Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 30 Mengingat


__ADS_3

"kakak di mana sih, kenapa belum pulang. Apa terjadi sesuatu!"


Kesal Shofi pada sang kakak yang baru sekarang sang kakak mengangkat teleponnya.


"Tidak, kakak masih ada urusan. Mungkin lusa kakak pulang,"


"Ingat dek! jangan keluar rumah di saat kakak belum pulang, sekolah dan jangan kemana-mana lagi,"


"Tidak bisa gitu kak, Shofi sudah janji sama teman Shofi mau ke mall!"


Protes Shofi kesal kenapa selalu saja di larang main ke mana-mana.


"Kakak bilang jangan ya jangan, jangan membantah. Tetap di rumah,"


Tegas Davit tak boleh di bantah membuat Shofi di sebrang sana menggerutu.


"Kakak matikan dulu, turuti perintah kakak!"


"Kakak ... kakak!!!"


Teriak Shofi ketika teleponnya langsung di matikan oleh Davit. Shofi menggeram kesal karena lagi-lagi dia tak boleh kemana-mana. Shofi melihat keluar jendela dan lantai bawah.


"Kakak!"


Geram Shofi tertahan melihat begitu banyak penjagaan. Bagaimana Shofi bisa kabur jika begini.


"Apa yang sebenarnya terjadi Kakak, apa anak sihir itu menemukan kita!"


Monolog Shofi menghela nafas berat karena jika sudah menyuruh penjagaan ketat itu artinya keberadaan Shofi sudah tercium.


"Baiklah kak, sekarang aku bukan anak kecil lagi yang tak tahu apa-apa yang selalu kakak lindungi. Tidak mungkin juga aku terus bersembunyi, aku akan menghadapinya. Di tubuhku mengalir darah Damaresh, yang kua!"


Monolog Shofi kembali masuk ke dalam kamarnya. Shofi membuka laptop lalu mengutak ngatiknya. Entah apa yang akan Shofi lakukan. Kini Shofi ingat semuanya, kenapa sang kakak selalu melindunginya. Karena dia sang ahli waris seluruh kekayaan Damaresh. Dan, Anak sihir itu berusaha melenyapkannya agar semua harta kekayaan Damaresh jatuh ke tangannya.


Shofi mengingat itu ketika fakta itu hampir Shofi lupakan. Karena pasca trauma akan kematian kedua orang tua Shofi. Shofi mengalami amnesia disosiatif adalah penyakit mental yang melibatkan kerusakan pada ingatan, kesadaran, identitas, sampai persepsi. Ketika kondisi ini terjadi, aktivitas pengidap akan terganggu.


Jenis amnesia ini memblokir informasi tertentu dari kejadian traumatis tersebut. Akhirnya, orang yang mengalaminya akan merasa "blank" dan sulit menemukan apa yang ingin ia ingat. Halnya seperti yang Shofi alami.


Namun perlahan ingatan itu kembali ketika Shofi melihat kejadian pengeroyokan Fatih waktu itu sampai mau di bunuh. Shofi memang tidak memberi tahu Davit karena ingatan itu masih samar. Namun, ingatan itu kembali semakin kuat dan Shofi sekarang tahu siapa dirinya sendiri.


Namun, satu yang Shofi tak mengerti. Kenapa seluruh aset Damaresh jatuh ke tangannya. Sedangkan Shofi masih mempunyai Davit. Harusnya yang berhak Davit, sebagai anak pertama.


Namun sayangnya Shofi tak tahu itu, kalau Davit bukan kakak kandungnya, melainkan kakak angkatnya. Karena kedua orang tua Shofi tidak memberi tahu akan hal itu.


Jika Shofi sedang sibuk mengumpulkan kepingan puzzle. Berbeda dengan Davit yang menghela nafas berkali-kali ketika Davit sudah mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Maafkan kakak, kakak harus melakukan ini. Hingga tiba waktunya kakak akan mengatakan semuanya. Apalagi ingatan kamu belum kembali!"


Lilir Davit meletakan ponselnya di atas naskah. Davit harus benar-benar mengerahkan ke kuatan nya. Karena orang-orang kakak tiri Shofi sudah berhasil menemukannya. Otomatis mereka akan dengan mudah menemukan Shofi.


Davit beranjak dari ranjang ingin melihat rumah siapa yang dia tempati.


"Sudah selesai!"


Davit menoleh ke asal sumber suara. Di mana ada empat anak muda yang masih menggunakan seragam SMA.


"Terimakasih kalian sudah menolong saya!"


Ucap Davit tulus sambil menundukkan kepalanya.


"Saya pikir yang menolong saya bukan anak remaja. Kalian pemberani!"


Canda Davit mencairkan suasana setidaknya Davit harus mengenal satu persatu anak muda di depannya.


"Kalau boleh tahu, siapa nama kalian? setidaknya jika suatu saat nanti saya ketemu kalian saya akan membalas kebaikan kalian!"


"Saya Rangga Pratama, yang sebelah saya Raja Adelio, dan sebelah kiri saya Moreo Van Houten pemilik rumah ini dan yang ujung sana Fatih Al-biru,"


Al-biru!


Gumam pelan Davit seperti marga itu tidak asing baginya.


Tanya Rangga karena merasa penasaran dengan sosok laki-laki bertubuh Gagah di depannya ini. Apalagi Rangga sudah menyelidiki peluruh yang bersarang di lengan Davit.


"Kenapa menyimpulkan saya di kejar para pembunuh bayaran!"


"Dari peluruh ini, ini peluruh ilegal yang di gunakan oleh Mafia Jerman!"


Davit langsung menoleh pada Fatih yang angkat bicara. Davit menyunggingkan senyum tipis akan ucapan Fatih yang tepat sasaran.


"Saya Davit, sepertinya kalian bukan remaja sembarangan!"


Ucap Davit sambil mengambil dua peluruh yang sudah di masukan plastik putih. Davit mengamati peluruh itu ternyata tebakan Fatih tidak meleset.


"Sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan saya. Namun kalian harus hati-hati karena kemungkinan salah satu dari kalian sudah di kenali mereka."


"Santai saja tuan!"


Sombong Moreo membuat Davit terkekeh sangat menyukai ke empat pemuda pemberani ini.


"Ini kartu nama saya, jika kalian dalam bahaya segera hubungi saya. Saya tak bisa lama-lama di sini. Mungkin anak buah saya sebentar lagi datang!"

__ADS_1


Ucap dingin Davit dengan suara beratnya.


"Hey, tuan belum menceritakan kenapa mau di bunuh!"


Kepo Raja membuat Fatih melotot, karena itu privasi mereka. Dengan konyolnya Raja malah menanyakan itu.


"Saya hanya seorang bodyguard yang sedang berusaha melindungi anak dari majikan saya!"


"Saya pergi, anak buah saya sudah datang!"


Dan benar saja, tiga mobil Jeff sudah ada di depan rumah Moreo. Salah satu bodyguard keluar sambil membawa jas dan memakaikan pada Davit.


"Sebentar!"


***


Sedangkan Di tempat lain, seseorang mengamuk karena mendapat kabar bahwa anak buahnya gagal membunuh Davit.


"Verdammt, warum es inkompetent ist, nur eine Person zu töten. Dummes Kind. Wenn Davit nicht tot wäre, wäre es auch schwer, dieses verdammte Kind loszuwerden. Davit muss ganz genau aufpassen! (Sialan, mengapa membunuh hanya satu orang tidak kompeten. Anak bodoh. Jika Davit tidak mati, akan sulit untuk menyingkirkan anak sialan itu juga. Davit begitu sangat berhati-hati! )"


Umpat seseorang membanting apa saja yang ada di dekatnya. Ia benar-benar sangat kesal. Bagaimana mungkin anak buahnya tak becus membunuh satu orang saja.


"Tujuh belas tahun! anak sialan itu akan mendapatkannya."


Akhhh ...


Prang ...


Amuk seseorang itu lagi sambil meninju kaca di hadapannya.


Ini sudah empat tahun pemburuan namun, sampai sekarang Davit belum juga mati. Waktunya tinggal satu tahun lagi dan ia harus segera membunuh Davit agar semuanya tidak jatuh pada anak sialan itu.


Drettt ... drett ...


Ponsel seseorang itu berdering membuat ia menoleh. Dengan kesal ia mengambil ponselnya.


"Was ist los, gnädige Frau?( Ada apa Bu?)"


"Hey, warum bist du so schroff zu mama! Wie haben Ihre Männer Erfolg gehabt? (Hey, kenapa kau ketus sekali pada ibu! bagaimana apa anak buah mu berhasil?)"


"Gagal, semuanya gagal!!"


"What!! Bagaimana bisa!"


Marah ibu seseorang tersebut membuat seseorang itu semakin kesal ketika ibu nya malah memarahi dia. Dengan kesal seseorang tersebut mematikan teleponnya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2