
Fatih tercengang akan jawaban yang mengejutkan. Bahkan Fatih sampai diam menjadi patung dengan tatapan tak percaya.
Apa kah Fatih sedang bermimpi atau tidak. Bagaimana mungkin, Fatih seperti orang bodoh yang diam mematung tak berdaya.
"Hey ..,"
Teriak Rangga ketika Shofi keluar dan berjalan begitu saja melewati dirinya. Bahkan Shofi tak peduli dengan umpatan Rangga.
Cukup sudah bagi Shofi diam terus di tindas. Kini Shofi akan menunjukan siapa dirinya sebenarnya.
Gue gak lemah!
Batin Shofi geram karena tak terima Fatih terus mengatakannya lemah. Bahkan menghina dirinya jelek. Semua ini gara-gara sang kakak. Shofi menjadi bahan hinaan.
Shofi akan tunjukan dirinya yang lemah ini tak selemah yang di bayangkan.
Plak ...
"Wow, loe kenapa!"
Ucap Rangga memukul lengan Fatih yang terdiam. Seketika Fatih langsung sadar dari rasa keterkejutannya.
Fatih mencari Shofi namun tidak ada.
"Kemana si cupu!"
"Sudah pergi, apa yang terjadi?"
Tanya Rangga jadi bingung melihat tingkah Fatih yang aneh. Entah apa yang terjadi di antara Fatih dan Shofi.
Kirain cupu ternyata suhu!
Fatih tersenyum seringai ketika mengingat kilatan amarah di mata Shofi. Sepertinya Fatih mempunyai tantangan baru.
Namun, seketika senyuman itu lenyap ketika Fatih mengingat apa yang di ucapkan Shofi.
Kamu bukan kakak aku, jadi stop memerintah seenaknya, manusia purba.
Rahang Fatih mengeras dengan tangan mengepal erat.
Manusia purba!
Geram Fatih dalam hati sangat marah ketika Shofi mengatainya manusia purba. Fatih langsung berlari ke luar mengejar Shofi dan meninggalkan Rangga begitu saja dalam kebingungan.
"Woy, tunggu!"
Teriak Rangga mengejar Fatih dengan kesal. Bagaimana tidak kesal jika dia di tinggalkan sendiri.
Sedangkan Amira dan Bunga terus memberontak ketika Raja dan Moreo terus menghalangi jalannya.
Amira sangat khawatir dengan Shofi, takut Shofi di kerjain lagi sama Fatih. Apalagi tadi Amira melihat Fatih begitu marah pada Shofi.
"Shofi!"
__ADS_1
Panggil Amira melambaikan tangan ketika melihat Shofi muncul di gedung sebelah.
Raja dan Moreo langsung memberi jalan ketika Amira memanggil Shofi.
Tapi boong!
Amira dan Bunga langsung berlari menghindari Raja dan Moreo. Membuat kedua manusia itu mengupat satu sama lain.
"Sial kita di kerjain!"
Umpat Raja langsung menelepon Rangga, ingin tahu di mana mereka. Namun, Rangga tak mengangkat telepon Raja sama sekali karena Rangga sedang berlari mengejar Fatih.
Sedang Fatih sendiri mencari-cari Shofi, kemana gadis culun itu pergi.
Sedang yang di cari berada di ruang UKS, ya Shofi memilih masuk keruang itu karena kepalanya merasa pusing. Apalagi Shofi ingin menghindar dari Fatih. Shofi saat ini gak mau berdebat dengan manusia purba itu.
Ya, Sekarang Shofi menjuluki Fatih manusia purba. Di mana manusia purba berada Zaman Kuarter atau periode terakhir pada era Neozoikum.
Atau Fatih manusia penjajahan, di mana Fatih selalu saja menjajah orang-orang lemah.
Shofi melihat luka tangannya yang sudah di perban tadi oleh Fatih.
Fatih, adik sepupu ku! dia memang orangnya nyebelin, namun dia juga ... ah sudahlah,
Huh ...
Shofi menghela nafas berat ketika mengingat ucapan Amira. Yang waktu itu tidak di teruskan.
Baik!
"Cih, dasar lemah!"
"Kau memang lemah, harusnya loe itu melawan. Loe cuma boleh tunduk pada gue bukan orang lain"
"Loe sudah cupu, jelek, lemah lagi."
"Apa! gue gak akan macam-macam. Loe jelek, bukan serela gue!"
Hinaan demi hinaan terus terngiang di telinga Shofi membuat Shofi jadi geram.
"Gue gak lemah!"
"Gue juga gak jelek, awas saja kalau kau jatuh cinta padaku!"
Geram Shofi mengepalkan kedua tangannya. Shofi paling tidak suka di rendahkan tapi lagi-lagi sang kakak membuat Shofi berada di situasi seperti ini.
Ingin rasanya Shofi menangis meraung meratapi nasibnya. Namun, Shofi hanya bisa diam dalam rasa yang kosong.
Hiks ...
Luntur sudah pertahanan Shofi selama ini. Kenapa hidup nya menyedihkan seperti ini. Andai saja ke dua orang tuanya masih hidup Shofi pasti tidak akan pernah merasakan hidup sekelumit ini.
Hidupnya sekarang bagai pohon bengkok yang sulit di luruskan. Harus secara hati-hati untuk mengembalikan kehidupannya yang lurus.
__ADS_1
Walau pun tak akan sempurna dan nampak berbeda setidaknya Shofi tidak akan takut patah.
"Mom dad, Philo kangen!"
Lilir Shofi menggigit bibir bawahnya, nama itu sudah lama tak Shofi dengar lagi.
"Mom, kenapa nama aku Filosofi. Ini nama yang sangat menyebalkan. Bukankah kita hidup di jalan modern, bukan prasasti?"
"Cinta! karena kamu buah cinta mom sama dad."
"Cinta!"
"Iya! Filosofi Alin, nama kamu dad ambil dari bahasa Yunani. Philo artinya Cinta, Shofi artinya kebijakan atau kehidupan dan Alin artinya cahaya."
"Jadi sayang adalah Filosofi Alin mom, cinta antara dad sama mom dan kamu kehidupan yang membawa cahaya di hidup mom dan dad!"
"Jadi cinta mom sama dad pada sayang begitu besar. Hingga tak bisa di jelaskan oleh Filosofi cinta karena kamu Philo nya! Philo mom dan dad,"
"Hiks .. hiks ...,"
Shofi menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tak terdengar orang lain. Untung saja di UKS hanya ada Shofi sendirian. Apalagi jam sekarang sudah waktunya masuk kelas lagi.
Shofi tak bisa membendung rasa rindunya pada kedua orang tuanya mengingat waktu itu Shofi kecil mempertanyakan kenapa dirinya di beri nama Filosofi Alin, tidak Aurora, Alexis atau Isabella yang lebih keren.
Kebersamaan Shofi dan kedua orang tuanya begitu membekas di ingatan Shofi. Hingga semuanya di renggut ketika kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya.
Ketika itu Shofi sendiri baru berusia dua belas tahu. Kelas dua SMP, karena Shofi mempunyai IQ yang tinggi. Dan, kematian ke dua orang tua Shofi menjadi trauma tersendiri bagi dirinya.
Ini sudah empat tahun berlalu, dan empat tahun juga Shofi di sembunyikan hingga berpindah-pindah negara. Dan, Indonesia adalah negara Ke tiga Shofi bersembunyi.
Lama Shofi berlarut dalam kesedihannya, kini tangisan Shofi mulai berhenti.
Berkali-kali Shofi menarik nafas dalam dan menghembuskan ya perlahan. Shofi mencoba mengontrol emosi nya. Jangan sampai dia hilang kendali lagi.
"Ok, Shofi. Mereka sudah tahu kekuatan kamu. Jadi bersiaplah, ini awal perjalanan kamu menghadapi semuanya. Jangan takut, kamu gadis kuat sekuat cinta mom dan dad."
Monolog Shofi menyemangati dirinya sendiri sambil turun dari atas brankar. Karena jam sudah menunjukan waktunya pulang.
Shofi membenahi roknya, lalu kembali memakai jas besar Fatih. Saking besarnya sampai jas itu menelan tubuh Shofi.
"Besok saja gue kembalikan, toh jas ini sudah kotor!"
Gumam Shofi menghela nafas dalam, lalu Shofi keluar dari ruang UKS.
Suasana nampak sepi, karena anak-anak sudah pada pulang. Ada satu dua yang masih terlihat mungkin itu anak-anak OSIS. Dan, ada beberapa yang masih di parkiran, mungkin menunggu jemputan.
Shofi merogoh ponselnya yang ada di saku roknya. Lalu menghubungi sang supir.
"Wait, di jalan timur!"
Ucap Shofi lalu mematikan ponselnya lagi.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih ...