
Shofi masih terpaku di tempat melihat siapa orang yang menolongnya. Bahkan Shofi tak bisa berkata-kata melihat perkelahian di depan matanya.
Bugh ...
"Kenapa kau diam, hah. Kalau tak bisa melawan lebih baik menjauh!"
Bentak Fatih ketika anak Rebel akan menyerang Shofi. Hingga membuat Shofi tersadar.
Fatih menarik Shofi ketika anak Rebel menyerang dari belakang. Hingga Shofi dan Fatih saling membelakangi.
Sepertinya hari ini hari mereka bekerja sama bukan berdebat. Terbukti Shofi kembali melawan dengan Fatih. Walau Shofi sesekali harus merasa sakit karena Fatih terus menganggap dirinya lemah.
Shofi tak terima, hingga Shofi seakan mendapat kekuatan baru menghajar anak-anak Rebel. Karena luapan amarah yang Fatih ciptakan.
"Oh sitt,"
Geram Axel ketika mendapat pukulan dari Shofi cukup keras bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Ini belum usai, akan gue balas perbuatan kalian!"
Tak tahu malunya Axel berkata seperti itu. Ternyata Axel terlalu sombong meremehkan kekuatan lawan. Ternyata gadis cupu itu terlihat mengerikan jika sedang marah.
Axel dan teman-teman pergi ketika mereka melihat situasi tak baik bagi mereka. Apalagi kekuatan Fatih sangat hebat dalam keadaan baik-baik saja.
"Dasar pengecut kalian!"
Teriak Shofi geram melempar batu pada anak-anak Rebel yang kabur.
"Loe terlalu lemah menghadapi mereka!"
"Diam!"
"Cih,"
Fatih berdecak melihat luapan amarah Shofi yang masih berkobar.
Awalnya Fatih keluar ingin menuju markas Black Ghost dimana teman-teman sudah menunggu di sana. Kebetulan jalan yang Fatih lewati jalan dimana Shofi berada.
Dari tadi memang Fatih sudah menyaksikan bagaimana cara Shofi bertarung. Fatih enggan membantunya, Fatih hanya jadi penonton saja. Tapi melihat Shofi terdesak membuat Fatih mau tak mau harus membantu.
"Ikut gue!"
"Lepas!"
Sentak Shofi menatap tajam pada Fatih, membuat cengkraman lengan Fatih terlepas. Fatih menatap tajam balik pada Shofi.
"Ini cara loe berterimakasih pada gue!"
"Cih, aku tak menyuruhmu membantuku!"
Krek ..
Fatih menggertakkan gigi-giginya menatap tajam pada Shofi.
"Ikut!"
Ucap Fatih tegas menarik lengan Shofi hingga membuat Shofi terhuyung. Shofi berusaha memberontak namun tenaga Fatih sangat kuat.
__ADS_1
"Duduk"
Tekan Fatih menahan kedua bahu Shofi yang akan beranjak.
"Mau apa, aku harus pergi!"
"Menurut atau gue melakukan hal lebih!"
Ancam Fatih dan itu berhasil membuat Shofi diam. Fatih mengeluarkan satu tangannya lalu Fatih basahi oleh air yang Fatih beli untuk di bawa ke markas.
"Mau apa!"
Refleks Shofi memundurkan kepalanya ketika Fatih mendekat. Shofi terus memundurkan ketika lagi-lagi malah mendekat. Hingga membuat Fatih kesal dengan apa yang Shofi lakukan.
Fatih menahan tengkuk Shofi agar tak mundur lagi.
"Diam!"
Deg ...
Shofi terpaku ketika Fatih mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Ada rasa aneh yang berusaha menyelinap di hati Shofi. Bahkan ketika tangan hangat Fatih tak sengaja menyentuh pipinya.
Fatih, yang merasa sudah selesai membersihkan luka Shofi langsung mundur dan beranjak dari duduknya.
"Jadilah kuat jangan lemah, jika kau tak mau di tindas!"
"Dan ingat! besok loe harus menepati janji loe buat jadi budak gue!"
Shofi yang merasa senang karena Fatih tidak lagi ketus, namun rasa senang itu seakan di jatuhkan ketika Fatih melanjutkan ucapannya. Tapi dengan sekuat tenaga Shofi berusaha menahan amarahnya ketika matanya tak sengaja menatap lengan Fatih yang berdarah.
Fatih menghentikan langkahnya ketika Shofi memanggilnya dengan suara berbeda. Fatih berbalik.
Deg ...
Fatih terkejut ketika Shofi meraih tangannya lalu menempelkan sesuatu.
"Terimakasih!"
"Hm,"
Fatih hanya berdehem saja lalu meninggalkan Shofi seorang diri tanpa niat mengantarnya.
Fatih menyunggingkan senyum tipis sangat tipis melihat sebuah plaster berwarna pink menghiasi punggung tangannya.
"Dari sekian banyak aku membaca karakter orang. Namun, kamu satu orang yang tak bisa aku mengerti. Kadang kamu baik, kadang ngeselin, kadang kau buat aku marah sampai aku berkata benci sangat membencimu. Setiap hari aku menemukan hal baru dari karaktermu, namun terlalu sulit aku pecahkan, Kamu tidak seperti namaku Filosofi Alin, tapi kamu filosofi lain yang masih belum aku pecahkan!"
Gumam Shofi menatap kepergian Fatih dengan tatapan entah.
Apa Shofi harus mendikte kebencian pada Fatih hingga membuat dirinya bangkit. Shofi merasa seperti mempunyai kekuatan jika di dekat Fatih. Kekuatan yang membuat Shofi nampak berbeda. Ketika Fatih terus memancingnya. Namun, ketika kekuatan itu datang membuat Shofi malah semakin membenci. Tapi, ada rasa lain yang tak Shofi mengerti, hadir tanpa ia sadari.
"Dek!"
Seketika lamunan Shofi buyar mendengar suara panggilan yang Shofi kenal siapa pemiliknya.
"Dari tadi kakak panggil-panggil, kenapa, apa yang terjadi?"
Tanya Davit yang memang dari tadi dia sudah kembali ke tempat di mana mobilnya berada. Namun, Davit tak menemukan Shofi, hingga Davit putuskan menyusul ke arah taman.
__ADS_1
Lama Davit mencari tak menemukan Shofi. Hingga Davit bertanya pada beberapa orang. Apakah ada yang melihat Shofi atau enggak karena Davit terlalu panik Jika Shofi di temukan oleh orang-orang pembunuh bayaran itu.
Tapi, Untung saja ada satpam yang melihat Shofi dan memberi tahu Davit bahwa Shofi berlari kearah jalan sana sambil mengejar angkut.
Tanpa pikir panjang Davit segera berlari mencari Shofi. Davit menghela nafas lega ketika melihat Shofi sedang duduk di sebuah kursi sebrang jalan sana.
"Bibir kamu!"
Pekik Davit terkejut melihat bibir adiknya sedikit robek dan membengkak.
"Apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini!"
Marah Davit melihat Shofi terluka. Lagi-lagi Davit menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga adiknya.
"Ini hanya luka kecil kak, Shofi gak apa!"
"Luka kecil bagaimana, kamu terluka!'
"Sudah kak, Shofi gak apa!"
Ucap Shofi berusaha menenangkan kemarahan Davit.
Davit hanya menghela nafas berat lalu mengajak Shofi kembali. Karena waktu sudah mulai sore.
"Kak! Shofi mau latihan!"
Ucap Shofi tiba-tiba membuat Davit langsung menepikan mobilnya.
"Shofi akan belajar menghadapi mereka, Shofi gak mau waktu Shofi tinggal satu tahun tapi Shofi belum cukup kuat. Shofi putuskan akan latihan!"
"Serius!"
"Ya!"
"Bagus, kamu memang darah Damaresh!"
Lagi-lagi Davit mengatakan itu, memang siapa Damaresh. Shofi hanya tahu itu nama marga dari sang Daddy. Namun, Shofi belum tahu bagaimana sepak terjang sang Daddy selama ini.
Yang Shofi tahu, sang Daddy adalah Daddy terbaik di dunia ini. Sangat menyayanginya dan memanjakannya.
Tapi, setiap kali Davit mengatakan 'Darah Damaresh' membuat Shofi penasaran. Sebenarnya siapa Daddy nya itu. Kenapa terkesan sangat menakutkan dan kejam seperti seorang mafia saja.
Kali ini Shofi harus mencari tahu sendiri karena Shofi tahu sang kakak tidak akan mengatakannya.
Dari dulu yang Shofi tahu sang Daddy hanya seorang pengusaha kaya raya di negaranya. Dan sang mommy asli Indonesia, tepatnya dari Bali. Selain itu Shofi tak tahu.
Sesampainya di rumah, Shofi langsung masuk kamar. Shofi duduk di meja belajarnya lalu membuka laptop. Mencoba meretas data-data keluarganya dan semua tentang nya.
"Sial, kenapa sulit sekali mengetahui siapa Daddy sebenarnya!"
Kesal Shofi ketika tak bisa masuk pada sistem. Namun, seketika Shofi terdiam ketika mengingat sesuatu. Dulu sang Daddy memberitahu sebuah kode-kode rahasia yang dulu Shofi tak mengerti.
Shofi berusaha mengingat itu semua namun kepalanya malah pusing.
Bersambung ....
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ..
__ADS_1