
Brak ...
"Apa-apa kalian!!"
Deg ...
Shofi dan Fatih menghentikan pertarungan sengitnya. Shofi dan Fatih menatap pak Anwar yang berkacak pinggang menatap mereka tajam.
Bukan hanya ada pak Anwar, semua anak kelas XII juga ada termasuk Amelia and the geng dan juga Amira dan Bunga.
Mereka terkejut melihat kelas mereka yang seperti kapal pecah bahkan buku-buku berserakan di mana-mana. Yang lebih parahnya lagi meja guru terjungkal pasrah tak terbentuk lagi.
Fatih menatap tajam pada ketika sahabat nya yang tersenyum puas. Fatih yakin ini kerjaan ketiga sahabat nya.
Pak Anwar langsung menghampiri Shofi dan Fatih lalu menjewer kedua anak itu.
"Awwss ... pak sakit!!"
Ringis Fatih, karena Fatih paling lemah jika di jewer.
Pak Anwar membawa Fatih dan Shofi keruang eksekusi yang tak lain ruang Bingbing an konseling.
"Siapa yang memulai?"
Fatih dan Shofi saling tunjuk membuat pak Anwar menghela nafas berat. Pak Anwar lebih baik di suruh menghabisi lawan dari pada harus menjaga Fatih yang susah di atur bahkan sekarang malah membuat onar yang lebih parah.
"Kalian tak boleh pulang sampai kelas menjadi rapih dan bersih seperti semula. Dan bersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah!"
"Tidak!!!"
Pekik Shofi dan Fatih barengan, mereka protes. Bagaimana mungkin pak Anwar sekejam itu menyuruh membersihkan semua toilet yang ada di sekolah. Sedang ada seratus toilet yang ada di sekolah termasuk toilet khusus guru.
"Tak ada penolakan, bukannya mencontoh yang baik, kalian malah mencerminkan keburukan bagi adik kelas kalian!"
"Fatih, mau saya lapor pada bunda kami!"
Glek ...
Fatih yang ingin protes tak jadi. Fatih dengan susah payah menelan ludahnya kasar. Lebih baik Fatih membersihkan toilet dari pada harus di diamkan oleh sang Bunda. No, Fatih tak mau itu. Diamkan oleh sang Bunda lebih menyakitkan dari pada membersihkan seratus toilet.
"Baik pak!"
"Sudah diam!"
Bisik Fatih membekam mulut Shofi yang akan protes.
Shofi hanya menghela nafas berat, sungguh hari ini hari sial bagi Shofi.
Fatih dan Shofi mulai menjalankan hukumannya ketika semua anak-anak sudah pulang. Tanpa banyak bicara Shofi membenarkan kembali kursi dan meja-meja yang berantakan. Lalu menyapu dan mengepelnya. Sudah selesai membereskan kelas Fatih dan Shofi mulai membersihkan toilet satu persatu.
Hari mulai sore namun hukuman mereka belum usai. Baru tiga puluh toilet yang mereka bersihkan. Tinggal tujuh puluh lagi yang belum namun Shofi sudah mulai kelelahan. Apalagi tadi tenaga Shofi sudah terkuras karena Fatih wajar saja jika Shofi mulai lelah.
Keringat bercucuran membasahi dahi Shofi. Bahkan baju Shofi mulai basah oleh keringat dan cipratan air.
Fatih yang melihat Shofi mulai kelelahan merasa iba. Fatih menghembuskan nafas dalam lalu menghampiri Shofi.
"Berhenti!"
Ucap Fatih membuat Shofi menghentikan aktivitas dan melihat Fatih dengan bingung.
"Sudah loe istirahat saja, biar gue yang kerjakan!"
__ADS_1
"Tap ... ahhh ..."
Shofi terkejut ketika Fatih mengangkat pinggangnya lalu mendudukkan ia di samping wastafel.
"Sudah jangan protes. Loe duduk di sini!"
Ucap Fatih tegas membuat Shofi mengangguk kaku. Fatih membuka baju seragamnya lalu menyimpannya di pangkuan Shofi. Menyisakan baju kaos putih lengan pendek memudahkan Fatih bekerja cepat.
Shofi memerhatikan Fatih yang membersihkan toilet sendiri. Sesekali Shofi menguap, karena rasa kantuk tiba-tiba menyapanya.
Fatih mengelap keringatnya sesekali merenggangkan otot nya. Karena terasa pegal dan kaku. Namun Fatih terus menyelesaikan semuanya agar ia cepat-cepat pulang.
Lama Fatih menyelesaikannya sendirian kini pekerjaannya sudah selesai. Fatih mengelap keringatnya dengan baju yang ia kenakan. Lalu Fatih menyimpan alat-alat pembersih di tempat semula.
Fatih masuk kedalam toilet yang di mana ada Shofi di sana. Fatih tertegun melihat Shofi yang tertidur dengan posisi menyandarkan punggungnya di tembok.
Fatih menatap Shofi yang sedang tertidur, hanya tatapan datar yang Fatih berikan. Kemudian Fatih mendekat lalu menepuk-nepuk pipi Shofi pelan.
"Hey, bangun!"
"Emmz ..,"
Shofi menggeliat karena merasa terganggu tidurnya.
Perlahan bulu mata lentik itu terbuka, Shofi langsung terkejut ketika mendapati Fatih ada di hadapannya.
"Sudah selesai, ayo pulang!"
"Hah!"
Shofi terkejut sambil menatap kearah depan melihat lantai toilet memang sudah bersih kinclong. Bahkan bau pewangi toilet menyeruak masuk kedalam hidung Shofi.
"Maaf, aku ketiduran!"
"Tidak masalah, ayo pulang?"
Ajak Fatih lagi, Shofi mengangguk setuju. Shofi memberikan baju seragam Fatih lalu ia turun dari atas wastafel.
Hari ternyata sudah gelap namun keadaan terlihat terang karena sebagian lampu menyala.
Pak Anwar dari kejauhan hanya tersenyum melihat tanggung jawab yang di lakukan Fatih.
Untuk yang kedua kalinya Shofi di antar pulang oleh Fatih. Kini Shofi tidak lagi tidur karena mungkin tadi sudah puas tertidur.
Motor yang di kendarai Fatih berhenti tepat di halaman rumah Amira.
Shofi turun lalu memberikan helm pada Fatih.
"Terimakasih!"
"Hm,"
Karena tak ada yang Fatih bicarakan Shofi berbalik melangkah menuju arah pintu utama.
"Philo!"
Deg ...
Shofi menghentikan langkahnya dengan tubuh menegang. Tangan Shofi mengepal erat dengan bibir bergetar.
Panggilan itu nama kesayangan kedua orang tua Shofi. Panggilan yang sudah lama tak terdengar. Namun kini orang yang selalu ingin Shofi tinggalkan malah memanggilnya.
__ADS_1
"Philo!"
Untuk kedua kalinya Fatih memanggil membuat Shofi menahan nafas dan menahan segala gejolak yang akan meledak. Namun, Shofi berusaha mengendalikan emosinya yang membuat dadanya sesak.
Dengan mengumpulkan cukup keberanian, Shofi berbalik menatap Fatih datar sangat sangat datar dengan kepalan tangan yang Shofi sembunyikan.
"Bolehkah gue menjadi satu-satunya orang yang memanggil loe dengan panggilan itu?"
Ucap Fatih menatap Shofi penuh rahasia.
"Kalau aku melarang!"
"Maka gue akan tetap memanggil itu!"
"Buat apa bertanya jika kamu tetap melakukannya!"
Ketus Shofi langsung beranjak pergi dengan perasaan campur aduk.
"Mari berteman!"
Deg ....
Lagi-lagi Shofi menghentikan langkahnya dengan jantung berdetak tak karuan. Apa Shofi tidak salah dengar Fatih mengajaknya berteman.
Shofi sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Fatih. Apa Fatih kesurupan malaikat baik. Padahal tadi saja Fatih menyiksanya bahkan membuat ia harus di hukum walau sisanya Fatih yang mengerjakan.
Kenapa tiba-tiba Fatih mengajaknya berteman. Apa Fatih merencanakan sesuatu lagi.
"Jadilah diri seperti apa yang kamu mau!"
"Gue serius!"
"Aku hanya takut kamu akan menyesal!"
"Gue akan lebih menyesal jika terus mem buli loe!"
"Itu lebih baik!"
"Kenapa?"
Aku hanya takut perasaan ini semakin liar.
Namun, Shofi hanya bisa membatin tak berani berkata jujur.
"Sudah pernah aku katakan, aku hanya takut kamu jatuh cinta padaku!"
Kini Fatih terdiam, ia tak menertawakan lagi Shofi seperti yang pernah Fatih lakukan di taman rumah sakit.
"Bagaimana kalau itu terjadi?"
"Kamu harus siap terluka!"
"Sudah aku harus masuk!"
Cetus Shofi tak mau mendengarkan lagi ucapan yang akan keluar dari mulut Fatih. Shofi tak ingin goyah, ia harus kuat. Jangan sampai Fatih jatuh cinta padanya. Jika itu terjadi maka Shofi tak mau pergi meninggalkan luka.
Fatih hanya menatap nanar punggung Shofi yang menjauh.
Apa yang Fatih lakukan sudah benar, meminta berteman. Fatih tidak tahu dengan hatinya, kenapa ada rasa sakit ketika Shofi menolak berteman dengannya.
"Apa ucapan Rangga benar, kalau gue--"
__ADS_1
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...