
Dua hari setelahnya Kevin akhirnya kembali dari kota B. Jabby yang sedang senggang saat itu pun diperintah oleh Cleo untuk menjemputasistennya itu, dan Jabby mau tidak mau tetap melaksanakannya walaupun sebenarnya dirinya sedang mengambil cuti untuk berlibur selama dua hari.
“Huft, dasar si Kevin kampret. Baru juga mau nyantai liburan, malah harus jemput dia sama bos. Lihat aja nanti, gimana seorang Jabby ini ngasih pelajaran sama asisten yang bisanya ngerepotin orang aja.” Kesal Jabby yang sedang mengemudikan mobilnya menuju bandara untuk menjemput Kevin.
Padahal seharusnya dia sedang dalam perjalanan menuju ke Bali untuk berlibur walaupun hanya dua hari, namun rencananya harus diundur bahkan dibatalkan karena perintah dari Cleo untuk menjemput Kevin.
Jabby tidak bisa menyalahkan Cleo, karena bos besarnya tidak tahu bahwa dirinya baru saja mengambil cuti liburan, makanya memberinya perintah sekarang. Dia juga tidak berniat memberitahu bosnya, karena dia tidak
berani melawan perintah atasan sekaligus orang yang paling dia hormati itu.
Dan disinilah Jabby sekarang, dirinya baru saja sampai di parkiran bandara. Turun dari mobil, Jabby langsung menuju ke tempat dimana biasanya orang-orang menjemput kedatangan orang yang ditunggunya.
Para gadis yang melihat Jabby atau berpapasan dengannya tentu tidak bisa mengalihkan pandangan mereka karena terpesona dengan wajah tampan Jabby. Segala yang ada dalam diri Jabby sangat boyfriend material pikir
mereka. Sedangkan Jabby tentu saja sangat menikmati tatapan-tataoan memuja itu.
“Huh, nasib orang tampan.” Katanya pada dirinya sendiri sambil mengibaskan rambutnya ke belakang dan pura-pura merapikan letak kacamatanya, dan itu berhasil membuat para gadis histeris.
“Ya Tuhan, ganteng banget calon imamku. Oppa, saranghae.!!” Teriak mereka menggila membuat suasana bandara tedengar sangat berisik.
Jabby terus menikmati pujian demi pujian yang terdengar dari para gadis yang berada di dekatnya namun tetap menjaga jarak, sampai-sampai tidak menyadari bahwa Kevin sedari tadi memperhatikan tingkah narsisnya sambil
menggelengkan kepala.
“Nikmati sepuasmu, soalnya kalau ada si bos, kamu gak akan dilirik sedikitpun.” Kata Kevin yang akhirnya jenuh dan mendekati Jabby yang tengah bergaya.
Mendengar suara Kevin membuat Jabby kembali pada sikap dinginnya dan berpura-pura batuk.
“Uhuk, uhuk. Udah datang bro, lama banget aku tungguin.” Sapa Jabby yang merangkul bahu Kevin dengan akrab untuk menghilangkan rasa malunya barusan.
“Masih punya malu? Barusan bukannya paling narsis?” Goda Kevin mengejek sahabatnya.
“Bangke. Cepetan balik, udah ditunggu bos.” Kata Jabby salah tingkah lalu menarik koper Kevin dan berjalan mendahuluinya.
“Hahahaha, gak usah malu bro, tadi bukannya gak tahu malu?” Goda Kevin lagi.
Sepertinya Kevin menemukan hal baru untuk jadi bahan bullyannya pada Jabby. Mereka memang seperti itu, tidak akan ada yang merasa tersinggung karena ejekan satu sama lain.
Kevin lalu menyusul sahabatnya yang sudah berjalan menjauh dengan langkah lebar. Kedua pria tampan itu benar-benar menjadi pusat perhatian. Jabby saja sudah membuat cukup keributan, ditambah lagi dengan Kevin membuat
keributan semakin menjadi-jadi.
“Mimpi apa aku semalam, hari ini lihat dua cowok super ganteng. Gak nyesel ikut nyokap kesini, jadi cuci mata gratis.” Kata salah satu gadis yang mencuri-curi foto Kevin dan Jabby dan mempostingnya di sosial media
miliknya.
Sepertinya Jabby dan Kevin akan segera menjadi ‘artis dadakan’ akibat kehebohan ini.
“Nih, kamu yang nyetir. Enak aja udah bikin aku gagal liburan, masih mau aku supirin,cih.” Kata Jabby yang masih kesal sambil melemparkan kunci mobil pada Kevin.
Kevin dengan sigap menangkap kunci mobil lalu menuju kursi kemudi, keduanya lalu meninggalkan bandara.
“Sorry bro, salah sendiri gak mau ngomong sama si bos. Mau aku bantu kasitau?” Tawar Kevin karena sedikit kasihan pada nasib apes Jabby.
“Gak usah, bos juga gak tahu yang sebenarnya, biarkan aja. Masih banyak waktu kedepannya, mungkin alam belum setuju seorang Jabby untuk liburan sekarang.” Kata Jabby sok bijak.
“Cih, sok bijak. Btw, gimana penyelidikanmu?” Tanya Kevin.
Suasana tiba-tiba menjadi serius karena pertanyaan dari Kevin. Bahkan ekspresi keduanya menjadi dingin seketika, bukan karena akan ada perkelahian, namun karena topik yang ditanyakan Kevin.
“Hm, seperti dugaan bos. ‘Dia’ benar-benar muncul.” Jawab Jabby serius, bahkan saat ini ekspresinya menunjukan kebencian yang sangat besar.
“Waktu bersantai kita sepertinya bakal berakhir.” Balas Kevin tersenyum sinis.
Keduanya pun terdiam dengan pikiran masing-masing, entah apa yang dipikirkan keduanya sampai-sampai udara di dalam mobil terasa sangat mencekam dan penuh kebencian. Jika wajah Jabby terlihat jelas ekspresi dendam
yang mendalam, beda lagi dengan Kevin yang malah tersenyum tipis namun sinis. Yang sama dari keduanya adalah, dibalik ekspresi itu, ada kekejaman tak terlihat yang sangat menakutkan. ‘Dia’ benar-benar telah memunculkan haus darah dua manusia berdarah dingin itu.
Bunyi dering ponsel milik Kevin membangunkan keduanya dari pikiran masing-masing. Kevin segera mengangkat panggilan telepon itu tanpa melihat nama penelepon, karena nada dering itu adalah nada dering khusus yang
diaturnya untuk kontak bos sekaligus sahabat rasa saudaranya, Cleo.
__ADS_1
“Halo Yo.” Sapa Kevin yang tidak memanggil Cleo dengan sebutan bos karena tidak sedang bekerja.
“Hm, gak perlu ke kantor.” Kata Cleo to the point. Dia sudah memperkirakan saat ini Jabby pasti sudah bersama Kevin makanya langsung berkata seperti itu.
“Oh, oke. Kamu sendiri gimana?” Tanya Kevin.
“Bentar lagi balik.” Jawab Cleo.
“Oh, baiklah. Hati-hati.” Pesan Kevin karena mulai khawatir.
“Hm.” Jawab Cleo lalu memutuskan panggilan telepon keduanya.
“Langsung ke apart.” Kata Kevin pada Jabby.
Keduanya lalu berbelok dan kembali menuju apartemen Kevin sesuai arahan Cleo. Mereka harus mulai menyusun rencana dan strategi untuk menghadapi ‘orang itu’.
Meninggalkan Kevin dan Jabby, saat ini Cleo tengah ditelan dalam pikiran dalamnya.
Cleo jadi merenung karena pesan Kevin barusan. Wajahnya tetap datar dan tenang seperti biasanya, namun siapa yang bisa menebak isi hati dan pikirannya saat ini, jawabannya tidak ada.
‘Memang harus waspada mulai sekarang.’ Batin Cleo.
Cleo lalu berdiri dari kursinya dan menuju jendela ruangannya untuk melihat pemandangan kota. Dia mulai memikirkan masa-masa kelamnya saat di luar negeri, yang hanya diketahui oleh Kevin, Jabby, dan kakak angkatnya. Aura Cleo menjadi semakin dingin karena memikirkan masa-masa itu, kenangan yang sangat ingin
dilupakannya. ‘Orang itu’ yang membuatnya terpaksa masuk ke dunia bawah bahkan menjadi ketuanya. Sekarang ‘dia’ bahkan berani muncul di negaranya, sudah pasti memiliki niat buruk.
Cleo tidak takut orang itu mengusik keluarganya karena keluarga Grissham bukan sesuatu hal yang bisa disentuh sembarangan, keluarganya memiliki penjaga rahasia dan memiliki kekuatan yang tidak bisa disentuh sedikitpun. Bahkan sang Mami tidak boleh dianggap remeh, apalagi sang Papi. Untuk Tuan dan Nyonya Alexandra, dia juga tidak takut jika orang itu mengganggu mereka, karena sama seperti keluarganya, keluarga Alexandra bukan sesuatu yang mudah disentuh.
Dia hanya takut jika orang itu mengusik Momo gadisnya. Walaupun Momo tidak bisa diusik sembarangan, dia tetap takut jika orang itu mengusik orang-orang terdekat Momo, itu akan memunculkan kemarahan Momo dan mengeksposnya, dia tidak boleh membiarkan kemungkinan terburuk itu terjadi.
Bagaimanapun juga, dia sendiri takut jika Momo sudah mengeluarkan kemarahannya, karena jika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang bisa menenangkannya, kecuali orang yang sudah meninggalkan mereka di dunia ini. Bahkan penyebab kepergiannya adalah karena menghentikan Momo dari kemarahannya. Semua rahasia itu disimpan rapat-rapat oleh keluarga Alexandra dan keluarga Grissham. Tidak ada seorang pun yang berani membicarakan rahasia itu, apalagi di depan Momo, karena ini adalah penyesalan terbesar gadis itu. Saat itu dia hanya seorang gadis kecil yang belum bisa mengendalikan dirinya, sehingga akhirnya membuatnya kehilangan seseorang yang sangat berharga dan berjasa di hidupnya.
Cleo mengeratkan genggamannya membuat urat tangannya terlihat karena mengingat kenangan itu. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Walaupun dia percaya gadisnya sudah lebih kuat dan bisa mengendalikan dirinya sekarang, namun berwaspada perlu dilakukan.
Yang dia khawatirkan bukan keselamatan gadisnya, namun ‘orang itu’. Jika ‘dia’ berani mengusik kelemahannya yang tidak lain adalah gadis kesayangannya, ‘dia’ sendiri yang akan menerima kemungkinan terburuk dari gadisnya., dan itu akan berakibat buruk untuk mereka semua. Kemarahan Momo adalah hal yang paling diwaspadai dan dihindari oleh Cleo. Cleo hanya berharap semuanya akan berjalan dengan baik sampai akhir.
“Koko.” Panggilan dari suara indah itu membuat Cleo segera berbalik dan melihat wajah cantik yang selalu berhasil membuatnya tenang.
“Koko okay?” Tanya Momo lembut.
Cleo membalas pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di leher kekasihnya. Dia sudah tenang sejak mendengar suara Momo barusan. Sudah jelas, satu-satunya yang bisa menenangkannya hanyalah Momo.
“Hm. Sayang sendirian kesini?” Tanya Cleo.
“Iya, diantar Mang Ujang. Momo kangen.” Jawab Momo yang memang merindukan Cleo, karena selama dua hari ini mereka tidak bertemu dan hanya bertukar kabar lewat chat ataupun telepon karena kesibukan masing-masing, dimana Momo yang mulai mempersiapkan keberangkatannya ke kota sebelah, dan Cleo yang sibuk setelah mendengar kabar kedatangan ‘orang itu’.
Cleo tersenyum mendengar pengakuan Momo yang merindukannya. Dia tidak pernah berharap Momo akan menjadi begitu terus terang seperti ini.
“Seberapa rindu?” Tanya Cleo menggoda Momo.
“Tak terhingga.” Jawab Momo manja.
“Hahaha, imut banget sih pacar Koko ini.” Kata Cleo mencubit gemas hidung Momo.
Keduanya saling melempar senyum.
“Koko, kepalaku sakit.” Adu Momo setelah lelah menengadah. Kokonya terlalu tinggi sehingga dia harus menengadah hanya untuk menatap wajah tampan kesayangannya itu.
Cleo jadi tertawa karena merasa lucu, lalu berjalan kembali ke kursinya untuk duduk. Setelah itu Cleo meminta Momo untuk mendekat, dan menariknya untuk duduk di pangkuannya. Momo tidak keberatan dengan perlakuan Kokonya, dan malah menenggelamkan wajahnya di dada bidang prianya.
Setelah lama berdiam, Momo lalu membuka suara.
“Koko, laper.” Adu Momo yang merasa lapar.
“Sayangku lapar? Mau makan apa?” Tanya Cleo lembut sambil mengelus wajah Momo dengan sayang.
Ya, saat ini memang waktunya makan siang. Cleo bahkan hampir lupa jika Momo tidak datang dan mengatakan dirinya lapar sekarang.
“Nasi goreng Mbok Iyem.” Jawab Momo semangat.
“Hmm, berangkat sekarang?” Tanya Cleo.
__ADS_1
Momo menganggukan kepala dengan semangat. Mereka berdua kemudian meninggalkan ruangan Cleo untuk pergi makan siang.
“Bram, urus urusan disini, saya akan kembali lebih dulu.” Kata Cleo pada sekertarisnya.
“Baik bos.” Jawab Bram lalu memberi hormat pada bos dan kekasihnya.
Melihat Cleo yang sangat memanjakan Momo dan terlihat bahagia, Bram pun ikut bahagia. Bosnya adalah orang baik yang pantas bahagia pikirnya.
Momo dan Cleo saat ini sudah berada di depan warung yang tidak terlalu besar bangunannya bertuliskan ‘Warung Makan Mbok Iyem’. Momo tersenyum senang melihat warung yang masih berdiri kokoh itu, dan menimbulkan perasaan nostaligia dalam dirinya. Warung ini adalah tempat makan favorit yang selalu dikunjunginya bersama Cleo saat sekolah dulu, dan sekarang masih beroperasi.
Keduanya segera masuk ke dalam untuk memesan makanan yang ingin mereka makan.
“Mbokk Iyeemmm.” Panggil Momo.
Seorang ibu yang usianya sudah renta terkejut dengan panggilan beserta nada khas tersebut. Dia langsung berbalik untuk melihat ke asal suara, lalu melhat wajah ceria seorang gadis cantik yang sangat dikenalnya.
“Neng geulis.” Panggil Mbok Iyem. Dia langsung menghampiri Momo yang dirindukannya selama beberapa tahun terakhir ini.
“Neng kapan balik? Ya ampun, Mbok Iyem kangen banget sama kalian berdua. Si aden ngadu kangen mulu sama eneng ke si Mbok. AKhirnya eneng balik juga, mana tambah cantik sekarang.” Kata Mbok Iyem.
Cleo terbatuk canggung karena malu kebiasaannya terbongkar di depan Momo oleh tempat curhatnya si Mbok. Momo melihatnya dan memberikan tatapan mengejek pada Cleo, dan hanya dibalas helaan tidak berdaya oleh Cleo.
“Hehehe, baru-baru aja Mbok, belum dua bulan kayaknya Momo disini. By the way, seperti biasa ya Mbok, Momo udah super laper.” Kata Momo.
“Siap Neng.” Balas Mbok Iyem.
Momo dan Cleo lalu menuju ke salah satu meja dan duduk disana. Beberapa saat kemudian, Mbok Iyem datang dengan nampan berisi dua piring nasi goreng spesial kesukaan Momo, dan Cleo tentu saja ikut menyukainya.
“Silahkan dinikmati Neng, Den.” Kata Mbok Iyem.
“Terima kasih Mbok.” Jawab keduanya bersamaan.
Mereka berdua pun menikmati nasi goreng spesial kesukaan Momo itu sambil mengobrol membahas kenangan masa sekolah mereka dulu. Momo kadang tertawa mengingat kekonyolannya, dan Cleo hanya tersenyum memperhatikan Momo dan ikut bahagia melihat tawa indah kekasihnya.
Pemandangan romantis itu disaksikan oleh Mbok Iyem dan para pengunjung warung yang lain. Mereka benar-benar iri pada keromantisan keduanya. Mbok Iyem bahagia melihat kedua anak muda yang berjasa dan sangat disayanginya seperti cucunya sendiri itu. Dia jadi teringat cucunya yang saat ini sedang berkuliah di luar negeri berkat beasiswa yang diberikan perusahaan Cleo. Mbok Iyem berharap keduanya selalu bahagia.
Setelah kenyang, Cleo dan Momo tidak langsung pergi, namun mereka menyempatkan waktunya untuk mengobrol dengan Mbok Iyem.
Sekitar satu jam mereka mengobrol, dan akhirnya keduanya pamit.
“Hati-hati di jalan Den, Neng geulis.” Pesan Mbok Iyem.
“Siap Mbok.” Balas Cleo.
“Sehat-sehat ya Mbok, kapan-kapan kita main kesini lagi. Ohiya, kabarin kita kalau si Gema udah wisuda ya Mbok.” Kata Momo.
“Iya Neng, pasti.” Jawab Mbok Iyem.
Mereka berdua pun meninggalkan warung makan Mbok Iyem. Cleo tidak kembali ke kantor dan mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya, sedangkan Momo tertidur di mobil karena bosan akibat jalanan yang macet. Mereka akhirnya sampai di apartemen pada pukul empat sore.
Cleo tidak berniat mengantar Momo kembali ke rumahnya dan membawanya ke apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, Cleo lalu keluar dan berjalan ke sebelah untuk membuka pintu mobil di samping Momo. Karena gadisnya masih tertidur, Cleo segera menggendongnya dan membawanya masuk ke apartemennya.
Tiba di dalam apartemen, Cleo langsung menuju kamarnya dan membaringkan gadis dalam gendongannya dengan hati-hati karena takut membangunkannya. Menatap lama pada wajah cantik yang sedang damai dalam tidurnya, Cleo hanya bisa tersenyum. Dia kemudian mengecup kening gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu ikut berbaring di samping gadisnya sambil memeluknya erat. Siluet dua insan yang berpelukan dalam tidurnya itu sangat indah, sehingga siapapun tidak akan berniat mengganggu tidur mereka.
Penasaran kelanjutannya? Pantengin terus biar ga ketinggalan update terbaru dari author.
Para readers sekalian…
Jangan lupa like, comment, follow author, dan paling penting jadikan
favorit karya pertama author ini sebagai bentuk dukungan kalian untuk author,
agar Author menjadi makin semangat nulisnya.
Author ga maksa kok, seikhlasnya ajaa..
.
Salam hangat Author receh.. hehe
.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya.