Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 46 Kekesalan tingkat dewa


__ADS_3

Entah sudah berapa jam Fatih harus melerakan tubuhnya di cengkram oleh Shofi. Bahkan sudah Fatih pastikan tubuhnya akan remuk jika Shofi terus mencengkram ya. Bahkan cengkraman itu sangat dahsyat.


Entahlah, Fatih tidak tahu. Shofi sedikit lebih baik ketika hujan mulai reda dan suara Guntur dan kilat mulai tak terdengar lagi. Hanya suara Guntur yang masih terdengar namun tak mengejutkan tadi.


Bahkan cuaca mulai gelap membuat Fatih tak bisa melihat apa-apa. Sedang Shofi masih menangis di pelukannya.


Beberapa jam ketika hujan sudah reda lampu kembali menyala. Dan itu entah sudah jam berapa, tentunya suasana di luar mulai gelap.


Fatih pasrah saja membiarkan Shofi terus memeluknya menganggap kalau ia adalah Davit.


Perlahan tangisan Shofi mulai reda, Shofi memberanikan diri mengangkat kepalanya tepat ketika Fatih menunduk.


Deg ...


Sesaat mereka terdiam menatap ke dalam bola mata masing-masing. Menyelami apa yang di dalamnya. Begitupun dengan Fatih, seakan terseret arus kedalam bola mata kebiruan Shofi yang sudah memerah. Bahkan matanya bengkak dengan sisa-sisa cairan bening.


Entah ada apa dengan Fatih, tak biasanya Fatih merasakan getaran aneh di hatinya. Seakan Fatih menangkap sesuatu yang menyakitkan di diri Shofi. Tapi apa! Fatih belum menemukan jawabannya.


Ada kelenjar aneh yang menghantam dada Shofi ketika Fatih mengusap sisa air mata Shofi dengan lembut. Fatih benci tangisan, Fatih lebih baik melihat Shofi menentangnya dan marah-marah dari pada melihat tak berdaya seperti ini.


Tidak, jangan lakukan itu!


"Fatih!"


Lilir Shofi memberanikan diri karena tidak nyaman oleh tatapan Fatih yang berbeda. Shofi tak mau tatapan itu, walau Shofi sendiri tak tahu makna dari tatapan yang Fatih tunjukan sekarang. Yang Pasti membuat Shofi malah lemah. Shofi tidak mau, ia harus kuat.


"Kenapa, apa loe sudah lebih baik!"


Shofi semakin terlena oleh suara lembut Fatih, Shofi tak menginginkan itu. Yang Shofi inginkan Fatih marah-marah padanya.


"I-ya!"


Sial, Shofi jadi gugup sendiri membuat Fatih mengulum senyum. Rasanya Fatih ingin tertawa melihat wajah Shofi. Namun, Fatih tak melakukannya karena kapan lagi Fatih menikmati wajah Shofi dari dekat ini.


Cantik!


Satu kata keluar dari hati Fatih mengakui kalau Shofi sangat lah cantik. Apalagi ketika Shofi tak memakai kaca mata seperti ini. Bola mata kebiruan ya seakan menenggelamkan Fatih ke dalam rasa yang berbeda.


Dengan hiasan bulu mata lentik membuat mata itu semakin indah. Sesaat Fatih menikmati pemandangan indah di depannya.


"Fatih!"


Sekali lagi Shofi memanggil Fatih ketika Fatih malah mendekatkan wajahnya. Dan, sialnya Shofi tak bisa berpaling bahkan Shofi malah terpesona dengan wajah tampan Fatih yang terlihat menawan.


Cup ...


Rasanya jantung Shofi ingin lompat ketika sebuah benda kenyal menempel bukan di bibinya tapi di kelopak mata kanan Shofi.


Ya, entah setan dari mana Fatih mengecup kelopak mata kanan Shofi yang bengkak. Sangat lembut seakan Fatih tak mau menyakiti pemiliknya.


"Loe milik gue!"

__ADS_1


Bisik Fatih tepat di telinga Shofi membuat Shofi mengepalkan kedua tangannya erat. Ketika Fatih mengelus lembut rambut Shofi selayaknya Fatih mengelus rambut Aurora.


Fatih melepaskan pelukan Shofi lalu berdiri membuka jaketnya.


"Pakai!"


Ucap Fatih dingin sambil melempar jaketnya pada muka Shofi membuat Shofi tersadar.


Shofi mengepalkan kedua tangannya erat menatap tajam pada Fatih yang berbuat seenaknya pada dirinya.


Baru saja Fatih bersikap lembut tapi sekarang lihatlah. Fatih melempar jaketnya tepat di muka Shofi.


Shofi ingin marah, namun tertahan ketika Fatih menatapnya tajam.


"Pakai!"


Dengan kesal Shofi memakai jaket hangat Fatih. Shofi memang merasa kedinginan karena tak memakai jas.


"Bagus! gue suka anak penurut!"


"Kau!"


Shofi benar-benar di buat darah tinggi dengan ucapan Fatih. Lagi-lagi Shofi hanya bisa menggeram dengan tangan mengepal erat.


Fatih malah cuek saja dan berusaha mencari apapun untuk dia bisa keluar. Hingga Fatih menemukan jarum seperti buat menjahit luka robek.


Fatih menggunakan itu untuk membuka pintu, lama Fatih berusaha hingga akhirnya bisa ke buka.


Shofi menyusul Fatih setidaknya Shofi merasa lega karena tak bermalam di sekolah.


Alangkah terkejutnya Shofi melihat dunia begitu gelap. Sudah di pastikan entah jam berapa sekarang.


Tanpa sadar, Shofi terus mengikuti kemana pun Fatih melangkah. Apalagi suasana sekolah begitu menyeramkan. Sangat gelap, walaupun ada cahaya lampu, namun itu hanya sebagian di area tertentu saja.


Bahkan suasana malam ini terlihat di film horor Bangku kosong.


Sampai di mana mereka berada di parkiran yang sangat luas. Dengan cepat Fatih memanjat gerbang seakan Fatih memang sudah biasa.


Shofi hanya terpaku saja ketika Fatih manjat gerbang tak membantu ia sama sekali.


"Manusia purba!!!"


"Kenapa ninggalin aku!!!"


Teriak Shofi begitu marah, sudah habis kesabaran Shofi. Shofi benci Fatih sangat sangat membencinya.


Bagaimana bisa ada seorang manusia yang tega meninggalkan gadis cantik begitu saja. Bahkan Fatih tak memperdulikan teriakan Shofi.


Ini sungguh keterlaluan, Fatih benar-benar!


Shofi ingin rasanya menangis sejadi-jadinya tapi itu semua tak mengubah keadaan Fatih benar-benar meninggalkannya.

__ADS_1


"Mom dad,"


Lilir Shofi ketakutan, Shofi hanya seorang perempuan Ya tentu akan merasa takut jika terkurung di parkiran sendirian.


Bahkan dari tadi Shofi menarik nafas dalam-dalam.


"Kamu bisa Shofi, ingat ada mom di sini!"


Gumam Shofi menyemangati dirinya sendiri sambil mengelus dadanya.


Shofi perlahan manjat seperti apa yang Fatih lakukan. Untung Shofi bukan gadis cengeng yang malah akan meraung-raung karena ketakutan.


Sudah berhasil manjat dengan mudah, walau sedikit susah karena Shofi memakai rok. Kini Shofi sudah berada di luar.


Shofi berjalan menelusuri trotoar di bawah gelapnya malam. Bahkan jalan terasa basah oleh sisa-sisa hujan.


Rintikan hujan kecil pun masih ada, Untung Shofi tak membuang jaket Fatih walau Shofi ingin. Namun, jaket ini membantu menghangatkan tubuh Shofi.


Tak ada rasa takut di hati Shofi yang ada hanya rasa marah, dendam dan benci terhadap Fatih.


Shofi terus saja berjalan entah sudah berapa jauh. Bahkan tak ada tanda-tanda kendaraan lewat satu pun.


Tanpa Shofi sadari, sendari tadi Fatih mengikutinya dari belakang.


Ya, tadi Fatih terpaksa pergi duluan karena gugup dengan apa yang Fatih lakukan. Pasalnya Fatih tak pernah se lancang ini terhadap perempuan. Tapi, mata Shofi sudah berani menghipnotis dirinya.


Fatih hanya tak ingin Shofi mengetahui kegugupannya. Bahkan sebenarnya jantung Fatih ingin meledak.


Sebuah mobil dari kejauhan terlihat membuat silau mata Shofi. Apalagi Shofi tak memakai kaca mata. Entah kemana kaca mata Shofi, Shofi juga gak peduli.


"Non!"


Panggil salah satu bodyguard yang menjaga Shofi terkejut melihat nona muda mereka berjalan kaki. Sudah dari tadi mereka berkeliling mencari nona mudanya bahkan sampai Davit mengamuk mendengar Shofi belum pulang dan tak tahu keberadaannya.


Mereka sulit mencari Shofi karena keadaan cuaca tadi sangat menghambat pekerjaan mereka.


Sang bodyguard langsung keluar membawakan mantel tebal dan menyuruh Shofi masuk.


Fatih keluar dari tempat persembunyiannya ketika ketiga mobil itu pergi.


"Maaf!"


Satu kata keramat itu keluar dari bibir Fatih. Fatih minta maaf bukan karena meninggalkan Shofi sendirian. Namun karena merasa bersalah dengan apa yang sudah Fatih lakukan.


Fatih mencium kelopak mata Shofi!


Sungguh ini sesuatu yang begitu ajaib dan begitu aneh di baca.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2