Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 74 Indah, Cantik dan Nyaman


__ADS_3

Semenjak hari itu! hari di mana kejadian di kamar Amira.


Shofi terdiam, terlalu banyak yang Shofi pikirkan.


Dan, sikap Fatih juga semakin hangat padanya. Bahkan kini giliran Fatih yang akan mengambilkan minuman dan makanan untuk Shofi. Bahkan Fatih akan menyuapi Shofi dengan lembut.


Ya, Shofi memang sudah kembali ke sekolah karena keadaannya sudah sehat. Walau Shofi sendiri belum terlalu bisa menulis karena jahitannya belum sembuh.


Tapi, lagi-lagi Fatih akan berbuat di luar kebiasaannya. Ya, Fatih akan menulis semua pelajaran yang tak bisa Shofi tulis. Dan, menyalin beberapa pelajaran yang tertinggal.


Alhasil hampir semua buku catatan Shofi ada tulisan Fatih semua.


Shofi tidak menyangka ternya tulisan Fatih sangat bagus. Bahkan sangat rapih di bandingkan tulisan Amira sendiri.


Terkadang Shofi menolak, namun bukan Fatih namanya jika tak bisa melakukannya. Bahkan Shofi juga di buat jengkel oleh Fatih.


Kedekatan Fatih dan Shofi membuat gempar satu sekolah. Namun ada yang kebakaran jenggot. Siapa lagi kalau bukan Amelia.


Amelia sangat kesal sekali melihat kemesraan Fatih dan Shofi. Ingin sekali Amelia melabrak Shofi, dan mengingatkan kalau Shofi gak pantas bersanding dengan Fatih.


Tapi, sialnya Amelia tak bisa mendekati Shofi karena pasti selalu ada Fatih. Walaupun tidak ada Fatih tapi masih ada ketika sahabat Fatih yang seolah sedang menjaga Shofi dari ancaman.


Padahal apa yang Amelia lihat tak seindah yang di bayangkan. Shofi malah kesal dengan tingkah Fatih. Bahkan rasanya Shofi ingin menendang Fatih dari hadapannya.


"Ayo pulang!"


Fatih tiba-tiba menarik lengan Shofi membuat Shofi kesal.


"Aku mau pulang sama Amira dan Bungan!"


"Loe pulang sama gue!"


"Ra, Bunga tolongin ..,"


Teriak Shofi karena tangannya terus di tarik oleh Fatih. Amira dan Bunga ingin membantu Shofi namun ketiga cecunguk itu menghalangi langkah mereka berdua.


"Isstt, apa-apa an sih, aku gak mau pulang bareng kamu!"


"Cepet naik!"


"Philo!"


Tekan Fatih membuat Shofi mendengus. Dengan cemberut Shofi naik membuat anak-anak yang berada di parkiran bersorak ria.


"Pegangan!"


"Gak mau, udah gini saja!"


"Nanti jatuh,"


"Biarin!"


Fatih dengan kesal langsung menarik tangan Shofi dan melingkarkan ya di perut Fatih. Shofi menarik kembali tangannya namun Fatih menahan nya kuat membuat Shofi pada akhirnya menyerah.

__ADS_1


Yang asalnya satu tangan melingkar kini jadi dua tangan. Shofi menyandarkan kepalanya di punggung kokoh Fatih sambil mempererat pelukannya.


Izinkan aku menikmati moments ini walau hanya sebentar. Aku pasti akan merindukannya.


Batin Shofi sambil memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin yang membelai wajahnya.


Amira benar, Shofi hanya bisa menikmati waktu kebersamaan dengan Fatih sebelum ia benar-benar pergi.


Walau pada akhirnya mereka hanya akan saling tersakiti.


Fatih menarik sudut bibirnya ketika Shofi mempererat pelukannya. Ya, Fatih tidak akan pernah menuntut Shofi membalas perasaannya. Cukup Shofi ada dan diam membiarkan dia memberikan rasa cinta itu.


Fatih yakin, suatu saat nanti Shofi akan membalas perasaannya.


Fatih tidak langsung mengajak Shofi pulang melainkan mengajak Shofi ke suatu tempat.


Danau Sunter Barat, adalah tujuan Fatih. Danau yang berada di daerah Jakarta Utara khusus daerah ibu kota Jakarta.


Menikmati sunset adalah kehausan Fatih. Fatih ingin mereka menghabiskan momen indah di sana. Walau hanya sekedar bercengkrama ria melupakan sejenak pertikaian-pertikaian kecil antara mereka.


Hari dan suasana yang sangat mendukung apalagi besok memang hari Minggu. Mungkin satu Minggu ke depan Fatih tidak akan leluasa mendekati Shofi karena ada ujian semester ganjil.


Namun, tak lupa sebelum ke Danau, Fatih mengajak Shofi mengganti baju dulu ke mall. Agar pakaian mereka tidak terlalu mencolok.


"Ngapain kita ke sini?"


"Menikmati sunset!"


Jawab datar Fatih, walaupun terlihat senang namun Fatih tetap saja memasang wajah datar.


"Kenapa kamu menyukai sunset?"


Tanya Shofi tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya. Shofi tetap menatap lurus ke danau di mana langit mulai berubah warna.


"Indah, cantik dan nyaman!"


"Walau keindahan itu tak bisa kamu lihat dan rasakan lama?"


"Ya, namun dia (sunset ) meninggalkan kenyamanan kenangan indah yang membekas."


"Buat apa! membuang-buang waktu mu!"


"Tak ada waktu yang terbuang. Bagi ku menunggu sunset adalah hal terindah, selagi gue bisa melihat. Karena gue gak tahu kapan lagi gue akan bisa memandangnya puas!"


"Apa kau tidak merasa sedih, ketika langit jingga ini mulai hilang tertelan kegelapan?"


"Sedih ada, namun gue yakin ada hari esok dimana dia akan datang kembali,"


"Bagaimana kalau hujan?"


Fatih langsung mengalihkan tatapannya pada wajah Shofi. Entah kenapa pembahasaan ini membuat Fatih tak nyaman. Fatih seakan merasakan sesuatu yang menyakitkan, tapi apa!


"Gue akan tetap menunggu sampai dia muncul kembali!"

__ADS_1


"Sia-sia!"


"Tak ada waktu yang sia-sia, jikapun terhalang hujan aku yakin dia hanya ingin bersembunyi sebentar dari tatapan kagum sang pemuja. Membiarkan sang pemuja merasakan rindu!"


"Apa loe berniat pergi?"


Fatih mengakhiri jawabannya dengan sebuah pertanyaan.


Deg ...


Shofi langsung menegang, karena tiba-tiba Fatih malah bertanya seperti itu. Namun, sebisa mungkin Shofi mengendalikan kegugupannya.


Shofi menyunggingkan senyum tipis sambil menatap Fatih yang kini sudah menatapnya datar.


"Pergi apa yang kamu maksud?"


Bukannya menjawab Shofi malah balik bertanya.


"Pergi meninggalkan gue tanpa kepastian!"


Shofi semakin melebarkan senyumnya dengan mata masih menatap wajah tampan Fatih.


"Kemana aku harus pergi, sedang tempatku pulang sudah terampas. Kenapa juga aku harus pergi jika tak akan ada yang menyambut ku datang. Kecuali aku akan merampas kembali semuanya!"


"Apa loe merindukan kedua orang tua loe?"


"Rindu, kata itu seperti ruang yang kosong bagiku. Tak ada makna sama sekali. Bukankah perindu hanya tersemat bagi orang yang tahu obatnya. Sedang aku, aku tak tahu obatnya!"


Kini Fatih yang dibuat terdiam, Shofi kembali mengalihkan lagi tatapannya pada Danau dengan tatapan kesakitan dan kebencian.


"Philo!"


"Dulu panggilan itu panggilan yang paling aku sukai. Mom and dad selalu memanggilku dengan kata itu. Sebuah panggilan menjadi kata penuh makna bagi mom and dad.


Philo, panggilan cinta untuk mom dari Daddy hingga hadirnya aku di antara mereka, buah cintanya mereka, Philo!"


Shofi menghentikan ucapannya lalu menatap Fatih dengan tatapan sulit di artikan.


"Kini panggilan itu panggilan yang ku benci!"


Ucap Shofi menggebu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Tak akan gue biarkan loe membenci diri loe sendiri. Izinkan gue untuk menjadi obat itu!"


Shofi tersenyum sinis mendengar ucapan serius Fatih. Tak semudah itu untuk Fatih menjadi obat. Karena bukan membuat Shofi sembuh namun malah semakin sakit.


Karena Shofi tak bisa memiliki obat itu, dia harus pergi meninggalkan nya.


Grep ...


Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya sebelum Shofi bicara yang aneh-aneh lagi. Fatih belum siap patah sebelum terbang.


"Gue tak tahu alasan loe menolak gue, gue cuma mohon diam saja tanpa perlu membalas. Itu sudah cukup bagi gue!"

__ADS_1


Deg ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2