
Perlahan sepasang bulu mata mengerjap, menandakan sebentar lagi akan membuka kelopak matanya.
Rasa pusing, itulah yang pertama Fatih rasakan.
Fatih merasakan tubuhnya kaku bahkan tangan dan kakinya tak bisa di gerakan. Hingga Fatih sadar bahwa dirinya di ikat.
"Philo,"
Lilir Fatih melihat Shofi berada tak jauh di sampingnya yang belum sadar. Namun, seketika mata Fatih melebar melihat ada bom yang terpasang di tubuh Shofi.
"Philo!"
Panggil Fatih cukup keras namun, Shofi tak kunjung sadar. Dengan susah payah terpaksa Fatih harus berusaha mendekati Shofi.
Brak ..
Fatih terjatuh karena tak cukup ruang gerak dirinya untuk bergerak karena kedua kakinya juga di ikat.
"Emmz,"
Shofi bergumam merasa ada sesuatu yang terjatuh. Perlahan Shofi membuka kedua matanya.
Deg ...
Shofi terkejut ketika melihat Fatih tergeletak dengan tubuh di ikat. Dan, membuat Shofi lebih terkejut lagi melihat ada sebuah bom yang terpasang di tubuh Fatih.
"Fatih!"
"Syukurlah loe sudah sadar!"
Ucap Fatih ketika mendengar suara Shofi memanggil namanya.
"Kita harus cari cara agar kita bisa kabur dari sini sebelum bom ini di aktifkan!"
"Bagaimana caranya, tangan dan kaki ku juga di ikat?!"
"Jatuhkan tubuhmu tepat di hadapanku!"
Seru Fatih, karena itu jalan satu-satunya Fatih membuka tali ikat lengan Fatih dengan mulutnya.
Dor ...
Bruk ...
Shofi terkejut mendengar suara tembakan, berbarengan dengan ia terjatuh hampir saja menindih kepala Fatih kalau saja Fatih tidak segera menghindar.
"Kita tidak tahu, keadaan di luar seperti apa! kita harus segera pergi!"
Seru Fatih lagi mencoba bersikap tenang. Fatih sudah biasa berada dalam situasi seperti ini. Namun, tidak dengan Shofi yang kembali bergetar mendengar suara tembakan itu. Nyatanya, Shofi belum bisa mengendalikan trauma nya.
Dengan susah payah Fatih membuka tali ikat lengan Shofi walau Fatih harus merasakan sakit di bibir seksinya. Fatih harus cukup konsen membukanya agar segera cepat bisa menenangkan Shofi.
Berhasil!
Fatih berhasil membuka tali ikat lengan Shofi walau Fatih harus melerakan bibirnya berdarah akibat gesekan dari tali tersebut.
Dor ...
Akhh ...
__ADS_1
Suara tembakan kembali terdengar membuat Shofi menjerit.
"Philo, loe harus tenang. Kendalikan diri loe. Cepat buka tali yang mengikat kaki loe. Lalu bantu gue melepaskan tali ini!"
Shofi memejamkan kedua matanya erat berusaha menguasai rasa takutnya. Dengan gemetar Shofi membuka tali yang mengikat kakinya.
Shofi harus bisa, entah ada kekuatan dari mana Shofi dengan mudah kembali bisa menguasai rasa trauma nya. Dengan cepat Shofi menghampiri Fatih dan membuka tali yang mengikat lengan Fatih.
Dor ...
Satu peluruh menembus pintu ruang dimana Shofi di sekap. Hampir saja peluruh itu mengenai lengan Shofi jika tidak Fatih menarik Shofi ke dalam pelukannya.
"Jangan takut, ada gue di sini, jangan takut!"
Bisik Fatih mencoba menenangkan Shofi yang terlihat gemetar.
"Terimakasih!"
Ucap Shofi langsung melepaskan pelukan Fatih.
"Kita harus segera pergi dari sini!"
Ucap Fatih yang langsung di angguki oleh Shofi. Fatih memegang tangan Shofi erat seolah takut Shofi tertinggal. Fatih mencari celah bagian mana yang bisa membuat Fatih dan Shofi kabur.
Jalan jendela begitu buntu karena langsung bertemu genteng. Jika Fatih kabur dari sana maka. Fatih dan Shofi harus melewati genteng itu. Dan, tentu resikonya berbahaya bisa saja mereka terpeleset dan malah jatuh ke bawah. Namun, mereka tida ada cara lain selain melewati jalan itu. Karena tak mungkin bagi mereka lewat jalan pintu depan karena Fatih tidak tahu siapa yang adu tembak di luar sana. Tidak mungkin juga kalau anak buahnya.
Prang ...
Fatih terkejut ketika Shofi membanting kaca itu dengan kursi bekas mengikat mereka.
"Lama!"
Fatih membantu Shofi naik jendela, namun suara dobrakan pintu terdengar membuat Fatih dan Shofi terkejut.
Brak ...
Angel melihat siapa yang membuka pintu dengan kasar.
Dor ...
Dengan cepat Angel melompat dari atas tubuh Marsel ketika timah panas di arahkan padanya.
Namun, karena posisinya kurang menguntungkan membuat peluruh itu mengenai lengan kiri Angel.
Dor ...
Angel melompat sambil membidik lawan bersembunyi di bawah meja. Hingga Angel dan anak buah Marsel saling adu tembak hingga menghancurkan kamar Marsel.
Sedang satu anak buah Marsel membantu membuka tali yang mengikat lengan Marsel.
Ya, Tadi Angel berhasil mengelabui Marsel dengan cara liarnya. Hingga Marsel berhasil di ikat lengannya ke pembatas ranjang. Walau Angel melakukan itu dengan susah payah dan terjadi adu jotos.
Ketika berhasil mengunci kedua tangan Marsel dengan cepat Angel menindih tubuh Marsel dan mencekik lehernya. Namun, sialnya belum sempat Angel membunuh Marsel anak buah sialan Marsel masuk dan menggagalkan rencananya.
"Bunuh wanita sialan itu!"
Bentak Marsel menggebu sangat marah besar dengan apa yang sudah Angel lakukan. Berani sekali wanita sialan itu mengelabui Marsel walau pada kenyataannya Marsel hampir terbunuh akan pesona sialan Angel.
Krek ... krek ...
__ADS_1
Sial ...
Umpat Angel ketika pistol yang dia gunakan sudah kehabisan peluruh.
"Aku tak boleh mati!"
Gumam Angel mencari cara agar bisa lolos dari tembakan. Sedang ia sudah di kepung dan terjebak.
"Mati kau wanita sialan!"
Dor ...
Bruk ...
Sebuah tembakan mengenai anak buah Marsel hingga langsung ambruk.
"Turunkan senjata kalian, wilayah sudah di kepung!"
Ucap Komandan polisi dengan pakaian lengkap menodongkan senjata. Dan beberapa bawahannya masuk mengepung kamar Marsel.
Mau tak mau anak buah Marsel menurunkan senjatanya lalu mengangkat kedua tangannya. Begitupun dengan Marsel, mengangkat kedua tangannya karena tak mungkin bagi dia melawan. Situasinya sangat tak berpihak padanya.
Ternyata Angel cukup cerdik melibatkan polisi akan hal ini. Karena yakin, hukuman Marsel akan berat apalagi dia juga berurusan dengan keluarga Al-biru.
Marsel di amankan bersama beberapa anak buah Marsel.
Salah satu polisi menghampiri Angel yang bersembunyi dengan luka tembak di tangannya. Untung saja dengan cepat Angel menyembunyikan senjata yang ia gunakan. Agar terlihat Angel seperti korban dengan bukti luka tembak dan keadaan Angel yang kacau. Dan, itu akan semakin memberatkan hukuman Marsel.
Ternyata Marsel masuk kedalam jebakannya sendiri. Marsel lupa siapa yang dia hadapi.
"Kita bertemu lagi!"
Marsel menatap tajam laki-laki seumuran dengannya yang masih terlihat gagah dan berkarisma. Bahkan aura mafia masih melekat di dirinya.
"Kau selalu ikut campur urusanku!"
Bentak Marsel penuh dendam akan menyerang Farhan yang hanya tersenyum tipis dengan gaya coll nya.
Namun, Marsel segera di ringkus oleh dua polisi agar tak membahayakan.
"Bukan saya yang mencampuri urusan mu. Tapi, kau sudah berani menyakiti putra ku!"
"Ternyata penjara sepuluh tahun tak membuat mu jera. Kau malah semakin berbuat ulah sampai tega membunuh kakak kandungmu sendiri. Dan, sekarang kau mau menghabisi keponakan mu sendiri. Sungguh kejam!"
Deg .....
Shofi terkejut mendengar ucapan om Farhan, jadi om Farhan tahu semuanya, batin Shofi tercengang.
"Semua itu karena kau, kau yang sudah menghancurkan hidupku. Harusnya kau juga ikut mati dalam penerbangan lima tahun yang lalu!"
"Namun, asisten sialan itu menggagalkan rencana ku. Harusnya kau mati juga sebelum kematian Alexander!"
Dor ...
"Papa!"
Teriak Fatih terkejut ketika sebuah timah panas melayang kearah sang papa. Bahkan semua mata melotot tak percaya dengan kejadian yang begitu cepat.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...