Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Hari-Hari Momo


__ADS_3

Tahun ini adalah tahun terakhir Momo menempuh Pendidikannya. Sebentar lagi adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Momo yaitu hari wisudanya. Dengan begitu, dia akan segera pulang ke tanah air tercintanya.


Setiap harinya Momo akan berangkat ke kampus untuk menyelesaikan beberapa keperluan untuk wisudanya. Dia selalu bersama Cessa karena memang sahabatnya itu selalu menempel kepadanya.


Akhirnya, dua hari lagi adalah hari kelulusannya. Saat ini Momo sedang duduk menikmati angin malam di balkon kamarnya. Saat sedang menikmati angin, dia tiba-tiba melamun mengingat hari-harinya sejak meninggalkan negara tercintanya dan selama di negeri orang untuk menyelesaikan pendidikannya.


Flashback On


Momo POV


Hari itu adalah hari keberangkatan Nona Muda keluarga Alexandra ke negeri orang untuk menyelesaikan Pendidikan sarjananya. Dia diantar oleh Papa dan Maminya.


Momo juga membawa pelayan setianya yaitu Mbak Naya untuk menemaninya saat di negeri orang. Hal itu juga berdasarkan kemauan orangtuanya yang tidak ingin anak gadis mereka tinggal di sendiri di lingkungan baru nantinya.


“Bye Jakarta, see you.” Kata Momo dalam hati Ketika pesawat mulai lepas landas menuju tujuan selanjutnya.


Setelah berjam-jam berlalu, mereka akhirnya tiba di negara I. Mereka lalu dijemput oleh orang-orang kepercayaan keluarga Tuan Alexandra lalu diantar ke salah satu apartemen keluarga Alexandra sebagai tempat tinggal Nona Muda Momo selama menempuh studinya.


Setelah sampai di apartemen, Momo kemudian membereskan barang-barang bawaannya dan dibantu oleh Mbak Naya. Setelahnya Momo mulai mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk registrasi kuliahnya.


Malam harinya, Momo dengan ditemani Mbak Naya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk berbelanja kebutuhan Momo selama kuliah dan juga kebutuhan Mbak Naya. Mereka diantar dan dikawal oleh orang-orang kepercayaan Papi Momo. Walaupun sebenarnya Momo menolak penjagaan tersebut, tapi demi keamanannya juga akhirnya dia menyetujui itu.


“Mbak Nay, pilih ini apa ini?” Tanya Momo sambil menunjukkan dua buah pakaian yang dipilihnya pada Mbak Naya.


“Dua-duanya mah bagus dipakai Non Momo.” Jawab Mbak Naya sambil memberikan dua jempol tangannya.


“Bisa aja Mbak Nay.” Kata Momo sambil tersenyum.


Setelah puas berbelanja, mereka menuju salah satu restoran untuk makan malam sebelum akhirnya pulang ke apartemen untuk beristirahat.


Keesokan harinya, Momo pergi ke kampus barunya untuk melakukan registrasi sebelum memulai perkuliahannya. Momo mengambil jurusan bisnis untuk pendidikan S1nya.


Saat berjalan di koridor kampus barunya, seseorang tidak sengaja menabraknya dari belakang karena berjalan dengan terburu-buru tanpa memperhatikan jalan.


“Aw, I’m so sorry.” Kata orang itu sambil menundukan kepalanya.


“Untung cewek yang gua tabrak, huft.” Lanjutnya dengan suara kecil tetapi Momo bisa mendengarnya.


“Hm.” Jawab Momo.


Jangan heran dengan jawaban Momo, dia memang sangat dingin jika bukan di rumah dan pada orang-orang terdekatnya.


Orang yang menabrak Momo terlihat kikuk dan semakin merasa bersalah setelah mendengar jawaban Momo. Dia hanya tersenyum salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang entah benar-benar gatal atau karena dia mati gaya.

__ADS_1


“Hati-hati.” Sambung Momo.


Kata-kata Momo itu seketika mencairkan suasana canggung di antara keduanya. Entah mengapa Momo yang biasanya malas berbicara dengan orang baru, tetapi kali ini malah berinisiatif memberikan ‘perhatian’ kecil itu pada orang yang baru dia temui bahkan menabraknya. Dia hanya merasa orang itu cukup tulus dan tidak terlihat berpura-pura. Entahlah.


“Kamu dari Indonesia? Wah, salam kenal. Aku Cessa dari Jakarta. Boleh tau nama kamu siapa?” Tanya orang itu dengan nada ceria gembira riang (hehe, lebay dikit) yang ternyata adalah seorang gadis Bernama Cessa pada Momo.


Momo mengernyit heran mendengar suara berisik gadis itu, tapi tidak merasa jengkel.


“Momo.” Jawabnya singkat.


“Oke. Kita teman mulai sekarang. Eh, nggak, kita sahabat mulai sekarang. By the way, kamu belum jawab pertanyaanku, kamu dimana tinggalnya di Indonesia?” Tanya Cessa lagi.


“Jakarta”. Jawab Momo


“Wah, sama dong. Alumni mana? Ngambil jurusan apa di sini?” Tanya Cessa lagi.


“...” Jawab Momo.


“Wahhhh, sama lagi dong. Emang jodoh. Mau regis kan? Barengan ya, gua bingung banget dari tadi muter-muter kaga nemu tempat regisnya. Mau nanya orang tapi pada sibuk sendiri gitu.” Kata Cessa dengan Bahasa santai seolah mereka sudah lama bersahabat.


“Hm.” Jawab Momo.


Akhirnya keduanya pun bersama-sama melakukan registrasi. Setelah selesai, mereka pergi menuju salah satu pusat perbelanjaan.


Momo yang entah mengapa tidak bisa menolak permintaan gadis itu yang lebih tepatnya pemaksaan akhirnya dengan sedikit terpaksa menemani gadis itu berbelanja.


Setelah puas berbelanja, keduanya menyempatkan makan siang terlebih dahulu sebelum Kembali ke kediaman masing-masing.


“Momo, gua boleh main-main ke apart lu gak kapan-kapan gitu kalau gua suntuk? Gak punya banyak kenalan gua di sini, ya ya?” Kata Cessa dengan memelaskan wajahnya berharap Momo menyetujui permintaannya.


“Hm, boleh.” Jawab Momo singkat.


“Oke, emang paling the best sahabat gua satu ini.” Kata Cessa senang.


Cessa mulai terbiasa dengan jawaban singkat Momo, karena walaupun baru sebentar bersama Momo, dia sedikit banyak sudah mengetahui kepribadian sahabat barunya itu. Dan dia tidak merasa keberatan, dia cukup nyaman saat bersama Momo.


Sejak hari itu, keduanya menjadi sahabat, dimana ada Momo, di situ pasti ada Cessa. Ya, Cessalah yang menempel pada Momo. Dia merasa bangga jika berjalan di samping sahabat cantiknya itu, karena akan menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. Selain itu, dia juga bangga menjadi sahabat seorang jenius seperti Momo.


Momo tidak mempermasalahkan itu, karena merasa nyaman juga saat bersama Cessa. Setidaknya hidupnya di sana tidak akan datar-datar saja.


Cessa bahkan lebih sering menginap di apartemen Momo daripada apartemennya sendiri. Cessa juga akhirnya tau bahwa Momo adalah Nona Muda keluarga Alexandra Ketika pertama kali ke apartemen Momo. Dia semakin bangga pada dirinya sendiri yang bisa bersahabat dengan “Ice Quenn” terkenal di kotanya. Yang lebih kebetulan lagi, orang tua mereka ternyata juga berteman dan memiliki kerja sama bisnis di Kota J. Apalagi mereka alumni dari satu yayasan yang sama hanya berbeda gedung sekolah sehingga Cessa tidak langsung mengenali Momo.


“Moy, lu punya pacar gak? Atau tunangan mungkin?” Tanya Cessa Ketika mereka sedang mengerjakan tugas kuliah mereka di apartemen Momo.

__ADS_1


“Gak”. Jawab Momo.


“Why? Lu secantik ini masa gak punya pasangan? Gak coba dikenalin gitu sama bokap nyokap?” Tanya Cessa dengan heran.


“Gapapa.” Jawab Momo.


“Gua malah dijodohin sama anak temen bokap, tapi gua tolak. Gua masih pengen nikmatin masa muda gua yang cuma sekali ini. Kita barengan aja ntar kalo married. Wah, pasti seru banget.” Kata Cessa sambil curhat.


“Hm.” Balas Momo.


Cessa yang kesal dengan jawaban sahabatnya itu akhirnya malas melanjutkan kerjaannya dan berencana menyontek saja pada Momo. Dia memilih menelpon orang tuanya karena merasa rindu.


Momo tidak mempermasalahkan kebiasaan menyontek Cessa, karena sebenarnya sahabatnya itu bisa mengerjakan sendiri hanya saja memang sudah terbiasa menyontek pada Momo.


Pada akhir pekan, keduanya akan berjalan-jalan di tempat wisata kota tersebut, sambil refreshing. Tentu saja ditemani oleh Mbak Naya dan orang-orang kepercayaan keluarga Alexandra dan Cessa. Mbak Naya juga cukup cocok dengan Cessa karena keduanya sama-sama memiliki kepribadian yang ceria, sehingga Momo tidak akan kesepian jika ada keduanya.


Begitulah kehidupan sehari-hari Momo selama menempuh S1 bersama sahabatnya Cessa. Keduanya lulus dalam waktu 3 tahun dengan predikat suma cum laude dan Momo sebagai lulusan terbaik.


Setelah itu, keduanya memutuskan untuk melanjutkan studi S2 ke Oxford untuk mengambil gelar profesi. Namun keduanya memilih jurusan yang berbeda.


Cessa sebenarnya ingin tetap di Harvard karena permintaan orang tuanya, namun dia yang sudah terbiasa di samping Momo tentu saja akan menempel terus pada sahabatnya itu.


Bahkan, Momo sampai ikut bernegosiasi kepada orang tua Cessa hingga akhirnya disetujui untuk bersekolah di Oxford bersama.


Dan cerita masa S2 keduanya ternyata lebih berwarna setelah di Oxford, mulai dari para pengagum yang mengejar-ngejar keduanya, para parasit yang mencoba mengganggu Momo, sampai momen-momen tidak terlupakan bagi Cessa lainnya. Kenapa Momo tidak? Karena tidak ada yang berkesan untuknya.


Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.


Para readers sekalian…


Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author, agar agar menjadi makin semangat nulisnya.


.


.


Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..


Salam hangat Author receh.. hehe


.


.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2