Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 82 Benang merah yang sempurna


__ADS_3

Shofi di periksa oleh dokter akan kondisinya.


Cukup baik dan tidak ada kondisi yang membahayakan. Apalagi pelurunya tidak terlalu dalam.


Semua orang bernafas lega karena tak ada yang serius dalam kondisi Shofi.


"Om!"


Panggil Shofi, nyatanya Shofi tidak sabar untuk mendengar cerita dari Farhan tentang siapa sebenarnya kedua orang tuanya.


Fatih mengurungkan niatnya ketika Shofi memanggil sang papa. Bahkan Fatih yang akan melangkah langsung diam di tempat. Nyatanya Shofi tak mempedulikan kehadirannya.


Davit menarik sang istri untuk keluar, karena suasana tak berpihak pada mereka berada di dalam. Fatih juga ikut keluar, walau sebabnya enggan untuk meninggalkan Shofi.


Di luar ruangan sudah ada Queen, Jek, Melati dan Amira. Mereka terkejut dengan keadaan yang menimpa Shofi dan juga Fatih.


Padahal Fatih sendiri harusnya di obati, namun Fatih tidak mau. Bahkan Fatih membiarkan darah di bibirnya mengering dengan memar di pelipisnya.


Di dalam ruangan hanya tinggal Farhan dan Shofi.


Farhan mendekat lalu duduk di salah satu kursi di hadapan Shofi.


Farhan menatap Shofi yang sedang menunggu penjelasannya.


"Tanyakan?"


Ucap Farhan akhirnya bersua sambil menatap Shofi lembut. Tak ada ketegangan atau wajah datarnya lagi.


"Semuanya, siapa Daddy sebenarnya, apa hubungan kalian dan dendam apa yang uncle maksud?!"


"Daddy kamu adalah seorang mafia bawah yang menggeluti perdagangan organ manusia, wanita dan narkoba!"


Farhan menghentikan ucapannya ingin melihat bagaimana reaksi gadis muda di hadapannya. Namun, sayangnya reaksi yang Shofi tunjukan sangat datar sehingga sulit bagi Farhan menebaknya. Apa kah Shofi terkejut atau tidak, apa marah atau kecewa.


"Alexander dan saya adalah musuh bisa juga di bilang teman atau juga sahabat!"


"Maksudnya!"

__ADS_1


Baru kali ini Shofi angkat bicara, karena tak mengerti. Kenapa hubungan sang Daddy sama om Farhan bisa di bilang musuh juga bisa di bilang teman.


"Karena itu awal mula terciptanya kebencian muncul di uncle kamu,"


"Tujuh belas tahun yang lalu, saya harus meninggalkan istri saya yang sedang hamil besar untuk mengurus cabang perusahaan saya yang ada di Jerman. Marsel merusak perusahaan saya dengan menyelinapkan narkoba dan sabu-sabu. Bahkan Marsel korupsi cukup besar di perusahaan saya hingga hampir saja mengalami ke bangkrut an. Ketika saya ingin menjebloskan Marsel ke dalam penjara, namun sayang Alexander ikut campur bahkan sampai melindungi Marsel karena rasa sayangnya seorang kakak pada adiknya. Saking melindungi Marsel dari jerat hukum, Alexander sampai mau membunuh saya. Namun, percobaan pembunuhan itu gagal. Hingga saya mengumpulkan bukti kejahatan Alexander selama ini. Hingga keadaan berbalik, karena bukti bisnis kotor itu membuat saya bisa mengendalikan Alexander bahkan sampai dia tunduk pada saya dan Alexander sendiri yang membawa Marsel ke penjara. Di sanalah awal mula timbul kebencian Marsel terhadap kakak nya, karena Marsel menganggap Alexander tak menyayanginya lagi dan menganggap saya dan Alexander bekerja sama menjebloskannya ke penjara!"


"Karena masalah itu, membuat saya tak bisa pulang lebih cepat guna menemani istri saya melahirkan. Saya pikir masalah kami sudah usai, namun saya dan Alexander kembali bersitegang ketika saya membantu seorang gadis yang sedang hamil melarikan diri dari suami nya, yang tak lain Hera, mommy kamu sendiri. Alexander dulu begitu kejam dan tak punya hati nurani bahkan ke dua putra nya meninggal terbunuh oleh musuhnya sendiri hingga kehamilan ketiga membuat Hera memilih melarikan diri dari pada anaknya kembali jadi korban. Saya yang turut membantu melindungi Hera dari Alexander hingga Alexander sendiri mulai sadar. Bahwa ketidak adaan Hera di sisinya membuat hidupnya semakin kacau, hingga dia berusaha keras berubah menjadi lebih baik lagi. Karena terlalu sibuk membujuk Hera kembali membuat Alexander lupa pada Marsel dan tentu membuat Marsel semakin membenci Alexander. Kehadiran kamu seakan membuat keajaiban yang nyata. Karena hadirnya kamu menjadi kekuatan cinta Hera dan menjadi bersatunya rumah tangga yang hampir sempat hancur, atau bisa juga sudah hancur!"


"Itulah kenapa nama kamu Filosofi Alin, sebuah nama pemberian Hera untuk putri kecilnya. Bagi Hera, adalah anugrah, kamu adalah cinta sejati sesungguhnya. Shofi, kejayaan kekuatan dinding hati keras Alexander yang jadi roboh oleh Philo, sebuah cinta yang besar. Hingga dari sana menghasilkan Alin, cahaya yang nyata!"


Shofi terdiam mendengar semua cerita dari Farhan, sebegitu bermakna ya nama dirinya. Entah apa yang sekarang Shofi rasakan setelah mengetahui semuanya.


Shok, tentu! karena benang merah itu sudah terlihat nyata dan terbentuk menjadi sebuah kenyataan yang menyakitkan bagi Shofi.


Sangat sakit!


Perasaannya campur aduk sehingga membuat Shofi sulit untuk sekedar meng Ekspresi kannya. Terlalu Shok sampai Shofi tak bisa apa-apa. Hanya diam menjadi jawaban keheningan yang bisu.


Berkali-kali Shofi menahan nafas berkali-kali juga Shofi membuang nafas kasar. Seakan ada batu besar yang menghempit jantungnya.


Sangat sesak dan sakit!


Sungguh, seseorang bisa se benci itu karena ketamakan dan keserakahan kasih sayang.


Padahal Shofi tidak mau berada dalam situasi seperti itu. Hingga sang uncle sudah merencanakan pembunuhan agar dia menguasai semuanya. Dan mengambil alih kekuasaan.


"Ada satu yang tak bisa om ceritakan!"


Shofi langsung menatap om Farhan dengan kening mengerut. Seakan bertanya kenapa?.


"Itu bukan hak om, biar Davit sendiri yang menceritakannya pada mu, nona muda Damaresh!"


Farhan beranjak dari duduknya ketika Shofi hanya diam saja tak bicara lagi. Mungkin, butuh waktu bagi Shofi untuk mencerna semuanya. Karena Farhan faham, itu semuanya pasti membuat Shofi masih Shok.


Walau Shofi tak menampakkan ekspresi wajah apapun. Namun, Farhan bisa memahami dari kepalan tangan Shofi yang sedang mencoba baik-baik saja.


"Jadi di situ Om dan Daddy di katakan teman karena dekat karena masalah mommy?"

__ADS_1


"Iya, dan juga kerja sama perusahaan. Karena Alexander sudah lama meninggalkan dunia bawah demi kamu dan menyerahkan dunia bawah pada Davit!"


"Tanyakan pada Davit, pertanyaan yang sudah lama kamu ingin tanyakan!"


Cetus Farhan, membuat Shofi menghela nafas berat. Padahal Shofi ingin tahu dari om Farhan. Karena Shofi yakin sang kakak akan banyak alasan.


"Terimakasih sudah menolong saya, kamu gadis kuat!"


Ucap Farhan tulus sambil mengelus kepala Shofi halnya yang sering Fatih lakukan pada Queen.


Deg ....


Usapan lembut Farhan di kepalanya membuat Shofi teringat akan Fatih. Bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja.


Shofi mulai cemas akan sesuatu!


Shofi ketika sadar tak memerhatikan Fatih, karena terlalu fokus pada Farhan dan Schwager nya.


"Apa Fatih sudah mengobati lukanya?"


Gumam Shofi Lilir ketika om Farhan sudah keluar. Tak lama masuk Davit, Angel, Queen, Jek, Melati dan Amira.


Sedang Fatih di cegah masuk oleh Farhan dan malah menyuruh Fatih mengikuti dirinya. karena ada hal penting yang Farhan kasih tahu pada putranya.


"Pah, apa-apa an sih, Fatih mau masuk!"


Protes Fatih terhadap sang papa kenapa sang papa malah melarang ia masuk. Padahal Fatih sudah tak sabar ingin bicara pada Shofi walau hanya sebentar.


"Tinggalkan Shofi!"


"Pah!"


"Kamu akan terluka karenanya!"


Deg ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2