Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 56 Menghabiskan waktu bersama


__ADS_3

Shofi menahan nafas ketika wajah Fatih tepat ada di hadapan wajahnya.


Mata mereka kembali saling mengunci satu sama lain. Namun, tiba-tiba Fatih terlebih dahulu memutus nya.


"Mua mencoba permainan zig-zag?"


Tawar Fatih membuat Shofi mengangguk kaku.


"Ayo!"


Shofi mengikuti langkah kaki Fatih yang lebar, entah permainan apa yang Fatih tawarkan. Shofi hanya asal mengangguk saja padahal Shofi sendiri tak tahu permainan macam apa yang Fatih sebutkan.


Kini Shofi tahu permainan apa yang Fatih tawarkan. Yaitu semacam Bom bom Car, semacam permainan yang mengendalikan mobil namun tanpa rem. Hanya ada gas saja dan stir yang memaju mundurkan nya.


Dengan ragu Shofi naik namun Shofi tak mengerti bagaimana cara mengendalikannya. Ketika Fatih mengarahkan supaya Shofi menginjak rem dan memutar kemudi. Shofi malah menginjak tanpa memutar setir alhasil bom bom car Shofi menabrak pembatas dan tentu itu membuat Shofi terkejut karena hampir saja kepalanya ter jedot.


"Sambil putar seperti ini, jangan cuma di injak gasnya!"


Ujar Fatih mencontohkan bagaimana Fatih mengemudi dengan baik.


"Susah, aku tak bisa!"


Kesal Shofi karena sulit, baru kali ini Shofi merasakan naik mainan seperti ini yang menurut Shofi sangatlah ribet. Lebih baik Shofi mengemudikan mobil balap dari pada mobil-mobil lan yang satu ini.


"Kau selalu saja mengeluh, dasar lemah!"


"Lihat gue, begini caranya!"


Cetus Fatih mencontohkan, Fatih juga terbawa emosi karena kesal Shofi tak mengerti-mengerti. Yang lebih kesal lagi karena Shofi mudah menyerah, bahkan anak-anak juga pasti mengerti dengan apa yang Fatih contohkan.


"Ini bukan mobil balap, apa lagi gak ada remnya. Kepalaku sakit tahu!"


"Loe ini memang lemah, payah!"


Shofi menggertak kan gigi-gigi kesal dengan julukan baru Fatih.


Payah!


Cih,


Shofi pasti bisa melakukannya. Dengan sabar pelan-pelan Shofi berusaha menggunakan instingnya sendiri. Shofi membayangkan mobil-mobil lan yang ia gunakan halnya mobil balap beneran.


Berhasil!


Shofi bersorak ria karena ia berhasil mengemudikan bom bom car dengan benar.

__ADS_1


Fatih tersenyum tipis melihat tawa Shofi yang lepas. Tawa yang baru pertama kali Fatih lihat. Ada rasa hangat yang menerobos masuk tanpa permisi ke hati Fatih. Bahkan Shofi jadi asik sendiri memainkannya. Tanpa Shofi sadari Fatih memotretnya. Tepat ketika Shofi tersenyum, tertawa dan berbagai ekspresi lain.


Bagi Fatih Shofi terlihat menggemaskan ketika seperti itu Seakan Fatih menemukan sisi lain Shofi. Shofi halnya seperti Aurora, adiknya.


Fatih mengajak Shofi bukan hanya satu permainan namun Fatih juga mengajak Shofi naik wahana-wahana lain. Awalnya Shofi ragu karena merasa ngeri melihat permainan di depannya.


Menurut Shofi, kenapa orang-orang rela ngantri hanya untuk naik sebuah baling-baling yang terlihat menakutkan dengan jeritan orang-orang. Bagaimana kalau manusia yang ada di sana jatuh dan terpelanting, membayangkannya saja membuat Shofi bergidik ngeri.


Namun, lagi-lagi Fatih meyakinkan bahwa yang di lihat belum tentu se menakutkan itu kalau Shofi sendiri belum mencoba.


Shofi berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia bisa. Apalagi Fatih terus menghinanya membuat Shofi kesal, mau tak mau Shofi harus naik.


Awalnya memang Shofi terkejut dengan permainan baling-baling itu yang tiba-tiba muter. Namun, Fatih menyuruh Shofi jangan tegang dan berteriak lah supaya beban Shofi menghilang.


Shofi melakukan apa yang Fatih contohkan. Dan, benar saja apa yang di katakan Fatih. Justru Shofi jadi asik sendiri dan malah menyukainya. Shofi seakan bisa meluapkan kekesalannya ketika berteriak dan tentu nama Fatih yang jadi sasarannya. Namun, Fatih tak mempermasalahkannya yang penting Shofi bisa meluapkan emosi jiwanya.


Satu persatu wahana Shofi cobain dari mulai yang biasa ke yang ekstrim. Bahkan Shofi harus mengumpulkan keberanian kuat untuk menaikinya. Halnya seperti kora-kora, halilintar, kincir, tornado dan hysteria.


Awalnya memang takut, Shofi malah jadi menyukainya. Tanpa Shofi sadari lagi-lagi Fatih mengabadikan semua moment yang ia lewati bersama Shofi. Karena setiap permainan pasti akan ada salah satu kru yang memotret nya. Dan tanpa sepengetahuan Shofi, Fatih meminta potongan walau Fatih harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk meminta setiap moment yang terekam.


"Apa loe senang?"


"Ya aku senang sekali, baru pertama kali aku merasakan bahagia seperti ini, ini sudah sangat lama aku baru merasakannya lagi!"


Cetus Shofi yang tanpa sadar ia membicarakan kesedihannya.


"Ya, sekarang aku lapar kembali, semua permainan membuat tenaga ku terkuras habis!"


"Ayo kita cari makan!"


"Ayo!"


Mereka melupakan sejenak pertengkaran mereka. Shofi dan Fatih seakan sepasang kekasih yang sangat akur dan romantis. Bahkan tanpa sadar Shofi malah bercerita banyak hal pada Fatih sambil makan nasi goreng. Fatih hanya diam saja menjadi pendengar setia.


Entah apa yang akan Shofi lakukan jika ia sadar dengan apa yang ia lakukan. Bahkan Shofi berlaga seperti layaknya pada teman dekat.


"Loe masih lapar?"


"Iya, bagaimana aku tak lapar, dari tadi terus bermain!"


Fatih hanya menggeleng saja lalu memesan kembali seporsi nasi goreng buat Shofi. Karena di Dufan juga di sediakan menu nasi goreng namun harganya sangat mahal dan tentu Fatih tak mempermasalahkan itu.


Fatih menemukan hal baru lagi dari Shofi, ternyata Shofi rakus juga soal makan. Gaya Shofi yang makan begitu alami. Tak ada jaim-jaim an di depan Fatih. Shofi seakan menunjukan dirinya sendiri di hadapan Fatih. Seolah Shofi menunjukan pada Fatih kalau ini adalah aku.


Sudah selesai makan Fatih langsung mengajak Shofi pulang. Apalagi ini sudah sangat sore dan Dufan juga sebentar lagi akan di tutup karena sudah ada pemberitahuan tiga puluh menit lagi semua wahana akan di tutup dan menyuruh pengunjung segera bersiap meninggalkan area bermain.

__ADS_1


Fatih yakin, ia akan sampai jam tujuh malam an sampai rumah Amira.


Di sepanjang jalan tak ada percakapan sama sekali. Hanya ada suara kendaraan saling bersahutan dan semilir angin malam.


Beberapa kali Shofi menguap, mungkin karena ia sangat ngantuk karena kecapean seharian bermain.


Fatih menarik tangan Shofi dan melingkarkan nya di perut sixpack Fatih. Awalnya Shofi terkejut, namun detik berikutnya Shofi menyandarkan kepalanya di pundak Fatih dengan tangan memeluk erat perut Fatih.


"Tidurlah!"


Shofi hanya bergumam tak jelas karena sungguh ia sangat mengantuk.


Andai Shofi sadar dengan apa yang ia lakukan. Pasti Shofi akan mengutuk dirinya sendiri kenapa bisa menurut pada Fatih, padahal Shofi sangat benci di perintah.


Shofi mengeratkan pelukannya bukan karena cari kesempatan atau kesempitan, ataupun takut jatuh. Namun, Shofi kedinginan karena angin malam yang begitu kencang.


Satu setengah jam perjalanan Fatih telah sampai di rumah Amira.


Amira yang sendari tadi cemas memikirkan Shofi langsung terperanjat ketika mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya.


Amira dan Melati langsung beranjak dan melihat siapa yang datang.


Amira melebarkan kedua bola matanya ketika melihat Fatih menggendong Shofi dalam keadaan tak berdaya.


"Bukan waktunya loe bertanya, tunjukan di mana si cupu ini tidur!"


Potong Fatih cepat ketika Amira akan bicara bahkan mulut Amira menganga.


"Bawa ke kamar Amira!"


Melati yang menjawab karena melihat putrinya malah diam.


Fatih langsung mengangguk dan meneruskan langkahnya menuju lantai atas di mana kamar Amira berada.


Ya, selama ini memang Shofi tidur di kamar Amira. Awalnya Melati sudah menyiapkan kamar tamu, namun Amira menolak dan menyuruh Shofi tidur bersamanya saja.


"Tanya saja pada si cupu, gue harus pulang. Takut bunda cemas!"


Lagi-lagi Amira menganga karena Fatih memotong ucapannya lagi. Bahkan Fatih langsung pergi tanpa mendengar apa yang akan Amira ucapkan.


"Fatih!!!"


Geram Amira kesal karena Fatih seenaknya saja bahkan tak sopan padanya.


"Dasar adik sepupu laknat!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2