
Dengan mata berkaca-kaca Shofi menatap kalung yang ada di lengan Davit. Shofi tahu, kalung siapa itu.
Itu adalah kalung yang selalu sang Mommy pakai. Bagaimana bisa dapat memiliki kalung sang mommy.
Saking bahagianya Shofi karena bisa memiliki barang sang Mommy. Shofi langsung berbalik ketika Davit menawarinya memakai kan kalung berlian itu.
Deg ...
Shofi terpaku melihat siapa yang sedang berdiri di ujung sana. Mata mereka saling tatap, dengan tatapan berbeda dari keduanya.
Sudah tiga hari ini Shofi tak melihatnya, namun sekarang ia bisa melihat Fatih di ujung sana. Namun, kenapa Fatih tak menemuinya. Apa Fatih marah atau apa, Shofi tidak bisa mengartikan tatapan Fatih.
Dengan cepat Fatih memutus kontak matanya, lalu berbalik dengan tangan mengepal erat.
Shofi menautkan kedua alisnya bingung kenapa Fatih malah berbalik. Hingga Shofi terkejut ketika Fatih berjalan menjauh darinya.
"Fatih!"
Panggil Shofi mengejar langkah Fatih membuat Davit terkejut akan apa yang di lakukan Shofi. Untung saja kalungnya sudah terpasang di leher Shofi kalau tidak maka kalung itu yakin akan patah karena Shofi berlari begitu saja.
Shofi terus berlari mengejar langkah Fatih yang malah pergi. Harusnya hubungan mereka baik. Shofi tidak mau ketika dia pergi masih menyimpan dendam atau apalah. Shofi ingin menyelesaikannya sebelum pergi itu lebih baik dari pada Shofi harus pergi tanpa pamit.
Shofi terus mengejar langkah Fatih yang lebar membuat Shofi sudah beberapa kali bertubrukan dengan orang-orang membuat tekanan ke luka Shofi membuat Shofi sesekali meringis.
"Fatih tunggu!"
Teriak Shofi ketika Fatih malah mempercepat langkahnya membuat Shofi terus berlari hingga tak memerhatikan jalan.
Bruk ...
Shofi terjatuh ketika menabrak seorang perawat yang sedang membawa setumpuk berkas. Hingga berkas-berkas itu berhamburan.
Tekanan dari jatuhnya Shofi membuat gesekan ke luka Shofi hingga membuat Shofi refleks memegang punggungnya yang kembali sakit.
Fatih menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tubrukan. Lalu berbalik, Fatih tak mendapati Shofi mengejarnya. Namun ada beberapa orang yang berkerumun membantu membereskan berkas yang berserakan dan membantu seseorang berdiri.
Karena tak melihat Shofi lagi mengejar ya Fatih memutuskan pergi saja.
Akhh ...
Deg ...
Fatih kembali menghentikan langkah ke duanya ketika mendengar jeritan orang yang begitu Fatih kenali.
"Nak, kamu gak apa?"
Tanya bapak-bapak paruh baya yang membantu Shofi berdiri. Pantas saja Fatih tak melihat Shofi karena tubuh kecil Shofi terhalang oleh bapak-bapak yang membantu Shofi.
"Gak apa pak, terimakasih!"
Ucap Shofi tulus, tak ada yang memarahi Shofi walau Shofi salah sudah menubruk sang perawat sampai berkas-berkas nya berhamburan karena Shofi sedang menggunakan baju pasien. Yang Ada malah Shofi di perhatikan dan di bantu.
Shofi meyakinkan orang-orang yang membantunya begitupun perawat yang Shofi tabrak kalau dia baik-baik saja.
Shofi membungkuk sambil memegang pundaknya yang terasa ngilu.
Shofi kembali berjalan, namun luka di punggungnya sangat nyeri membuat Shofi lemas tak berdaya.
Grep ...
Sebuah tangan kokoh menahan bahu Shofi agar tidak jatuh. Shofi mendongka demi melihat siapa yang menahannya.
"Dasar ceroboh!"
Ketus Fatih menatap Shofi tajam, Shofi hanya diam saja melihat Fatih yang mengomel. Shofi berusaha menikmati wajah Fatih dengan segala omelannya. Karena mungkin ini juga akan selalu Shofi kenang.
__ADS_1
"Ayo kembali ke ruang rawat mu!"
Cetus Fatih membawa Shofi kembali ke ruangan Shofi.
Davit dan Angel yang melihat Fatih memutuskan menjauh. Mungkin mereka berdua butuh ruang dan waktu bercakap.
Dengan telaten Fatih mengiring Shofi duduk di atas brankar. Lalu memanggil dokter untuk memeriksa kembali luka Shofi.
"Lukanya kembali berdarah, tolong nona jangan terlalu banyak bergerak. Di takutkan malah mengalami pembengkakan dan semakin lama sembuhnya!"
Jelas dokter sambil membantu Shofi mengganti perban. Sudah selesai memeriksa, mengganti perban dan menceramahi Shofi sang dokter kembali keluar.
Menyisakan Fatih dan Shofi berdua. Fatih menatap tajam Shofi yang malah membahayakan dirinya sendiri.
Fatih jadi di buat kesal, marah dan cemas berkumpul menjadi satu.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Tak ...
Fatih mentoyor kening Shofi membuat Shofi mengaduh.
"Kenapa mentoyor keningku, sakit tahu!"
"Kenapa loe bertanya, harusnya pertanyaan itu gue yang tanyakan ke loe!"
"He ... he ... iya juga ya!"
Kekeh Shofi berusaha mencairkan suasana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Tanya Fatih kemudian membuat Shofi langsung menghentikan kekeh an nya.
"Syukurlah!"
"Kenapa malah pergi?"
"Gak, gue gak pergi. Tadi hanya terburu-buru!"
"Terburu-buru mau menghindar!"
Fatih terdiam karena memang benar apa yang di katakan Shofi. Ia pergi karena ingin menghindar.
Sejak awal seharunya memang Fatih tak pergi ke rumah sakit. Karena sama saja Fatih masuk kedalam ruang yang akan menyakitkan baginya. Fatih malah nekat dan sepertinya Fatih harus siap akan apa pun yang Shofi putuskan.
"Iya, karena sepertinya kehadiran ku tak di perlukan!"
"Siapa bilang!"
Ucap Shofi cepat membuat jantung Fatih berdebar tak karuan. Fatih menatap Shofi intens sangat intens sehingga Fatih tak mau memutus tatapannya.
"Dari kemaren aku menunggu kamu,"
Ucap Shofi lagi membuat Fatih jadi salah tingkah. Benarkah Shofi menunggu ke hadirannya. Apa Shofi mulai menerima dirinya.
"Untuk berterimakasih! terimakasih sudah mempertaruhkan nyawa kamu demi menolong aku!"
Deg ....
Fatih terdiam dengan dada yang sangat sesak. Ketika Shofi sudah membuat ia terbang tinggi lalu Shofi jatuhkan kembali dengan ucapannya.
Harusnya sejak awal Fatih sadar, bahwa Shofi tak mencintainya. Harusnya dari awal Fatih sadar, bahwa dia gak boleh pergi menemui Shofi.
Harus nya Fatih sadar akan hal itu, Shofi pasti hanya ingin mengucapkan terimakasih bukan ada hal lain.
__ADS_1
Kenapa rasanya sesakit ini!
Jika begini apa yang harus Fatih lakukan. Bagaimana cara menyembuhkannya.
"Mari berteman, semoga kita bisa berteman dengan baik!"
"Apa loe tak merindukan gue?"
"Fatih!"
"Gue sayang loe!"
Shofi terdiam, inilah pembahasan yang selalu ingin Shofi hindari, Shofi tak suka.
Tak bisakah Fatih membuat suasana ini begitu hangat, jangan ada kecanggungan yang membuat Shofi tak nyaman.
"Gue sayang loe!"
"Jangan melewati batas!"
"Kenapa?"
"Aku tak menyukai mu!"
"Bohong! gue tahu loe juga sayang kan sama gue!"
"Aku hanya menganggap kamu musuhku lalu berubah jadi teman bukan pasangan!"
Fatih terdiam dengan tangan mengepal erat, sangat sakit namun tak berdarah.
Inilah resiko yang harus Fatih hadapi. Sang papa sudah memperingati Fatih, namun nyatanya Fatih tak mendengarkan ucapan sang papa.
"Gue tahu loe bohong kan!"
"Ngapain berbohong, bukankah aku bukan tipe mu! dan kamu pun bukan tipeku!"
Dam ...
Hati Fatih semakin di remas-remas, sangat sangat sakit dan sesak. Seperti ada begitu banyak batu besar menghempit dadanya.
Kenapa sesakit ini jatuh cinta, bahkan sebelum terbang sudah kembali Shofi jatuhkan. Apa tidak ada setitik rasa yang Shofi rasakan. Apa Shofi tak merasakan begitu serius nya apa yang Fatih ucapkan.
"Loe, menyakiti gue!"
"Maaf!"
Sesal Shofi, namun itu harus Shofi lakukan. Karena sampai kapanpun mereka tak bisa bersama.
"Ternyata loe lebih kejam dari pada yang gue bayangkan!"
"Aku harus lakukan, agar kamu tak terlalu sakit jauh lebih besar dari pada ini!"
"Namun nyatanya, gue sudah sekarat!"
"Tak bisakah kita menjadi teman saja!"
"Tak bisakah kita menjadi pasangan!"
Shofi terdiam, hingga suasana menjadi hening dan canggung.
Kenapa semuanya jadi seperti ini, kenapa Fatih bisa selemah ini.
Bersambung ...
Jangan lupa, Like Hadiah komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1