Filosofi Alin

Filosofi Alin
Bab 41 Tingkah Aurora


__ADS_3

Semua pasang mata mem bola melihat apa yang terjadi.


Bagaimana mungkin!


Itulah pertanyaan dari setiap mata yang memandang.


Kecuali hanya satu orang saja yang tersenyum seringai. Memandang pemandangan di depannya.


Ini di luar ekspektasi Shofi, yang hanya diam mematung dengan pikiran yang linglung dan terkejut.


Entah apa yang harus Shofi lakukan jika seperti ini. Bahkan rasanya Shofi ingin tenggelam saja.


Shofi terus merutuki dirinya sendiri kenapa malah datang. Harusnya Shofi tidak datang, harus nya Shofi di rumah saja dan bobo cantik. Bukan diam mematung dengan ekspresi yang entah apa di pandangan orang-orang.


"Kakak cantik kok ada di sini!"


Deg ....


Lagi-lagi Shofi di buat mati kutu oleh ucapan gadis imut yang memeluknya.


Ya, Aurora ketika keluar dari kamar bersama sang Bunda yang memberi tahunya bahwa makan malam akan di mulai. Langsung berlari ke arah Shofi dengan menubruknya.


Bahkan Aurora sendiri terkejut melihat kehadiran Shofi bersama kakak sepupu nya.


"Sayang, kamu mengenalnya?"


Tanya Queen bingung melihat putri cantiknya memeluk orang baru. Begitupun dengan semua orang.


"Kenal! kakak cantik ini yang men--"


Aurora menghentikan ucapannya ketika tangannya di remas Shofi. Shofi menatap Aurora dengan mengiba, jangan sampai memberi tahu semuanya.


"Yang menolong adek, ketika mau di culik!"


"Jangan berbohong kak, dosa!"


Lanjut Aurora berbisik pada Shofi membuat Shofi entah harus bersikap apa. Gadis ini! sungguh Shofi kenapa harus bertemu gadis ini. Shofi jadi kesal sendiri karena Aurora tak bisa di ajak kerja sama.


Amira dan Bunga sangat shok mendengarnya, begitu pun dengan ketiga sahabat Fatih.


Tapi, ada yang membuat mereka heran, kenapa dari tadi Aurora memanggil Shofi dengan kakak cantik. Pasalnya tak ada yang berbeda dari Shofi, bahkan Shofi tetap berpenampilan culun seperti biasa.


Sedang Queen tersenyum mengetahui siapa yang sudah menolong putri cantiknya tiga Minggu yang lalu. Ternyata daya ingat Aurora begitu kuat.


"Kalian malah bengong, ayo nanti saja bercakap-cakap nya. Kita makan saja dulu,"


Shofi bernafas lega ketika Farhan mengalihkan fokus semua orang. Membuat Queen mendengus kesal, suaminya kalau sudah lapar selalu saja begitu sama seperti Fatih.


Walau dengan keadaan canggung dan mempunyai pertanyaan sendiri dari setiap kepala orang yang ada di sana. Shofi berusaha tetap tenang. Shofi yakin, keluarga ini keluarga yang baik dan bisa menjaga rahasia.


Shofi bisa menilai bagaimana keluarga ini. Sepertinya keluarga ini bukan keluarga sembarangan. Terlihat dari cara bersikap dan memperlakukan satu sama lain.


"Terimakasih nak, kamu sudah melolong putri bunda!"


Ucap Queen menghampiri Shofi membuat Shofi tersenyum sanggung. Lagi-lagi Queen memperlakukan dirinya seperti seorang anak, sama dengan yang lainnya.


"Sangat keren, menjadi penolong untuk adiknya tapi jadi babu untuk kakak nya!"

__ADS_1


Bisik Bunga pada Amira hingga membuat Amira mencubit gemas lengan Bunga.


Sesudah makan malam, semuanya berkumpul di ruang santai.


"Kamu beneran menolong Aurora dari geng Rebel?"


Tanya Amira memastikan karena dari tadi Shofi hanya diam saja karena canggung.


"Aku tak tahu, kalau gadis itu adik si manusia purba!"


Bisik Shofi kesal membuat Amira ingin sekali tertawa. Bahagia bisa Shofi masih menyebut Fatih manusia purba. Bagaimana jika kedengaran oleh Queen dan Farhan, Shofi Shofi.


"Aku saja Shok!"


Lanjut Shofi jadi kesal sendiri pada Amira.


"Jangan bilang kalau rumah ini rumah si manusia purba!"


"Sorry!"


"Sudah ku duga!"


"Kalian sedang membicarakan apa!"


Suara Farhan begitu berat dengan nada dingin. Membuat Shofi dan Amira terdiam.


"Om dengar kamu murid pindahan. Pindahan dari mana?"


"Bali!"


Jawab Shofi berusaha mengendalikan kegugupannya. Shofi belum pernah berada di posisi se canggung ini. Semua ini gara-gara Aurora eh bukan gara-gara Amira yang berbohong akan acara ini.


"Tidak! sama kakak saya!"


"Orang tua kamu masih di Bali!"


"Bee,"


Potong Queen ketika Farhan akan bertanya lagi karena Shofi tak menjawabnya. Queen menggelengkan kepala mengisyaratkan jangan terlalu banyak bertanya. Apalagi Queen merasa tak enak hati ketika melihat perubahan wajah Shofi. Queen bisa melihat seperti ada kesakitan dan kerinduan dari sorot mata itu.


Amira dan Bunga juga merasakan perubahan wajah Shofi. Entah kenapa Amira jadi penasaran tentang kehidupan Shofi. Karena Shofi tak pernah sekalipun menceritakan tentang ke dua orang tuanya. Yang sering Shofi ceritakan hanya sosok seorang kakak saja yang nyebelin dan tukang ngatur. Dan, itu salah satu Shofi tak suka Fatih, karena Fatih hampir sama kaya kakaknya.


"Maafkan suami Bunda ya, jika menyinggung kamu!"


"Tak apa Tan,"


Ucap Shofi lembut, Shofi masih segan memanggil Queen Bunda walau Queen selalu menyebutkan dirinya Bunda. Shofi lebih nyaman memanggil Tante saja. Walau Queen tahu Bunga dan ketiga sahabat Fatih juga memanggil Queen Bunda.


Karena tak mau ada kecanggungan lagi Queen mengalihkan pembicaraan membahas hal lain. Sedang Fatih dan ketiga temannya tidak ikut berkumpul di ruang santai melainkan Fatih sedang berada di gazebo belakang Rumah di mana Fatih sedang membawa adiknya ke sana.


Karena Fatih tahu, jika Aurora ikut bergabung di dalam. Sudah Fatih Pastika Aurora tak akan melepaskan Shofi pulang begitu saja. Fatih tahu bagaimana sikap adiknya, jika Aurora menyukai seseorang pasti Aurora akan menempel terus.


"Kak lepasin, adek mau bicara sama kakak cantik!"


Rengek Aurora kesal karena dari tadi dia di Sandra di gazebo.


Rangga, Raja dan Moreo dari tadi bertanya-tanya kenapa Aurora terus memanggil Shofi dengan kakak cantik. Padahal tak ada yang aneh di diri Shofi.

__ADS_1


"Maaf semua, sepertinya saya harus segera pulang!"


Ucap Shofi tiba-tiba membuat Queen langsung menatap Shofi.


"Kenapa nak, ini baru jam 19:30!"


"Kakak tidak mengizinkan saya pulang terlalu malam!"


"Ya sudah, pulang sama siapa?"


"Sama supir Tan, ada di depan!"


Setelah Queen mengangguk setuju Shofi pun Salim dan meminta maaf pada Amira karena tak bisa lama-lama.


Shofi harus segera pulang karena ada sesuatu yang membuat Davit menyuruh Shofi pulang.


"Kakak cantik!"


Teriak Aurora masuk ke dalam setelah merengek nangis pada Fatih hingga Fatih melepaskannya.


"Loh, kakak cantik mana Bun?"


Tanya Aurora ketika tak melihat Shofi sama sekali.


"Baru saja pulang, ada urusan!"


"Wuahh .. "


Semua orang panik melihat Aurora malah menangis.


"Kakak jahat, Aurora kan mau ngobrol sama kakak cantik!"


Rengek Aurora membuat Queen menghampiri anak gadisnya.


"Nanti saja ya, kan ada lain waktu sayang!"


"Adek kan cuma mau ngasih ini!"


Ucap Aurora kesal pada kakaknya sambil memperlihatkan kaca mata milik Shofi yang sempat ketinggalan saat Shofi menolongnya.


"Kaca mata itu!"


Gumam Amira dan Bunga saling pandang satu sama lain. Melihat kaca mata yang ada di tangan Aurora.


"Shofi, kamu ganti kaca mata ya?"


"Ah, iya. Yang kemaren kaca mata aku hilang!"


"Hilang!"


"Iya, mungkin aku lupa naro di mana!"


Amira sekarang mengerti kenapa Fatih tak melepaskan Shofi, sepertinya Fatih bukan sekedar ingin mem buli tapi ada sesuatu yang Fatih sembunyikan.


Tapi entah apa itu, Amira belum bisa memastikan nya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2