang!"
Bisik Davit mengeratkan pelukannya memberikan kenyamanan pada sang istri.
Angel tersenyum di balik dada bidang sang suami. Rasanya Angel ingin mengutuk dirinya sendiri kenapa sangat ingin menempel terus pada Davit. Bahkan bau tubuh Davit membuat Angel tenang dan nyaman.
Rasanya Angel ingin seperti ini terus tak mau terlepas.
Sungguh, kehadiran malaikat kecil membuat semakin takut kehilangan Davit. Apalagi seorang anak, sudah lama Angel dan Davit inginkan.
Karena dulu mereka di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing apalagi sempat berpisah selama empat tahun.
Tapi, kini Angel tak lagi bekerja di perusahaan karena Davit melarangnya.
Tapi, walaupun di larang Angel tak protes, malah Angel menyukainya. Karena dengan begitu, mereka banyak waktu bersama, apalagi Angel akan ikut kemanapun Davit pergi.
Jika dulu Angel bekerja untuk orang lain, tapi kini Angel membantu pekerjaan suaminya sendiri.
Dan itu sangat menyenangkan bagi, Angel. Karena bukan hanya bekerja dia juga bisa bermanja-manja dengan sang suami di sela kesibukan Davit. Dan, tentu Davit tidak akan melewati kesempatan emas yang sang istri berikan.
"Terimakasih nak, kamu masih bertahan di perut mami!"
Gumam Davit mengelus perut sang istri pelan karena takut menggangu tidur nyaman sang istri.
"Jadilah anak kuat, papi menunggu kelahiran kamu!"
Gumam Davit lagi sambil menghentikan usapan tangannya di perut sang istri.
Hingga lama ke laman Davit juga merasa kantuk.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....