Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 95 Aku pergi!


__ADS_3

Dari kejadian di taman waktu itu, kini Fatih mulai bisa mencoba menjalani apa yang Shofi inginkan. Setidaknya Fatih masih bisa bersama Shofi walau sebentar.


Ya, Fatih tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Setidaknya Fatih masih bisa bersama dengan hari yang berbeda.


Menjalani hari dengan pertemanan walau mereka kerap kali terlihat mesra layaknya sepasang kekasih. Namun, bagi mereka begitu tapi tidak dengan Fatih dan Shofi yang menjalaninya.


Mereka berdua harus tersiksa dengan keadaan sebenarnya yang tak bisa mereka ubah.


Namun, ada baiknya juga, kini Fatih tak lagi di hukum karena terlambat. Tak lagi di hukum karena membuat ulah. Tak lagi mem buli. Semuanya berubah sehingga sekolah menjadi nyaman dan tentram.


Bahkan berpakaian Fatih pun sekarang mulai rapih memasukan bajunya ke dalam celana dengan sabuk yang melingkar indah di pinggangnya. Jangan lupakan, dasi juga turut hadir menempel di baju Fatih. Benar-benar penampakan yang sempurna.


Bahkan ketampanan Fatih berkali-kali lipat terpancar.


Begitupun dengan belajar, sekarang karena sudah mau lulus dan di sibukkan dengan ujian praktek. Fatih dan Shofi kerap kali terlihat belajar bersama, tepatnya bergabung dengan Amira dan Bunga begitu pun Rangga, Raja dan Moreo.


Kini mereka bertujuh lewatkan waktu dengan belajar di perpustakaan tidak lagi di kantin. Kekompakan mereka terkadang kerap kali membuat para guru-guru tercengang.


Pasalnya sekolah jadi tentram saja ketika Shofi bisa merubah Fatih. Tepatnya bukan Shofi yang merubah namun itu keinginan Fatih karena tak mau di detik-detik kebersamaan dan keluar dari sekolah meninggalkan nama yang buruk, walau sudah buruk setidaknya ada sedikit kebaikan di akhirnya.


Fatih tak ingin, kejadian satu tahun lalu, di acara kelulusan membuat ulah dan malah mempermalukan dirinya sendiri. Hal nya yang di lakukan Aditya pada Amira.


Bahkan kejadian itu sampai membuat semua guru tercengang. Pasalnya Aditya terkenal anak yang sangat baik, ramah dan sopan. Mereka semua tak percaya jika Aditya bisa melakukan hal yang sangat tak senonoh.


Untung saja, keluarga Prayoga tak menuntut apa-apa. Padahal bisa saja Jek menghancurkan keluarga Aditya dan Farhan mencabut semua sahamnya. Namun, mereka tak melakukannya.


Jika di tanya bagaimana kabar Amelia, sudah lama gadis itu tak menggangu Fatih. Bahkan sudah satu Minggu Amelia tak masuk sekolah, walau kabarnya Amelia sedang sakit.


Entahlah apa yang terjadi pada gadis itu, yang pasti Fatih tak peduli.


Fatih hanya peduli pada Shofi orang yang di sayangnya dari bukan bagian keluarga.


"Oh iya, apa benar Oma Adel akan pulang?"


Tanya Amira pada Fatih, Amira mendengar dari sang ayah bahwa Oma Adelia akan kembali.


"Iya, lusa Oma pulang!"


"Siapa yang menjemputnya?"


"Gue lah, papa lusa sibuk!"


"Aku ikut!"


"Gak!"


Tolak Fatih cepat, Fatih tahu, Amira bukan sekedar bukan ingin ikut. Namun, Amira pasti ingin mendekati om Alam. Karena Fatih memang akan menjemput Oma Adel ke bandara bersama om Alam.


Amira hanya mengerucut bibirnya kesal karena Fatih tak mengizinkannya.

__ADS_1


"Ayolah, aku ikut!"


"Gak ya tetap enggak!"


"Isst, kau jahat sekali. Apa nenek Dinda dan kakek Fandi juga pulang!"


"Gak!"


Jawab singkat Fatih, karena memang nenek Dinda dan kakek Fandi tidak ikut kembali. Mungkin, mereka akan kembali tahun depan ketika om Alam akan wisuda.


"Kau benar-benar menyebalkan!"


Plak ...


Kesal Amira sambil memukul Fatih dengan buku catatan nya. Amira sangat kesal sekali pada Alam. Bahkan chat nya tak ada satupun yang di balas sampai saat ini. Setiap hari Amira mengirim pesan entah atau menanyakan kabar atau sekedar memperingatinya supaya jangan lupa makan.


Namun, sudah ratusan chat tak ada satupun yang di balas. Hanya sekedar di baca saja, membuat Amira jadi kesal. Bisa di bayangkan gak sih, sudah beberapa tahun Amira terus melakukan itu, seolah Amira gak lelah memerhatikan omnya itu. Namun, tak ada balasan sama sekali. Entah sekuat apa hati Amira menahan rasa sakit di abaikan.


Mungkin, kalau sudah lelah, Amira akan berhenti sendiri. Tapi, entah sampai kapan, seolah Amira tak ada kerjaan saja.


Moreo hanya menatap sendu kepergian Amira. Tak bisakah Amira melihat Moreo barang sedetik saja.


Ada orang yang peduli padanya, tapi kenapa Amira malah peduli pada orang yang tidak peduli padanya.


Fatih yang melihat tatapan Moreo hanya bisa menghela nafas kasar. Fatih sungguh bingung berada dalam situasi seperti ini.


Raja dan Rangga tak mau ikut bersua mereka sengaja tak menyadari dengan menyibukkan diri mendengarkan Bunga menjelaskan pelajaran yang tak mereka mengerti.


Sedangkan Shofi tak tahu harus berbuat apa. Karena Shofi juga tidak tahu kalau Moreo menyukai Amira. Yang Shofi tahu, Amira menyukai anak dari kakeknya sendiri.


Shofi ingin beranjak, namun di cegah oleh Fatih.


"Tap--"


"Biarkan, Amira akan kembali ceria kok. Sepupu ku bukan orang yang suka berlama-lama kesal terhadap sesuatu!"


"Tapi, dia akan menangis!"


"Beri dia waktu!"


Shofi hanya mengangguk saja dan kembali melanjutkan belajar barengnya. Walau sebenarnya Shofi cemas dengan ke adaan Amira.


"Sudah, jangan di pikirkan. Fokuslah!"


Perintah Fatih, karena sadar dari tadi Shofi tak fokus belajar.


Fatih bukannya tak peduli, namun Fatih juga bingung harus berbuat apa. Tapi, satu yang Fatih tahu. Sepupu nya itu wanita yang luar biasa kuat. Dia akan menangis sendirian dan akan kembali dengan wajah tersenyum cerah seolah tak terjadi apa-apa di beberapa menit lalu.


Dan, benar saja. Tak lama Amira kembali sambil menjinjing keresek dengan senyum yang mengembang. Walau matanya sedikit memerah.

__ADS_1


"Aku bawa minum, kalian pasti haus!"


Ucap Amira tiba-tiba sambil duduk di tempatnya semula.


Bunga hanya menggeleng saja melihat tingkah sahabatnya. Bunga diam karena sudah faham betul bagaimana karakter Amira.


Namun, jangan terkejut jika suatu hari nanti Amira akan berubah. Mungkin dia akan lebih kejam dari yang lain.


Shofi bernafas lega melihat keceriaan Amira kembali. Mungkin Shofi cemas karena belum faham akan sikap dan sifat Amira, apalagi pertemanan mereka baru sebentar. Berbeda dengan Bunga yang sudah lama. Jadi, pasti Bunga lebih banyak tahu dari pada Shofi.


Tapi, begitulah sikap ketiga gadis itu. Semuanya saling menyayangi dalam bentuk berbeda.


"Ingat! besok jangan telat!"


Ucap Amira pada yang lain. Karena besok ada ujian praktek kimia.


Karena mulai besok satu persatu ujian praktek di mulai hingga sampai ujian nasional.


"Siap buk guru!"


Jawab semuanya serempak sambil terkekeh. Karena Amira memang si kutu buku.


Amira hanya memutar bola mata malas melihat respon teman-teman nya.


"Pulang bareng gue lagi ya!"


Ucap Fatih sambil berjalan meninggalkan perpustakaan.


"Aku pulang bareng Amira dan Bunga. Kita sudah janjian mau ngantar Amira beli sesuatu. Besok saja jemput, kita ke sekolah bareng!"


"Ok deh, hati-hati di jalan!"


Shofi tersenyum akan perhatian Fatih. Memang akhir-akhir ini, Shofi akan pulang dan pergi di antar jemput oleh Fatih.


Sedangkan para bodyguard hanya memantau saja dari kejauhan. Dan, membiarkan nona mudanya bersama Fatih.


"Terimakasih sudah mengerti!"


"Sama-sama!"


"Woy, pacaran Mulu, buruan!"


Teriak Amira sengaja membuat Shofi terkekeh sedangkan Fatih menatap tajam sepupunya yang tak mengerti.


"Aku pergi!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2