
Lima hari sudah mereka menghabiskan waktu ber camping. Kini semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing termasuk Amelia kembali pulang bersama Pak Anwar.
Kini mereka tinggal mempersiapkan buat kelulusan saja.
Namun, sayang Amelia tak bisa lagi mengikuti perpisahan karena insiden itu. Membuat Amelia langsung di keluarkan secara tidak hormat.
Amelia mungkin sedih, karena tak bisa mengikuti perpisahan. Namun, Amelia bersyukur karena pak Anwar akan membantu Amelia mendapatkan ijazah. Setidaknya Amelia tak terlalu sedih, karena Amelia masih bisa melanjutkan pendidikannya suatu hari nanti ketika Amelia sudah melahirkan.
Walau hati rapuh tapi Amelia tetap akan berjuang untuk menghidupi anaknya kelak walau tanpa siapapun. Bahkan Amelia tak mau berurusan lagi dengan Aditya, mendengar kabar sedikitpun tentang Aditya Amelia tak mau.
Karena rasa sakit yang Aditya toler kan membuat hati Amelia menjadi beku.
Rasa sakit tak di akui dan menyuruh Amelia mengugurkan kandungannya membuat Amelia menjadi membenci sangat sangat benci pada sosok itu. Bahkan Amelia bersumpah, tak akan pernah membiarkan Aditya menatap anaknya walau sedetik.
.
Jauh di belahan sana, orang yang sudah sangat Amelia benci justru mendapatkan balasan yang sangat menyakitkan.
Bagaimana tidak kesakitan, setiap hari Aditya akan merasa mual dan pusing bahkan sampai sakit. Dan, sialnya penderitaan itu Aditya rasakan di dalam jeruji besi. Yang tak ada satu orangpun yang peduli padanya.
Bahkan Aditya malah mendapatkan siksaan dari teman se jerujinya karena merasa jijik Aditya selalu muntah. Bahkan pernah Aditya sampai sekarat mendapat amukan dari teman se jerujinya karena Aditya muntah tepat pas waktu teman se jerujinya makan.
Hingga Aditya terpaksa di pindahkan menjadi sendiri.
Sungguh malang bukan, bahkan kedua orang tua Aditya tak bisa mengeluarkan putra semata wayangnya karena kekuasaan keluarga Al-biru sangatlah kuat.
Apalagi yang memasukan Aditya ke penjara adalah Alam, keturunan Mangku Alam yang terkenal dingin, adik ipar dari Farhan Al-biru.
Namun, kedua orang tua Aditya setelah mengetahui alasan kenapa putranya di masukan ke dalam penjara bukan karena menyakiti Amira melainkan sudah menghamili anak orang membuat ibu Aditya shok bahkan sampai pingsan.
Hingga sampai saat ini, kedua orang tua Aditya memilih membiarkan saja anaknya di masukan ke jeruji besi karena kesalahan putranya sudah sangat tak bisa di maafkan lagi.
Kedua orang tua Aditya malah sibuk mencari dimana wanita yang sudah dihamili putranya. Karena ingin meminta maaf atas apa yang di lakukan putranya dan akan bertanggung jawab akan semuanya.
Namun, sayang Amelia sudah tak membutuhkan itu lagi, karena rasa sakit atas apa yang Aditya lakukan membuat Amelia tak mau bertemu kedua orang tua Aditya.
__ADS_1
Bahkan dengan kedua orang tuanya saja Amelia tak mau bertemu lagi.
Amelia sudah sangat nyaman tinggal bersama pak Anwar yang sangat melindungi dan menyayanginya walau sikap pak Anwar tetap dingin dan jarang tersenyum. Namun, perilakunya yang menunjukan kasih sayang.
Bahkan Amelia merasa mendapatkan sosok ayah di diri pak Anwar. Entah apa yang membuat pak Anwar mau menampung Amelia. Padahal Amelia bukan putrinya sendiri.
Kalau saja istri dan putrinya tidak di bunuh. Mungkin putri pak Anwar tumbuh se usia Amelia.
Amelia tersenyum kecut ketika melihat pak Anwar sudah rapih dengan setelan bajunya. Di mana Pak Anwar akan berangkat ke sekolah. Di mana hari ini hari perpisahan bagi kelas XII.
"Jangan lupa minum susu nya, saya berangkat!"
Ucap pak Anwar dingin seperti biasanya.
"Pak!"
Panggil Amelia sambil beranjak dari duduknya.
"Tolong berikan ini pada Amira, mungkin tahun ini Amira akan kembali menjadi juara umum!"
"Hm,"
Pak Anwar langsung mengambil buket bunga dari tangan Amelia lalu tanpa kata langsung pergi dengan bibir yang tertarik ke samping.
Amelia tidak tahu, seharusnya Amira nilainya tergeser oleh Shofi. Karena sebenarnya Shofi menguasai semua akademi. Namun, Shofi meminta agar Amira yang tetap mendapatkannya. Karena bagi Shofi, curang jika Shofi yang mendapatkannya karena seharusnya Shofi belajar di bangku kuliah.
Bahkan harusnya Shofi sudah S3 di usia tujuh belas tahun, namun Shofi harus bersikap normal agar Shofi bisa merasakan waktu-waktu masa SMA dan kuliah.
Begitupun dengan Fatih, yang memang sengaja membuat dirinya sendiri terlihat bodoh. Padahal jangan di ragukan lagi, keturunan Al-biru sangat pintar dan cerdas. Namun, Fatih sengaja melakukan itu karena tak mau di anggap pesaing oleh saudara nya sendiri. Apalagi Fatih tak mau melebihi omnya sendiri, Alam.
Banyak pertimbangan bagi Farhan untuk menunjukan jati diri putranya. Begitupun dengan Aurora.
Farhan dan Queen menyuruh anak-anak bersikap biasanya saja jangan sampai kepintarannya memicu orang lain.
Acara perpisahan di laksanakan dengan meriah. Dan, benar saja, Amira kembali menjadi juara umum dari tahun ke tahun. Hingga Amira mendapatkan beasiswa ke London, bersama lima siswa lainnya termasuk Bunga yang berada di peringkat ke dua.
__ADS_1
Sungguh prestasi yang begitu membanggakan bagi keluarga Prayoga. Mempunyai cucu yang cerdas.
Kini giliran Amira naik ke atas panggung untuk mengambil penghargaannya. Apalagi Amira setiap tahunnya selalu membanggakan sekolah dengan lomba-lomba yang di ikuti nya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... segala puji bagi Allah. Terimakasih pada dewan guru semuanya!"
"Piala ini! penghargaan ini, sebenarnya saya merasa tak layak mendapatkannya. Karena ada seseorang yang jauh lebih berhak mendapatkannya. Terkadang saya merasa lebih pintar dan lebih jago dari yang lain. Namun, saya tak akan bisa mendapatkan ini jika dia tak pergi."
Amira menghentikan ucapannya sambil menatap seseorang yang sedang duduk di kursi paling belakang. Semua orang terdiam menunggu apa yang akan Amira ucapkan lagi. Begitupun para dewan guru.
"Dia yang berhak mendapatkan piala ini, dan saya dengan sangat bangga menyerahkan piala ini ke pada salah satu Alumni SMAN 10 Jakarta, Rijal Aditama. Dia yang selalu menjadi pesaing saya di setiap akademi, dan siswa yang selama satu tahun enam bulan sudah membanggakan sekolah dengan prestasi yang Rijal miliki. Jika saja bukan karena ulah sepupu saya, mungkin Rijal yang akan berada di sini. Untuk itu saya berharap Rijal bisa naik ke atas podium!"
Prok ... prok ....
Semua orang bertepuk tangan merasa bangga dengan apa yang Amira katakan. Terutama kedua orang tua Amira sendiri.
Kini semua mata tertuju pada Rijal yang sedang duduk di kursi belakang. Rijal sangat kaget dengan apa yang Amira sampaikan.
Rijal memang datang atas paksaan Fatih, jika tidak maka Fatih akan mengeluarkan Rijal dalam organisasi.
Dengan ragu Rijal berjalan ke depan karena merasa terancam oleh tatapan mengerikan dari Fatih.
Hingga, para akhirnya Rijal sudah ada di hadapan Amira.
"Entah apa yang harus saya katakan, harusnya Amira tak melakukan ini. Karena bagi saya, Amira adalah gadis yang sangat jenius dari pada saya. Thank you, you are a very amazing friend. I feel small, because you are the real winner!"
Semua orang kembali bertepuk tangan pada dua anak muda di depan.
Inilah aset negara yang harus di pertahankan. Karena orang-orang seperti ini yang bisa membanggakan keluarga, teman dan negaranya sendiri.
Pemenang yang sesungguhnya, bukan ia yang merasa cerdas dari yang lain. Namun, ia yang merasa bahwa dia sadar, ia lebih kecil jika tak ada orang lain.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1