
"Diam!"
Bentak Fatih dari tadi kesal pada ketiga temannya. Bagaimana tidak kesal kalau sendari tadi ketiga temannya mengejek dia karena turun dari mobil.
Rangga, Raja dan Moreo mengulum senyum geli. Mendengar cerita dari Fatih kalau dirinya di hukum. Dan, hukumannya Fatih akan di antar jemput oleh bodyguard yang di utus sang Bunda.
Tapi, yang lebih membuat Fatih kesal lagi ternyata bodyguard nya adalah pak Anwar, guru sekaligus wali kelasnya. Tapi, ada satu yang membuat Fatih tercengang. Pak Anwar ternyata salah satu anak buah sang papa yang memang sengaja di tugaskan melindungi Fatih. Pantas saja pak Anwar adalah satu-satunya guru yang berani menghukum Fatih melebihi kepala sekolah.
Padahal, oh ternyata!
"Sial!"
Kesal Fatih terus mengupat.
Amira dan Bunga yang baru datang tercengang melihat keberadaan empat sejoli itu sudah ada di kelas.
Ingin sekali Amira tertawa melihat wajah Fatih yang di tekuk.
Sepertinya hari ini hari bersejarah bagi kelas XI, di mana Fatih menjadi murid teladan. Bahkan Fatih orang pertama yang datang sebelum anak lain datang. Dan, sepertinya predikat siswa terajin tahun ini Amira harus lera di geser. Dan, tentu saja Amira tak keberatan jika yang menggesernya adik sepupunya sendiri.
"Ngapain senyam senyum, loe puas kan!"
Ketus Fatih menatap tajam pada Amira yang mengangkat bahunya acuh.
Fatih mengepalkan kedua tangannya, jika saja Amira bukan saudaranya dari tadi sudah Fatih bebek-bebek.
"Oh, my hany!"
Pekik Amelia kegirangan melihat Fatih sudah ada di dalam kelas.
Mood Fatih yang kacau semakin kacau dengan kedatangan ulat bulu. Fatih menatap malas pada Amelia yang duduk di depannya.
"Fatih, rajin banget sih pagi-pagi sudah datang."
"Loe nungguin gue ya, nanti siang kita makan bareng yuk!"
Huek ...
Ke tiga sahabat Fatih menunjukan ekspresi mual mendengar ucapan Amelia yang pede banget. Ingin sekali mereka tertawa karena keberadaan Amelia tak di anggap oleh Fatih. Bahkan Fatih tak merespon apapun.
"Minggir, gue mau ke toilet!"
Kesal Fatih, mendengar ocehan Amelia membuat Fatih ingin muntah saja.
Baru saja Fatih keluar tak lama balik lagi. Kini membuat anak-anak yang ada di kelas terlihat heran dengan apa yang Fatih lakukan.
"Meong bantuin gue!"
Ucap Fatih seenaknya memanggil Moreo dengan sebutan meong.
"Bawa kursi,"
Moreo membawa satu kursi, sedang Fatih mengambil tempat sampah yang sengaja Fatih isi dengan kertas yang di robek-robek bahkan Fatih menginjak kertas itu supaya kotor. Sudah selesai dengan pekerjaannya, Fatih menyimpan tong sampah itu di atas pintu. Jadi ketika ada yang masuk maka tong sampah itu akan jatuh.
"Fatih apa yang loe lakukan, siapa yang akan Lo ..,"
__ADS_1
Belum sempat Amira menyelesaikan ucapannya. Amira melihat di kaca jendela Shofi berjalan menuju kelas. Amira ingin berteriak tapi Fatih keburu membekam mulutnya. Amira terus memberontak tapi Fatih mengunci pergelangan tangannya.
Fatih menghitung sambil menatap ke arah pintu. Begitupun ketiga sahabatnya dan tentu Amelia juga yang penasaran hari ini siapa yang akan jadi korban.
Di luar Shofi dengan santai berjalan menunduk sambil membenarkan letak kaca mata barunya.
"Shofi!"
Baru saja Shofi akan memegang handle pintu tidak jadi karena ada yang memanggilnya.
"Iya Bu!"
Jawab Shofi sopan ketika tahu siapa yang memanggilnya.
"Tolong ambilkan buku sampul hijau di meja kerja ibu. Ibu lupa membawanya. Jangan khawatir, ibu gak akan memulai pelajaran sebelum kamu balik,"
"Baik Bu!"
Shofi menunduk berputar arah menuju ke ruang guru. Sedang guru tadi tanpa aba-aba langsung menerobos masuk.
Bruk ...
Ha ...
Ha ...
Semua anak-anak langsung tertawa ketika tong sampah itu mengenai targetnya. Berbeda dengan Amira yang merasa aneh dengan pakaian yang Shofi kenakan.
Deg ...
Guru itu mengeram marah dengan mata memerah membanting langsung tong sampah itu. Tangannya membersihkan kepala yang menempel banyak kertas dan debu.
"Siapa yang melakukan ini!"
Bentak sang guru menatap tajam pada muridnya yang diam dengan kepala menunduk.
Sang guru menatap pada Fatih, sang guru yakin ini pasti kelakukan Fatih.
"Kamu!"
"Amelia Bu,"
Amelia membelalakkan kedua matanya ketika Fatih melemparkan kesalahannya pada Amelia. Amelia ingin protes tapi semua murid menyudutkan Amelia. Bahkan Amira yang ingin bicara pun langsung di bekam Fatih.
"Amelia!"
Geram sang guru menatap tajam pada Amelia yang ketakutan.
Sial, jadi gue yang kena! awas loe Fatih!
Geram Amelia tertahan karena dia yang dapat imbasnya. Sedang Fatih hanya tersenyum seringai menatap Amelia. Tadinya Fatih ingin jujur tapi karena kesal pada Amelia karena tadi menambah mood nya jadi buruk.
"Amira, tolong bantu catat pelajaran ibu. Nanti ibu jelaskan setelah ganti baju."
"Amelia ikut ibu!"
__ADS_1
Glek ...
Amelia menelan ludahnya kasar, dengan terpaksa Amelia ikut sang guru. Di luar mereka berpapasan dengan Shofi.
Amelia menatap tajam pada Shofi. Harusnya gadis cupu ini yang kena. Kenapa dia sekarang yang sial.
Awas kau cupu!
Shofi hanya mengerutkan kening di balik poninya, bingung. Kenapa Amelia menatap dirinya tajam bahkan seperti mau memakannya saja.
"Shofi, berikan saja buku itu pada Amira ya,"
"Baik Bu,"
"Amelia ayo!"
Shofi berusaha masa bodo dengan sikap Amelia yang sinis itu. Karena Shofi sedikit banyak nya sudah tahu bagaimana Amelia. Kenapa sudah tahu! tentu saja Bunga yang memberi tahunya.
Ah ... ternyata Bunga rempong juga.
Dengan sedikit gugup Shofi masuk ke dalam kelas. Kepala Shofi menunduk gugup. Siapa yang tidak gugup jika semua mata menatap dirinya. Terutama Fatih menatap Shofia tajam. Sepertinya Fatih dendam banget pada Shofi. Bagaimana Fatih tidak dendam jika Shofi berani membuat dirinya minta maaf di depan kelas. Anak baru itu belum tahu siapa Fatih.
Dengan gemetar Shofi berjalan terus menunduk. Bagaimana tidak menunduk jika orang yang ingin Shofi hindari ada di belakang kursi Shofi. Bahkan tatapan itu begitu menakutkan.
Shofi berusaha tenang lalu duduk di kursinya. Mencoba tak memperdulikan keberadaan Fatih.
"Ini buku Bu Intan, dia menyuruh aku memberikannya pada kamu!"
Ucap Shofi pelan sambil menyerahkan buku catatan bersampul hijau pada Amira. Amira langsung mengambilnya.
Pelajaran pun di mulai. Amira mendikte pelajaran Bu Intan dengan gaya singkat padat. Karena Amira pintar merangkum bagian pelajaran yang penting. Jika ada yang harus di tulis maka Amira akan menulisnya di whiteboard.
Shofi dari tadi berkali-kali menahan nafas karena Fatih terus mengganggunya. Bagaimana Shofi tidak terganggu jika kaki Fatih tidak diam. Dari tadi terus saja menendang-nendang kursi yang di duduki Shofi.
Saking kesalnya bahkan Shofi mencengkram erat bolpoin yang dia pegang.
Huh ...
Shofi menghembuskan nafas perlahan ketika Fatih menghentikan aksinya di saat Amira kembali duduk di kursinya.
Tinggal menunggu kedatangan Bu Intan untuk menjelaskan.
"Boleh aku lihat catatan kamu?"
Tanya Amira pada Shofi, Shofi hanya mengangguk saja tanda mempersilahkan.
"Tulisan kamu bagus, aku pinjam sebentar ya!"
"Iya!"
"Shofi, kamu ganti kaca mata ya?"
Deg ...
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih ...