
Puncak yang di nanti pun sudah tiba bagi kelas XII. Di mana mereka akan melakukan perpisahan.
Acara kenaikan kelas dan perpisahan sudah di mulai sejak jam tujuh pagi. Sekolah menjadi riuh akan lautan manusia. Karena kedua orang tua dan sanak saudara juga ikut hadir dalam acara tersebut.
Acar perpisahan kelas XII sudah selesai terlaksana kini tinggal beberapa acara lagi sampai penutupan. Ada juga beberapa kreasi yang di tampilkan dan pembagian hadiah.
Keluarga Prayoga begitu bahagia melihat cucunya lagi-lagi naik panggung.
Ya, Amira kembali menjadi juara kelas dengan nilai yang sangat memuaskan. Bahkan Queen, Farhan dan Aurora memberikan hadiah karena pencapaian Amira.
Shofi hanya bisa tersenyum saja ikut bahagia melihat kehangatan dua keluarga besar itu. Di sini Shofi tak ada saudara yang menghadiri membuat Shofi hanya bisa duduk sendiri.
Ingin mendekat, namun Shofi merasa segan. Shofi juga melirik Bunga yang sedang di banggakan oleh kedua orang tua dan kedua mertuanya karena mendapat juara dua.
Andai saja kedua orang tua Shofi masih ada mungkin Shofi tak akan merasa terasingkan hidup sendiri di negri orang.
Kini Shofi merasa sendiri di tengah lautan kebahagiaan orang lain. Andai ada Davit di sampingnya mungkin Shofi tak akan sesedih ini.
Karena tak mau terlihat sedih Shofi memilih pergi dari aula di mana acara berlangsung.
Tanpa Shofi sadari sendari tadi sepasang mata mengawasinya. Menatap Shofi dengan tatapan sendu. Andai saja ia bisa mendekati Shofi, sudah sendari tadi ia berlari menarik Shofi kedalam pelukannya. Dan berkata, jangan sedih.
Namun, ia tak bisa mendekat karena tak mau membuat Shofi dalam masalah.
"Mom Dad. Shofi kangen!"
Kembali ke Aula ...
Amira yang merasa bahagia bisa jadi juara mulai merasa ada yang kurang. Amira menengok ke arah kursi yang di duduki Shofi. Namun, Amira tak mendapati Shofi ada di tempat.
Amira kemudian melirik ke arah keluarga Bunga, namun di sana juga tak ada.
"Mah titip ini!"
Ucap Amira memberikan piala pada Melati dan beberapa buket bunga.
"Sayang mau kemana?"
"Mah, Shofi gak ada di kursi. Rara harus mencarinya. Rara takut Shofi sedang sedih kerena tak ada keluarganya!"
Deg ....
Semua orang terperanjat baru menyadari kesalahan mereka. Melati dan Queen menjadi iba dan merasa bersalah sampai melupakan gadis malang itu.
"Rora ikut kak,"
"Jangan, adek di sini sama bunda saja!"
Cegah Queen memegang tangan Aurora. Queen takut di acara ini Aurora bukannya membantu malah membuat ulah.
Queen yang ingin menyuruh putranya malah tak mendapati Fatih juga. Karena Fatih tadi langsung pergi ketika Amira bicara.
Amira langsung menghampiri Bunga lalu berbisik sesuatu membuat Bunga terkejut.
"Kita berpencar!"
Ucap Bunga membuat Amira mengangguk setuju.
Amira dan Bunga mencari keberadaan Shofi. Dari mulai lapangan, ke arah kantin, lorong-lorong dan beberapa kelas. Karena Bunga dan Amira takut Shofi pergi ke salah satu kelas untuk menyendiri.
Bunga bagian luar dan Amira bahagian dalam mencari Shofi.
Bunga sudah menelusuri lapangan basket, lapang volly, lapang upacara namun tak ada tanda-tanda Shofi di sana. Bunga juga mencari ke gedung olah raga kolam renang namun di sana juga tak ada.
Sedang Amira mencari di setia kelas tapi tak ada. Bahkan di kelasnya juga Shofi tetap tak ada. Entah kemana perginya Shofi. Jika sampai Shofi hilang dan di temukan oleh penjahat itu mungkin Amira tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri karena sudah membuat Shofi pergi.
"Apa di toilet!"
Gumam Amira langsung berlari menuju toilet. Amira berharap Shofi berada di toilet, karena Shofi suka sekali pergi ke toilet.
Belum sempat Amira menuju toilet sebuah tangan menarik Amira masuk kedalam salah satu kelas yang kosong.
__ADS_1
"Lepas siapa kau!"
Bentak Amira terkejut karena tangannya tiba-tiba di tarik.
Deg .....
Amira menatap tak percaya pada orang yang sudah berani menariknya.
"Maaf kan aku, aku tak bermaksud membuatmu marah!"
Ucap seseorang yang menarik tangan Amira dengan rasa sesal.
"Ada apa, kenapa kakak tiba-tiba menarik tanganku!"
Ketus Amira seperti biasa menatap tak suka pada kakak kelasnya.
"Kenapa kamu selalu ketus padaku!"
Lilir Aditya menatap sendu Amira yang selalu ketus padanya.
"Katakan, jangan buang waktuku. Aku harus cari temanku!"
Aditya tak bergeming, ia malah menatap Amira dengan tatapan sulit di artikan. Tatapan itu terlalu aneh bagi Amira.
"Kalau gak bicara aku pergi!"
"Aku menyukaimu!"
Amira menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Aditya. Amira tersenyum sinis mendengar ungkapan cinta Aditya. Bagi Amira ungkapan itu hanya bulsit.
"Maaf, tapi aku tak menyukai kakak!"
"Kenapa! kenapa kau selalu menolak ku, apa kurangnya aku!"
"Kakak tak ada yang kurang sama sekali!"
"Lalu kenapa kamu selalu menolak ku, aku mencintaimu!"
Ha ... ha ...
"Cinta! cinta yang kakak sebut adalah sebuah racun!"
Deg ...
Aditya mengepalkan kedua tangannya tak terima dengan apa yang Amira katakan.
"Apa maksud kamu, aku tulus mencintai mu!"
"Namun sayangnya aku bukan orang bodoh yang akan luluh dengan kata itu!"
Aditya tak mengerti dengan apa yang Amira katakan. Seolah-olah cinta dia palsu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, apa kurangnya aku. Aku mencintaimu,"
"Sudah, aku harus pergi!"
Grep ....
Aditya mencengkram erat tangan Amira bahkan membuat Amira terkejut.
"Apa-apa an ini, lepas!"
Kesal Amira menyentak tangan Aditya. Namun Aditya malah mendorong Amira hingga tubuh Amira terpojok.
"Kamu selalu saja arogan, aku selalu sabar mengejarnya. Bahkan aku diam ketika kamu selalu menginjak harga diriku. Kenapa kau sulit menerimaku!"
"Apa maksud kakak, aku tak mengerti!"
"Aku tahu, selama ini kamu selalu membuang bunga pemberianku dan kamu juga selalu memberikan coklat dariku pada temanmu!"
Deg ..
__ADS_1
Amira membelalakkan kedua matanya tak percaya. Jadi selama ini Aditya mengetahui kelakuannya. Namun, detik berikutnya Amira tersenyum sinis.
"Karena barang itu pantas aku buang!"
"Kau!"
Aditya semakin mencengkram erat tangan Amira karena merasa di rendahkan. Bahkan tatapan sendu kini berganti menjadi tatapan tajam membuat Amira lagi-lagi tersenyum sinis.
"Ternyata memang ini aslinya!"
"Apa maksud mu hah,"
Bentak Aditya benar-benar marah akan apa yang Amira lakukan.
"Seorang playboy yang selalu nyosor sana sini bahkan melakukannya di tempat menjijikan. Mungkin orang lain bisa kau bodohi dengan tampang dan penampilanmu tapi tidak denganku!"
Sentak Amira mendorong Aditya yang terlihat terkejut akan ucapan Amira.
Namun, detik berikutnya Aditya tersenyum seringai menatap Tajam Amira.
"Mau apa kau!"
Gugup Amira karena posisinya merasa terancam. Apalagi melihat wujud asli Aditya membuat Amira waspada.
Bruk ..
Aditya mendorong Amira hingga punggung Amira terbentur dinding. Aditya mendekat dengan tatapan penuh nafsu dan amarah bercampur jadi satu. Ternyata Amira sudah mengetahui sisi buruknya jadi buat apa Aditya bersembunyi lagi.
"Menurut loe, mau apa gue!"
Ucap Aditya dingin mencengkram dagu Amira.
"Ternyata loe sudah tahu siapa gue, dan loe berani menolak gue!"
"Siapa yang mau sama wujud iblis yang selalu menjadi malaikat, namun kau merusak mereka!"
"Dan, loe akan jadi salah satu mangsa gue!"
Deg ...
Amira membulatkan kedua matanya merasakan aura yang berbeda di diri Aditya. Amira merasa bahwa dirinya dalam bahaya.
"Lepas!"
"Sayangnya loe tak mudah lepas dari cengkraman gue!"
Ucap Aditya menyeringai semakin mendekatkan wajahnya membuat Amira menjadi ketakutan. Walaupun Amira pemberani namun Amira tidak jago dalam bela diri apalagi cengkraman Aditya sangat erat.
Cup ..
Amira memalingkan wajahnya jijik, Alhasil Aditya hanya mencium pipi Amira.
"Diam dan jangan memberontak!"
Bentak Aditya mencengkram dagu Amira kembali. Aditya berusaha mencium Amira namun lagi-lagi pipi Amira yang kena karena Amira terus memberontak.
"Lepas!"
"Tolong ... ayah mama ..,"
Teriak Amira terus memberontak berharap ada orang yang lewat dan menolongnya. Namun Amira lupa kalau di sekolah sedang acara, jadi mana mungkin ada orang yang pergi kelantai atas.
"Teriak lah sepuasnya, ha .. ha ... tak ada yang nolong loe!"
"Loe harus jadi milik gue!"
"Tidak!!!"
"Tolong ..."
Bugh ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...