Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 34 Mimpi


__ADS_3

Ingat! di dalam tubuh kamu mengalir darah Damaresh!


Shofi terus berpikir keras mengenai tentang kakak nya. Kenapa sang kakak selalu saja berkata seperti itu.


Bukankah di dalam tubuh kakaknya juga sama. Mengalir darah Damaresh.


Satu pertanyaan itu sulit Shofi tanyakan karena takut kakaknya marah.


Karena tak mau terlalu lelah berpikir Shofi memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang guna menanti mentari pagi.


Mungkin esok hari babak baru bagi Shofi di mana dia harus benar-benar berlatih seperti yang sang kakak ucapkan.


Namun, Shofi butuh seseorang untuk membantu memecahkan teka teki di pikirannya. Entah siapa yang harus Shofi minta bantuan. Sedang selama ini Shofi tak punya teman. Dulu Shofi SD di Jerman ketika SMP Shofi di Amerika lalu pindah ke Australia dan SMK di Indonesia tepatnya di Bali dan sekarang pindah ke Jakarta. Tak ada benar-benar yang Shofi anggap teman.


Amira dan Bunga!


Entahlah, mereka berdua memang baik, tapi apa Shofi mampu meminta bantuan pada kedua teman barunya ini yang belum genap satu bulan mereka berteman.


Karena tak mau ambil pusing Shofi memilih memejamkan kedua matanya. Menyelami mimpi indah.


"Philo?"


Panggil seorang wanita cantik sambil tersenyum ke arah putrinya. Senyuman itu begitu mempesona di hiasi lesung pipi di kedua sudut pipinya.


"Mom, mommy kah itu!"


Sahut Philo memastikan jika dia benar-benar melihat sang mommy. Sesudah memastikan jika benar itu sang mommy Philo langsung berhambur kedalam pelukan wanita yang sudah empat tahun ia rindukan.


"Mom, kemana saja selama ini. Philo kangen!"


Rengek Philo menuntut penjelasan pada sang mommy.


"Mommy sedang istirahat di tempat yang sangat indah!"


"Benarkah itu!"


"Ya, tempat itu benar-benar indah, bahkan Philo tak akan pernah bisa menemukannya!"


"Kenapa! apa mommy tak mau mengajak Philo?"


Ucap Philo dengan mata berkaca-kaca membuat sang mommy tersenyum sambil mengelus pipi anak gadisnya.


"Belum saatnya, karena masih banyak yang harus Philo lakukan!"


"Tapi Philo mau ikut mom, Philo gak mau berpisah sama mom!"


Rengek Philo sambil mengeratkan pelukannya pada sang Mommy seakan Philo takut di tinggalkan.


"Philo harus kuat!"


"Tidak mom!"


Rengek Philo memberontak ketika sang mommy melepaskan pelukannya. Bahkan sang mommy malah mundur menjauhinya.


"Mom jangan pergi!"


Teriak Philo berlari mengejar sang mommy yang tubuhnya mulai menghilang lalu muncul lagi dan hilang lagi.


"Ingat! disini mom akan selalu bersama Philo."

__ADS_1


"Mom, tidak!"


"Mom, mommy!!"


"Mommy!!"


Teriak Shofi bangun dari tidurnya. Dada Shofi naik turun dengan nafas yang sangat memburu. Shofi tanpa sadar menengok kanan kiri mencari keberadaan sang mommy. Namun, Shofi tak menemukannya.


"Mom,"


Lilir Shofi mulai terisak, Shofi pikir tadi bukan mimpi. Namun, nyatanya hanya fatamorgana.


Bagaimana mungkin mimpi itu terasa nyata, bahkan Shofi masih ingat jelas sang mommy memeluknya.


Perlahan Shofi memegang dadanya yang teramat sesak.


Ingat! disini mom akan selalu bersama Philo.


"Benarkah itu mom,"


Gumam Shofi menggigit bibir bawahnya. Sambil memegang dadanya kuat. Shofi bisa merasakan bahwa sang mommy memang selalu ada di hatinya.


Besarnya cinta seorang ibu akan selalu melekat di hati anak-anak nya. Bahkan walau sampai mereka sudah pergi. Tapi kehadiran, kasih sayang dan cintanya selalu ada, di hati mereka.


Halnya yang Shofi rasakan. Shofi merasa kan kehadiran sang mommy. Sekaan sang mommy selalu ada di dekatnya guna melindungi dirinya.


Ternyata mimpi itu terlalu manis untuk Shofi lupakan. Walau hanya sesaat, tapi bagi Shofi itu seakan nyata. Sang mommy memeluknya bahkan mencium keningnya.


Entah sudah berapa lama Shofi tertidur dan tenggelam dama mimpi indahnya. Walau pada akhirnya harus ada perpisahan.


Shofi melirik jam di layar ponselnya.


Gumam Shofi langsung beranjak dari atas ranjang. Shofi memilih untuk mandi karena Shofi harus segera menyiapkan sarapan.


Shofi sudah terbiasa melakukannya sendiri menyiapkan menu sarapan ya. Hari ini Shofi gak boleh telat lagi.


Walau semua anak sekolah pada tahu kalau Shofi jadi pemberani. Tapi, tak membuat Shofi merubah penampilannya. Shofi tetap berpenampilan culun pergi ke sekolah. Apalagi semalam sang kakak meminta Shofi berhati-hati karena besar kemungkinan orang-orang suruhan kakak tirinya akan menemukan mereka.


"Kak, mau kemana?"


Tanya Shofi ketika melihat Davit sudah berpakaian rapih.


"Kakak ada urusan, pakai terus kalung yang kakak kasih tadi malam!"


"Tapi, kakak belum sarapan!"


"Nanti saja,"


Davit langsung keluar di mana anak buahnya sudah menunggu.


Yang bisa saat ini Davit lakukan hanya mengelabui musuh agar jangan sampai mereka tahu keberadaan Shofi sebelum Shofi benar-benar siap menghadapi situasinya. Davit hanya tak ingin Shofi akan merasa trauma jika berhadapan langsung, sebelum Shofi benar-benar pulih dari trauma nya.


"Apa yang kau dapat kan?"


Tanya Davit pada anak buahnya di sebrang telepon.


"Mereka mulai menekan penasihat dan pengacara!"


"Awasi terus mereka, dan kalian harus terus menjaga ketat penasehat terutama pengacara keluarga Damaresh."

__ADS_1


"Siap tuan!"


"Namun ada yang harus tuan tahu?"


"Katakan!"


"Sepertinya dugaan tuan benar, bahwa Uncle nona terlibat dalam pembunuhan itu!"


Deg ....


Davit langsung meremas ponselnya dengan mata memerah. Entah apa yang terjadi pada Shofi jika mengetahui pakta ini. Bahwa orang yang begitu Shofi sayangi adalah orang yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.


"Awasi terus si bandot itu, jika ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi!"


Perintah Davit langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Davit memang mengirim mata-mata di perusahaan, dan mansion Damaresh. Walau Davit jauh, tapi Davit tetap bisa mengakses dari kejauhan karena Davit sudah memasang cctv di berbagai tempat.


Padahal bisa saja Davit membasmi hama-hama itu dengan mudah. Namun, Davit tidak melakukannya. Karena yang berhak melakukannya adalah Shofi. Davit hanya bisa memberi jalan saja pada Shofi. Dan, tentu supaya Shofi belajar dari situasi yang rumit supaya Shofi kelak menjadi wanita tangguh. Karena suatu saat nanti tanggung jawab Shofi begitu banyak.


Jadi, ketika suatu hari nanti Davit meninggalkan Shofi. Shofi sudah bisa kuat menerima berbagai macam situasi dan keadaan.


Dret ..


Ponsel Davit kembali berdering membuat Davit melihat siapa yang menelepon nya. Seketika senyum Davit terbentuk ketika tahu siapa yang meneleponnya.


"Iya, kenapa?"


" ......"


Deg ...


Tubuh Davit menegang dengan tatapan mata yang entah. Bahkan bibir Davit bergetar, entah siapa yang menelepon dan apa yang di sampaikan orang tersebut.


"Ti-tidak mungkin Shofi!"


Bantah Davit menggelengkan kepala kuat karena tidak percaya dengan apa yang adiknya katakan.


" .......,"


"Tunggu Shofi hallo ... hallo .. Shofi!!"


Teriak Davit ketika Shofi memutuskan sambungan teleponnya karena sudah sampai sekolah.


Davit menggelengkan kepala kuat menyangkal kabar dari Shofi barusan. Entah kabar apa yang Shofi berikan membuat Davit jadi tak berdaya. Bahkan tatapan Davit berkaca-kaca penuh dendam, amarah, kecewa dan juga kerinduan.


Tatapan penuh cinta itu kembali muncul dengan setitik harapan, benarkah!


Davit berharap apa yang Shofi katakan memang benar. Tiba-tiba jantung Davit kembali berdetak penuh kerinduan yang menggebu.


Sang bodyguard yang melihat tatapan kosong tuannya begitu heran. Ada apa yang terjadi.


Benarkah sayang, kamu masih hidup! kamu di sini, apa selama ini kamu baik-baik saja.


Jerit batin Davit meremas dadanya kuat, rindu itu begitu kuat.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2