
Sudah satu Minggu Shofi dan Davit tidak saling ketemu. Mereka hanya bisa bertelepon saja. Keadaan membuat Davit tak bisa pulang dan menyuruh Shofi tetap berada di keluarga aman itu.
Shofi hanya pasrah saja, namun selain itu Shofi juga berlatih ilmu bela dirinya sekali ada kesempatan.
Jangan di tanya bagaimana hubungan Fatih dan Shofi. Mereka terus saja bertengkar dan bertengkar tak pernah akur sama sekali. layaknya film Tom and Jerry yang di setiap ada kesempatan selalu menjahili satu sama lain. Tepatnya Fatih selalu saja membuat jebakan hingga membuat Shofi berujung malu. Dan, Shofi akan membalas itu semua.
Jika hubungan Shofi dan Fatih tak pernah akur setiap ketemu pasti hanya tatapan tajam yang mereka berikan.
Sedangkan Amira dan Bunga hanya fokus saja belajar mempersiapkan diri karena sebentar lagi ujian dan kenaikan kelas dimana mereka sebentar lagi akan kelas XII.
Amira terus saja giat belajar karena dia tak mau nilainya turun Amira harus tetap menjadi juara kelas nya.
Ada rasa tak enak di hati Shofi jika harus terus-menerus menginap di rumah Amira walau Amira dan kedua orang tuanya tak mempermasalahkannya.
Namun, Shofi tak nyaman karena sudah menyusahkan banyak orang dan Shofi juga tidak tahu di mana keberadaan sang kakak.
Apakah ia baik-baik saja atau terluka, Shofi ingin bertemu dan memastikan sesuatu. Namun, sang kakak masih tetap melarang Shofi kemana-mana kecuali ke sekolah saja.
Hari ini Shofi melakukan ulangan terakhir sebelum kenaikan kelas. Pikiran Shofi tak fokus hingga membuat Shofi banyak melamun.
Bahkan Shofi sering kali keluar terakhir karena tak fokus untuk mengerjakan soal. Namun, walaupun begitu sebagian guru nampak heran melihat hasil ulangan Shofi yang benar semua. Bahkan jawaban esainya tak ada yang cacat sama sekali.
Hingga beberapa guru yang menjadi pengawas melaporkan itu semua pada kepala sekolah. Mereka merasa janggal dengan apa yang Shofi lakukan. Bagaimana bisa murid yang selalu keluar terakhir namun nilainya benar semua.
Ini aneh dan sangat sangat aneh, kenapa ini bisa terjadi. Bahkan se level Amira pun ada satu atau dua jawaban yang salah. Padahal Amira terkenal siswa yang paling pintar di antara yang lain.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!"
Ucap kepala sekolah melihat semua kertas lembar ulangan Shofi yang semuanya benar.
"Kami pun tak mengerti pak, padahal siswi itu terlihat tak bisa apa-apa!"
Ucap salah satu guru dimana semua guru sedang berkumpul membahas tentang Shofi.
Jika ada seseorang yang tak fokus melakukan suatu hal pasti hasilnya tak akan sempurna. Namun, kata itu tak berlaku pada Shofi. Karena kecerobohan ketidak fokus an Shofi, Shofi malah menunjukan kemampuan siapa dirinya sendiri.
"Panggil dia ke sini!"
Perintah kepala sekolah membuat pak Anwar sebagai wali kelas XI langsung beranjak dari duduknya.
Shofi tak tahu, jika kelakuan cerobohnya membuat dia dalam masalah.
Amira dan Bunga saling pandang satu sama lain. Meraka tak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan keceriaan Shofi. Seminggu ini Shofi benar-benar banyak diam bahkan ulangan pun Shofi sering di tegur karena keluar pasti yang terakhir.
Bahkan ketika Fatih menjahilinya juga Shofi tetap diam saja bahkan tak terpancing sama sekali. Kecuali jika Fatih sudah melewati batas kesabarannya Shofi baru melawan.
Fatih yang ingin menjahili Shofi mengurungkan niatnya ketika melihat pak Anwar berjalan ke arah meja Shofi.
"Shofi!"
Panggil pak Anwar dingin dengan sorot mata tajamnya.
__ADS_1
"Shofi!"
Untuk yang kedua kakinya pak Anwar memanggil nama Shofi tetap saja Shofi masih belum menyahut.
Hingga Amira menggoyangkan bahu Shofi baru Shofi tersadar.
"Ada apa?"
"Pak Anwar dari tadi memanggil kamu!"
Shofi langsung melirik ke arah samping di mana pak Anwar sedang berdiri menatapnya tajam.
"Maaf pak!"
Ucap Shofi tersenyum kikuk merasa malu karena tak mendengar panggilan gurunya.
"Ikut saya ke kantor!"
Shofi dalam mode bingungnya hanya bisa mengangguk pasrah lalu beranjak mengikuti langkah pak Anwar.
"Apa Shofi melakukan kesalahan?"
"Aku tak tahu, perasaan tidak!"
"Kenapa ia di panggil ke kantor?"
"Gak tahu,"
Bunga dan Amira saling bertanya bingung kenapa tiba-tiba Shofi di bawa ke kantor.
.
Di ruang guru ...
Shofi di suruh duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan.
Semua guru menatap tajam Shofi membuat Shofi bertanya-tanya kenapa dia di panggil bahkan Shofi sepertinya mau di sidang saja akan kesalahannya.
"Ada apa pak, boleh saya tahu kenapa saya di panggil kesini?"
Tanya Shofi memberanikan diri menatap kepala sekolah yang sendari tadi berdiri sambil memegang kertas ulangan Shofi dan Amira.
"Bagaimana mungkin nilai kamu mengalahkan nilai Amira!"
Shofi menautkan kedua alisnya bingung mendengar ucapan kepala sekolah. Shofi belum mengerti kemana arah pembicaraannya.
"Maksud bapak bagaimana! saya tidak mengerti!"
"Siapa kamu sebenarnya!"
Deg ...
__ADS_1
Shofi membulatkan kedua matanya melihat lembar demi lembar kertas ulangannya yang semuanya benar. Lalu Shofi melihat lembar ulangan Amira yang nilainya ada sebagian kertas ulangan yang salah.
"Pak mungkin ini ketukar kali!"
Dengan bodohnya Shofi malah bicara seperti itu dengan keadaan paniknya. Bahkan Shofi merutuki dirinya sendiri kenapa bisa seperti ini.
Sial! bagaimana kalau mereka tahu siapa aku!
Batin Shofi cemas, membuat Shofi kebingungan harus menjelaskannya bagaimana. Di saat keadaan seperti ini Shofi teringat akan kakak nya. Jika saja ada Davit, pasti Davit akan mencoba membantunya.
"Shofi kamu tidak bodoh! kamu menganggap kami yang bodoh!"
Glek ...
Dengan tanpa sengaja ucapan Shofi memang malah seakan mengatakan guru-guru yang bodoh ketika Shofi bicara mungkin nilainya yang ketukar.
Bagaimana mungkin guru menukar nilai Shofi dan Amira.
"Maaf pak buk, saya tak bermaksud!"
Shofi jadi semakin gugup bingung harus berbuat apa. Apa dia harus memberi tahu siapa dirinya atau tidak.
"Katakan saja kalau ini memang nilai kamu!"
Dengan terpaksa Shofi mengangguk saja toh Shofi juga tak bisa mengelak lagi.
Kini semua guru saling pandang satu sama lain. Mereka sudah merencanakan sesuatu buat Shofi. Shofi akan di tes oleh guru-guru ahli. Apakah Shofi masuk dalam golongan siswa yang mempunyai IQ tinggi atau tidak.
Jika benar! berarti Shofi masuk dalam daftar anak jenius dunia yang sempat dinyatakan meninggal dalam berita pembunuhan dan perampokan di rumahnya sendiri.
Ya, berita pembunuhan dan perampokan keluarga kaya raya di negara Jerman masuk dalam berita dunia dan tentu berita itu sampai ke Indonesia. Namun, tak ada satu orangpun yang tahu bagaimana wajah gadis itu.
Tidak! aku tidak boleh di tes. Kalau itu sampai terjadi persembunyian ku pasti ketahuan.
Panik Shofi tak tahu harus melakukan apa. Shofi tak mau, kejadian di Bali terulang kembali di sini.
Karena itulah alasan kenapa Shofi pindah ke Jakarta karena persembunyian Shofi di Bali terlacak gara-gara Shofi menunjukan siapa dirinya sendiri. Karena ada salah satu pihak sekolah yang mengekspose nya.
"P-pak, boleh saya ke toilet sebentar. Saya kebelet pipis!"
Celetuk Shofi memegang perutnya seakan Shofi memang benar-benar sedang menahan sesuatu.
"Baiklah, silahkan. Nanti kamu balik lagi!"
"Baik pak, terimakasih!"
Shofi langsung keluar kantor buru-buru. Alangkah terkejutnya Shofi ketika di luar sudah ada Amira dan Bunga.
"Tolong bawa aku pergi dari sini!"
Deg ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...