Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 78 Tunggu Schwager, dek!


__ADS_3

Brak ...


"Bagaimana mungkin ini terjadi!"


Bentak Davit mendengar kabar dari salah satu anak buahnya bahwa Shofi tertangkap.


"Ini di luar kendali, mereka sudah tahu penyamaran Angel!"


"Sial!"


Akhhh ...


Teriak Davit meninju dinding. Sungguh amarahnya begitu menggebu. Kenapa dia bisa kecolongan sampai tidak tahu pergerakan Marsel. Kakek tua itu sungguh sangat licik.


"Kita serang dua rubah itu!"


"Tapi, Lord. Bukankah mereka cuma umpan!"


"Kita butuh dua manusia Bedebah itu!"


"Bagaimana dengan nona muda!"


"Dia akan baik-baik saja!"


Tegas Davit mengepalkan kedua tangannya. Pantas saja mereka tak ada pergerakan ketika sang pengacara berhasil mereka bebaskan. Ternyata Marsel sudah mengetahui keberadaan Shofi.


"Beri tahu, Lucky. Kita akan menyerang!"


"Baik Lord!"


Davit mengambil senjata andalannya. Dan sebuah belati warisan dari Daddy angkatnya.


Ya, kerajaan Mafia bawah Alexander turunkan pada Davit untuk memimpin di sana.


Dad, mom, Davit janji tak akan membiarkan Shofi terluka!


Batin Davit sudah siap dengan jubah kebesarannya. Tak lupa sarung tangan dan topi hitam yang selalu Davit pakai ketika dia beroperasi.


Mansion Damaresh terlihat nampak tenang. Ibu dan anak itu sedang bercengkrama ria. Mereka tidak tahu, bahwa bahaya akan datang.


Sungguh dua manusia yang begitu serakah dan tamak akan kekuasaan. Namun, siapa sangka dua manusia itu juga hanya di jadikan catur untuk memuluskan langkah Marsel.


Sebuah dendam masa lalu membuat Marsel gelap mata sampai tega menghabisi kakak nya sendiri.


Lucky yang sudah menyusup di Mansion Damaresh dan beberapa anak buahnya sudah bergerak melumpuhkan sebagian penjaga.


Mereka harus hati-hati karena Mansion Damaresh di jaga ketat bahkan di setiap sudut ada penjaga di sana.


Namun, Lucky yang sudah tahu ada lorong bawah tanah. Dia membuka jalan itu mempermudah langkah lord nya masuk.


Lucky sudah menunggu kedatangan Lord nya di sebuah hutan.


"Lord!"


Lucky membungkuk hormat ketika Davit datang. Davit hanya mengangguk saja dan masuk kedalam lorong itu.


Sungguh, sudah dua puluh dua tahun Davit hidup dengan sang Daddy namun baru kali ini Davit tahu bahwa ada ruang bawah tanah.

__ADS_1


Beberapa orang dengan pakaian lengkap masuk mengikuti Davit.


"Kepung semua wilayah, jangan sampai ada satu orangpun yang keluar!"


"Siap Lord!"


Davit masuk ke bagian dalam mansion Damaresh. Mansion yang sudah empat tahun lebih Davit tinggalkan. Tidak ada yang banyak berubah walau sebagian sudah ada yang di renovasi.


Dor .. dor ..


Suara tembakan membuat ibu dan anak itu terkejut. Bahkan Gresela sampai menjatuhkan makanan nya.


"Maaf, tuan muda Nyonya. Kita di serang!"


Lapor salah satu penjaga membuat Gresela melotot begitu dengan Step. Mereka tak menyangka bahwa akan ada penyerangan di mansion nya.


Gresela dan Stephen begitu panik karena mendapat serangan dadakan. Mereka di amankan oleh sang penjaga agar bisa keluar dari mansion. Mereka tak mau mati konyol di tangan Davit. Mereka tak menyangka bahwa Davit akan menyerang langsung mereka.


Namun, sayang Davit sudah dulu tiba di lantai atas membuat mereka mau tak mau terlibat tembak menembak. Sahutan pistol di mana-mana terdengar membuat Gresela nampak gemetar tak menyangka bahwa anak pungut itu bisa sekejam ini.


Dor ...


Akhhh ....


Gresela menjerit ketika anak buahnya tertembak tepat di depan matanya. Tinggal tersisa dua penjaga lagi, namun sayang mereka ke habisan peluruh. Begitupun dengan pistol Stephen.


Kesabaran Davit sudah habis, mereka yang menginginkan ini. Awalnya Davit menginginkan cara halus karena tak mau Shofi tahu kalau dia seorang mafia.


Namun, Marsel sudah bergerak satu langkah ternyata membuat Davit menggunakan cara ini. Davit tak perlu takut karena karena di Jerman wilayah kekuasaannya.


"Seret mereka berdua, masukan ke penjara bawah tanah!"


"Siap Lord!"


Stephen dan Gresela di seret paksa oleh anak buah Davit menuju mobil. Davit tidak akan pernah mengampuni perbuatan mereka.


Walau dua manusia ini di jadikan catur oleh Marsel. Davit yakin, Marsel masih membutuhkan dua manusia itu untuk merebut semua kekuasaan Damaresh.


Davit sibuk menelepon seseorang dengan wajah Sirius bahkan rahang nya mengeras.


Sesudah menelepon Davit memerintahkan Lucky untuk membereskan kekacauan ini dan menyuruh membuang mayat-mayat anak buah Gresela ke kandang buaya. Dan, sisanya mereka Tawan.


"Lord!"


Salah satu anak buah Davit memberikan tablet pada Davit. Davit menatap layar tabletnya. Belum ada pergerakan dari GPS di kalung yang Shofi pakai. Terakhir aktif di kediaman Amira.


Kenapa Shofi belum mengaktifkan GPS nya, ada apa dengan Shofi apa dia baik-baik saja.


Davit sangat khawatir sekali dengan keadaan Shofi. Namun, Davit yakin Farhan bisa melindungi adiknya.


Sekarang, ada dua nyawa yang harus Davit lindungi. Jika Angel sudah di curigai berarti Angel juga dalam bahaya.


Dengan cepat Davit menghubungi Angel namun tak di angkat. Davit terus menghubungi berkali-kali namun tetap saja tidak di angkat dan malah nomornya menjadi tak aktif.


Sial ...


Umpat Davit, kenapa nomor Angel malah tak aktif. Ada apa dengan wanita itu!

__ADS_1


Sedangkan orang yang sendari tadi Davit coba hubungi sedang menyusup ke sebuah villa di mana Shofi dan Fatih di sekap.


Ya, Fatih juga di bawa bersama Shofi atas perintah Marsel.


Marsel mendapat dua tawanan sekaligus. Dan, itu membuat Marsel senang.


"Lord memerintahkan anda, jangan bergerak!"


Peringat anak buah Davit yang bersama Angel. Namun, Angel tak mendengarkannya.


Angel tahu bagaimana kelicikan Marsel. Angel harus mengumpankan diri agar bisa mengecoh Marsel dan menunda tindakan Marsel pada Shofi.


Karena Angel tahu, Marsel memerlukan satu tanda tangan Shofi dan semuanya selesai. Sebelum itu terjadi Angel harus menyerang terlebih dahulu agar Marsel lengah.


"Nona!"


Kesal anak buah Davit karena Angel tak mendengarkan perintahnya.


Wanita itu sungguh berani masuk ke dalam kandang macan.


Davit menggeram marah mendengar Angel tak mendengarkan arahannya. Karena memang tadi Davit langsung menelepon anak buahnya yang Davit tugaskan melindungi Angel.


Anak buah Davit langsung memutus sambungan teleponnya karena harus mengejar Angel yang sudah melangkah jauh.


"Lindungi nona, jangan sampai terluka. Kita bisa habis sama Lord!"


Perintah anak buah Davit yang memegang kendali atas perlindungan Angel.


Anak buahnya mengangguk langsung mengikuti kemana kaki lincah Angel melangkah dan melompat.


Walau mereka sudah tahu kemampuan Angel. Namun, tetap saja misi ini berbahaya jika tidak dengan strategi.


Namun, mereka tidak tahu, bahwa Angel menggunakan strategi nya sendiri dengan otak cerdiknya.


Angel bersembunyi di salah satu semak-semak belakang Villa dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di mana di dalamnya ada lalat namun itu bukan lalat biasa.


Sebuah robot lalat yang sudah di rancang khusus dan di matanya terdapat cctv yang akan memantau suasana di dalam.


Angel perlahan menerbangkan lalat itu menggunakan remote.


"Ada enam penjaga di gerbang utama, lima samping kiri, lima samping kanan dan enam di pintu belakang,"


Ucap Angel melihat layar di hadapannya. Membuat anak buah Davit hanya memangut-mangut saja.


"Sial, ternyata Bedebah itu memberi penjagaan ketat di dalam Villa!"


Umpat Angel di mana ada beberapa orang yang menjaga ketat di dalam.


"Dapat,"


Ucap Angel lagi ketika memperlihatkan bahwa ada sebuah pintu yang di jaga oleh dua orang penjaga. Angel yakin, di dalam sana ada Shofi dan Fatih yang sedang di sekap.


Tunggu Schwager, dek!


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2