
Di sebuah tempat terjadilah perkelahian yang sangat sengit. Dua duanya begitu sangat kuat dan sulit di kalahkan.
Davit yang sedang perjalanan pulang dari pertemuan mobilnya di hadang oleh beberapa mobil.
Davit di amankan oleh kedua anak buahnya dan anak buah lainnya sedang bertarung. Namun ada beberapa orang yang mengejar Davit.
Davit dan kedua anak buahnya bersembunyi masuk ke gang-gang kecil kota Jakarta. Dan, Davit menghubungi Shofi memberitahu kalau keberadaan mereka sudah di ketahui. Untuk itu Davit menyuruh Shofi jangan dulu pulang sebelum Davit memerintahkannya.
Davit akan sekuat tenaga mengelabui musuh supaya tak mengetahui keberadaan Shofi. Karena bagi Davit nyawa Shofi jauh lebih berharga dari pada nyawanya sendiri.
Tak lupa Davit juga menyuruh seseorang melindungi Shofi. Karena saat ini hanya dia yang bisa melindungi Shofi.
"Cari mereka, jangan sampai lolos lagi!"
Perintah keras salah satu dari musuh dengan Geraman tertahan. Karena mereka lagi-lagi lolos dari cengkraman ya.
Jangan di tanya bagaimana kecerdikan Davit mengelabui. Namun, Davit juga tak meremehkan lawannya.
Davit bisa saja menghabisi para musuh-musuh nya dengan sadis. Namun, ini Indonesia! negara orang lain yang membuat Davit tak bebas bergerak kecuali Davit meminta bantuan orang dalam. Karena bermasalah di negri orang urusannya berbeda.
Andai saja ini Jerman, mungkin Davit tidak takut maju dan akan mengutus semua anak buahnya.
Tapi, lagi-lagi kondisi Shofi yang belum cukup kuat menghadapi semuanya. Apalagi Shofi belum mengingat semuanya dan tentunya belum bisa mengendalikan trauma nya.
Itulah yang menjadikan Davit pertimbangan dan harus menyembunyikan Shofi dari negara satu ke negara lain. Bukan Davit yang takut tapi Davit tak mau mengambil resiko akan keselamatan Shofi. Karena Shofi harta paling berharga yang Davit punya.
Jangan di katakan Davit bisa se cerdik itu mengelabui musuh. Karena pada dasarnya Davit ketua mafia Jerman. Dan, tentu bukan saudara tirinya saja yang menginginkan ia mati tapi juga musuh-musuh nya yang lain.
Jalan satu-satunya sekarang, Davit bersembunyi dulu bukan karena takut. Tapi, Shofi belum cukup kuat mengetahui kebenarannya. Apalagi Karena Davit tak mempunyai kekuasaan luas di Indonesia.
"Kami akan mengelabui musuh, anda lewat jalur kanan!"
Bisik salah satu anak buah Davit membuka celah agar Davit bisa kabur.
"Ingat! di sini bukan kandang kita!"
__ADS_1
Ucap Davit tegas membuat kedua anak buahnya faham akan hal itu. Itulah kenapa Davit tak mempunyai kuasa luas atas semuanya. Dan tak bisa secara ge gabah menghabisi lawan.
Davit mengendap-endap masuk ke gang sana yang menuju ke luar jalur pemukiman. Sedang dua anak buahnya masuk jalur kiri di mana di depan sana ada rel kereta api.
"Di sana!"
Teriak salah satu musuh melihat langkah Davit, namun yang mereka lihat bukan Davit tapi ke dua anak buah Davit. Mereka mengejar anak buah Davit, namun dari salah seorang musuh melihat sekelebat Davit berlari.
Hingga musuh berpencar menjadi dua arah. Dua orang mengejar Davit lima orang mengejar kedua anak buah Davit. Hingga mereka saling kejar mengejar menelusuri gang satu ke gang lain. Hingga aksi mereka malah membuat resah warga.
Hingga ada beberapa warga yang mengupat karena tubuhnya di tubruk dan ada juga barang dagangan mereka yang berhamburan layaknya film India. Namun, ini Indonesia, kedua anak buah Davit melihat kerumunan dengan cerdiknya mereka berdua masuk ke sana dan ...
"Maling ... maling ... ada maling ...,"
"Mana maling?"
"Itu pak, maling .. mereka mengambil uang saya dengan cara menodongkan pistol .. maling ..."
Warga sekitar gang itu langsung berdiri menatap tajam ketiga musuh, mereka menatap tajam ketiganya. Membuat musuh terdiam karena terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka tidak mungkin menembak satu persatu warga karena terlalu banyak apa lagi sedang memegang golok, ada juga yang memegang kayu, bahkan batu.
Teriak seorang emak-emak yang membawa wajan panas. Ia keluar karena mendengar teriakan ada maling. Lalu melempar wajan itu tepat mengenai lengan salah satu musuh hingga berteriak kesakitan.
Mendengar itu para warga langsung berbondong-bondong mengejar ke tiga musuh Fatih bahkan ada juga yang melemparnya batu. Hingga sekarang ke adaan malah berbalik. Ketiga musuh itu malah di kejar banyak warga sambil meneriakinya maling.
TOS ...
Kedua anak buah Davit bertos ria sambil tertawa melihat warga mengejar musuhnya dengan bar-bar.
"Kita cari tuna!"
Beralih ke Davit yang masih terengah-engah berlari menghindari kejaran dua musuh yang mengejarnya.
Hingga duel satu lawan dua terjadi. Davit dengan lincah menghindar dari pukulan bertubi-tubi dua musuh ya. Dengan mudah Davit mengalahkannya kedua musuh itu sampai babak belur.
Namun, Davit tidak sadar bahwa salah satu musuhnya mengeluarkan senjata api, hingga Davit terkejut dan menghindar. Namun, sayang Davit telat hingga peluruh itu menyerempet lengannya hingga jas yang ia kenakan robek.
__ADS_1
Davit berlari kembali karena tak mungkin melawan musuh yang sedang memegang senjata. Dan, sialnya Davit tidak memegang senjata hingga Davit memilih menghindar.
Hingga aksi kejar mengejar kembali terjadi. Susah payah Davit berlari sambil membuka jasnya dan mengambil salah satu jaket seorang warga yang di jemur. Hingga seketika penampilan Davit berubah tidak terlalu mencolok dengan pakaian sama seperti warga.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik Davit dan mendorong dada Davit hingga bersandar di dinding. Tidak sampai di situ, seseorang itu juga membekam mulut Davit agar tak bersuara.
"Suttt!!"
Deg ...
Tubuh Davit menegang dengan kedua mata mem bola sempurna melihat siapa yang sudah berani menyudutkannya.
Tidak sampai di situ, tangan Davit mengepal erat ketika sebuah benda kenyal nan lembut mendarat di bibirnya.
Kedua musuh yang mengejar Davit langsung mengupat melihat sepasang kekasih sedang bercumbu di depan rumahnya sendiri. Bahkan terlihat bergairah membuat kedua musuh itu mengambil jalan lain sambil terus mengupat sendiri. Bisa-bisa di tempat kumuh seperti ini mereka malah memadu kasih membuat kedua musuh Davit malah menatap jijik. Karena mereka sudah terbiasa menggunakan tempat-tempat mewah dan indah.
"Suttt, diam! ini bukan waktu untuk menjelaskan!"
Ucap seseorang itu dengan tegas ketika ciumannya di sudahi karena kedua musuh Davit sudah pergi.
Davit hanya terdiam kaku dengan pikiran linglung. Davit seakan tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Kejadian beberapa detik lalu seakan mimpi bagi Davit.
Seseorang itu menarik tangan Davit mengajaknya pergi dari sana. Namun, bukan Davit yang tertarik.Tapi, tubuh seseorang itu malah di tarik balik oleh Davit kasar hingga tubuhnya mundur hingga menabrak tubuh Davit.
Tak membuang ke sempatkan, Davit menangkup kedua pipi seseorang itu dan membungkam bibirnya yang hendak protes.
Kini keadaan yang berbalik, seseorang itu yang membelalakkan kedua bola matanya sempurna ketika bibirnya di bungkam oleh Davit.
Lama bibir itu saling menempel kuat tanpa ada pergerakan sama sekali. Perlahan namun pasti Davit mulai menggerakkan ya dengan lembut nan kehati-hatian takut sang pemilik rindu ini kesakitan. Bahkan Davit menarik pinggang seseorang itu kuat hingga ciumannya semakin dalam.
Rindu yang begitu menyiksa ruang dadanya seakan meledak dengan kehadirannya. Kini rindu itu tak kesepian lagi, rindu itu tak se pilu lagi ketika orang yang Davit rindukan ada di hadapannya.
"Tolong, jangan pergi lagi!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...