
Semenjak kejadian di taman rumah sakit sikap Shofi benar-benar jadi penurut. Tepatnya Shofi menempatkan dirinya jadi budak Fatih.
Shofi tak pernah sekalipun melawan atau protes dengan keinginan Fatih yang menyuruh ia ini itu. Walaupun cape dan kesal Shofi tetap menurutinya.
Lebih baik Shofi menempatkan dirinya seperti itu dari pada Shofi harus melawan.
Sosok Shofi jadi pendiam dan penurut justru membuat Fatih tak suka bahkan Fatih tak menyukainya dan sering marah-marah tak jelas.
Bahkan ketiga sahabat Fatih merasa heran dengan tingkah Fatih. Semenjak kembali masuk Fatih mudah marah-marah tak jelas dan mereka yang kena imbasnya. Entah apa yang terjadi pada Fatih membuat Rangga, Raja dan Moreo menjadi kesal sendiri pada Fatih.
Sedang Amira sudah mulai beraktivitas kembali dan tidak merasa ketakutan lagi karena selalu ada Shofi dan Bunga yang menemaninya.
Apalagi Jek menempatkan penjagaan ketat untuk putrinya karena Jek tak mau putrinya mengalami hal buruk lagi yang akan menganggu psikis nya kembali.
Tapi semua itu tanpa sepengetahuan Amira karena Jek yakin jika Amira tahu, Amira pasti marah dan merajuk.
Amira dan Bunga hanya fokus belajar karena mereka sudah kelas XII. Begitupun Shofi yang sesekali sibuk berlatih dengan orang kepercayaan Davit yang di tugaskan menjaga Shofi dari kejauhan supaya tak mengundang curiga karena anak buah ibu tiri dan kakak tiri Shofi sebagian masih berkeliaran di Indonesia.
Bahkan kini kemampuan Shofi semakin meningkat dengan pesat apalagi tanpa Fatih sadari ia menyuruh Shofi ini itu malah sekan menjadi latihan tersendiri bagi Shofi untuk memperkuat kakinya.
Dan, Shofi malah menikmati itu semua, karena Shofi menganggap itu sebuah latihan kekuatan fisik juga.
Bagaimana tidak Shofi menganggap begitu, jika Fatih selalu menyuruh dia naik turun tangga dalam waktu lima menit. Padahal kelas dan kantin cukup jauh hingga Shofi harus berlari. Dan itu malah meningkatkan cara kerja kedua kaki Shofi.
Halnya seperti sekarang yang Shofi lakukan. Fatih sengaja menyuruh Shofi membeli kan minum. Namun Fatih diam di kelas dan Shofi harus cepat membelikannya.
Terkadang Rangga, Raja, dan Moreo jadi merasa kasihan pada Shofi karena Fatih terlalu berlebihan sampai memberi waktu lima menit dan Jika Shofi salah maka Fatih akan menyuruhnya mengganti lagi.
Dan, lebih terkejut lagi ketika mereka mendengar Shofi menyebut Fatih dengan kata tuan.
"Ini tuan jusnya!"
Ucap Shofi dengan nafas memburu memberikan jus Melon pada Fatih.
"Kenapa loe salah lagi, gue bilang jus alpukat!"
Brak ...
Fatih dengan teganya membanting jus itu ke lantai hingga pecah dan berceceran ke mana-mana.
Rangga, Raja dan Moreo membelalakkan kedua matanya melihat apa yang di lakukan Fatih.
"Tih, loe keterlaluan!"
Bentak Raja karena merasa akhir-akhir ini Fatih berubah dan sangat keterlaluan jika harus membanting minuman. Biasanya jika salah Fatih menyuruhnya mengganti dan memberikan yang salah pada dirinya.
"Diam loe, jangan ikut campur!"
Bentak Fatih menatap sahabatnya tajam. Lalu Fatih menatap Shofi yang menunduk.
"Bersihkan sampai bersih!"
Dengan seulas senyuman Shofi mengangguk saja lalu mengambil pel, tanpa protes atau marah Shofi membersihkannya.
Sabar Shofi ini hanya tinggal hitungan bulan lagi, setelah itu kamu bebas.
__ADS_1
Batin Shofi tegar sambil terus membersihkan lantai yang kotor akibat ceceran jus yang Fatih lempar.
Fatih bukannya senang Shofi menurut tapi malah semakin emosi dengan apa yang Shofi lakukan. Fatih tak suka Shofi menurut dan tersenyum menyebalkan. Fatih ingin Shofi melawan dan marah akan apa yang ia lakukan. Tapi, semuanya hanya ekspetasi Fatih saja.
Brak ...
Fatih membanting pel yang Shofi pegang membuat Shofi terkejut dengan apa yang Fatih lakukan.
"Fatih loe kenapa?"
"Loe sudah gila ya!"
"Diam kalian, keluar!"
Bentak Fatih menatap tajam pada ketiga sahabatnya.
Moreo langsung menarik Rangga dan Raja keluar. Namun Rangga tak mau begitu pun dengan Raja.
"Kita keluar, kita tahu siapa Fatih. Dia tak akan mungkin menyakiti gadis itu!"
Ucap Moreo meyakinkan Rangga dan Raja. Membuat Rangga dan Raja terpaksa keluar dengan perasaan kesal terhadap Fatih.
Kini di kelas hanya tingga Fatih dan Shofi saja. Shofi hanya diam dengan bibir mengatup. Shofi tak meringis atau mengeluh sama sekali ketika tangannya di cengkram erat oleh Fatih. Walau Shofi yakin tangannya pasti akan memerah.
Shofi hanya diam saja menunggu apa yang akan Fatih lakukan padanya. Mungkin hanya akan ada ucapan yang menyakitkan saja.
"Kenapa loe diam!"
Tekan Fatih menatap tajam Shofi bahkan matanya memerah dengan rahang mengeras.
"Lalu aku harus apa?"
"Kenapa loe tak melawan hah, loe diam seperti orang bodoh!"
"Bukankah ini yang tuan mau!"
Deg ...
Ya, bukankah ini yang Fatih mau, Shofi menurut dan diam saja dengan apa yang dia lakukan. Sungguh aneh dengan sikap Fatih yang malah marah.
"Sudah gue katakan gue benci orang lemah!"
"Kenapa loe selama ini diam hah, tak melawan ataupun membalas?"
"Katakan!"
"Apa yang harus aku katakan, sedang tuan menganggap aku budak! bukankah seorang budak harus menurut!"
"Ya, seorang budak harus menurut. Tapi, bukan berarti loe tak bisa melawan, harusnya loe melawan supaya loe jadi kuat dan lepas dari cengkraman gue!"
"Bukankah sudah pernah aku lakukan, namun aku tak mampu!"
"Karena loe lemah terlalu lemah, tunjukan pada gue seberapa kuat loe!"
"Ya, aku memang lemah dan tak akan menjadi kuat!"
__ADS_1
Bugh ....
Fatih meninju tembok di belakang Shofi membuat Shofi refleks memejamkan kedua matanya karena terkejut dengan apa yang Fatih lakukan.
Shofi bisa merasakan nafas Fatih yang memburu menerpa wajahnya. Bahkan setiap helaan nafas dan detak jantung Fatih yang terpacu terdengar jelas di indra pendengaran Shofi yang tajam.
Perlahan Shofi membuka kedua matanya dan langsung terkunci dengan sorot mata tajam Fatih.
Dengan cukup keberanian Shofi menangkup wajah Fatih dengan kedua tangannya.
"Katakan kenapa kamu marah?"
"Gue benci loe lemah!"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kuat!"
"Apa seperti ini!"
Bruk ...
Fatih terpental ketika Shofi mendorongnya kuat. Hingga punggung Fatih terbentur meja.
"Lumayan!"
Cetus Fatih sambil menatap tajam Shofi. Tak ada lagi tatapan marah yang ada hanya tatapan tajam biasa.
Terkadang Shofi bingung memahami sikap Fatih yang selalu ini itu dan tentu malah sebaliknya yang Fatih mau.
Baiklah, Shofi akan menuruti apa keinginan Fatih hingga Fatih akan puas sendiri sebelum Shofi benar-benar pergi. Setidaknya Shofi bisa dekat dengan Fatih walau tak bisa memiliki hatinya. Karena itu tak boleh terjadi.
Brak ...
Kini Fatih bisa menghindar dari serangan Shofi tiba-tiba. Hingga di dalam kelas kosong itu terjadi perkelahian sengit bahkan meja dan kursi jadi korban akan perkelahian Fatih dan Shofi.
Rangga, Raja dan Moreo mengintip dari balik kaca ketika mendengar keributan. Rangga ingin masuk guna melerai namun kini Raja yang menghalangi.
"Kenapa?"
"Biarkan saja mereka seperti itu, ini yang Fatih inginkan!"
"Tap ...,"
"Kita tahu siapa Fatih, halnya seperti yang Fatih lakukan pada Rijal!"
Rangga langsung diam lalu menatap Fatih lagi yang masih bertarung, hingga seringai muncul di benak Rangga.
"Mau kemana?"
Tanya Moreo memegang bahu Rangga yang akan pergi.
"Sedikit mengerjai Fatih!"
Ucap Rangga santai membuat Raja dan Moreo saling pandang bingung. Detik berikutnya Raja dan Moreo tersenyum seringai.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....