Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 114 Kita sama-sama sakit!


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Bunga sebentar lagi selesai. Bahkan para tamu undangan berangsur pulang.


Fatih yang sejak tadi menunggu kesempatan mendekati Shofi, sangat kesal karena sulit sekali. Apalagi Shofi terus saja menempel pada Amira membuat Fatih tak bisa leluasa mendekati Shofi. Apalagi Amira mengajak Shofi bergabung dengan keluarganya.


Karena itu lah yang Shofi sedang lakukan. Shofi tahu sendari tadi Fatih terus memperhatikannya. Untuk itu Shofi berusaha menghindar. Shofi hanya sedang menguatkan dirinya sendiri. Shofi tidak mau, jika berbicara dengan Fatih malah membuat dirinya menangis.


Apalagi Davit sudah memberi tahu bahwa akan ada asisten nya yang akan menjemput. Mendengarnya saja membuat Shofi sesak, apa yang harus Shofi katakan dan lakukan.


Shofi yakin, ia tak akan baik-baik saja jika bicara dengan Fatih. Untuk itulah Shofi sejenak menguatkan dulu hatinya sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi.


"Ra, seperti nya aku harus menyelesaikan sesuatu!"


Bisik Shofi pada Amira, Amira tahu apa maksud Shofi.


"Pergilah, semoga itu yang terbaik buat kalian!"


Semangat Amira dengan dada yang menahan sesak. Entah kenapa Amira merasakan sesak di dadanya. Padahal Fatih yang akan di tinggalkan. Sungguh, kisah mereka benar-benar tak seindah yang dibayangkan.


Namun, pada kenyataannya Amira merasakan sesak sendari tadi ia tahan ketika Amira melihat Alam selalu bersama seorang wanita yang Amira sendiri tak tahu.


Andai saja Amira gila, tentu dari tadi Amira sudah menyingkirkan wanita gatal yang selalu menempel dengan Alam. Namun, Amira masih waras hingga ia hanya bisa menahan amarahnya.


"Aku pergi!"


Ucap Shofi langsung berjalan pergi menuju pintu keluar hotel.


Shofi mencoba berjalan santai dengan kepalan tangan yang semakin menguat. Karena Shofi tahu, Fatih sendari tadi mengikutinya dari belakang.


Fatih terus mengikuti langkah Shofi tanpa bersua. Fatih hanya ingin tahu sejauh mana Shofi akan terus menghindar.


Hingga Shofi menghentikan langkahnya tepat di taman hotel. Shofi mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya nya. Berharap debaran jantungnya kembali normal. Namun, bukannya normal jantung Shofi malah semakin terpacu hebat ketika sebuah langkah kaki semakin mendekat.


Hingga langkah itu berhenti tepat di belakang Shofi.


"Kenapa?"


Satu pertanyaan meluncur cepat di bibir Fatih dengan gaya coll nya. Kedua tangan Fatih, ia masukkan ke dalam saku celana nya dan berusaha tetap memasang wajah datar.


Seketika Shofi langsung berbalik tepat menghadap Fatih. Shofi menatap Fatih dari ujung rambut sampai ujung Kaki. Hari ini Fatih terlihat gagah dengan stail yang dia pakai. Shofi sangat menyukainya.


"Kamu terlihat tampan!"


"Jangan bercanda, Philo!"


"Sepertinya kamu baik-baik saja, aku bersyukur akan hal itu!"


"Di sini sakit!"


"Maaf!"


Shofi menunduk dengan mata berkaca-kaca, entah harus seperti apa menghadapinya. Bahkan Shofi tak berani menatap wajah Fatih lagi.


Fatih maju satu langkah hingga tepat di hadapan Shofi.


"Jangan menangis!"


"Aku sudah menyakiti mu!"


"Kita sama-sama sakit!"


Fatih dengan penuh kasih sayang menghapus air mata Shofi. Bahkan makeup Shofi menjadi berantakan.


"Bolehkan gue meminta satu permintaan?"


Mohon Fatih dengan tatapan sendu, membuat Shofi mengangguk saja.


"Gue ingin jalan-jalan bersama loe, sebelum loe benar-benar pergi!"

__ADS_1


"Baiklah,"


"Tanpa bodyguard!"


Shofi terdiam, apa dia harus menyuruh bodyguard pergi atau tidak. Karena gak mungkin Shofi menyuruh mereka pergi. Karena di suruh pun para bodyguard akan tetap mengikuti. Karena hanya pada Davit lah mereka tunduk.


"Hanya kak Davit yang mereka patuhi!"


Bingung Shofi, karena memang Davit lah yang mereka patuhi.


"Apa gue harus minta izin sama kak Davit?"


"Jangan, biar aku saja!"


Cegah Shofi, lebih baik ia sendiri yang bicara pada sang kakak. Malu jika Fatih yang minta izin.


Namun, sebelum Shofi menelepon Davit, ponsel Shofi berbunyi terlebih dahulu. Terlihat Davit yang menelepon.


"Pergilah, kakak percaya!"


Shofi terdiam mendengar kakaknya bicara, Davit seolah tahu apa yang sedang Shofi inginkan.


"Kak,"


"Bodyguard kakak yang kasih tahu. Pergilah, kakak tahu kalian masih butuh waktu. Tapi, ingat! jangan terlalu malam pulangnya!"


Sesudah mengatakan itu Davit langsung mematikan telepon nya tanpa membiarkan Shofi bicara lagi.


Shofi menghembuskan nafas berat sambil menatap Fatih.


"Ayo!"


Deg ...


Fatih terkejut ketika tangannya di gandeng Shofi. Biasanya dia lah yang menggandeng tangan Shofi. Tapi, kini Shofi yang menggandeng tangannya. Sungguh, ini momen langka yang pernah Fatih dapatkan.


Fatih terus menatap Shofi yang menggandeng tangannya. Dia yang mengajak kenapa jadi malah Shofi yang membawa ia pergi.


Ucap Shofi membuka pintu dan mendorong Fatih masuk.


Fatih menurut saja, ia masuk membiarkan Shofi yang menyetir. Fatih tersenyum tipis melihat Shofi mengendarai mobil. Baru kali ini Fatih di bawa oleh seorang cewe.


Shofi menghentikan mobilnya tepat di sebuah taman kota. Shofi keluar tanpa memperdulikan Fatih.


Fatih pun ikut keluar, mengikuti kemana langkah Shofi pergi. Hingga Fatih menghentikan langkahnya tepat di samping Shofi yang sedang duduk. Fatih ikut duduk di sebelah Shofi.


Suasana taman nampak hening, mungkin karena sudah malam. Walau ada satu atau dua orang yang masih lalu lalang.


Lama mereka terdiam, tak ada yang mau membuka suara terlebih dahulu. Hanya helaan nafas kasar yang terdengar dari keduanya.


Deg ...


Shofi terkejut ketika Fatih menggenggam tangan nya. Lalu Fatih menarik kepala Shofi untuk bersandar di pundaknya.


"Tangan loe dingin!"


"Hm,"


"Jam berapa berangkat?"


"Sepuluh!"


"Bisakah kamu jangan mengantar ke bandara!"


Mohon Shofi menatap Fatih, begitu pun Fatih menunduk menatap Shofi.


"Padahal gue ingin!"

__ADS_1


"Aku hanya takut, sulit untuk pergi!"


"Menetap saja!"


"Itu tidak mungkin aku lakukan!"


"Kenapa seperti ini!"


"Aku tidak tahu hiks ..,"


Fatih menarik Shofi ke dalam pelukannya. Ini yang Shofi benci, kenapa ia malah menangis.


Ketika mereka sudah mengungkap perasaan masing-masing, saling mencintai. Namun, nyatanya takdir tak berpihak pada mereka.


"Philo!"


"Hm,"


"Gue sayang loe!"


"Aku tahu!"


"Bisakah loe jaga hati loe untuk tak berpaling dari gue, walau di luar sana nanti banyak cowo yang lebih dari gue!"


"Akan ku coba!"


"Harus! loe punya gue! gue gak ngizinin loe untuk jatuh cinta lagi selain ke gue!"


"Hiks .., kamu egois. Tak bisakah kamu benar-benar melepas ku!"


"Tidak!"


Shofi semakin menangis sambil mengeratkan pelukannya. Seolah ini adalah pelukan terakhir yang dapat Shofi lakukan.


Loe harus tetap mencintai gue sampai kapan pun. Di hati loe, pikiran loe, harus ada nama gue bukan yang lain. Maaf jika gue egois, tapi entah kenapa, gue merasa kalau gue yang akan melupakan loe!


Jerit batin Fatih merasakan sesak di dadanya.


Fatih dan Shofi saling berpelukan seolah sulit bagi keduanya melepaskan satu sama lain. Hingga tangisan Shofi mereda.


"Fatih!"


Panggil Shofi sambil melerai pelukannya walau Fatih tak ingin.


"Terimakasih sudah sayang ke aku!"


Shofi menangkup wajah tampan Fatih, seolah Shofi ingin melukis wajah Fatih di ingatannya. Karena Shofi tak tahu, selama apa mereka berpisah.


Cup ...


Shofi mengecup kening Fatih dengan lembut sangat sangat lembut hingga membuat Fatih memejamkan kedua matanya. Meresapi rasa hangat menjalar ke hatinya.


"Aku sayang kamu, terimakasih sudah mengenalkan aku pada cinta mu. Namun, kisah kita sampai di sini!"


"Aku pergi!"


Fatih menahan tangan Shofi yang akan pergi, rasanya berat bagi Fatih untuk melepaskan.


"Di sini!"


Fatih membawa tangan Shofi ke dadanya.


"Kamu adalah sunset yang akan selalu aku rindukan!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


Kisah Amira dan Alam nih Reader!!!



__ADS_2